Compartilhar

217. Ayo, Kita Duel!

Autor: Amaleo
last update Data de publicação: 2026-09-21 21:54:27

"Papa!" Selena berlari histeris dan langsung menjatuhkan dirinya di kursi sebelah Steve. Tanpa peduli dengan keberadaan penyidik di depan mereka, Selena mengguncang lengan Steve dengan pergelangan tangannya yang terikat besi.

“Pa, tolongin aku, Pa!” jerit Selena di sela tangisnya yang pecah. “Polisi nangkep aku! Mereka nyita semua koper berisi uang dan emas yang ada di mobil!”

Napasnya tersengal, suaranya semakin tinggi. “Aku nggak mau dipenjara, Pa! Tolong panggil pengacara terbaik kita! Sur
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   220. Zavian, Tukang Roasting.

    Zea membeku di tempat. Handuk yang tadi digantungkannya di leher Marco masih terasa hangat di jemarinya. Kalimat pria itu menggantung di udara, membuat detak jantungnya seolah berhenti sejenak.“Kamu … yakin?” suaranya pelan, hampir berbisik. “Marco, kamu yakin nggak butuh ASI-ku lagi sebelum latihan?”Marco tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Zea dengan sorot mata yang tenang.Zea menggigit bibir bawahnya. Kekhawatiran mulai merayap di dadanya. “Tapi … kalau performa kamu stuck? Atau justru turun karena kelelahan? Kamu kurang tidur berhari-hari, Marco. Tubuhmu belum pulih sepenuhnya. Kalau nanti—”“Sshh.” Marco mengangkat satu jari, menghentikan ocehan Zea seketika.Ia menatap wanita itu lekat, sorot matanya jauh lebih tenang dari yang Zea kira. “Dengar aku dulu,” ucapnya rendah. Zea terdiam, masih menatapnya.Marco menurunkan jarinya, lalu menggenggam jemari Zea yang dingin dengan begitu protektif. Suaranya tetap datar, tapi ada ketulusan yang jarang ia tunjukkan di depan or

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   219. Marco Gak Butuh ‘Nutrisi’ Zea Lagi?

    ​[LINTASAN 3 - ZAVIAN REYNALD: 23.40][LINTASAN 4 - MARCO YOZEFA: 24.15]Selisih mereka hanya 0,75 detik!Keheningan sempat menguasai area kolam selama dua detik, sebelum akhirnya teriakan Rafi memecahkan udara.​"Gilaaaaa! Coach Zavian masih unggul!" seru Rafi sambil menepuk pembatas kolam. "Masih tajam banget gerakannya!"Kenji ikut menggeleng-gelengkan kepala, masih tak percaya. “Beda nol koma tujuh puluh lima detik. Tapi buat lima puluh meter gaya bebas? Itu selisih yang jauh banget!”​Di dalam air, Zavian menyapu basah dari wajahnya, memutar tubuh menatap papan pencatat waktu, lalu melirik Marco di sebelahnya. Napas Zavian masih tersengal dengan dada naik turun cepat, namun bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang penuh kemenangan.“Dua puluh empat detik, hm?” ejek Zavian pelan, nada suaranya terdengar puas. “Lumayan juga perkembanganmu. Tapi pengalaman tetap nggak bisa dibohongi.”Marco membuang napas berat dari hidungnya. Tubuhnya yang mengambang di air terasa berat, k

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   218. Duel Renang Marco VS Zavian.

    ​"A–apa?!" Zea membelalak. Tangannya yang menggenggam gagang carriage bag seketika mencengkram erat. "Kak?! Kenapa tiba-tiba ajak Marco duel?!" Kehebohan kecil langsung menyebar di tepi kolam. Rafi yang baru saja hendak memakai kacamata renang hampir menjatuhkannya, sementara Kenji mendadak berhenti setelah memasang penutup kepala. Bahkan Dimas, yang sedang melakukan peregangan lengan di sudut lain, langsung menoleh dengan dahi berkerut. "Coach?" cetus Rafi tak percaya. "Serius? Duel ... time trial sama Marco?" Zavian tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Marco. Pria itu menurunkan kedua tangannya dari dada, lalu melemparkan sebuah kacamata renang cadangan yang langsung ditangkap Marco dengan satu tangan tanpa henti. Marco mengangkat sebelah alisnya dan tidak menjawab, hanya menatap balik dengan tenang. ​Zavian mendekat satu langkah, menatap lurus ke mata Marco tanpa berkedip. "Saya mau lihat," lanjutnya, nada suaranya mengandung tantangan yang tidak bisa dianggap reme

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   217. Ayo, Kita Duel!

    "Papa!" Selena berlari histeris dan langsung menjatuhkan dirinya di kursi sebelah Steve. Tanpa peduli dengan keberadaan penyidik di depan mereka, Selena mengguncang lengan Steve dengan pergelangan tangannya yang terikat besi. “Pa, tolongin aku, Pa!” jerit Selena di sela tangisnya yang pecah. “Polisi nangkep aku! Mereka nyita semua koper berisi uang dan emas yang ada di mobil!” Napasnya tersengal, suaranya semakin tinggi. “Aku nggak mau dipenjara, Pa! Tolong panggil pengacara terbaik kita! Suruh Om Michael cabut laporannya! Aku nggak mau masuk penjara, Pa!” Steve menatap putrinya dengan tatapan kosong penuh keputusasaan. Sebuah senyuman pahit dan getir terukir di bibirnya yang robek. "Nggak ada pengacara yang bisa selamatkan kita lagi, Selena ..." bisik Steve, geleng-geleng kepala dengan tatapan hampa. "Semuanya ... sudah habis." Selena membeku, matanya membelalak menatap ayahnya tak percaya. "Maksud Papa apa?! Papa kan banyak uang! Papa punya koneksi!" "Semua rekening disita! Ru

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   216. Ayah dan Anak di Kantor Polisi.

    Panik luar biasa menyapu bersih sisa-sisa kewarasan Selena. Melihat kilatan lampu sirene merah-biru di depannya, tangannya yang gemetar refleks membanting setir ke kanan. Ban mobilnya berdecit keras mencengkram aspal, meninggalkan jejak hitam pekat saat ia memutar balik kendaraan secara mendadak.“Nggak! Aku nggak mau! Kalian nggak bisa tangkap aku!” jerit Selena histeris di dalam kabin mobil yang tertutup rapat.Ia menginjak pedal gas dalam-dalam, mencoba melesat kembali ke arah gerbang kompleks. Namun, belum sempat mobilnya mencapai kelajuan penuh, suara sirene meraung nyaring dari arah berlawanan. Dua mobil patroli polisi muncul memotong jalur, melaju kencang mengepungnya dari belakang dan samping.Siren saling bersahutan, memantulkan gema mencekam di sepanjang jalan kompleks yang sepi. Selena menggeram dan meracau ketakutan, matanya liar melirik kaca spion.“Pergi! Aku nggak salah apa-apa! Kenapa semuanya jahat sama aku?! Ini semua salah Zea! Salah perempuan murahan itu!” tangis

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   215. Selena Disergap Polisi.

    Melihat reaksi Marco yang begitu dingin dan tak tersentuh, Zea akhirnya menurut, sekaligus mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh. “Ya sudah ...” gumamnya pelan. “Aku sarapan, kamu juga ya, setelah pakaian.” Ia paham betul kapan harus menahan diri. Tidak semua hal harus ditanyakan saat itu juga, apalagi jika itu hanya akan menambah beban pikiran Marco. Tanpa bersuara lagi, Zea berjalan menuju meja makan. Di atas meja kayu jati itu, sarapan hangat sudah tertata rapi. Adrian telah menyiapkannya dengan sangat cekatan—piring, sendok, garpu, hingga segelas susu hangat untuk membantu memulihkan stamina Zea. ​Sementara itu, Marco berjalan kembali menuju kamar utama dan menutup pintunya rapat-rapat. Pria itu perlu mengganti pakaiannya dengan setelan atlet yang sebelumnya dibawakan oleh Adrian. ​Adrian berdiri tak jauh dari meja makan, menjaga jarak aman dengan sikap tubuh yang tetap siap siaga. Zea menarik kursi, lalu melirik pria berjas rapi di dekatnya itu sebelum menyendok sara

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status