LOGINDengan sisa kekuatan yang ada, Zea mendorong Marco keras hingga pria bertubuh kekar itu terlentang di sampingnya. Zea langsung bangkit duduk dengan napas masih memburu.
“Pergi sekarang juga! Cepat!” bisik Zea ketakutan, nadanya mendesak dan marah. “Kamu mau kita berdua ketahuan?!”Marco hanya menatapnya dengan rahang mengeras. Pria itu melirik ke arah pintu yang kembali diketuk.Tok. Tok. Tok.“Zea, kembalikan charger Kakak!”“I-iya, Kak! Sebentar!” jawab Zea setengah berZea menegang seketika. Wajahnya memerah hebat hingga ke telinga, dan jantungnya berdegup kencang tak menentu. "Marco … kok tiba-tiba banget." Suaranya kecil dan bergetar, sambil menghindari tatapan pria itu. "Malu …." Ia mencoba menjauh tapi tangan Marco masih melingkar lembut di pinggangnya, tidak melepaskan meski tidak juga memaksa. Marco memandangnya diam sejenak. Sorot matanya begitu tenang dan serius. "Kamu pasti udah capek," ucapnya pelan. "Secara fisik, sama batin." Zea terdiam mendengar itu. Marco melanjutkan dengan suara lebih rendah. “Untung saja temenmu paham posisi kamu. Dia bahkan mau bantu kamu tadi pas ada video call dari Kakakmu, selama aku nggak ada di sini.” Ia mengusap pelan punggung tangan Zea dengan ibu jarinya. “Sekarang, giliran aku yang bener-bener rawat kamu, Zea.” Tidak ada nada menggoda di kalimat itu. Yang tersisa hanya ketulusan dan rasa tanggung jawab yang sudah lama tumbuh diam-diam di antara mereka. Zea menunduk. Ia sadar Marco benar. Tubuhnya le
Feby yang duduk di tepi ranjang langsung menghela napas panjang, lalu tertawa kecil. Lebih karena masih shock daripada geli sungguhan. "Untung aja kamu baru balik, Marco. Tadi Kak Zavian sama Mamanya Zea video call mendadak. Terus aku sempet mikir cepet, atur posisi kita berdua di ranjang biar keliatan kayak lagi di kamarku." Marco tersentak. "Video call? Mereka lihat—" "Nggak," potong Zea cepat, buru-buru menenangkan. "Feby atur kameranya bagus banget. Cuma keliatan tembok kosong sama kita berdua. Nggak ada yang curiga.” Marco menghembuskan napas panjang, bahunya sedikit turun, meski matanya masih menyorotkan sisa ketegangan. Ia menatap Feby lama, seolah baru benar-benar memperhatikan perempuan itu untuk pertama kalinya. "Makasih," ucapnya akhirnya, singkat tapi tulus. "Kalau bukan karena kamu—" "Iya, iya, aku tahu, aku udah selamatin kalian," potong Feby sambil menyeringai, mencoba mencairkan suasana. Marco tidak langsung tertawa. Ia malah menoleh ke arah Zea sambil alisnya
"Feb,” panggil Zea lirih, sekaligus gemetar, “ja–jangan diangkat dulu! Kita di hotel—" "Zea." Feby memotong cepat, suaranya tenang meski matanya menyorotkan keseriusan. "Kamu keluar rumah pakai alasan ketemu aku, kan?" Zea terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk pelan, rasa bersalah langsung menghantam dadanya. "Maaf, Feb," bisiknya lirih. "Aku ... udah nggak tahu lagi harus pakai alasan apa biar bisa keluar rumah. Jadi aku pakai nama kamu.” Feby tidak menjawab dengan kemarahan seperti yang Zea takutkan. Ia justru mengangguk mantap, seolah semua ini sudah bisa ia duga sejak awal. "Udah kuduga," gumamnya singkat. Lalu tanpa aba-aba, ia menarik tangan Zea. "Ayo, tiduran di ranjang." Zea tersentak kaget, matanya membulat. "M–mau ngapain, Feb?" "Nolongin kamu, lah," jawab Feby cepat sambil menyeret Zea mendekati ranjang. "Apalagi coba? Biar keliatan meyakinkan kalau kamu beneran di rumahku.” Belum sempat Zea mencerna sepenuhnya, Feby sudah menariknya berbaring di atas ranjang.
Wajah Zea memerah hebat saat pertanyaan itu terlontar dari bibir Feby. Ia menunduk dalam, tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban. Mata Feby membelalak. Bibirnya terbuka sedikit, namun tak ada suara yang keluar. Ia mengusap dahinya pelan, seolah berusaha mencerna pengakuan yang baru saja ia lihat. “Ya ampun …” gumamnya lirih. Pandangannya sempat melirik ke arah pintu, teringat Marco yang baru saja meninggalkan kamar. “Pantas saja …” desisnya pelan, masih sulit percaya. “Pantas dari tadi dia kelihatan sangat protektif sama kamu, Zea!” Ia terdiam sejenak, lalu menatap Zea dengan raut serius. “Dan kamu sudah benar-benar pastiin ke dokter?” tanyanya hati-hati. “Maksudku … soal penanganan itu. Dokter memang bilang cara itu bisa bantu kondisi kamu?” Zea mengangguk pelan. “Iya. Aku sudah bertanya langsung. Menurut beliau, cara itu memang lebih efektif untuk kurangi tekanan kalau pompa saja sudah tidak cukup.” Feby mengangguk pelan, ma
Zea terdiam. Ia melirik sekilas ke arah Marco yang berdiri beberapa langkah dari mereka. Pria itu sengaja menjaga jarak dan memberi ruang bagi Zea dan Feby untuk berbicara tanpa benar-benar meninggalkan mereka.Rasanya terlalu berat untuk menceritakan semua yang telah terjadi, sementara Marco masih berada di ruangan yang sama. Meski sengaja memberi ruang, pria itu tetap bisa mendengar setiap kata yang keluar dari mulutnya."Maaf Marco," panggil Zea pelan. "Boleh keluar sebentar? Aku mau ngobrol berdua sama Feby.”Marco menatapnya beberapa saat. Rahangnya mengeras tipis, jelas terlihat enggan meninggalkan Zea sendiri bersama Feby. Namun, pada akhirnya ia mengangguk kecil."Oke," ucapnya singkat.Ia meraih hoodie-nya dari sandaran kursi, lalu berjalan menuju pintu. Tepat di ambang pintu, langkahnya terhenti. Ia menoleh ke arah Zea."Mau dibawain apa? Biar sekalian aku beli di bawah.”"Nggak usah repot-repot, Marco," sahut Zea cepat sambil menggeleng.Namun Feby yang duduk di kursi dekat
Marco menoleh ke Zea dengan tatapan bertanya, tangannya masih memegang gagang telepon. "Kamu mau kasih tahu nomor kamar kita?" tanyanya pelan, meski suaranya masih sedikit serak. Zea menahan napas sejenak sebelum mengangguk. Ia juga ingin bertemu Feby karena ada banyak yang harus ia jelaskan. Marco mengangguk kecil, lalu kembali bicara ke resepsionis. "Boleh, kasih tahu nomor kamarnya." “Baik, akan saya beri tahu nomor kamar Tuan sesuai permintaan,” ucap resepsionis ramah dan formal. Begitu telepon ditutup, keduanya langsung bergerak cepat. Zea meraih pakaian gantinya dari dalam tas besar dengan jemari yang masih sedikit gemetar, lalu buru-buru merapikan dirinya. Marco pun buru-buru mengenakan kaos dan celana jeans-nya kembali, sesekali melirik ke arah pintu dengan waspada. Zea sempat berhenti sejenak di depan cermin, menatap pantulan dirinya yang masih memerah dan berantakan. Ia baru sadar, di tengah semua yang baru saja terjadi, ia hampir lupa satu hal paling pentin







