LOGINZea mencengkram bahu Marco kuat-kuat, tubuhnya gemetar di antara panik dan kenikmatan yang sudah lama tak ia rasakan. Pikirannya terombang-ambing di ambang batas antara akal sehat dan hasrat yang mulai bangkit.
“Marco … lepas… ada Kak Zavian di rumah,” bisik Zea dengan suara pecah, nyaris tak terdengar. “Kalau mereka dengar … kita habis.”Marco tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengelus punggung Zea perlahan dengan telapak tangannya yang hangat, gerakannya menenangkan sepertiSekarang, kenapa Vincent malah ke lounge ini?! batin Zea menjerit panik. Zea langsung memaksakan senyumannya, berusaha menyembunyikan kegugupannya. Tangannya refleks memeluk tas jinjing khususnya sedikit lebih erat ke samping tubuhnya. "A–ah ... aku mau ke toilet," sahut Zea cepat, memoles suaranya sejernih mungkin. "Di loker lama ini kan ada kamar kecil. Jadi ya ... begitu." Vincent menyunggingkan senyuman ramah yang tampak begitu hangat di wajahnya. Ia membetulkan posisi kacamatanya, lalu berjalan santai memasuki area meja bar tempat bahan-bahan nutrisi tersusun rapi. "Oh, begitu. Aku pikir kamu kenapa," tutur Vincent halus. “Aku ke sini cuma mau mengecek bahan-bahan dan komposisi nutrisi harian para atlet seperti biasa, Zea.” Pria itu masih mempertahankan senyuman yang tak sampai mata. “Sekalian ... mau ngobrol sebentar sama kamu. Kita kan jarang bicara sebagai rekan sesama tim.” Vincent menatap Zea lekat-lekat, lalu melontarkan pertanyaan yang seketika membuat Zea menegang.
Dahi Zea semakin berkerut. Pandangannya kembali tertuju pada Marco, kali ini dengan kecemasan yang perlahan menyusup ke dalam dadanya. “Seharusnya kemarin dia sudah diperiksa sama Vincent, kan, Kak?” tanyanya lirih. Zavian mengangguk pelan. “Benar, kemarin sore sudah diperiksa Vincent. Tapi entahlah, Zea.” Ia mengerutkan kening, kembali mengamati Marco dari kejauhan. “Kakak sudah cukup hapal bagaimana gerakan Marco saat berenang. Tapi kali ini, ada yang nggak beres dengan bahunya.” Naluri Zea seketika menyengat tajam. Ada yang salah. Tanpa membuang waktu, Zea melangkah cepat menghampiri kekasihnya. "Marco!" Marco menoleh. Sembari menahan meringis tipis di wajahnya, pria itu mencoba menggoyang-goyangkan bahunya pelan untuk melakukan stretching. "Sayang? Kamu sudah sampai?" Zea menyipitkan mata, menatap lengan dan pangkal bahu Marco dengan raut cemas yang begitu kentara. "Bahumu … kenapa, Marco?" Marco berusaha mempertahankan raut wajah datarnya, mencoba bersikap seolah
Zea terhenyak mendengar penjelasan Dokter Nancy, sementara Donna sedikit menganga di tempatnya. Donna benar-benar tidak menyangka ada suplemen medis yang memiliki efek samping spesifik seperti itu. Dokter Nancy tersenyum ramah, berusaha menenangkan raut tegang ibu dan anak di hadapannya. "Suplemen jenis ini sebenarnya lebih baik dikonsumsi untuk wanita menyusui yang mengalami keluhan ASI tersumbat atau mampet.” “Untuk kondisi seperti itu, komposisinya memang sangat bagus. Tapi karena status Zea belum menikah dan ada kondisi kelainan hormon langka, saya sarankan kamu jangan meminum suplemen ini dulu ya, Zea." Zea tertegun, lalu mengangguk pelan. "I-iya, Dok ... saya mengerti." Donna ikut mengangguk lega sambil mengusap dada untuk meredakan kepanikannya. Setelah pemeriksaan singkat selesai, Zea dan Donna berjalan keluar dari ruang praktik Dokter Nancy. Namun, jantung Zea masih berdebar kencang. Pikiran gadis itu berputar cepat dan liar. Untuk apa Vincent memberikan suplemen i
Sinar matahari pagi baru saja menyapu pelataran rumah ketika Zea sibuk merapikan tas jinjingnya di dekat pintu utama. Ia pun masih harus menunggu kakaknya, Zavian, agar bisa berangkat bersama ke pusat pelatihan. Namun, suara deru mobil yang berhenti di halaman membuatnya menoleh ke pintu utama. Bukan mobil sport Marco, melainkan sedan hitam milik keluarga Yozefa yang dikendarai Adrian, asisten pribadi kekasihnya. Adrian turun dari mobil dengan membawa sebuah amplop cokelat tebal dan kotak kecil berlabel medis di tangannya. "Selamat pagi, Nona Zea," sapa Adrian penuh kesopanan. "Saya diutus Tuan Marco untuk menyampaikan pesan penting ini." Dahi Zea berkerut heran. "Pagi, Adrian. Ada apa? Marco mana?" "Tuan Marco sedang berada di perjalanan menuju pusat pelatihan untuk persiapan sesi latihan pagi menjelang Final," terang Adrian, lalu menyodorkan amplop cokelat dan kotak tersebut. "Ini hasil laboratorium dari tes kandungan suplemen yang dijanjikan Tuan Marco waktu itu. Tuan
Selena terpaku duduk di balik kaca sekat tebal dengan pandangan mata tajam yang menusuk pada Siska. Di telinganya, gagang telepon masih menempel rapat, dan ia terlihat mencerna informasi dari mantan pelayannya."Nggak mungkin," desis Selena, lalu tertawa remeh. Suaranya pelan tapi penuh ejekan. "Zea? Punya ASI? Jangan konyol, Siska!"Di seberang kaca, Siska menarik napas pelan. "Nona, dengarkan saya dulu—""Siska," potong Selena tajam dengan suara mulai meninggi. "Pokoknya berhenti menghibur saya dengan omong kosong kayak gitu. Saya nggak mau dengar lagi. Lebih baik kamu pulang saja sana!"Namun Siska sama sekali tidak beranjak. Ia tetap duduk tenang di kursinya dengan telepon masih menempel di telinga. Perlahan, ia merogoh ponsel dari tas kecil yang ia bawa, lalu jemarinya bergerak lincah mencari sesuatu di galeri fotonya."Siska, saya bilang kamu pergi sekarang juga atau—!"Ucapan Selena terhenti seketika saat Siska menempelkan layar ponselnya ke kaca sekat, tepat di depan wajahnya.
Marco akan menikahi Zea tepat setelah pertandingan Final ...? Sebelum orang lain melihat dirinya berhenti di koridor itu, Vincent buru-buru melanjutkan perjalanan dengan langkah kaki lebar menyusuri koridor dengan napas memburu hebat. Begitu ia masuk ke dalam ruang fisioterapi, ia membanting pintu rapat-rapat hingga gema dentumannya memantul keras di dinding ruangan yang steril. Brak! Pria berkacamata itu melempar kotak makanan premium di tangannya ke atas meja periksa hingga isinya berhamburan. Ia berjalan bolak-balik di tengah ruangan yang lengang. Dada Vincent naik-turun tak teratur, dipenuhi gejolak emosi dan dendam yang membakar seluruh akal sehatnya. ‘Pernikahan resmi? Tepat setelah pertandingan Final?!’ batin Vincent menjerit murka, meremas jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih. Sudah sejauh ini ia datang ke klub ini, menyusun rencana secara terstruktur, dan bersusah payah menanamkan benih keraguan di kepala Zavian. Ia rela menguras energi untuk memprovokasi







