ANMELDENZea pura-pura sibuk merapikan botol-botol minum di tepi kolam setelah makan siang, tapi matanya sesekali mencuri pandang ke arah koridor. Di sana, Zavian dan Selena berdiri bicara berdua, agak menjauh dari keramaian.
Ia tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Hanya bahasa tubuh yang bisa ia tangkap dari kejauhan.Selena tampak serius, sesekali mengangkat tangannya untuk menegaskan sesuatu. Sementara Zavian hanya mendengarkan dengan raut wajah datar yang sulit dibaca.TakZea membeku mendengar suara Donna dari balik pintu. Ia buru-buru meraih ponselnya, hendak memutus panggilan video secepat mungkin."Marco, aku tutup dulu—""Jangan." Suara Marco terdengar tegas, menahannya sebelum jarinya sempat menyentuh layar. Wajahnya di layar berubah waspada. "Jangan di matiin. Aku mau lihat apa yang terjadi di sana."Zea terperangah. "Kenapa? Ini Mama, Marco. Aku harus—""Aku nggak mau kamu hadapin sendirian," potongnya cepat, nadanya penuh kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan. "Biarin aku lihat dari sini.”Belum sempat Zea membantah, ketukan pintu terdengar lagi. Kali ini lebih pelan, tapi suara Donna di baliknya jelas gemetar."Zea … tolong, Nak. Buka pintunya."Marco langsung berubah serius. "Pakai baju kamu dulu. Nanti kamu sakit."Zea mengangguk cepat, tangannya gemetar saat meraih piyama dari lemari pakaiannya. Ia meletakkan ponselnya begitu saja di atas kasur, membiarkan layar video call tetap menyala tanpa sempat me
Zea terdiam mendengar tawaran itu. Jantungnya berdebar kencang, antara debar yang tersisa dari momen tadi dan rasa panik yang mulai menjalar menggantikannya."Nginep ... semalaman?" ulangnya pelan, suaranya bergetar. Marco mangangguk. “Iya, menginap satu malam.”Zea menggeleng pelan. "Marco, aku nggak bisa. Gimana kalau Kak Zavian nyariin aku? Atau Mama tanya-tanya aku abis dari mana?"Berbagai kemungkinan buruk langsung memenuhi kepalanya. Bagaimana jika ada yang melihat mereka check-in bersama? Bagaimana kalau Zavian sampai menelepon teman-teman kuliahnya hanya untuk memastikan ia benar-benar menginap di rumah mereka? Semakin dipikirkan, semakin terasa mustahil mencari alasan yang masuk akal.“Terus kalau akhirnya semuanya ketahuan ... gimana?” Zea mengusap mukanya dengan gelisah. “Aku belum kepikiran alasan apa yang logis buat nginep di luar semalaman, Marco. Ini bukan kayak nyelinep beberapa jam aja, ini—""Zea." Suara Marco memotong, tenang tapi te
Zea ragu hanya sebentar. Malu masih ada, tapi hasrat sudah terlalu kuat. Dengan tangan gemetar, ia mengangkat pinggul dan menurunkan celana dalamnya perlahan hingga terlepas. Kini ia benar-benar telanjang di depan kamera. Lipatan basah yang masih perawan, pink dan mengkilap basah, kini terpapar jelas.Marco menarik napas tajam. “Zea … kamu cantik sekali di sana. Kamu terlihat sudah siap untukku.”Zea menutup muka sejenak dengan lengan, tapi kakinya tetap terbuka. “Jangan … jangan bilang gitu … malu … ahh…”“Jangan tutup. Lihat aku,” perintah Marco lembut. “Sentuh langsung sekarang. Usap bibirnya dulu … pelan-pelan.”Zea menurunkan tangan. Jari-jarinya menyentuh area intimnya yang sudah basah. Ia mendesah panjang, terkejut merasakan betapa panas dan licin dirinya saat ini.“Haahh…! Basah sekali … Marco… mmhh… ahh … ahh …”“Masukkan satu jari, pelan-pelan,” bisik Marco. “Rasakan di dalam.”Zea mendorong jari tengahnya masuk perlahan. Are intimnya yang
Zea menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, napasnya sudah tersengal. Wajahnya memerah hebat hingga ke telinga, tapi sorot mata Marco yang gelap dan sudah berhasrat itu membuat lututnya lemas meski ia sedang duduk di tepi ranjang.“Marco … aku … nggak bisa,” bisiknya hampir tidak terdengar, suaranya bergetar.“Kamu bisa, Zea,” Marco menjawab dengan suara yang sudah sangat serak tapi tetap lembut. “Aku di sini. Lihat aku. Dan rasakan dirimu sendiri.”Tangan Zea gemetar hebat saat ia meletakkan ponsel di meja nakas di samping ranjang, menyandarkannya agar Marco bisa melihat seluruh tubuhnya. Handuk yang longgar itu akhirnya ia tarik perlahan ke bawah hingga jatuh ke pinggangnya. Payudaranya yang montok dan penuh terpapar sepenuhnya di depan kamera. Putingnya sudah mengeras sempurna, sedikit berkilau karena masih ada sisa air mandi.Marco mengumpat pelan di layar. “Fuck … Zea … kamu terlalu sempurna.”Zea menutup mata sebentar, lalu tangan kanannya naik perlahan. J
Marco menolak usulan itu tanpa ragu. “Nggak.”Zea terperangah. “Kenapa?”“Aku sudah pernah bilang,” suara Marco rendah tapi tegas di layar, “kondisi kamu itu tanggung jawabku. Bukan tanggung jawab kurir.”Ia berdecak pelan. “Kirim pakai kurir? Aku nggak percaya. Siapa yang jamin botol itu sampai ke tanganku utuh? Atau malah dibuka orang lain di tengah jalan?”Zea mengedip, tidak menyangka pria itu bisa sekeras itu. “Marco, itu cuma botol ASI. Bukan barang berharga—”“Justru itu masalahnya.” Marco menatapnya tajam lewat kamera. “Aku nggak mau minuman darimu malah diminum sama orang lain. Itu milikku.”Zea terdiam. Perkataan pria itu membuat pipinya memanas. Miliknya? Seolah ASI yang keluar dari tubuhnya sudah menjadi milik pribadi Marco.Zea merasa aneh. Bagian dirinya yang rasional ingin protes. Tapi bagian lain … justru merasakan aneh-aneh di perutnya.Marco menggeleng pelan, seolah mengenyahkan skenario terburuknya sendiri. “Kamu tahu sendiri. Kondi
Zea menatap layar ponselnya lama. Pesan Marco masih terpampang di sana, dan belum terjawab.Jarinya mengetuk-ngetuk pinggiran ponsel, mencoba menyusun kalimat balasan yang tepat. Namun setiap kali ia mulai mengetik, ia menghapusnya lagi. Tidak ada jawaban yang terasa benar. Kalau ia bilang tetap absen, Marco pasti akan makin gelisah. Kalau ia bilang batal, ia harus mengecewakan Ibunya dan Moara yang sudah menantikan pertemuan itu.Zea akhirnya menghela napas panjang dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas tanpa membalas apapun."Kenapa mukamu kayak lagi mikir gitu?" Suara Zavian dari kursi kemudi membuat Zea tersentak kecil. "Siapa yang chat?"Zea menoleh cepat, lalu tertawa kecil, berusaha terdengar sewajar mungkin. “Chat dari temen kuliah.”Zavian melirik sekilas sebelum kembali fokus ke jalanan. "Temen doang, tapi kenapa mukamu kayak lagi mikir keras banget barusan?""Nggak, kok," Zea terkekeh, mencoba menetralkan suaranya. "Dia cuma ajak jalan







