MasukZea merasa dadanya seketika mencelos mendengar ucapan Dimas barusan. Pikirannya berputar cepat, mencari cara untuk keluar dari situasi ini tanpa harus mengucapkan kebenaran yang sesungguhnya.
Bagaimana mungkin ia menjelaskan kalau aroma itu berasal dari ASI-nya sendiri?!"Itu ..." Zea terkekeh pelan, meski terdengar kaku di telinganya sendiri. Tangannya bergerak ke sana kemari tanpa arah jelas, seolah mencari sesuatu untuk disibukkan. "Tadi … aku nggak sengaja tumpahin es krim ke bajuZea ragu hanya sebentar. Malu masih ada, tapi hasrat sudah terlalu kuat. Dengan tangan gemetar, ia mengangkat pinggul dan menurunkan celana dalamnya perlahan hingga terlepas. Kini ia benar-benar telanjang di depan kamera. Lipatan basah yang masih perawan, pink dan mengkilap basah, kini terpapar jelas.Marco menarik napas tajam. “Zea … kamu cantik sekali di sana. Kamu terlihat sudah siap untukku.”Zea menutup muka sejenak dengan lengan, tapi kakinya tetap terbuka. “Jangan … jangan bilang gitu … malu … ahh…”“Jangan tutup. Lihat aku,” perintah Marco lembut. “Sentuh langsung sekarang. Usap bibirnya dulu … pelan-pelan.”Zea menurunkan tangan. Jari-jarinya menyentuh area intimnya yang sudah basah. Ia mendesah panjang, terkejut merasakan betapa panas dan licin dirinya saat ini.“Haahh…! Basah sekali … Marco… mmhh… ahh … ahh …”“Masukkan satu jari, pelan-pelan,” bisik Marco. “Rasakan di dalam.”Zea mendorong jari tengahnya masuk perlahan. Are intimnya yang
Zea menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, napasnya sudah tersengal. Wajahnya memerah hebat hingga ke telinga, tapi sorot mata Marco yang gelap dan sudah berhasrat itu membuat lututnya lemas meski ia sedang duduk di tepi ranjang.“Marco … aku … nggak bisa,” bisiknya hampir tidak terdengar, suaranya bergetar.“Kamu bisa, Zea,” Marco menjawab dengan suara yang sudah sangat serak tapi tetap lembut. “Aku di sini. Lihat aku. Dan rasakan dirimu sendiri.”Tangan Zea gemetar hebat saat ia meletakkan ponsel di meja nakas di samping ranjang, menyandarkannya agar Marco bisa melihat seluruh tubuhnya. Handuk yang longgar itu akhirnya ia tarik perlahan ke bawah hingga jatuh ke pinggangnya. Payudaranya yang montok dan penuh terpapar sepenuhnya di depan kamera. Putingnya sudah mengeras sempurna, sedikit berkilau karena masih ada sisa air mandi.Marco mengumpat pelan di layar. “Fuck … Zea … kamu terlalu sempurna.”Zea menutup mata sebentar, lalu tangan kanannya naik perlahan. J
Marco menolak usulan itu tanpa ragu. “Nggak.”Zea terperangah. “Kenapa?”“Aku sudah pernah bilang,” suara Marco rendah tapi tegas di layar, “kondisi kamu itu tanggung jawabku. Bukan tanggung jawab kurir.”Ia berdecak pelan. “Kirim pakai kurir? Aku nggak percaya. Siapa yang jamin botol itu sampai ke tanganku utuh? Atau malah dibuka orang lain di tengah jalan?”Zea mengedip, tidak menyangka pria itu bisa sekeras itu. “Marco, itu cuma botol ASI. Bukan barang berharga—”“Justru itu masalahnya.” Marco menatapnya tajam lewat kamera. “Aku nggak mau minuman darimu malah diminum sama orang lain. Itu milikku.”Zea terdiam. Perkataan pria itu membuat pipinya memanas. Miliknya? Seolah ASI yang keluar dari tubuhnya sudah menjadi milik pribadi Marco.Zea merasa aneh. Bagian dirinya yang rasional ingin protes. Tapi bagian lain … justru merasakan aneh-aneh di perutnya.Marco menggeleng pelan, seolah mengenyahkan skenario terburuknya sendiri. “Kamu tahu sendiri. Kondi
Zea menatap layar ponselnya lama. Pesan Marco masih terpampang di sana, dan belum terjawab.Jarinya mengetuk-ngetuk pinggiran ponsel, mencoba menyusun kalimat balasan yang tepat. Namun setiap kali ia mulai mengetik, ia menghapusnya lagi. Tidak ada jawaban yang terasa benar. Kalau ia bilang tetap absen, Marco pasti akan makin gelisah. Kalau ia bilang batal, ia harus mengecewakan Ibunya dan Moara yang sudah menantikan pertemuan itu.Zea akhirnya menghela napas panjang dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas tanpa membalas apapun."Kenapa mukamu kayak lagi mikir gitu?" Suara Zavian dari kursi kemudi membuat Zea tersentak kecil. "Siapa yang chat?"Zea menoleh cepat, lalu tertawa kecil, berusaha terdengar sewajar mungkin. “Chat dari temen kuliah.”Zavian melirik sekilas sebelum kembali fokus ke jalanan. "Temen doang, tapi kenapa mukamu kayak lagi mikir keras banget barusan?""Nggak, kok," Zea terkekeh, mencoba menetralkan suaranya. "Dia cuma ajak jalan
Zea pura-pura sibuk merapikan botol-botol minum di tepi kolam setelah makan siang, tapi matanya sesekali mencuri pandang ke arah koridor. Di sana, Zavian dan Selena berdiri bicara berdua, agak menjauh dari keramaian.Ia tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Hanya bahasa tubuh yang bisa ia tangkap dari kejauhan. Selena tampak serius, sesekali mengangkat tangannya untuk menegaskan sesuatu. Sementara Zavian hanya mendengarkan dengan raut wajah datar yang sulit dibaca.Tak jauh dari sana, Marco juga ikut menoleh ke arah yang sama. Namun ia tidak bergerak mendekati Zea. Ia tahu betul, selama Zavian dan Selena masih ada di sekitar sana, mendekat sedikit saja bisa menimbulkan kecurigaan baru. Jadi ia hanya berdiri di tepi kolam, melakukan peregangan bersama para atlet yang baru selesai makan siang, sambil sesekali melirik ke arah koridor itu.Beberapa menit kemudian, obrolan Zavian dan Selena akhirnya selesai. Selena berpamitan dengan senyum manis seperti bi
Zea merasa dadanya seketika mencelos mendengar ucapan Dimas barusan. Pikirannya berputar cepat, mencari cara untuk keluar dari situasi ini tanpa harus mengucapkan kebenaran yang sesungguhnya.Bagaimana mungkin ia menjelaskan kalau aroma itu berasal dari ASI-nya sendiri?!"Itu ..." Zea terkekeh pelan, meski terdengar kaku di telinganya sendiri. Tangannya bergerak ke sana kemari tanpa arah jelas, seolah mencari sesuatu untuk disibukkan. "Tadi … aku nggak sengaja tumpahin es krim ke baju.”Dimas mengernyit bingung. "Es krim?""Iya," Zea mengangguk cepat, "aku emang suka banget es krim vanila. Kedengarannya kekanakan sih, seusiaku masih doyan banget sama rasa itu. Kebawa dari kecil."Dimas terdiam sesaat, lalu tiba-tiba terkekeh pelan, sebagian ketegangan di wajahnya mencair. "Aku kira apa. Ternyata karena kamu makan es krim belepotan.""Eh, aku kalau makan es krim nggak sampai berantakan juga, Dimas!" protes Zea, menahan malu meski dalam hati diam-diam lega alas







