Home / Fantasi / Pedagang di Antara Dua Dunia / Chapter 14: Luna, Si Pelayan Centil

Share

Chapter 14: Luna, Si Pelayan Centil

Author: Double Bie
last update publish date: 2026-10-19 14:20:42

Langit Verenthia perlahan mulai cerah. Kabut hitam yang telah 12 jam menaungi penduduk perlahan digeser oleh kilauan cahaya terang mentari. Sama seperti Jepang, di dunia lain Ayam pun berkokok, sebagai alarm pengingat bahwa hari telah pagi.

“Astaga!!”

“Layanan Ekstra”

“Makan Malamnya?”

“AKU KETIDURANNNNNNNNN” Teriak Akira saat pekikan ayam jago sadarkan dia dari tidur panjang itu.

Watak seorang pedagang yang “Tidak Mau Rugi” mulai terlihat. Bukan barang-barang, bukan masa depan, saat matanya te
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pedagang di Antara Dua Dunia   Chapter 22: Transaksi Bersejarah

    Malam itu, Akira berdiri di depan cermin di kamarnya, merapikan kemeja yang jarang ia pakai. Biasanya ia hanya mengenakan kaos dan hoodie, tapi malam ini berbeda. Malam ini, ia akan bertemu dengan seorang kolektor kaya raya yang mungkin akan mengubah hidupnya.Ia memandangi koin emas di telapak tangannya. Koin itu berkilau di bawah lampu kamar, ukiran terpatri sangat jelas di permukaannya."Aku tidak tahu berapa nilai mu sebenarnya," gumamnya pelan. "Tapi malam ini, aku akan mengetahuinya."Ia memasukkan koin itu ke dalam saku celananya, merapikan rambutnya sekali lagi, dan berjalan keluar rumah menuju toko barang antik milik Takeda.---Toko barang antik Takeda terletak di sebuah jalan kecil yang tenang di pinggiran Tokyo. Lampu-lampu jalan menerangi etalase toko yang penuh dengan barang-barang kuno—guci dari zaman Edo, pedang samurai tua, patung-patung Buddha, dan berbagai artefak lain yang telah berusia ratusan tahun.Saat Akira tib

  • Pedagang di Antara Dua Dunia   Chapter 21: Koin Emas Itu Dihargai 1 Juta Yen

    Pagi hari di Tokyo.Akira bangun dengan semangat yang menyala-nyala. Ia bersiap dengan cepat, mengenakan pakaian kerjanya, dan berjalan menuju toko barang antik milik Takeda.Sesampainya di toko, Takeda menatapnya dengan ekspresi heran."Akira? Bukankah kau libur tiga hari?" tanya Takeda, alisnya terangkat.Akira tertegun. "Eh? Tapi aku sudah pergi tiga hari, Takeda-san."Takeda menggelengkan kepala. "Kau pergi kemarin, Akira. Ini baru hari Kedua dan masih sangat pagi."Akira membeku. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.“Tiga hari dua malam di Verenthia... dan paginya aku pulang ke Tokyo. Tokyo sudah malam dan aku berfikir besok pagi aku akan bekerja. tapi di Tokyo, malah baru satu hari?” gumam Takeda dalam hati.Perbedaan waktu itu nyata."Tapi aku merasa sudah pergi tiga hari!" kata Akira, bingung.Takeda tertawa kecil. "Kau bermimpi, mungkin? Atau kau bingung karena kelelahan?" Ia menepuk bahu Akira. "Tapi bagaimanapun, kau sudah datang. Dan kau terlihat bersemangat

  • Pedagang di Antara Dua Dunia   Chapter 20: Mereka Taring Kegelapan

    "Prajurit! Prajurit!" teriak Akira, napasnya tersengal saat ia mencapai gerbang.Prajurit yang berjaga langsung sigap menghampiri.“Hei kau, ada apa?” Tanya sang Kapten. Matanya menunjukkan kebingungan. “Bukan kah kau yang bersama Tuan Doran kemarin?”Dengan nafas terengah-engah, Akira menjawab, “Ya, itu aku.”“Nama ku Akira,” tegasnya lagi."Apa yang terjadi dengan mu?" tanya Kapten, wajahnya serius."Di jalan sana... di luar hutan... ada sembilan perompak!" kata Akira, masih terengah-engah. "Mereka mencoba merampokku. Mereka... mereka semua pingsan."Kapten mengerutkan alisnya. "Pingsan?"Akira ragu sejenak. Bagaimana menjelaskan ini? Bahwa ia sendiri mengalahkan mereka? Bahwa ia—seorang pengelana kurus dengan pakaian aneh—berhasil membuat sembilan perompak bersenjata tak berdaya."Aku... aku melawan mereka," katanya, suaranya pelan.Kapten menatap Ak

  • Pedagang di Antara Dua Dunia   Chapter 19: 9 Perompak Yang Mencium Emas

    Jalan itu semakin sepi saat ia menjauh dari kota. Suara-suara Verenthia memudar, digantikan oleh desiran angin di antara pepohonan berbatang perak dan kicauan burung asing di kejauhan.Tiba-tiba..Langkah kaki. Banyak. Datang dari pepohonan di kedua sisi jalan.Akira menghentikan kereta kudanya secara tiba-tiba. Jantungnya mulai berdebar kencang. Kudanya mengeluarkan suara panjang sembari menaikkan kedua kakinya keatas.Sembilan sosok muncul dari balik bayang-bayang hutan. Pria-pria kasar dengan wajah berbekas luka dan senyum kejam. Mereka membawa berbagai senjata—pedang berkarat, kapak bergerigi, tombak, dan satu bahkan membawa busur silang yang diacuhkan ke tanah. Pakaian mereka dari kulit usang dan kain tambal sulam, dan mata mereka berkilau dengan nafsu predator.Perompak.Darah Akira terasa membeku.Yang terbesar di antara mereka—seorang pria botak dengan janggut tebal dan bekas luka mengerikan di pipinya—melang

  • Pedagang di Antara Dua Dunia   Chapter 18: Pulang Ke Rumah

    Tok...Tok..Tok.."Tuan Akira.."Lagi, suara perempuan memanggil akira di balik pintu itu."Tuan..Apakah kau masih tidur?" teriak wanita itu dengan lantang.Lagi.Suara perempuan di balik pintu kamar Akira."Ehm..mmm.." ruh Akira akhinya telah masuk kembali ke dalam raganya.""TUAN AKIRA! Buka Pintunya!" teriak wanita itu."HAH!"Akira seperti sedang menghadapi gempa yang sangat dahsyat. Dia masih trauma dengan suara wanita di balik pintu kamar."Siapa?" jawab Akira sedikit lantang."Apakah disini juga ada layanan ekstra?" gumam Akira dalam hati."Aku Lyra. Kau baru bangun?""Tuan Doran memanggil mu ke ruangannya. Dia mau mengajak mu makan siang.""Eh" Akira menarik nafas lega. "Kreeeweeewekk..."Suara yang sangat merdu itu keluar dari bagian lambung Akira. dia pun bergegas mandi, bersiap, dan berlari ke ruang Doran. Tok..tok..tok.."Tuan Doran, apa kau memanggil ku?" "Kreeweeweweeweeekkk.." basa basi itu langsung disambut dengan nyanyian perut yang sangat mempesona."Ya, Akira. Masu

  • Pedagang di Antara Dua Dunia   Chapter 17: Wanita Ketiga

    Sesampainya di penginapan, Akira disambut dengan meriah oleh wanita-wanita seksi yang ada di penginapan itu. Olga dan Luna serta satu wanita baru berbaris menyambut Akira dengan wajah yang merona merah jambu. Sang "Pangeran Kesiangan" pun mengerutkan kening tanda bingung dengan sikap semua wanita di penginapan itu."Eeh.."Tiba-tiba Akira teringat tragedi pagi yang mencekap itu."Apa kabar tentang pagi tadi sudah menyebar ke semua orang di penginapan ini?" gumam Akira dalam hati.Akira langsung terbayang daging yang mengeras dibalik celananya, serta Luna yang begitu seksi di hadapannya dengan hanya mengenakan pakaian dalam berenda berwarna ungu muda."Selamat datang kembali Tuan Akira," sambut mereka bertiga serentak.Olga dan Luna seakan memiliki maksud lain jika dilihat dari rona wajah mereka. Satu wanita baru yang tidak memiliki kenangan buruk dengan Akira hanya memasang wajah imut dan senyum kecil saat berhadapan dengan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status