Rumput itu terasa lembut di bawah telapak kakinya.Akira menundukkan kepala, menatap kedua kakinya yang kini berdiri di atas hamparan padang hijau yang tak pernah ia lihat sebelumnya—bukan di buku, bukan di film, bukan bahkan dalam mimpinya yang paling liar.Helai-helai rumput itu berwarna hijau zamrud yang hampir berpendar, dengan ujung-ujung berwarna perak yang berkilau di bawah sinar matahari.Akira tersentak hebat."HAH? Kenapa disini terang? Matahari? Apa sudah pagi?" Akira bingung dalam kecemasan.Ia perlahan menoleh ke belakang.Pintu batu itu masih berdiri kokoh di belakangnya. Tinggi dan megah, dengan ukiran-ukiran yang kini tampak berdenyut samar dengan cahaya keemasan. Pintu itu terbuka, seperti mulut raksasa yang menganga, dan di baliknya...Ruang bawah tanah rumahnya di Tokyo.Dia berlari, menuju Tokyo, naik ke atas-membuka pintu-keluar rumah, terlihat bulan sabit masih bertengger indah di langit Jepang.Akira kembali bergegas, menutup pintu rumah-turun ke bawah tanah-kel
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-10-16 อ่านเพิ่มเติม