MasukRumput itu terasa lembut di bawah telapak kakinya.
Akira menundukkan kepala, menatap kedua kakinya yang kini berdiri di atas hamparan padang hijau yang tak pernah ia lihat sebelumnya—bukan di buku, bukan di film, bukan bahkan dalam mimpinya yang paling liar.
Helai-helai rumput itu berwarna hijau zamrud yang hampir berpendar, dengan ujung-ujung berwarna perak yang berkilau di bawah sinar matahari.
Akira tersentak hebat.
"HAH? Kenapa disini terang? Matahari? Apa sudah pagi?" Akira bingung dalam kecemasan.
Ia perlahan menoleh ke belakang.
Pintu batu itu masih berdiri kokoh di belakangnya. Tinggi dan megah, dengan ukiran-ukiran yang kini tampak berdenyut samar dengan cahaya keemasan. Pintu itu terbuka, seperti mulut raksasa yang menganga, dan di baliknya...
Ruang bawah tanah rumahnya di Tokyo.
Dia berlari, menuju Tokyo, naik ke atas-membuka pintu-keluar rumah, terlihat bulan sabit masih bertengger indah di langit Jepang.
Akira kembali bergegas, menutup pintu rumah-turun ke bawah tanah-keluar dari pintu batu, terlihat matahari cerah tegak menyinari alam semesta.
"...Jadi ini benar-benar nyata? Siang dan malam menyatu di rumah ku."
"Apakah perbedaan waktu?" gumam Akira dalam hati.
Tiba-tiba, jendela status seperti game RPG pun muncul. Suara pemberitahuan dari system terdengar samar ditelinga Akira. Sebuah layar antarmuka pengguna (UI) berwarna putih muncul dihadapannya dengan tulisan yang rumit, namun Akira mampu membacanya seperti telah sangat mengetahui huruf dan angka di dunia tersebut.
“Selamat datang Akira Shinzō”
STATUS WINDOW
Nama : Akira Shinzō
Usia : 27
Level : 1
Kelas : [???] (Tidak Teridentifikasi)
Title : Pemula
HP : [10]
MP : [10]
Stamina : [10]
ATK (STR) : 1
DEF (VIT) : 1
AGI : 1
INT : 1
LUK : [???]
Unique Skill:[???]
Passive: [???]
Skill: [???]
[Magic Affinity] : [???]
[Skill Sihir yang Terbuka] : [???]
[Passive: [???]]
[Passive: [???]]
Inventory: [Kosong]
“Hahahaha” tawa Akira dengan wajah sedikit memucat.
“Seperti anime yang pernah aku tonton” tutur Akira.
"Ha...ha...ha.." tawa Akira tersengal dengan kebingungan yang sangat dahsyat seperti.
Tiba-tiba ada simbol elektrokardiogram yang melintas cepat dalam pikirannya.
“Tapi kenapa semuanya tanda tanya? Di anime biasanya ada keterangan..” gumamnya dalam hati
“Ah sudahlah” gumamnya pelan.
Akira tidak terlalu memusingkan status itu. Akira masih fokus untuk mencerna semua kejadian yang tertulis dalam takdirnya malam ini.
Suaranya terdengar kecil di hamparan luas itu. Angin membawa kata-katanya, menyebarkannya ke padang rumput yang seolah tak berujung.
Ia menghembuskan napas panjang. Jantungnya masih berdetak kencang, tetapi rasa takut yang menggerogotinya perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain. Rasa penasaran. Rasa ingin tahu yang tak terbendung.
Angin berhembus pelan, membawa aroma yang membuatnya terpana.
Tidak ada suara kendaraan.
Tidak ada klakson.
Tidak ada deru mesin atau gemuruh kereta bawah tanah.
Yang terdengar hanyalah desir rumput yang bergoyang lembut, kicauan burung-burung dengan nyanyian yang asing di telinganya, dan di kejauhan, suara air mengalir—sebuah sungai yang entah di mana.
Akira melangkah beberapa meter menjauh dari pintu.
Setiap langkahnya terasa aneh. Ringan. Seolah gravitasi di dunia ini sedikit lebih rendah, atau..mungkin tubuhnya yang telah terbiasa dengan beban kota, kini merasa terbebaskan.
Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan jalan pulang masih ada. Pintu batu itu masih terlihat jelas, masih terbuka, masih memancarkan cahaya keemasan yang hangat.
"Kalau sesuatu terjadi... aku masih bisa kembali apa tidak ya?."
Kalimat itu sedikit menggema dan memberikan rasa takut untuk dirinya. Sebuah jangkar yang mengikatnya pada realitas. Selama pintu itu masih ada, selama ia masih bisa melihat ruang bawah tanah rumahnya, ia belum benar-benar tersesat.
Ia mulai mengamati sekeliling dengan lebih saksama.
Akira memang sedikit penakut dan memiliki aura pengecut yang sangat akut di dalam dirinya. Selain bukan seorang yang aktif dalam berolahraga, dia juga kerap dimanja oleh kakeknya. Sang kakek sangat takut Akira mendapatkan "luka" yang lebih dalam lagi usai kedua orangtuanya meninggal.
Di kejauhan, pepohonan tinggi menjulang dengan batang berwarna keperakan yang berkilau seperti logam cair. Daun-daunnya berbentuk seperti kipas, dengan warna hijau kebiruan yang berubah menjadi ungu saat terkena sinar matahari langsung. Di antara cabang-cabangnya, Akira melihat gerakan-gerakan kecil—makhluk-makhluk bersayap yang terbang dari satu dahan ke dahan lain, meninggalkan jejak cahaya berkilau di udara seperti debu bintang.
Beberapa bunga liar tumbuh di antara rerumputan di mana ia berdiri. Warnanya biru tua pekat, dengan kelopak yang tipis dan hampir transparan, memancarkan cahaya redup seperti kunang-kunang di malam hari. Cahaya itu berdenyut pelan, mengikuti ritme yang tidak ia pahami.
"Indah sekali..." Akira berjongkok.
Ia hendak menyentuh bunga itu, tetapi mengurungkan niatnya di detik terakhir.
"Ah Janganlah," gumamnya pada diri sendiri, mengingat pelajaran dasar yang ia pelajari dari film-film petualangan—bahwa di dunia asing, bahkan bunga yang paling cantik pun bisa menjadi racun. "Mungkin saja beracun."
Ia tersenyum kecil pada dirinya sendiri. Belum sampai sepuluh menit berada di tempat asing ini, naluri kehati-hatiannya sudah bertarung dengan rasa ingin tahunya. Dan untuk saat ini, kehati-hatian masih menang.
Saat ia hendak berdiri...
Plup... plup...
Seekor makhluk kecil melompat melewati kakinya.
Akira spontan mundur, hampir terjatuh karena terkejut.
Makhluk itu berbentuk bulat sempurna, sebesar bola tenis, dengan tubuh transparan seperti agar-agar yang berkilau di bawah sinar matahari. Di dalam tubuhnya yang bening, terlihat pusaran-pusaran kecil berwarna hijau muda berputar pelan, seperti galaksi mini yang hidup di dalamnya. Dua mata hitam kecil menatap Akira sejenak dengan ekspresi yang sulit diartikan—mungkin rasa ingin tahu, mungkin ketakutan, mungkin sekadar pengamatan biasa.
Kemudian...
Ia melompat pergi begitu saja, dengan gerakan memantul-mantul yang lucu, menghilang di balik semak-semak.
"...?"
Akira berkedip beberapa kali, mulutnya terbuka.
"Slime?"
Ia tertawa pelan—tawa yang keluar dari dalam dadanya, tawa lega karena makhluk itu tidak menyerangnya, tawa heran karena ia tidak percaya pada matanya sendiri.
Kalau ada yang menceritakan kejadian ini kemarin, pasti akan ia anggap gila. Kalau rekan-rekannya di toko melihatnya sekarang, berdiri di tengah padang rumput asing sambil menatap makhluk agar-agar yang melompat-lompat, mereka pasti akan meminta Akira pergi ke psikiater.
Namun kini...
Ia melihatnya sendiri.
Dan ia tidak bisa menyangkal kenyataan di hadapannya.
Beberapa slime lain tampak bergerak santai di antara rerumputan, dengan warna-warna yang berbeda-beda—biru langit, hijau lumut, merah muda, bahkan satu atau dua yang berwarna emas berkilau. Mereka bergerak lambat, menyerap nutrisi dari tanah dan lumut, sama sekali tidak terlihat berbahaya.
Bahkan seekor slime kecil yang berwarna biru pucat terlihat sibuk memakan lumut yang menempel pada sebuah batu besar di dekatnya. Tubuhnya bergoyang-goyang setiap kali ia menyerap makanan, seperti balon yang diisi air.
"Lucu juga..." Akira tersenyum. "Seperti hewan peliharaan."
Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana.
Klik.
Ia mencoba memotret slime kecil yang sedang makan itu.
Layar ponsel menyala seperti biasa. Kamera bekerja dengan sempurna.
Namun ketika hasil fotonya dibuka...
Yang terlihat hanya hamparan rumput kosong, dengan batu di tengahnya.
Slime itu tidak muncul sama sekali.
"Hah?" Akira mengernyit.
Ia mencoba sekali lagi, kali ini memfoto dari jarak lebih dekat.
Hasilnya tetap sama.
Slime-slime itu seolah tidak terdeteksi oleh sensor kamera.
Ia mencoba memfoto pepohonan perak di kejauhan—hasilnya sama. Pohon itu muncul, tapi batangnya yang berkilau justru tampak hitam pekat di foto, warna peraknya hilang sama sekali.
Akira mengernyit lebih dalam. "Kenapa tidak terekam?"
“Lho?”
Mata Akira tertuju pada symbol signal di smartphonenya yang menunjukkan tanda silang.
“Apakah ini di luar Tokyo? Kenapa tidak ada signal?” gumamnya dalam hati.
Ia menyimpan kembali ponselnya dengan perasaan aneh di dadanya. Mungkin ada sesuatu di dunia ini yang belum bisa dijelaskan oleh sains modern. Mungkin frekuensi cahaya di sini berbeda. Mungkin ponselnya tidak bisa menangkap spektrum yang tidak ada di Bumi.
Atau mungkin...
Dunia ini memiliki aturan sendiri.
Aturan yang belum ia pahami.
"Prajurit! Prajurit!" teriak Akira, napasnya tersengal saat ia mencapai gerbang.Prajurit yang berjaga langsung sigap menghampiri.“Hei kau, ada apa?” Tanya sang Kapten. Matanya menunjukkan kebingungan. “Bukan kah kau yang bersama Tuan Doran kemarin?”Dengan nafas terengah-engah, Akira menjawab, “Ya, itu aku.”“Nama ku Akira,” tegasnya lagi."Apa yang terjadi dengan mu?" tanya Kapten, wajahnya serius."Di jalan sana... di luar hutan... ada sembilan perompak!" kata Akira, masih terengah-engah. "Mereka mencoba merampokku. Mereka... mereka semua pingsan."Kapten mengerutkan alisnya. "Pingsan?"Akira ragu sejenak. Bagaimana menjelaskan ini? Bahwa ia sendiri mengalahkan mereka? Bahwa ia—seorang pengelana kurus dengan pakaian aneh—berhasil membuat sembilan perompak bersenjata tak berdaya."Aku... aku melawan mereka," katanya, suaranya pelan.Kapten menatap Ak
Jalan itu semakin sepi saat ia menjauh dari kota. Suara-suara Verenthia memudar, digantikan oleh desiran angin di antara pepohonan berbatang perak dan kicauan burung asing di kejauhan.Tiba-tiba..Langkah kaki. Banyak. Datang dari pepohonan di kedua sisi jalan.Akira menghentikan kereta kudanya secara tiba-tiba. Jantungnya mulai berdebar kencang. Kudanya mengeluarkan suara panjang sembari menaikkan kedua kakinya keatas.Sembilan sosok muncul dari balik bayang-bayang hutan. Pria-pria kasar dengan wajah berbekas luka dan senyum kejam. Mereka membawa berbagai senjata—pedang berkarat, kapak bergerigi, tombak, dan satu bahkan membawa busur silang yang diacuhkan ke tanah. Pakaian mereka dari kulit usang dan kain tambal sulam, dan mata mereka berkilau dengan nafsu predator.Perompak.Darah Akira terasa membeku.Yang terbesar di antara mereka—seorang pria botak dengan janggut tebal dan bekas luka mengerikan di pipinya—melang
Tok...Tok..Tok.."Tuan Akira.."Lagi, suara perempuan memanggil akira di balik pintu itu."Tuan..Apakah kau masih tidur?" teriak wanita itu dengan lantang.Lagi.Suara perempuan di balik pintu kamar Akira."Ehm..mmm.." ruh Akira akhinya telah masuk kembali ke dalam raganya.""TUAN AKIRA! Buka Pintunya!" teriak wanita itu."HAH!"Akira seperti sedang menghadapi gempa yang sangat dahsyat. Dia masih trauma dengan suara wanita di balik pintu kamar."Siapa?" jawab Akira sedikit lantang."Apakah disini juga ada layanan ekstra?" gumam Akira dalam hati."Aku Lyra. Kau baru bangun?""Tuan Doran memanggil mu ke ruangannya. Dia mau mengajak mu makan siang.""Eh" Akira menarik nafas lega. "Kreeeweeewekk..."Suara yang sangat merdu itu keluar dari bagian lambung Akira. dia pun bergegas mandi, bersiap, dan berlari ke ruang Doran. Tok..tok..tok.."Tuan Doran, apa kau memanggil ku?" "Kreeweeweweeweeekkk.." basa basi itu langsung disambut dengan nyanyian perut yang sangat mempesona."Ya, Akira. Masu
Sesampainya di penginapan, Akira disambut dengan meriah oleh wanita-wanita seksi yang ada di penginapan itu. Olga dan Luna serta satu wanita baru berbaris menyambut Akira dengan wajah yang merona merah jambu. Sang "Pangeran Kesiangan" pun mengerutkan kening tanda bingung dengan sikap semua wanita di penginapan itu."Eeh.."Tiba-tiba Akira teringat tragedi pagi yang mencekap itu."Apa kabar tentang pagi tadi sudah menyebar ke semua orang di penginapan ini?" gumam Akira dalam hati.Akira langsung terbayang daging yang mengeras dibalik celananya, serta Luna yang begitu seksi di hadapannya dengan hanya mengenakan pakaian dalam berenda berwarna ungu muda."Selamat datang kembali Tuan Akira," sambut mereka bertiga serentak.Olga dan Luna seakan memiliki maksud lain jika dilihat dari rona wajah mereka. Satu wanita baru yang tidak memiliki kenangan buruk dengan Akira hanya memasang wajah imut dan senyum kecil saat berhadapan dengan
Tujuan Akira selanjutnya pun telah ditentukan.“Guild Petualang”Sesampainya dia di depan bangunan dengan papan tanda besar di atas pintu masuk—pedang dan perisai bersilang, dengan mahkota di atasnya.Jantungnya berdetak lebih cepat.“Aku Gugup. Apakah surat Doran benar akan berhasil?” gumam Akira.Tanpa ragu, Akira mendorong pintu kayu ek berat itu dan melangkah masuk.Aula itu luas dan seperti gua, dipenuhi meja-meja dan kursi kayu. Para petualang dari berbagai kalangan memenuhi ruangan—pria kekar dengan kapak besar, wanita ramping dengan busur terpaut di punggung mereka, sosok berjubah dengan tongkat berkilau dengan energi misterius. Akira melangkahkan kaki ke Guild Petualang, semua mata tertuju padanya. Keanehan orang-orang terhadapnya, pakaiannya, sepatunya, hoodienya. Tiba-tiba se-isi ruangan Guild Pedagang itu riuh membicarakannya.Di belakang konter panjang, seorang wanita dengan mata tajam dan rambut perak pendek duduk di kursi tinggi. Ia mengenakan tunik sederhana dengan la
Layanan Ekstra untuk kamar Akira hari pertama pun selesai. Luna telah keluar dari kamar, namun daging itu masih mengeras dan wajah Akira masih menyisakan rona merah meski tidak sepekat sebelumnya."Aku sangat ingin memegangnya tuan Akira, aku penasaran." Tiba-tiba, kata-kata Luna yang ambigu itu terngiang di telinga Akira. Suasana canggung itu pun muncul kembali, meski Luna telah pergi dari kamarnya.'Tidak!!" "Anggap saja tidak terjadi apa-apa."Akira mencoba untuk menenagkan dirinya meski kenyataan itu selalu terkenang di dalam benaknya. Untuk melupakan itu, Akira akhirnya memutuskan untuk pergi menemui Doran. Setibanya di tangga untuk turun menuju pintu keluar. Hati Akira sangat takut, takut bertemu dengan Luna. Akira masih sangat canggung jika harus langsung bertemu Luna kembali usai kejadian di kamarnya yang terjadi hanya beberapa jam yang lalu. Akhirnya.."Aku harus berlari sekencang mungkin!" gumam AKira dalam hati."Akira pun mengambil posisi start, laiknya atlet yang ing







