LOGINBercerita tentang protagonis yang lahir kembali ke dunia baru, dimana di dunia baru ini memiliki hal yang sangat luar biasa. Hampir seluruh kehidupan dibatasi oleh sistem leveling. Sang protagonis yang baru terlempar ke dalam dunia baru ini menyadari bahwa ada yang aneh dengan dirinya. Ia tidak dapat menemukan bagian skillnya sendiri di menu levelnya. Seiring berjalannya waktu, sang protagonis menyadari bahwa ia dapat membuat dan mengembangkan skillnya sendiri dan dapat memperoleh skill baru dari berbagai pengalaman bertarung. Memasuki guild untuk berpetualang, mendapatkan teman, mendirikan party, kesedihan yang tak bisa larut akan memenuhi perjalanan sang protagonis. Namun, satu hal yang menjadi pertanyaan. Benarkan sang protagonis adalah satu-satunya orang yang terlempar kedalam dunia baru ini?
View More"Kenapa melamun, sebaiknya kau bergegas," ucap santai dari seorang gadis yang berlari sambil menepuk pundak seorang pria. Tanpa memperhatikan sekitarnya, gadis itu terus berlari untuk menyeberang jalan. Namun sebuah mobil berkecepatan tinggi melaju ke arahnya.
"Sial! Gadis ceroboh itu!"
Tanpa sadar, tubuh pria yang ditepuk pundaknya oleh sang gadis bergerak menuju ke arahnya. Tanpa takut, tanpa keraguan, dan tanpa pikir panjang ia melompat ke arah gadis tersebut untuk mendorongnya agar dia terselamatkan.
*BRUGH
Gadis itu terdorong ke sisi lain jalan. Mencoba bangun dari jatuhnya. Ia melihat pria itu tergeletak di tengah jalan. Teriakan kencang keluar dari mulut sang gadis memanggil nama pria itu. Sayangnya, teriakan gadis itu tidak dapat menghentikan laju mobil yang melaju kencang ke arah pria itu.
"REIIIII!!!"
*TIIIIINNNNN!!!*
"WOAAH!!! Hah?! A-apa... itu ingatanku yang dulu? Kenapa aku memimpikan hal tersebut?" ucap lirih seorang laki-laki yang terbangun kaget karena mimpinya. Ia menyingkirkan selimutnya, mencoba berdiri dari tempat tidurnya menuju kamar mandi dan langkahnya menuntunnya ke arah tempat cermin berada.
"Aku, masih hidup sekarang. Mungkin ini imbalan ku saat menyelamatkan Lea di kehidupan sebelumnya. Tapi, kenapa aku tidak memiliki Skill apapun di dunia ini?!"
*Crip crip crip~*
Suara merdu dari burung-burung yang sedang asik saling berbincang mendampingi indahnya padang rumput yang hijau. Angin sepoi-sepoi juga tak ingin ketinggalan untuk menyejukan tempat tersebut. Terdapat seorang pria yang tergeletak di sana, dengan tubuh yang tidak begitu atletis dan rambut hitam yang tidak beraturan. Tak lama, pandangan pria tersebut mulai terbuka.
"Argghh sial! Kepalaku sakit sekali!"
"Tunggu, Lea? LEA?!"
Rei terbangun dengan sangat panik. Mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lea, gadis yang ia coba selamatkan sebelumnya tidak ada di sekitarnya. Rei mencoba melihat sekelilingnya, menyadari bahwa ia tidak berada dimana seharusnya ia berada.
"Aku tidak ingat aku menyelamatkannya di padang rumput seperti ini? Sebenarnya, dimana aku?"
Mencoba untuk mengetahui apa yang terjadi, Rei bangun dari duduknya dan mulai berjalan menyusuri padang rumput itu. Semakin lama berjalan, Rei melihat setapak jalan dari kejauhan. Ia pun bergegas menuju jalan tersebut. Namun di tengah perjalanannya, seekor kelinci melompat ke arahnya.
*GRAAAHHH!!!*
Dengan gigi-giginya yang tajam, kelinci tersebut terlihat seperti ingin menyerang Rei. Rei yang panik dan tidak bisa apa-apa hanya bisa terdiam berdiri di tempatnya.
"[Cryo : Ice Spear!]"
Seketika, udara dingin menyelimuti daerah sekitar Rei. Udara dingin tersebut kemudian berkumpul mengarah ke satu titik, yaitu tongkat sihir. Terdapat gadis bertopi besar yang sepertinya memegang kendali akan hal magis tersebut. Tak lama, tombak es terbentuk dan melesat kencang ke arah kelinci itu. Membuatnya tumbang dan mati dalam seketika.
"Bukankah kau terlalu ceroboh pria kecil? Mengapa kau hanya berdiam diri saja seperti itu saat kau akan diserang oleh seekor Killer Rabbit!" ucap seorang pria berbadan besar yang terlihat dari kejauhan lengkap dengan armor besi dari atas kepala hingga ujung kakinya.
"Sudahlah, bisakah kau mendekat kepada seseorang yang sedang kau ajak bicara? dasar otak otot!"
Sambil membawa tongkat sihirnya yang lebih tinggi dari dirinya, Gadis bertopi besar itu berjalan mencoba menghampiri Rei bersamaan dengan pria dengan sebutan "otak otot" yang dibicarakannya. Raut wajahnya sedikit heran ketika melihat Rei, dia sama sekali tidak mengenali model pakaian yang sedang Rei kenakan.
"Hei apakah kau baru di sini? Aku... tidak pernah melihat pakaian seperti itu sebelumnya"
Rei juga sama bingungnya. Ia tidak pernah melihat pakaian-pakaian yang kedua orang itu kenakan. Yang ia tahu, pakaian-pakaian tersebut pernah ia temui di dalam sebuah game.
"Emm... Ya? Aku memang buka— maksudku, aku memang baru disini," ucap Rei yang masih bingung namun tidak ingin menceritakan apa yang telah ia alami kepada gadis kecil tersebut. Tak lama, pria besar itu pun tiba menghampiri Rei dan penyihir kecil itu.
"Hei cebol! Kau sebaiknya tidak berteriak seperti itu! Hampir saja gendang telinga ku pecah"
Penyihir kecil itu terlihat marah, wajah lucunya seketika berubah menjadi bom yang akan siap meledak kapan pun. Suasana seketika menjadi mencekam, bahkan kehadiran Killer Rabbit yang melompat ke arah Rei secara tiba-tiba tadi tidak ada apa-apanya sekarang.
"Kau panggil aku apa tadi Russel?!"
Russel yang baru saja datang menghampiri mulai kembali berlari memutar arah sambil berteriak kepada Rei.
"Jika kau tidak ingin berakhir membeku, aku sarankan kau juga ikut lari kawan!"
Begitu banyak hal yang telah terjadi. Rei yang diam kebingungan pun akhirnya sadar lalu bergerak dan lari mengikuti Russel. Tentu tidak dengan tanpa arah, Russel berlari sambil menunjukan jalan ke arah sebuah desa di ujung jalan setapak tersebut. Tidak terlalu besar, namun desa tersebut sangat ramai oleh orang-orang.
"Aku yakin dia tidak akan secepat itu mengejar kita dengan kaki mungilnya hahaha! Oh ya! Kenalkan, namaku Russel. Aku adalah seorang Defender dengan level 13! Yaa sesegera mungkin aku akan mencapai level 20 nantinya. Hahaha!"
"Defender? level? apa yang sebenarnya ada di dunia ini?" Ucap Rei dalam hati.
"Karena kau kelihatan baru di sini, aku akan mengajakmu berkeliling. Bagaimana?" sambung Russel dengan wajahnya yang penuh percaya diri.
Russel dan Rei mulai memasuki desa, melihat lalu lalang orang-orang desa yang sedang melakukan kegiatan mereka masing-masing. Mengurusi hewan ternak, bertani, bahkan sampai berdagang. Terlihat desa ini merupakan desa yang sangat damai dan tentram. Sampai di akhir berkeliling, mereka berdua berhenti di depan bangunan yang cukup besar.
"Dan ini adalah pemberhentian terakhir kita, Tavern. Tidak hanya digunakan untuk bersantai-santai saja, tempat ini merupakan tempat berkumpulnya para petualang dari dalam maupun dari luar desa. Apa kau ingin melihat ke dalamnya?"
Rei yang sedari tadi masih penasaran dan kebingungan dengan dunia ini pun mengiyakan ajakan Russel untuk masuk ke dalam Tavern. Layaknya sedang berada di pameran kostum, Rei melihat banyak orang-orang aneh yang mengenakan atribut ataupun peralatan-peralatan yang sering ia lihat di dalam game. Tameng, pedang, belati, dan juga pakaian mereka yang sangat mencolok sekali membuat Rei semakin yakin akan suatu hal.
"Russel, boleh aku menanyakan suatu hal?" ucap Rei perlahan kepada Russel.
"Tentu kawan, mengapa tidak?"
"Apakah... ini adalah dunia game?" ujar Rei.
"Game? Maksudmu permainan? Oh! kami memang memiliki permainan di sini. Kau lihat di meja itu? Itu tempat dimana kau dapat melipat gandakan uang mu jika kau beruntung. Hahaha!" balas Russel sambil menunjuk ke arah meja judi.
Sepertinya, pertanyaan Rei salah. Atau memang Russel yang dibilang sebagai "otak otot" itu bukanlah panggilan semata? Rei menganggap bahwa Russel dan orang-orang di dunia ini adalah nyata. Bukan yang sering ia lihat dan nikmati dari sebuah game. Di tengah lamunannya Rei, Russel mencoba menanyakan sebuah pertanyaan kepadanya.
"Ngomong-ngomong, kau berada di level berapa sekarang? Bolehkah aku melihat status windows mu?"
Rei yang tidak tau apa-apa hanya bisa terdiam kebingungan. Ia tidak mengetahui apa-apa tentang hal tersebut. Karena Rei tidak memberikan respon, mereka berdua lalu berjalan mendekat ke arah meja resepsionis. Bersih dan tertata rapi, terlihat juga seorang pria tua yang sedang duduk dibalik meja itu sedang menulis beberapa catatan.
"Pak tua! aku membawa seseorang yang ingin mendaftarkan dirinya sebagai petualang. Mungkin? Apakah kau bisa membantunya?" terdengar kurang ajar, tapi begitulah Russel.
"Hohoho... Russel, sopan santunmu memang tidak pernah berubah ya. Oh? Wajah baru? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya nak. Kenalkan, nama ku Bastian. Aku adalah pemilik sekaligus pemimpin Guild desa Topia ini. Salam kenal," ucap pria tua itu sambil membereskan kertas catatannya.
Sambil Bastian mengeluarkan beberapa kertas lainnya untuk Rei, wajah Rei perlahan mengkerut. Terheran dengan isi tulisan yang ada di dalam kertas-kertas itu. Rei tidak bisa membacanya, yang bisa Rei mengerti hanya angka saja. Ia tidak pernah mengetahui huruf-huruf tersebut, bukan latin, alfabet ataupun bahkan aksara dari negara yang ia pernah pelajari bahasanya.
"Hei, tidak apa kawan. Aku juga dulu bodoh sepertimu, tidak bisa membaca. Jadi jangan berkecil hat,i" ujar Russel yang melihat Rei kebingungan dengan kertas itu.
Russel mencoba membantu Rei dengan menunjukan ke arah mana saja Rei harus mengisi kertas tersebut. Sambil menjelaskan satu-persatu kolom apa saja yang akan Rei isi. Nama, umur dan berbagai data diri lainnya harus Rei isi. Sampai dibagian dimana Rei tidak bisa menjawabnya sama sekali. Bastian yang melihat Rei kebingungan pun berkata.
"Hmmm, kau benar-benar tidak mengetahui skill apa yang kau miliki? Biasanya, sedari kecil kita akan memiliki tanda-tanda dimana kita akan mendapatkan skill yang sesuai dengan diri kita. Atau jangan-jangan..."
Mudah untuk dimengerti, tetapi sulit untuk diterapkan. Itulah yang ada di kepala Rei sekarang. Ia kemudian beranjak dari tempatnya dan berdiri di samping Lora untuk mencoba mengeluarkan sihir pertamanya. Lora menyampaikan bahwa, apa pun elemennya, cara kerjanya sama."Fokus... Rasakan aliran mana..."Rei mencoba melakukan apa yang telah ia pelajari dari penjelasan Lora. Sayangnya, tidak ada yang terjadi. Mungkin karena tipe sihir utama Rei berbeda dari milik Lora. Lora kemudian memberi tahu beberapa rapalan dari sihir lain yang memiliki elemen berbeda."Aku rasa... ini tidak ada gunanya..." keluh Rei sambil menurunkan tangannya."Tidak perlu terburu-buru, Rei. Saat pertama kali aku mempelajari sihir, hanya bola air kecil yang dapat aku ciptakan, cukup untuk menyiram tumbuhan," ucap Lora pelan, mencoba menghibur Rei.Rei terlihat kesal. Bukan karena ia tidak bisa menggunakan sihir atau melakukan apa yang Lora ajarkan. Rei kesal karena dunia ini seolah-olah memberikan harapan kepadanya,
Matahari mulai bersembunyi, cahayanya meredup hingga hanya cukup menerangi jalan mereka di kedalaman hutan. Lora mengusulkan untuk bermalam di gua tempat mereka pernah singgah. Sambil berjalan menuju lokasi, Lora tidak lupa mengumpulkan beberapa herbal dan jamur di sela-sela perjalanan untuk mengisi perut nantinya.Sesampainya di sana, keadaan bibir gua yang porak poranda masih terlihat jelas di depan mata mereka. Mereka masuk ke dalam gua untuk meletakan perlengkapan mereka. Lora kemudian beranjak pergi menuju sungai untuk mendapatkan air, Russel juga mulai membereskan bebatuan besar yang ada dari sisa pertempuran Rei dan dirinya. Sedangkan Rei, ia pergi ke sekitar hutan untuk mencari hewan buruan yang dapat diambil dagingnya.Tidak butuh waktu lama, Killer-Rabbit yang mencoba mencari jalan pulang pun berpapasan dengan Rei. Satu per satu Killer-Rabbit yang mencoba menyerang Rei dapat ia tumbangkan, sedangkan lainnya memilih untuk pergi."Satu, dua... tiga. Ya, kurasa ini cukup" ucap
"Setidak begitu tenangnya kah diriku ini?" ucap Rei setelah mendapati bahwa tidak ada siapa-siapa di belakangnya.Memori-memori itu terus membawa Rei untuk melihat bayang-bayang masa lalunya. Rei memutuskan untuk kembali untuk kembali ke kasurnya, menarik selimut, dan mulai memejamkan matanya, meninggalkan semua yang telah terjadi untuk sementara.Keesokannya, ia bangun dan membereskan barang-barangnya untuk menjalankan permintaan Bastian. Saat keluar kamar dan menuruni anak tangga menuju lantai dasar, kebetulan Lora dan Russel ada di sana. Rei menghampiri mereka berdua dan menjelaskan tentang permintaan Bastian."Kalau begitu, menurutku kita harus kembali ke dalam hutan itu. Kita tidak punya banyak informasi mengenai hal ini bukan?" ucap Russel.Sambil membuka peta, Lora menjelaskan bahwa hutan tersebut memang merupakan salah satu jalur menuju tanah para Demon, atau biasa disebut Land of Olethros. Lora juga menyampaikan kepada Russel dan Rei bahwa jarang ada petualang yang berhasil m
Belum cukup untuk berdiri dengan tegap, Rei kembali melihat Russel siap menerjangnya lagi. Rei tahu bahwa ia dapat mengisi bar progressnya dengan cepat dengan mengorbankan dirinya, namun itu tidak akan bertahan lama karena tubuh Rei tidak akan mampu untuk menahan semua rasa sakit itu.Rei tersadar akan sesuatu, yaitu asap hitam yang muncul dari belakang leher Russel. Saat Russel kembali menerjang, Rei mencoba menghindar dan mencari tahu apa sebenarnya asap hitam itu. Dengan sisa kekuatannya, Rei berhasil melihat sebuah kertas bertuliskan simbol aneh yang menempel di leher Russel."Sepertinya itu yang membuatnya hilang kendali. Mari kita coba—" Sebelum menyelesaikan gumamannya, Russel kembali menerjang Rei dengan kuat.[Enchant : Physical up!]Rei menerima terjangan itu. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya meski ia telah menggunakan skill. Tidak hanya menahan serangan tersebut, Rei juga berusaha meraih dan menarik kertas itu dari belakang leher Russel. Mereka berdua akhirnya mengha






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.