Share

4

Author: BARIZTI
last update Last Updated: 2025-01-02 21:05:19

Di hadapan cermin itu, Ray tengah mengaitkan kancing kemejanya dengan gerak yang mekanis. Hingga tiba-tiba, ponselnya berdering, menyela keheningan paginya. Tertera nama "Alin" di layar tersebut, membuat Ray dengan malas menjawabnya.

Dengan napas berat, Ray terpaksa mengangkat panggilan itu. "Ya, Sayang?"

"Kenapa semalaman kau sulit dihubungi?" Suara Alin terdengar cemas dan kecewa.

Ray menghimpit ponselnya menggunakan bahu dan telinga, sembari ia melingkarkan jam tangan mewah di pergelangan tangannya. "Bukankah Vian sudah memberitahumu jika aku keluar kota? Aku rapat dan ponselku tertinggal di mobil malam itu. Jadi, aku tak tahu kau menghubungiku." jawab Ray dengan suaranya yang datar.

Alin menghela napas kasar dan merasa frustrasi. "Kau tak pernah seceroboh ini, Ray. Apa yang sebenarnya terjadi?"

Ray menahan kesabaran, dengan tatapannya yang begitu tajam ke arah cermin. "Sudahlah, apa maumu sekarang? Aku sedang terburu-buru."

"Kau melupakan hal penting bahwa seharusnya semalam kita pergi mencari cincin pernikahan." ujar Alin dengan suaranya yang meninggi.

Ray menghela napas kasar, "Aku lupa." sahut Ray singkat.

Alin yang mendengar ucapan Ray tersebut langsung tercengang. "Lupa? Bagaimana bisa kau lupa? Pernikahan kita tinggal sebentar lagi, Ray." Alin berteriak sebab tak bisa menyembunyikan kekesalannya.

"Baiklah, aku minta maaf, Sayang. Nanti kita cari, oke?" Ray mencoba menenangkan, meski ia merasa semakin lelah dan tak tertarik.

"Aku harap kau tak lupa untuk kali ini, Ray." ucap Alin sebelum panggilan telepon itu berakhir.

Ray berdiri tegak di depan cermin, pandangannya tertuju pada refleksi dirinya yang mengenakan jas hitam rapi. Raut wajahnya terlihat bingung dan sedikit gelisah, mengingat kejadian semalam yang begitu mengguncang hatinya. Tangan Ray yang tegang mulai meluruskan dasinya, sementara pikirannya melayang pada pengakuan tulus yang terlontar dari bibirnya semalam.

"Akhh... sakit, Kak!"

Ray menghentikan gerakannya, seraya menyeka air mata gadis yang berada dalam kungkungannya ini. Ia menatapnya intens, mendengarkan tangis sesenggukan itu. "Ada hal yang ingin kukatakan padamu, Laura."

Laura masih diam, menatap rahang tegang pria itu dengan sendu.

Sementara itu, Ray tersenyum seraya mengusap rambut Laura. "Sebenarnya, wanita yang kucintai selama ini adalah kau, Laura, bukan Alin." ungkapnya dengan yakin.

Laura terpaku, matanya kembali berkaca-kaca dan ekspresinya menunjukkan keterkejutan luar biasa atas kejujuran Ray. Ray sendiri makin mendekat, kemudian mencium kembali bibir gadis yang masih terkatup itu. Ia memeluknya erat, dengan Laura yang juga mencengkeram kuat bahu Ray, seraya menahan sakit akan gerakan pria itu.

Ingatan tersebut bukannya membuat Ray menyesal, tetapi justru membuatnya tersenyum puas. Hingga kala ia akan meninggalkan kamar, sudut matanya menangkap kilauan kecil di dekat bantal tempat tidurnya. Langkahnya mendekat dan ia menemukan sebuah benda berkilau.

"Anting?"

*

Sementara di sisi lain, Laura yang baru saja keluar dari kamarnya dan baru saja akan menuju ruang makan, spontan terpaku dengan kakinya yang gemetar saat melihat sosok pria lain di sana.

Alin yang mendapati keberadaannya pun langsung tersenyum. "Kemarilah Laura dan ayo sarapan bersama! Lihatlah, Ray juga bawa kue untuk kita semua."

Sosok pria yang merupakan Ray itu menatap Laura datar, hingga membuat gadis itu tersenyum kikuk.

"Kenapa Kak Ray di sini?" tanya Laura dengan suara yang hampir tak terdengar.

Alin menatap Laura seraya berdecak kesal. "Tentu saja Ray ingin menjenguk Papa yang masih sakit, Laura." jawab Alin sembari tersenyum kecut.

"Oh, begitu rupanya." Laura hanya mengangguk pelan, dengan kemudian ia duduk di sebelah Nera, mencoba menyembunyikan kegugupannya.

"Apa Papa udah makan, Ma?" tanya Laura.

Nera menangguk sembari tersenyum. "Udah tadi dan udah minum obat juga. Sekarang, papamu lagi berjemur di balkon kamarnya. Jadi, kita makan berempat aja, oke?"

"Iya Ma." balas Laura dengan sekilas menatap Ray yang terus menatap ke arahnya.

"Ayo, Sayang, cobalah!" ucap Alin seraya menyuapi Ray.

Ray tersenyum kecil kemudian membuka mulutnya, menerima suapan dari Alin. Sementara itu, Laura hanya menatap mereka dengan ekspresi yang sulit diartikan. Berbeda dengan Nera yang ikut senang melihat kemesraan pasangan di depannya.

"Gimana, enak?" tanya Alin yang diangguki oleh Ray.

Rasa kurang nyaman begitu terlihat dari ekspresi Ray terhadap Alin. Berbeda dengan saat ia bersama Laura semalam. Hingga saat itu pun, Ray masih mencuri pandang pada Laura, membuat Laura yang justru kurang nyaman akan situasi tersebut.

Sampai kemudian, tatapan Alin teralihkan pada Laura yang tengah sibuk menyantap hidangannya. "Laura, kenapa kau cuma pakai satu anting? Mana yang satunya?" tanyanya dengan raut penasaran, namun juga dengan tawa yang tertahan.

Laura terkejut dan langsung menyentuh telinganya. Ia baru sadar jika yang diucapkan Alin adalah benar. "Aku... aku tak tahu, Kak. Sepertinya, lepas saat aku tidur dan aku tak menyadarinya. Aku akan mencarinya nanti." jawabnya dengan suaranya yang sedikit bergetar.

Alin mengangguk paham, sementara Ray hanya diam, dengan matanya yang masih memandang tajam ke arah Laura. Makan bersama pagi itu berlangsung dalam ketegangan yang hanya dirasakan oleh Laura dan Ray, tetapi tidak untuk yang lain.

Di sela waktu makan, Alin kembali memperhatikan wajah adiknya. "Laura, aku perhatikan kau terlihat pucat. Kau sakit?"

Walau terkadang sifat Alin terbilang ketus dan galak, namun masih ada rasa kepeduliannya untuk Laura. Karena bagaimana pun, ia tetap menyayangi Laura meski mereka bukan saudara kandung.

Laura tersenyum kikuk, dengan tatapan matanya yang menghindar, "Aku tak apa, Kak. Mungkin ini hanya karena kurang tidur." sahutnya berusaha meyakinkan.

Nera tiba-tiba memegang bahu Laura, membuat Laura merasa aneh. "Kau istirahat saja jika kurang sehat! Kurasa, Marcel bisa mengurus untuk kali ini." ujarnya dengan nada lembut yang begitu dibuat-buat.

Laura hanya tersenyum kecil, merasa terbiasa dengan cara ibu tirinya dalam mencari perhatian agar terlihat baik di depan Ray. "Aku tak apa, Ma. Aku masih kuat ke kantor."

Di sisi lain, ponsel Alin tiba-tiba berdenting, tanda notifikasi telah masuk. Setelah ia membaca pesan yang tertera di layar itu, Alin langsung berdiri dengan terburu-buru.

"Aku harus segera pergi untuk pemotretan. Kau tak apa kutinggal?" ucapnya sembari menoleh pada Ray.

Ray mengangguk sembari tersenyum, "Tak apa kalau kau memang terburu-buru. Pergilah! Atau kau mau kuantar?"

Alin spontan menggeleng, "Tak usah, aku bisa berangkat sendiri. Lagi pula, kau juga masih ada perlu sama Papa, 'kan?"

"Iya, ada beberapa hal tentang bisnis yang ingin kuperbincangkan dengannya." jawab Ray yang diangguki oleh Alin.

"Baiklah, aku pergi dulu kalau begitu. Bye, Sayang," ucap Alin dengan kemudian langsung mengecup pipi Ray.

Ray tersenyum kecil kemudian membalas dengan tatapan lembut. "Bye juga, Sayang. Hati-hati!"

Alin mengangguk kemudian tak lupa berpamitan dengan Nera dan Laura.

"Aku tak bisa mengantarmu, Laura." ujar Alin yang dibalas senyuman oleh Laura.

"Tak apa, Kak. Aku bisa pergi naik taxi nanti." balas Laura yang membuat Ray menatap Nera.

Meski di rumah itu memiliki tiga mobil, namun Laura sendirilah yang tak memiliki hak untuk itu selama ini. Semenjak ayahnya menikah dengan Nera, Laura benar-benar terbatas untuk bisa menggunakan fasilitas di rumah itu. Semua dikuasai oleh Nera dan Alin, dengan alasan Laura masih kuliah dan belum pantas menggunakan mobil sebab belum bekerja.

Ucapan Laura itu jelas membuat Nera tersenyum kikuk, takut Ray menilai sifatnya buruk. "Kenapa naik taxi? Kau bisa pakai mobil mama atau pun papa. Pakailah sesukamu, Laura."

Laura hanya tersenyum tipis, dengan Ray yang sebenarnya sudah cukup tahu akan hal yang dialami Laura.

"Iya Ma, aku akan menggunakannya nanti." ujar Laura yang membuat Nera tersenyum.

"Baiklah, aku pergi dulu, Laura." pamit Alin yang diangguki oleh Laura.

Setelah Alin meninggalkan hunian itu, Laura masih duduk bersama Nera dan Ray, sembari menghabiskan makanannya. Sesekali, ia tak sengaja beradu pandang dengan Ray yang juga balas menatapnya datar. Hingga kemudian, Laura memilih menyudahi sarapannya lebih dulu dan pamit ke kamarnya.

Dalam kamar itu dan sampai beberapa menit berlalu, Laura terus mencari ke setiap sudut untuk menemukan satu antingnya yang hilang. Ia membolak-balikan bantal yang ada dan meraba-raba sprei miliknya, bahkan menyusuri tiap inci kamarnya. Namun sayangnya, ia tak menemukan keberadaan antingnya. Padahal, anting itu adalah pemberian terakhir mendiang ibu kandungnya.

"Dimana jatuhnya anting itu? Menyebalkan sekali." gumamnya dengan kembali membolak-balik bantal di atas ranjangnya.

Hingga tiba-tiba, suara denting notifikasi mengejutkannya.

"Apa kau mencari sesuatu? Anting itu ada padaku dan datanglah lagi untuk mengambilnya."

Sontak mata Laura membelalak saat tahu siapa pengirim pesan itu dan yang dimana ia juga mengirimkan foto anting tersebut.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelabuhan Kedua   11

    Di depan sebuah hunian yang dipenuhi kobaran api, Laura terduduk lemas begitu saja. Rumah yang merupakan tempat masa kecilnya tumbuh hingga sedewasa itu, namun nyatanya telah menjadi makanan 'Si Jago Merah'."Bagaimana ini bisa terjadi?" ujar Laura dengan masih tak menyangka."Apa kau baik-baik saja, Laura?" Niko mendekat dan membangunkan putrinya itu. Laura mengangguk meski masih terisak. "Kenapa rumah kita bisa terbakar, Pa?" tanyanya kecewa. Niko pun tak kuasa menahan raut sedih di wajahnya, "Papa juga tak tahu, Nak. Papa masih di kantor sampai akhirnya mamamu menelepon dengan ia yang sudah terbatuk-batuk. Papa pun kemari dan semua sudah hangus terbakar." jelasnya seraya memeluk putrinya itu. "Lalu, bagaimana dengan Mama dan Kak Alin, Pa?" Laura menatap Niko dengan penuh tanda tanya dan menuntut jawaban. Niko menghela napas kasar seraya menunduk, "Mereka sudah dibawa ke rumah sakit, Laura. Yang Papa tak habis pikir, mereka terkunci dan tak bisa keluar dari rumah sampai mereka p

  • Pelabuhan Kedua   10

    "Kak Ray?"Ray menyeringaikan senyum seraya menyilangkan tangan di depan dada. "Kenapa? Kau terkejut?""Bagaimana aku bisa di sini?" Laura sontak menunduk dan memeriksa pakaiannya. Kebingungan terpampang jelas di wajahnya. "Aku sama sekali tak berbuat apa pun padamu. Tenang saja," ucap Ray datar. Laura menatap Ray serius, mencari jawaban atas kebingungan yang melandanya. "Kau yang membawaku kemari?""Lalu apa? Kau ingin berada bersama Arhan yang hampir berniat gila padamu, begitu?" tanyanya balik.Mendengar nama Arhan, seketika memori yang tadinya kabur mulai tersusun kembali di benak Laura. Ia teringat saat-saat terakhir sebelum ia pingsan, di mana Arhan dengan senyum manisnya memberikan minuman yang ternyata mengandung sesuatu yang membuatnya tak sadarkan diri. "Jadi dia yang membuatku pingsan lewat minuman itu?"Ray tersenyum sinis, "Kau baru sadar? Masih untung aku tahu dan kau sekarang aman di sini," jelasnya dengan nada yang penuh kekesalan. "Sama saja," gumam Laura yang memb

  • Pelabuhan Kedua   9

    Sampai di rumah, Laura terkejut mendapati Alin sudah berada di rumah. Ia tengah duduk santai di sofa ruang tamu sembari menonton televisi. "Kak, kapan kau pulang?" Alin menoleh sekilas, kemudian kembali menatap drama kesukaannya. "Sejak pukul 10 pagi tadi. Apa kau tak lihat i* story-ku?" jawabnya sembari menoleh kembali pada Laura. Laura menggeleng, tanda ia tak tahu. Sedangkan Alin menghela napas kasar, kemudian matanya membulat saat tahu Ray muncul di belakang Laura. Dengan ekspresi cemburu, Alin menatap tajam Ray. "Ray? Kenapa kau bersama Laura?" tanyanya dengan nada yang terdengar tak suka. "Hanya kebetulan, Sayang. Tadi aku melihat dia dihadang oleh pria nakal, karena itu aku mengajaknya pulang, sekaligus karena aku memang ingin menjengukmu." jawab Ray dengan begitu enteng. "Padahal dia sendiri pria nakal itu." batin Laura kesal. Laura memalingkan wajah kala Ray menoleh ke arahnya dengan seringai senyuman yang menyebalkan. Sementara itu, Nera yang mendengar penjelasan

  • Pelabuhan Kedua   8

    "Boleh kucoba dulu makanannya? Aku ingat kau punya alergi kacang dan aku hanya ingin memastikan makananmu tak mengandung bahan-bahan itu." Ucapan Laura itu membuat Ray tersenyum sinis seraya geleng-geleng kepala. Sementara itu, Alin justru mengangguk, merespon ucapan Laura dengan baik. Ray pun menyerahkan makanan itu pada Laura, dengan tatapan mereka yang saling beradu dengan begitu serius. Ray tahu, Laura pasti menduga jika ia membubuhkan sesuatu dalam makanan Alin itu. Hingga setelah Laura mencoba makanan itu, tak ada reaksi apa pun dalam dirinya. "Sekarang, aku yakin makananmu aman, Kak. Makanlah," ujarnya sembari tersenyum lembut. Alin pun mengangguk dan balas tersenyum. "Terima kasih karena sudah memastikan ini, Laura.""Sama-sama, Kak."Ray tiba-tiba mengulurkan tangannya, "Biar aku yang menyuapi kakakmu," ucapnya yang membuat Laura langsung menyerahkan makanan tersebut padanya. Ray dengan lembut mulai menyuapi Alin dan tepat di hadapan Laura. Pria itu terlihat begitu perh

  • Pelabuhan Kedua   7

    Sampai di restoran yang dituju, Ray segera memesan dua porsi makanan. Satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Laura. Meski Laura sudah menolak, namun Ray tetap menarik paksa Laura keluar dari mobil dan agar mau makan bersamanya."Ini benar-benar pemaksaan." Ray hanya tertawa kecil seraya masih menikmati hidangannya. Entah mengapa, ia begitu senang melihat kekesalan wanita di hadapannya itu. Belum lagi, ekspresinya yang kesal saat makan, membuat sisa makanan menempel di sudut bibirnya.Laura yang masih menyendokkan garpu ke makanannya sontak terkejut saat Ray tiba-tiba menyeka bibirnya menggunakan tangannya langsung. Yang lebih membuat ia terkejut, Ray menyesap sisa makanan itu dari tangannya, tanpa rasa jijik sedikit pun."Kau makan seperti anak TK." Ray tersenyum sembari geleng-geleng kepala.Laura sendiri masih terpaku, merasa tak menyangka akan hal yang baru saja ia lihat itu.Ray yang masih mengunyah makanannya pun sontak terhenti kala melihat diamnya Laura. "Ada apa?"Laura spont

  • Pelabuhan Kedua   6

    Ray mendekat, menatap Laura dengan senyuman sinis. "Menurutmu apa? Aku tak mungkin melakukan sesuatu hal tanpa sebab. Harusnya, kau sedikit berterima kasih karena aku membantu keadilan untuk ibumu." jelasnya dengan kemudian langsung meninggalkan Laura begitu saja.Dalam kebingungan dan kekhawatiran yang mendalam tentang apa yang sebenarnya terjadi, Laura pun menyusul langkah cepat Ray. Hingga saat sampai di depan ruang Alin, Laura mencekal tangan pria itu, hingga membuatnya terkejut dan menatap intens padanya. "Ada apa?""Apa yang sebenarnya kau ketahui?" Tatapan Laura benar-benar tajam, seolah penuh penuntutan. Ray tersenyum tipis, kemudian memegang tangannya. "Aku tak bisa mengatakannya.""Kenapa tak bisa? Kau harus mengatakannya!" tuntut tegas Laura.Ray hanya diam, kemudian tiba-tiba melepas jasnya dan ia gunakan itu untuk menutup punggung Laura. Laura sendiri terkejut dengan tindakan Ray, dengan tatapannya yang masih tajam. "Aku memintamu menjawab pertanyaanku, bukan meminta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status