ANMELDEN“Hari ini Elvio sudah bisa pulang.”Ucapan dokter itu membuat dada Arvendra, Anindya, dan Ivelle yang berdiri di hadapannya mengendur hampir bersamaan. Bukan lega yang meledak-ledak, melainkan pelepasan pelan. Seperti seseorang yang akhirnya diizinkan menurunkan beban setelah terlalu lama menahan.Setelah transfusi trombosit dua hari lalu, kondisi Elvio menunjukkan perbaikan yang konsisten. Demamnya tidak kembali. Trombositnya naik dan stabil. Tidak ada tanda perdarahan lanjutan. Bocah itu bahkan sudah mulai mau makan walaupun sedikit, dan sesekali tersenyum saat diajak bicara, senyum kecil yang rasanya seperti hadiah paling mahal di dunia.“Kami tetap minta Elvio istirahat penuh di rumah,” lanjut dokter itu tenang. “Tidak boleh aktivitas berat dulu, dan kontrol ulang sesuai jadwal. Tapi untuk sekarang, kondisinya sudah cukup stabil untuk rawat jalan.”Arvendra menunduk sejenak. Napas panjang keluar dari dadanya. Napas yang baru dia sadari telah tertahan berhari-hari.Elvio akhirnya b
“Mas Arven!”Anindya memanggil dari ujung lorong. Arvendra berdiri beberapa langkah dari lift, punggungnya tegang, langkahnya bolak-balik tanpa arah. Ponsel masih menempel di telinganya, lalu berpindah ke tangan lain, lalu kembali lagi. Seperti seseorang yang sedang berlomba dengan waktu.Dia tidak menoleh.“Mas Arven.”Anindya mendekat, menyentuh bahu pria itu dengan ragu. Arvendra tersentak kecil, seolah baru tersadar dari pusaran pikirannya sendiri. Ponsel itu segera masuk ke saku celana, refleks. Tangannya yang lain terangkat, mengusap pipi Anindya dengan gerakan singkat, penuh kebiasaan, penuh kebutuhan akan pegangan.“Maaf, Sayang,” ucap Arvendra lirih. “Mas nggak fokus.”Tatapan hazel itu menelusuri wajah Anindya, seperti mencari jawaban bahkan sebelum pertanyaan diucapkan.“Gimana?” Arvendra bertanya. “Orang yang kamu maksud tadi mau donorin darahnya?”Anindya terdiam.Hanya sedetik, tapi cukup lama untuk membuat Arvendra membaca sesuatu yang tidak ingin dia lihat. Bahu Anindy
Hari ini, bertahun-tahun kemudian, tangan yang sama masih mengusap puncak kepala itu dengan penuh sayang.Puncak kepala anaknya. Dan selamanya akan tetap begitu. Walaupun kertas hasil tes DNA menyatakan bahwa Elvio 99% tidak memiliki kecocokan dengan Arvendra.Kertas itu tidak tahu bagaimana Elvio belajar berjalan sambil memegang jari Arvendra. Tidak tahu malam-malam panjang saat demam, muntah, dan tangisan kecil yang hanya reda saat digendong. Tidak tahu suara ‘Papa’ yang pertama kali keluar dari mulut anak itu, dan bagaimana dada Arvendra hampir pecah karena haru.Kertas itu bisa benar secara ilmiah. Namun, kertas itu tidak hidup di rumah yang sama dengan mereka.Lalu apa hak selembar kertas berkata Elvio bukan anaknya, setelah semua luka, semua ketakutan, semua cinta yang mereka lewati bersama?Namun kenyataan tidak pernah peduli pada ikatan.Hari ini, darah yang tidak sama itu kembali menampar Arvendra tanpa ampun. Hari ini, Elvio membutuhkan transfusi. Hari ini, tubuh kecil itu m
Enam tahun yang lalu.“Mas, kita berpisah saja.”Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Ivelle. Tidak didahului pertengkaran. Tidak juga emosi meledak. Hanya suara datar yang terlalu tenang untuk sesuatu yang seharusnya menghancurkan.Padahal beberapa jam sebelumnya, wanita itu baru saja melahirkan anak pertamanya bersama Arvendra.Arvendra yang masih menggendong bayi mungil di dadanya refleks terdiam. Bayi itu hangat, beratnya pas di lengan, napasnya teratur. Anak laki-laki dengan mata abu-abu yang belum benar-benar terbuka, rambut cokelat terang yang masih basah oleh sisa kelahiran.Elvio Dirgantara Pradipta. Nama yang Arvendra ucapkan dengan dada penuh beberapa jam lalu.Perlahan, Arvendra menurunkan Elvio ke boks bayi. Tangannya gemetar, bukan karena bayi itu, tapi karena kata-kata yang baru saja dia dengar. Dia mendekat ke ranjang, berjongkok agar sejajar dengan wajah istrinya.“Kenapa kamu bilang begitu, Sayang?” suara Arvendra terdengar lembut, berusaha stabil. “Nggak baik ng
“Dokter, tolong!” suara Ivelle pecah saat dia setengah berlari ke nurse station di ujung koridor ruang rawat inap anak. “Anak saya mimisan.”Walaupun sudah diminta pulang oleh Dian kemarin, Ivelle tetap datang pagi ini. Bukan keras kepala, melainkan karena melihat Elvio adalah satu-satunya hal yang membuatnya bisa bernapas sedikit lebih lega.Perawat yang berjaga langsung berdiri. “Di kamar berapa, Bu?”“VIP anak, kamar tiga,” jawab Ivelle cepat, napasnya berantakan.Beberapa detik kemudian, dokter jaga menyusul masuk ke kamar Elvio. Tirai ditarik. Monitor masih berbunyi stabil, tapi darah segar terlihat di tisu yang ditekan Anindya ke hidung bocah itu. Elvio masih setengah tertidur, wajahnya pucat, tubuhnya lemah.“Tenang dulu,” kata dokter sambil mengenakan sarung tangan. Dia memeriksa hidung Elvio, lalu menekan perlahan pangkalnya. “Mimisan ringan. Tapi pada kondisi Elvio, ini konsisten dengan trombosit yang terus menurun.”“Turun lagi, Dok?” tanya Arvendra cepat.Dokter mengangguk.
Refleks, Anindya menghampiri. “Bunda. San,” sapanya lembut pada Dian dan Sankara.Gadis itu mencium tangan Dian. Calon ibu mertuanya itu membalas dengan mengecup pipi Anindya, meski raut wajahnya jelas menyimpan cemas.“Elvio bagaimana?” tanya Dian langsung, suaranya tertahan tapi jelas cemas.“Positif demam berdarah, Bun,” jawab Anindya jujur. “Masih observasi. Kita lihat ke atas aja, yuk.”Dian mengangguk cepat. Namun ketika mereka hendak berjalan, Anindya menoleh ke belakang, dan mendapati Ivelle masih berdiri agak jauh, ragu melangkah.Tatapan Dian mengikuti arah pandang Anindya. Sekejap, wajah calon ibu mertua itu berubah.“Kamu sedang apa di sini?” tanya Dian dingin saat Ivelle akhirnya mendekat.Anindya sempat mengernyit. Nada itu asing di telinganya. Dian yang dia kenal biasanya selalu lembut bahkan saat marah.Ivelle menelan ludah. “Bun, aku–”Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Dian mundur setengah langkah. Tangannya terangkat, menepis saat Ivelle refleks hendak meraih.“







