Mag-log inPagi berikutnya, di dalam mobil menuju butik gaun pengantin, Anindya duduk di kursi penumpang sambil menggulir ponselnya. Notifikasi masih berdatangan. Namanya kembali muncul di lini masa, kali ini dengan nada yang berbeda.Judul-judul berita berderet.[Netizen Soroti Insiden Penyiraman Kopi: Laranya Dipuji Tetap Tenang.][Model Muda Jadi Korban, Publik Minta Pelaku Ditindak Tegas.][Banyak yang Salut, Laranya Dinilai Dewasa Hadapi Provokasi.]Komentar-komentar ikut bermunculan.[Kasihan banget Laranya. Udah diserang, masih bisa nahan diri.][Kelihatan mana yang kelas, mana yang panik. Yang satu korban, yang satu jelas-jelas nggak siap kalah.]Anindya tersenyum kecil. Bukan senyum menang. Lebih seperti orang yang baru sadar, ternyata dia selamat, dan dunia melihatnya.“Jangan senyum-senyum gitu,” tegur Arvendra dari balik kemudi, matanya tetap fokus ke jalanan Bali yang lengang siang itu. “Nanti kamu dibilang menikmati drama.”“Bukan maksud ngetawain Mbak Elea kok, Mas,” sahut Anindya
“Wah! Serius kita nikah di sini, Mas?” tanya Anindya dengan nada kagum yang sama sekali tidak bisa dia sembunyikan.Villa kediaman Pradipta berdiri megah di atas tebing Uluwatu. Bangunannya luas, modern tropis dengan sentuhan batu alam. Halamannya terbentang lapang, dipagari taman hijau yang rapi, sementara di kejauhan, Samudra Hindia membentang tanpa batas.Tempat ini terlalu indah untuk sekadar disebut villa. Ini seperti dunia yang sengaja diciptakan untuk momen besar.Elvio dan Sinta sudah berjalan di depan. Sementara Anindya dan Arvendra masih tertinggal di belakang. Awalnya mereka berniat berangkat berdua saja. Namun, Arvendra memilih langkah aman. Terlalu banyak mata, terlalu banyak gosip yang pernah muncul. Untuk kali ini, ketenangan jauh lebih penting daripada romantisasi.“Kamu nggak suka?” tanya Arvendra sambil menoleh, satu tangannya menyelip ke saku celana.“Nggak suka,” jawab Anindya cepat.Langkah Arvendra terhenti. “Serius nggak suka?”Anindya berbalik, berjalan mundur
Arvendra tidak langsung menjawab. Dia melepas genggamannya perlahan, lalu membuka jaket yang dikenakannya dengan gerakan tenang. Jaket itu disampirkan ke bahu Anindya, menutupi blouse putih yang basah oleh kopi. Sentuhan itu hangat. Namun, jeda yang menyertainya justru terasa dingin. Elea menyeringai tipis. Senyum puas seseorang yang merasa berada di posisi unggul. “Nah, apa aku bilang? Kamu nggak akan menang, Anindya,” kata Elea ringan, nyaris mengejek. Kalimat itu, ditambah sikap Arvendra yang sejak tadi berdiri di tengah, membuat keberanian Anindya yang sempat membara, menguap begitu saja. Serius? Di titik ini, pria itu menahannya, melindunginya, bahkan menutupinya. Tapi tetap membiarkan Elea bicara. Arvendra akhirnya angkat suara. Rendah. Datar. Tidak meninggi, tidak emosional. “Kalau kamu mau cari panggung,” kata Arvendra sambil menatap Elea lurus, “pilih tempat lain. Bukan di sini.” Elea mendengus kecil. “Lihat? Bahkan kamu pun–” “Sentuh dia lagi,” potong Arve
“Yang pertama ngusik hidup aku siapa, Mbak?” Anindya bertanya balik dengan suaranya stabil. Terlalu stabil untuk seseorang yang baru saja ditantang.Anindya meletakkan gelas jusnya perlahan. Ujung jarinya masih menempel di kaca dingin itu, seolah butuh satu detik tambahan untuk memastikan tangannya tidak bergetar. Lalu Anindya menyandarkan punggung ke kursi dengan tenang. Dia mengingatkan dirinya sendiri, bahwa tenang bukan berarti kalah.Sudut bibir perempuan di depannya terangkat sinis. “Aku cuma mau kamu sadar, dengan siapa kamu sebenarnya bersaing.”Anindya mengangguk kecil. Bukan mengiyakan, lebih seperti menyusun ulang kepingan di kepalanya.Oh. Jadi ini bukan soal salah paham. Ini soal kuasa.“Bersaing?” ulang Anindya pelan. “Dengan nyuruh Ryan deketin aku? Dengan nyebarin video biar reputasi aku hancur?”Dada Anindya sempat mengencang saat menyebut nama itu. Ryan. Video. Semua hal yang dulu membuatnya memilih diam, menunduk, merasa bersalah padahal tidak tahu salahnya di mana.
Pemotretan itu seharusnya terasa seperti hari kerja biasa.Lampu studio. Backdrop putih. Arahan singkat dari tim kreatif. Make-up yang rapi tapi tidak berlebihan. Namun entah kenapa, hari ini terasa sedikit berbeda.“Aku nggak nyangka kita bisa sampai dapat klien sebesar ini! Valora, Lara. Ini bukan main-main,” seru Mia sambil menatap pantulan Anindya di cermin. Nada suaranya sulit menyembunyikan antusiasme.Anindya duduk tenang di kursi make-up, membiarkan MUA merapikan sentuhan terakhir di wajahnya. Dia tersenyum kecil, lebih hati-hati. “Ini baru test shoot, Mbak. Belum tentu cocok juga.”“Eh, tetap aja,” bantah Mia cepat. “Valora itu super selektif. Mereka nggak sembarang panggil model, apalagi yang lagi habis kena badai gosip.”Kalimat itu tidak keluar dengan nada merendahkan. Justru sebaliknya, seperti pengakuan jujur dari seseorang yang paham betul betapa kejam dan dinginnya industri ini pada mereka yang dianggap rapuh.Anindya mengangguk pelan. “Makanya aku ajak Mbak ke sini. A
Anindya menarik napas pelan. Dadanya sempat mengencang, refleks lama yang belum sepenuhnya hilang. Namun kali ini, dia tidak menunduk. Tidak pula terburu-buru membela diri.“Iya. Itu saya,” jawab Anindya tenang.Ruangan mendadak sunyi. Bukan sunyi yang menghakimi, lebih seperti jeda. Ruang yang sengaja dibiarkan terbuka.“Saya tidak menyangkal. Video itu nyata. Tapi narasi yang berkembang tidak sepenuhnya begitu,” lanjut Anindya, suaranya stabil meski jemarinya saling mengunci di pangkuan.Anindya berhenti sebentar. Bukan untuk mencari simpati, melainkan menata jarak agar kalimat berikutnya tidak terdengar sebagai pembelaan. “Saya mengakhiri kerja sama dengan Aluna Skin setelah kejadian itu. Bukan karena diminta, tapi karena saya merasa situasinya sudah tidak sehat. Untuk saya, dan untuk mereka,” lanjutnya jujur.Isvara mengangguk pelan. “Kamu tidak mencoba membersihkan nama kamu lewat brand?”Anindya menggeleng. “Tidak, Bu. Saya memilih diam waktu itu. Fokus menyelesaikan urusan sa







