MasukHappy New Year guys :)
“Cuma ngobrol biasa, Mas,” kilah Anindya. Bukan karena ingin berbohong, tapi karena dia tahu tidak semua hal perlu diseret ke medan yang lebih besar. Dia tidak ingin hubungan orang tua Elvio retak hanya karena satu permintaan yang lahir dari ketakutan.“Kalau ada omongan dia yang bikin kamu tersinggung, bilang,” ucap Arvendra tegas. “Biar saya yang tegur dia.”Anindya tersenyum kecil, lalu menggeleng. “Mas, aku itu bukan anak kecil yang kalau ada masalah harus selalu dilindungi.”Arvendra mengernyit tipis.“Aku bisa kok hadapi Mbak Ive,” lanjut Anindya pelan. “Aku tahu dia bukan orang jahat. Dia cuma ibu yang takut kehilangan tempatnya. Dan jujur aja, Mas kalau aku di posisi dia, mungkin aku juga bakal ngerasa begitu.”Arvendra menatap Anindya lama. Ada sesuatu di sorot matanya, antara lega dan tersentak. Seolah baru menyadari bahwa perempuan di hadapannya tidak sekadar kuat, tapi juga jujur pada empatinya sendiri.“Dia mungkin ngerasa aku datang sebagai pengganti,” sambung Anindya li
“Jangan pernah berharap kamu bisa merebut Elvio juga, Anindya.”Ivelle membuka percakapan setelah hening cukup lama. Suaranya rendah, nyaris berbisik. Elvio sudah terlelap, napasnya teratur, satu tangan kecilnya masih menggenggam ujung selimut.Ivelle duduk di pinggir ranjang. Sedangkan Anindya memilih kursi di dekat meja rias. Jarak mereka tidak jauh, tapi cukup untuk menjaga batas. Arvendra masih di lantai bawah, tenggelam dalam gambar desain bangunan yang harus selesai malam ini.“Aku nggak merebut siapa-siapa, Mbak,” jawab Anindya pelan. Dia sengaja menahan nada, takut membangunkan Elvio. “Jangan takut. Sampai kapan pun Mbak Ive tetap ibu kandungnya Elvio.”“Bagus kalau kamu sadar,” lanjut Ivelle lirih, tapi tajam. Tatapannya tidak beranjak dari bayangan Anindya yang terpantul samar di cermin meja rias. “Karena banyak perempuan yang begitu sudah masuk rumah orang, langsung lupa diri. Lupa posisi.”Anindya menelan ludah. Tangannya yang sejak tadi bertumpu di paha mengepal sebentar,
“Ivelle, kenapa kamu bisa menyusul kami ke sini?” tanya Arvendra membuka percakapan.Kini mereka sudah duduk di ruang tengah. Arvendra dan Anindya berdampingan di sofa panjang. Di hadapan mereka, Ivelle duduk santai dengan kaki disilangkan, seolah villa itu masih ruang yang dikenalnya dengan sangat baik.“Semalam aku baru datang dari London, Mas,” jawab Ivelle ringan. “Pagi tadi aku ke rumah, tapi Bi Nur bilang kalian lagi ke Bali. Aku hubungi Sinta, dia bilang kalian di vila ini. Terus katanya Elvio lagi flu, jadi aku langsung nyusul.”Tatapan Arvendra seketika bergeser ke arah pantry. Sinta yang berdiri di sana langsung menunduk dalam. Tangannya saling menggenggam, jelas menyadari kesalahannya.“Aku dengar,” lanjut Ivelle sambil tersenyum tipis, “kalian mau menikah di sini, ya? Selamat.”“Makasih, Mbak Ive,” jawab Anindya tenang. “Mbak rencananya di sini berapa lama?”“Lho, jangan diusir halus begitu dong, Anin.” Ivelle terkekeh pelan. “Aku baru datang.”Wanita bermata biru itu lalu
Langkah Anindya terhenti di depan satu gaun lace sederhana. Tangannya terangkat, menyentuh kainnya. Teksturnya lembut, jatuhnya ringan. Namun jarinya sedikit gemetar.Di belakangnya, Arvendra masih berbicara dengan wedding organizer soal jadwal dan teknis. Dia belum mendengar apa-apa.Anindya menelan ludah.‘Aku kenapa sih? Aku udah lewati video, gosip, dan komentar yang jauh lebih kejam dari ini. Masa bisik-bisik begini saja bikin aku goyah?’ batinnya cepat. Namun goyah itu nyata. Karena ini bukan soal gaun. Ini soal ruang. Ruang yang diam-diam selalu mengingatkannya pada satu kalimat tak tertulis: kamu beda kelas.Rasa minder itu datang perlahan. Bukan karena gaun-gaun ini tidak pantas untuknya, melainkan karena suara-suara seperti ini selalu muncul dari sumber yang sama. Mengukur kedewasaan dari tinggi badan. Menilai nilai seseorang dari siapa yang memilihnya. Menyederhanakan hidup menjadi angka di rekening dan status di lengan pria.Anindya menarik napas pelan. Dia menegakkan bah
Pagi berikutnya, di dalam mobil menuju butik gaun pengantin, Anindya duduk di kursi penumpang sambil menggulir ponselnya. Notifikasi masih berdatangan. Namanya kembali muncul di lini masa, kali ini dengan nada yang berbeda.Judul-judul berita berderet.[Netizen Soroti Insiden Penyiraman Kopi: Laranya Dipuji Tetap Tenang.][Model Muda Jadi Korban, Publik Minta Pelaku Ditindak Tegas.][Banyak yang Salut, Laranya Dinilai Dewasa Hadapi Provokasi.]Komentar-komentar ikut bermunculan.[Kasihan banget Laranya. Udah diserang, masih bisa nahan diri.][Kelihatan mana yang kelas, mana yang panik. Yang satu korban, yang satu jelas-jelas nggak siap kalah.]Anindya tersenyum kecil. Bukan senyum menang. Lebih seperti orang yang baru sadar, ternyata dia selamat, dan dunia melihatnya.“Jangan senyum-senyum gitu,” tegur Arvendra dari balik kemudi, matanya tetap fokus ke jalanan Bali yang lengang siang itu. “Nanti kamu dibilang menikmati drama.”“Bukan maksud ngetawain Mbak Elea kok, Mas,” sahut Anindya
“Wah! Serius kita nikah di sini, Mas?” tanya Anindya dengan nada kagum yang sama sekali tidak bisa dia sembunyikan.Villa kediaman Pradipta berdiri megah di atas tebing Uluwatu. Bangunannya luas, modern tropis dengan sentuhan batu alam. Halamannya terbentang lapang, dipagari taman hijau yang rapi, sementara di kejauhan, Samudra Hindia membentang tanpa batas.Tempat ini terlalu indah untuk sekadar disebut villa. Ini seperti dunia yang sengaja diciptakan untuk momen besar.Elvio dan Sinta sudah berjalan di depan. Sementara Anindya dan Arvendra masih tertinggal di belakang. Awalnya mereka berniat berangkat berdua saja. Namun, Arvendra memilih langkah aman. Terlalu banyak mata, terlalu banyak gosip yang pernah muncul. Untuk kali ini, ketenangan jauh lebih penting daripada romantisasi.“Kamu nggak suka?” tanya Arvendra sambil menoleh, satu tangannya menyelip ke saku celana.“Nggak suka,” jawab Anindya cepat.Langkah Arvendra terhenti. “Serius nggak suka?”Anindya berbalik, berjalan mundur







