Home / Romansa / Pelan-Pelan, Mas Kaisar! / 109. Rencana Pembunuhan!

Share

109. Rencana Pembunuhan!

Author: Callme_Tata
last update publish date: 2026-04-10 21:20:42

Tap, tap, tap!

Jam menunjukkan pada pukul setengah satu dini hari.

Di lorong rumah sakit yang sepi dan hanya diterangi cahaya lampu temaram, tampak seseorang berjalan dengan santai.

Di sepanjang lorong, suara sepatunya terdengar mengetuk-ngetuk lantai.

Tujuan pria itu adalah salah satu ruangan rawat pasien VVIP.

Tiba di depan ruangan rawat VVIP, pria itu mengedarkan pandangannya sebelum akhirnya meraih gagang pintu dan mendorongnya perlahan.

Di atas ranjang ruangan VVIP itu, terbaring seo
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   116. Bujukan Liona

    "Sayang, kenapa berdiri di sini? Dingin loh, yuk kita masuk!" Kaisar yang berdiri di balkon kamar, menoleh dan menatap Liona yang melangkah mendekat. Namun tatapan hanya sesaat, selanjutnya ia kembali berbalik dan memandangi langit gelap tanpa bintang di malam hari itu. Gelap langit malam itu, tak dapat mengalahkan gelap hatinya yang menyimpan kebencian pada keluarga papanya. Bayangan kematian adik dan ibunya, tak pernah bisa dilupakan. Dia saksi, saksi kematian adiknya yang meninggal karena sakit, juga saksi kematian ibunya yang mengalami depresi. Dan— semua itu terjadi karena papanya, pria egois yang tidak memiliki perasaan. "Sayang, aku tahu kamu pasti lagi mikirin mendiang mama dan adik kamu. Aku gak ngelarang kamu buat nginget mereka, tapi aku mohon jangan abaikan kesehatan kamu. Kalau kamu sakit, gimana sama aku dan calon anak kita?" Liona yang melangkah mendekat, melingkarkan tangannya ke perut Kaisar dan menempelkan kepalanya di punggung sang suami. Ia berbicara pelan,

  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   115. Tidak Peduli!

    "Ibumu pelacur, jalang sialan! Kamu dan ibumu adalah penyebab kematian ibu dan adikku! Sampai kapanpun, aku gak akan pernah memaafkan kalian!" Dihina ibunya oleh Kaisar, Ryuga yang semula berusaha membujuk dan menenangkan, kini menatap tajam. Wajahnya memerah sedangkan kedua tangannya terkepal erat. Pria itu memepet tubuh Kaisar dan mendorongnya dengan kasar. Bruk! Tubuh Kaisar yang masih lemah pasca koma, terdorong dan membentur tembok lorong rumah sakit. "Mas Kai!" kata Liona. Kaget melihat suaminya di dorong oleh Ryuga. "Ibuku bukan pelacur, ibuku bukan perempuan jalang. Kamu boleh benci dan hina aku anak haram, tapi jangan pernah sebut ibuku sebagai pelacur!" kata Ryuga dengan suaranya yang keras dan lantang. Mendengar perkataan Ryuga, Kaisar yang dibantu berdiri oleh Liona itu pun tertawa dengan keras. Menertawakan Ryuga yang sepertinya sudah tidak bisa berpura-pura baik lagi. "Haha... sampai kapanpun kebenaran gak akan berubah, Ryu. Ibumu tetaplah pelacur dan perempuan j

  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   114. Kamu Dan Pelacur Itu Pembunuh!

    "Sayang, kamu beneran mau ikut pulang ke rumah papa dan mama?" Liona yang saat ini duduk di kursi, bertanya pada Kaisar yang bersandar di kepala ranjang pasiennya. Ditanya, Kaisar menganggukkan kepalanya. "Kalau orang tua kamu gak keberatan! Kalau mereka keberatan aku tinggal di sana, kita balik ke apartemen aja." Pria yang baru sadar dari koma dan sedang dalam tahap pemulihan itu menimpali perkataan istrinya dengan santai, tetapi bernada serius. Mendengar perkataan Kaisar yang negatif thinking, Liona menghela napas pelan. Sejak bangun dari koma, suaminya itu begitu sensitif dan mudah sekali marah. "Mama dan papa gak mungkin keberatan, Mas. Aku nanya gitu karena takut kamu berubah pikiran," kata Liona dengan pelan. "Aku gak akan berubah pikiran. Tinggal di mana pun bagiku sama aja, yang penting gak tinggal di kediaman keluarga Prasetya," kata Kaisar. Sorot matanya menunjukkan kebencian. Jika mengingat seperti apa masa lalunya di keluarga Prasetya dan seperti apa penderitaan ibu

  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   113. Aku Hanya Ingin Diakui!

    "Kenapa? Takut gak bisa melindungi anak sialan dan cucu haram Kakek lagi kalau ingatanku pulih?" Duar! Perkataan yang dilontarkan oleh Kaisar membuat wajah Tuan Reynald memucat, bahkan tubuhnya seketika menegang. Sepertinya, ingatan putranya sudah benar-benar pulih sepenuhnya. Sedangkan Tuan Jayden yang berdiri di samping ranjang pasien itu, menatap sendu pada cucunya. Niatnya menghapuskan ingatan Kaisar di masa lalu bukan semata-mata untuk melindungi Tuan Reynald dan Ryuga, tetapi juga demi kebaikan Kaisar agar tidak hidup di dalam bayang-bayang buruk kematian ibu dan adiknya. "Kenapa, kenapa Kakek diam? Bener kan, Kakek takut ingatanku pulih?" lanjut Kaisar, berbicara dengan nada bicaranya yang mulai rendah. Sedangkan sepasang matanya yang memerah, kini mulai berkaca-kaca. Ditanya oleh cucunya, Tuan Jayden yang diam membisu, menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Kakek gak bermaksud begitu, Dam. Kakek melakukan semua itu demi kamu, demi kebaikan mental dan kewarasanmu...." kat

  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   112. Menyesal?

    "Makan yang banyak biar cepet sehat dan bisa cepet pulang!" Liona yang sedang menyuapi Kaisar, berbicara dengan pelan seraya tersenyum kecil. "Aaa, buka mulutnya!" titah Liona. Dipinta membuka mulut, Kaisar yang duduk bersandar pada kepala ranjang itu mengangguk. Ia yang kondisi tubuhnya masih lemas pasca koma beberapa hari terakhir, menurut dan patuh pada istrinya. "Mau minum?" tawar Liona sembari menatap wajah pucat sang suami. Kaisar kembali mengangguk.Sejak sadar dari koma beberapa jam yang lalu, Kaisar tak banyak bicara. Bahkan, wajah pucatnya terlihat datar dan tanpa ekspresi. Dengan perlahan dan penuh perhatian, Liona membantu Kaisar minum. Meskipun lelah lantaran kurang istirahat, tetapi Liona tetap merawat suaminya. Bahkan, tak mengizinkan orang lain merawat Kaisar, kecuali dokter yang selama ini bertugas memeriksa dan memantau keadaan sang suami. "Dari tadi kamu sibuk nyuapin aku, tapi kamu sendiri gak sempet makan," kata Kaisar dengan suaranya yang terdengar lemas.

  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   111. Mama & Kayra Udah Gak Ada!

    "Rey, jangan pergi. Lihatlah anak kita, dia sakit dan membutuhkan penanganan secepatnya!" "Papa, Karya demam! Dari semalam menggigil, kalau Papa pergi, dia bisa mati!" Tuan Reynald yang menggendong Ryuga, tak mengindahkan teriakan Nyonya Alana dan Kaisar. Pria itu menganggap jika Nyonya Alana berbohong lantaran cemburu pada istri mudanya.Melihat Tuan Reynald pergi tanpa memperdulikan keadaan kedua anaknya, Nyonya Alana menangis terisak. Hatinya perih dan dadanya terasa begitu sesak. Selanjutnya, ia yang dibantu oleh dua orang pengawal, membawa Kaisar dan Kayra yang sekarat menuju rumah sakit terdekat. "Astaga, kondisi Nona Kayra sangat lemah, Nyonya!" "Kenapa tidak bilang pada Tuan Rey?" Kedua pengawal yang membantu, bertanya pada Nyonya Alana. Namun, wanita yang wajahnya mengalami lebam itu enggan menjawab. Ia diam, sedangkan air mata tak hentinya menetes. Melihat keadaan ibunya, Kaisar kecil mengepalkan kedua tangannya. Ia benci pada Ryuga dan ibunya, juga benci pada ayahn

  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   17. Permainan Di Toilet!

    "Pergi sana jauh-jauh, aku gak mau lihat muka Pak Kai lagi. Dasar pembohong! Katanya capek dan mau istirahat lebih awal, ternyata ngamar sama Bu Diana!" Mendengar perkataan yang lebih layak disebut sebagai fitnah, wajah Kaisar memerah, tubuhnya menegang. Ia melangkah mendekati gadis nakal itu perl

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   12. Jangan Godain Saya!

    "Astaga, Kai. Kok bisa Baby Liona? Kamu tahu gak dia anaknya siapa?" Aryo yang syok, bertanya pada Kaisar dengan matanya yang melotot lebar, saking lebarnya matanya sudah seperti mata anak sapi yang tersedak air susu induknya. Sedangkan Kaisar yang melihat ekspresi temannya, menggelengkan kepalan

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   10. Ingin Bunuh Diri!

    "Dari mana aja kamu? Semalaman gak pulang, sulit sekali diatur!"Suara lantang dan ngebas yang berasal dari arah belakang, membuat Liona meringis. Wajahnya memucat dan dadanya seketika berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. "Waduh, matilah aku," batin Liona menjerit-jerit. Lalu berbalik, mas

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   7. Pelan-pelan, Pak. Sakit!

    "Pak, ini gimana? Masa saya yang harus masukin punya Bapak ke punya saya. Kan kesannya Bapak jadi pihak yang gak berguna!" Perkataan Liona yang mengatakan 'pihak tak berguna' membuat Kaisar yang memejamkan mata dengan deru napas naik turun, membuka mata dan menatap gadis itu. Ia menghela napas pa

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status