Masuk“Jangan dibuka, aku mohon….”
Xavier tersenyum samar. Matanya menatap lurus Zoe yang tiba-tiba saja menutup matanya, saat larangan yang diberikannya tidak dia dengarkan. Mahasiswinya ini terlihat ketakutan dan sedang berupaya melarikan diri dari kejaran penjahat. “Pak, ponsel Anda ketinggalan.” “Terima kasih,” sahut Xavier mengambil ponselnya lalu menutup kembali kaca jendela mobilnya. Zoe yang tadi menutup rapat matanya, seketika membuka mata. Helaan napas lega menguar begitu saja ketika tahu siapa yang mengetuk kaca mobil Xavier. Ketakutan yang dialaminya membuat dia melakukan sesuatu di luar akal. “Keluar!” Usir Xavier. Zoe menggelengkan kepala. Tangannya bergerak tanpa diperintah menggoyangkan lengan Xavier. Dia benar-benar tidak mau turun dari mobil Xavier. Apapun akan dia lakukan asal dia bisa keluar dari kampus tanpa harus bertemu dengan para rentenir itu. “Biarkan saya ikut dengan Anda, Pak…” mohon Zoe, lagi. Ia sampai menunjukkan puppy eyesnya demi mengambil belas kasihan Xavier. “Saya janji saya akan melakukan apa saja, asal Bapak mau menolong saya. Atau kalau tidak begitu, Bapak bisa turunkan saya di lampu merah di persimpangan jalan?” imbuh Zoe saat melihat wajah Xavier yang seakan mengatakan bahwa pria itu tak sudi membantunya. Xavier berdehem. Tatapannya yang tadi tertuju pada Zoe, kini menatap lurus ke depan memberikan instruksi pada supirnya dengan suara dingin, tapi tegas. “Jalan!” Mata Zoe bersinar terang. Senyum tipis menghiasi wajahnya saat mobil Xavier perlahan meninggalkan halaman kampus. Setidaknya hari ini dia bisa lolos dari kejaran para rentenir itu. Nanti malam dia akan melakukan live dan membayar mereka dari penghasilan livenya. “Pak, mau kemana kita? Bukankah saya—” “Bengkel,” potong Xavier tanpa menoleh pada Zoe. Matanya menatap lurus pada Ipad di tangannya. “Bengkel?” ulang Zoe. “Kenapa kita ke bengkel?” lanjutnya. Xavier menarik napas panjang. Matanya yang tadi fokus memeriksa pekerjaannya, seketika beralih pada Zoe. Tatapannya dingin dan menusuk, membuat Zoe yang tadi terus bertanya seketika menciut. Aura Xavier terlalu menakutkan meskipun tanpa bicara. “Biasa turunkan saya di depan?” cicit Zoe dengan suara pelan. Sangat pelan. “Tidak bisa!” jawab Xavier yang sudah fokus pada ipadnya lagi. “Aku terlalu sibuk untuk menurunkanmu!” lanjutkan. Zoe mengangga, hampir tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Xavier. Pria itu hanya perlu memerintahkan supirnya untuk berhenti! Bukankah itu sesuatu yang mudah? Tidak akan mengganggu waktunya juga, tapi sudahlah, tidak akan ada habisnya jika menilai dan mengkritik kelakuan pria tampan berhati iblis di sampingnya ini. “Kenapa? Tidak suka?” celetuk Xavier saat mendengar helaan napas panjang Zoe. Kepalanya menoleh, matanya menatap lekat pada sosok Zoe yang tengah tersenyum terpaksa. “Ha ha ha…tidak, sama sekali tidak,” jawab Zoe. “Bagus. Bukankah tadi kamu sendiri yang mengatakan akan melakukan apapun jika aku membawamu kabur dari preman-preman yang mengejarmu.” Xavier bicara panjang lebar, tapi matanya sudah kembali fokus pada ipadnya. Zoe mengerjapkan mata beberapa kali, shock karena Xavier tahu apa yang tengah dialaminya. Pria itu benar-benar cerdas. Tak salah jika Xavier dijuluki si paling tahu apapun. “Bapak tahu?!” seru Zoe. Xavier tersenyum miring. Ia yang tadinya sibuk mengecek pekerjaannya, langsung menoleh menatap Zoe. Tatapannya lekat. Namun, tak bisa diartikan. ”Jadi kamu benar-benar dikejar oleh preman?” Kali ini Xavier mematikan ipadnya. Mendengar jawaban Zoe terlihat lebih menarik ketimbang tumpukan pekerjaan yang harus diselesaikannya dengan cepat hari ini. Mahasiswinya ini terlalu—menimbulkan banyak pertanyaan di benaknya. Zoe menghela napas panjang. Hampir saja dia percaya dengan kata orang-orang yang mengatakan bahwa Xavier adalah si raja tahu segalanya. Namun, nyatanya pria itu hanya sedang mencoba memancingnya untuk mendapatkan jawaban. ”Tidak!” sahut Zoe bertolak belakang dari jawaban sebelumnya. ”Jadi kamu benar-benar sedang di kejar preman?” ujar Xavier. Tangannya terlihat di atas dada sedangkan manik matanya yang tajam masih setia menatap Zoe. “Tidak!” seru Zoe. Dia memutar tubuhnya, memalingkan wajah agar tidak melihat wajah Xavier lagi. Tatapan pria itu membuatnya gugup. Xavier tersenyum miring. “Menarik,” ungkapnya dengan suara lirih. Namun, masih bisa didengar oleh Zoe. “Maksud Bapak?” tanya Zoe kembali memutar tubuhnya, menatap Xavier. “Kenapa menghadap ke sini lagi, bukankah pemandangan di luar sana jauh lebih menarik dari pada melihatku?” ujar Xavier saat Zoe menghadapnya. Zoe menarik napas berat, seraya berkata dalam hati, “Sabar, sabar…dia memang selalu menyebalkan. Kendalikan dirimu Zoe.” “Tidak melihat ke arah luar jendela lagi? Lihat dan nikmati pemandangan indah di luar sana,” komentar Xavier yang sudah kembali sibuk dengan ipadnya. Zoe berusaha melebarkan senyumnya. “Tapi Bapak belum menjawab pertanyaan saya,” ucap Zoe. Xavier menghentikan kesibukannya sebentar, melirik Zoe yang terlihat menunggu jawabannya. “Pertanyaan? Pertanyaan yang mana?” sahut Xavier. “Yang Bapak berbicara menarik tadi. Bapak bisa jelaskan maksud dari kata-kata itu?” tanya Zoe menuntut. “Tidak ada. Aku hanya sedang membicarakan tentang pekerjaanku.” Zoe mendengus. Tidak ada gunanya dia mengharapkan sesuatu dari orang tidak berperasaan seperti Xavier. Memang paling betul dia menikmati pemandangan di luar. Terlalu lama terlibat percakapan dengan dosen menyebalkan itu hanya akan membuat tensinya naik. “Pak, kemana kita akan pergi?” Zoe mengernyitkan keningnya saat mobil yang ditumpanginya bergerak jauh ke pusat kota. “Bengkel. Bukankah aku sudah mengatakan padamu tadi!” jawab Xavier. Zoe tidak menyahuti. Dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya untuk menanggapi ucapan Xavier dan kembali menatap jalan ibu kota yang mulai memperlihatkan cahaya gelapnya. Keheningan dia biarkan menemani laju kendaraan yang mereka tumpangi, hingga mobil itu berhenti di sebuah bengkel yang besar dan mewah. “Turun! Aku harus menemui orang picik yang berharap mengambil keuntungan dariku!” perintah Xavier, dingin dan tak ingin dibantah. Zoe menghela napas panjang. Entah sudah berapa kali dia menghela napas saat bersama Xavier. Pria itu terlalu membuatnya pusing dengan segala keinginan dan tingkahnya. Seharusnya dia tidak perlu turun bukan? Masalah yang dihadapinya saat ini juga tidak ada kaitannya dengannya. Namun, demi menjaga keselamatan jiwanya, dia tetap turun meski dengan berat hati. “A–ayah…?”“Aluna…?” lirih Zoe yang berdiri di belakang Adam.Adam menoleh menata Zoe. “Lihatlah, dia begitu mengenaskan bukan. Wajah cantiknya kini hilang entah kemana. Sekarang kakakku hanya bisa menangis dan berteriak. Sesekali bibirnya memanggil nama Pak Xavier.”Zoe menggigit bibirnya kuat-kuat. Air matanya hampir menetes melihat kondisi Aluna yang tampak memprihatinkan. Wanita itu benar-benar terlihat seperti orang gila. Sesekali Aluna terlihat tertawa, sesekali wanita itu berteriak kencang.“Aku ingin sekali membawa kakakku berobat, tapi kedua orang tuaku menghalanginya.” Adam menatap Zoe sendu.“Jika Pak Xavier tetap tidak mau bertemu dengan kakakku, mungkin aku akan membawa kakakku ke luar negeri untuk berobat di sana tak ada yang mengenal kami,” terang Adam.“Boleh aku mengambil video kakakmu?" Taya Zoe. "Aku akan menunjukkannya kepada Pak Xavier nanti. Mungkin dengan melihat video yang aku ambil, Pak xavier menjadi iba,” ujar Zoe.Adam mengangguk. Ia mempersilahkan Zoe untuk mengamb
“Aku tidak bisa menjanjikannya. Kamu tahu sendiri bagaimana sikap Pak Xavier. Dia akan tetap berkata tidak untuk sesuatu yang tidak diinginkannya," jawab Zoe."Aku tahu betul tentang itu, tapi aku mohon sekali ini saja. Kakakku bisa mencelakai dirinya sendiri lama-lam, Zoe.”Adam masih berlutut, memohon sesuatu yang sudah tahu akan bagaimana hasilnya. Namun ia masih mencoba melakukannya. Hatinya benar-benar hancur saat melihat kakaknya terpuruk seperti ini.“Atau kamu mau melihat sendiri bagaimana keadaannya? Mungkin dengan begitu hatimu akan terketuk,” kata Adam masih berusaha memohon pada Zoe.Zoe menggigit bibirnya. Perasaannya mulai bimbang. Dia tahu betul bagaimana keadaan Aluna saat itu. Wanita yang dulu selalu terlihat cantik dan mempesona itu kini sudah berubah menjadi wanita yang tidak lagi memperhatikan dirinya.Zoe menatap mata Adam, jelas sekali terlihat bahwa pria itu sangat putus asa.“Aku mohon….”Goyangan di tangannya membuat Zoe tersadar dari lamunannya. Kepalanya men
“Hati-hati dijalan. Semoga liburanmu kali ini menyenangkan,” ucap Xavier. Ia memeluk tubuh mamanya sebelum wanita itu benar-benar pergi. Kemarin setelah pergi bertiga dan menikmati waktu bersama, sore harinya Xavier dan Zoe mengantarkan Nora ke bandara. Nora menganguk. “Kalian juga hati-hati, jangan sering bertengkar. Hubungi Tante jika Xavier berani menyakitimu,” kata Nora berpesan.Zoe mengulas senyumnya. Ia bergantian memeluk tubuh Nora. Kali ini Nora ingin berlibur ke Jepang.Hangat, itu yang dirasakan Zoe setiap kali ia berpelukan dengan Nora. Ia bahkan tak ingat lagi bagaimana rasanya pelukan ibunya. Sudah hampir puluhan tahun ibunya pergi tanpa pesan.“Iya Tante. Nanti saya akan langsung menghubungi Tante jika Xavier berani macam-macam.” Canda Zoe. Ia tersenyum lebar meski matanya hampir mengeluarkan air mata.“Jangan menangis, Tante pasti kembali. Tante juga harus menghadiri sidang perceraian Tante kan,” ucap Nora saat melihat air mata Zoe hampir jatuh.Zoe mengangguk. Sekal
“Syarat apa?"Xavier tersenyum licik. " Puaskan aku malam ini," bisik Xavier dengan suara lirih.Alis Zoe semakin menukik, matanya menatap tajam Xavier. Pria itu sungguh tak kenal lelah jika berhubungan dengan hal-hal berbau keintiman."Tidak! Malam ini aku mau tidur nyenyak tanpa diganggu,” balas Zoe. Ia pergi begitu saja, menggandeng tangan Nora.Zoe mengabaikan Xavier, sekali-kali ia ingin menolak ajakan yang selalu membuat tubuhnya remuk redam itu. Xavier memang maniak percintaan. Pria itu tidak akan pernah puas hanya dengan sekali permainan.“Tante mau jalan-jalan kemana dulu? Pantai atau berkeliling ke toko sekitaran sini?” tanya Zoe ketika mereka sudah berjalan keluar dari villa."Bagaimana kalau kita jalan-jalan di pinggiran pantai. Setelah itu baru kita jalan-jalan ke tempat lainya,” saran Nora.“Baiklah,” jawab Zoe dengan riang.Seperti keinginan Nora, mereka jalan-jalan ke pinggiran pantai. Banyak wisatawan yang berkunjung meski tak sepadat jika hari libur.Kaki mereka terk
Xavier tersenyum miring. “Tidak, aku hanya akan memberikannya sedikit pelajaran.”Bulu kuduk Zoe merinding. Kata-kata yang diucapkan oleh Xavier seperti sebuah kata keramat yang menakutkan. Xavier memang tersenyum saat mengatakannya, namun Zoe tahu dibalik senyumnya itu ada sesuatu yang menakutkan.“Bagaimana kalau kita turun. Mamamu pasti sudah menunggu,” ucap Zoe mengalihkan pembicaraan.Zoe ingin liburannya kali ini hanya mengingat kenangan manis dan kata-kata indah. Untuk sementara waktu otaknya tidak akan ia isi dengan sesuatu hal yang mengarah ke sesuatu yang buruk.Bisa berlibur dan menikmati waktu bersama dengan Nora adalah sesuatu yang harus ia rayakan. Mengingat bagaimana selama ini wanita itu menentang dengan keras hubungannya dengan Xavier, sempat membuat hatinya kecil. Dan sekarang saat Nora sudah menerimanya, tentu hal itu adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu olehnya.Xavier mengangguk. Sebelum tangan kekar itu menggandengnya, Xavier berjalan menuju lemari pakaian. Ia men
Zoe mengeliat. Tangannya naik ke atas. Bibirnya bahkan masih menguap lebar. Semalam Xavier sama sekali tidak membiarkannya tidur dengan nyenyak.pria itu terus menyentuhnya hingga pagi. “Selamat pagi…,” sapa Nora.“Kamu turun tepat waktu, ayo ita sarapan bersama. Setelah itu kita jalan-jalan,” ucap Nora.Zoe hanya mengangguk. Matanya menatap tajam Xavier yan sudah duduk di meja makan. Tangan pria itu melambai, menyuruhnya duduk di sampingnya. Bukan menurut, Zoe justru duduk di samping Nora. “Duduklah di samping Xavier. Matanya suda menatap tajam seperti seorang pembunuh bayaran,” kata Nora. Dia cukup bahagia melihat interaksi antara Zoe dan Xavier. Keduanya terlihat saling mencintai.“Biarkan saja Tante. Nanti kalau Xavier marah, aku akan pergi meninggalkannya ke tempat dimana dia tidak bisa menemukanku,” sahut Zoe.Hari ini dia benar-benar marah. Bagaimana tidak marah jika Xavier terus menyuruhnya menuruti semua keinginannya. Tanda merh yang kemarun saja belum hilang kini sudah di t







