เข้าสู่ระบบSuara ketukan pintu tak sabaran, membangunkan tidur Zoe pagi ini. Rencananya ia ingin bangun siang karena jadwal kuliahnya dimulai pukul sebelas. Matanya masih begitu berat setelah menemani Eros mengobrol hampir jam tiga dini hari tadi.
Percakapan mereka berakhir ketika Eros mengusulkan mereka untuk bertemu hari ini. Ada banyak hal yang ingin Eros diskusikan sebelum mereka benar-benar melakukannya. Dengan malas, ia turun dari ranjangnya. Menyeret kakinya menuju ke depan. Suara gedoran pintu itu semakin mengeras. Meninggalkan rasa tidak nyaman di telinga. “Kamu pasti Zoe?” Zoe mengernyitkan kening. Laki-laki plontos dengan lengan baju yang digulung hingga memperlihatkan tato naga di bagian lengan itu membuat Zoe bertanya-tanya siapa gerangan pria di depannya ini. Bukan pria tampan, paginya justru disambut oleh pria dengan wajah di bawah standar. “Bayar hutang ayahmu!” seru si pria dengan nada tinggi, tanpa basa-basi. “Hutang?” ulang Zoe. Bibirnya tertarik membentuk garis lengkung tipis. Apa lagi ini?! Dia benar-benar bisa gila jika terus mengalami hal seperti ini. Hari ini dia harus membayar hutang kepada dua rentenir yang kerap menagihnya. Belum lagi biaya ganti rugi yang diminta ayahnya. Kepalanya rasanya hampir meledak saat ini juga. “Hutang ayahmu sudah menumpuk. Dia tidak bisa membayar dan menyuruhku kemarin! Jadi sebaiknya kamu bayar hutangnya sekarang juga!” perintah si pria terkesan memaksa. Zoe memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Uang dari mana lagi dia? “Bisa beri waktu? Aku benar-benar tidak memiliki uang saat ini. Tinggalkan nomor teleponmu, nanti aku akan menghubungimu saat uangnya terkumpul,” sahut Zoe mencoba bernegosiasi. Pria itu tersenyum miring. Langkah kakinya maju satu langkah. Tangannya terjulur menyentuh kerah baju tidur yang dipakai Zoe, mencengkeramnya erat lalu menghempaskan dengan kasar hingga tubuh Zoe menyentuh ubin dingin. “Waktu? Kamu pikir aku tidak memberi ayahmu waktu?! Aku sudah lelah dibohongi olehnya, jadi sebaiknya segera beri aku uangnya!” ucap si pria sarkas. “Memaksa pun aku tidak punya!” Zoe berusaha kuat, meski hatinya berdebar takut. “Benarkah? Baiklah, mari kita lihat apakah kamu benar-benar memilikinya atau tidak!” “Aku tidak mau ditipu oleh keluarga miskin seperti kalian!” omel si pria. Mata Zoe membulat saat pria berkepala plontos itu masuk begitu saja ke dalam kontrakannya tanpa permisi. Tangannya yang mencoba menghentikan langkah pria itu berakhir percuma. Pria tetap melenggang masuk dan tanpa ampun mengobrak-abrik setiap sudut tempat tinggalnya tanpa terkecuali. Hati Zoe berdebar semakin kencang saat kaki pria itu melangkah menuju kamarnya. Di dalam lemari, di bawah bajunya, dia menyimpan uang tunai untuk membayar hutang ayahnya kepada dua orang rentenir yang akan menagihnya hari ini. Jika uang itu diambil, hidupnya benar-benar akan berakhir. “Jangan!” pekik Zoe saat tangan si pria plontos hampir menyentuh lemari pakaiannya. Si pria plontos menoleh. Senyum miring tercetak di wajahnya seolah mengerti ada sesuatu yang tengah disembunyikan oleh Zoe di balik lemari pakaian di depannya ini. Bukan menurut, pria itu justru mengikuti kata hatinya, ia membuka lemari itu dan mengobrak-abrik baju-baju Zoe yang ada di dalamnya. Senyum sumringah tercetak di wajahnya saat menemukan amplop coklat di bawah tumpukan baju. “Ingin berbohong?” ucap si pria sambil membuka amplop coklat yang berisi uang dalam jumlah lumayan banyak. “Jangan! Aku mohon jangan ambil uang itu.” Zoe menggelengkan kepalanya. Dia bersujud memohon agar pria itu tidak mengambil uang miliknya. Di dalam amplop itu ada uang sebesar dua puluh juta yang akan dia gunakan untuk membayar hutang pada rentenir lainnya. “Lain kali jangan mencoba untuk membohongiku. Aku selalu punya cara untuk mendapatkan uang ku kembali.” Ancam si pria dengan senyum miring di wajahnya. “Aku pergi,” pamit si pria. Wajahnya terlihat begitu senang, berbeda dengan Zoe yang tampak sedih. “Akkhh…!” Zoe berteriak keras. Matanya menatap nanar pada jam weker yang tergeletak di lantai. Satu jam lagi rentenir yang akan mengambil uang mereka akan datang, dan dia tidak memiliki uang sepeserpun. “Tuhan, aku lelah….” *** Zoe menggigit kukunya gelisah, mata kuliahnya sudah berakhir sepuluh menit yang lalu, tapi Zoe tidak juga keluar dari kelasnya. Panggilan dari nomor asing dan juga pesan, membuat nyalinya menciut. Bukan dia yang berhutang, tapi dia yang merasakan susahnya. “Apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mau jika harus berakhir mengenaskan di tangan mereka!” gumam Zoe sambil membentur-benturkan kepalanya di meja. “Zoe….” Zoe membulatkan matanya. Sentuhan pada pundaknya membuat sensasi berdebar pada jantungnya. Tidak mungkin para rentenir itu bisa masuk ke kelasnya, tapi tetap saja otaknya tidak bisa berpikir dengan jernih. Ketakutan itu terlalu menguasai hatinya. Kepalanya dia paksa menoleh, melihat siapa orang yang telah mengemukakannya. Sebuah napas penuh kelegaan dia hembusan saat mendapati teman pria sekelasnya berdiri dengan tatapan tak bisa diartikan. “Tidak pulang?” tanya teman pria Zoe bernama Adam. Zoe melebarkan senyumnya, meski terlihat kaku. “Nanti. Masih ada beberapa hal yang harus aku kerjakan, ” jawabnya berdalih. Adam tersenyum lembut. “Oh… kalau begitu aku duluan.” Pamit Adam yang kemudian pergi setelah Zoe menganggukkan kepalanya. Zoe masih bertahan di dalam kelasnya. Ia berjalan mondar-mandir sambil sesekali melirik jam di pergelangan tangannya. Senja hampir menunjukkan wajahnya, tidak mungkin rentenir itu masih bertahan di rumahnya. Mereka pasti lelah dan memilih untuk pergi. Memberanikan diri, ia mencoba untuk keluar dari kelas. Langkahnya bergerak cepat menyusuri koridor, seakan berpacu dengan waktu. Hari ini ia harus sebisa mungkin menghindar dari para rentenir itu. Namun, sesuatu memang tidak bisa diprediksi dengan mudah. Alih-alih menunggu di rumahnya, para rentenir itu justru terlihat berjaga di depan gerbang kampusnya. “Haisstt… sial!” umpat Zoe. Zoe bersembunyi di balik pilar sambil mengedarkan matanya, melihat apakah ada seseorang yang mungkin bisa dimintai bantuan. Zoe berhenti menggigit jari-jarinya ketika matanya menatap seseorang yang mungkin bisa membantunya, meski tidak terlalu yakin. Xavier—si dosen killer tengah berjalan menuju ke mobilnya. “Zoe…?” Mata Xavier membulat ketika mendapati Zoe tiba-tiba menerobos masuk ke dalam mobil dan duduk di sampingnya. “Bantu saya. Saya mohon, Pak!” mohon Zoe dengan mata memelas. Xavier tersenyum miring. Matanya menatap tajam dan dalam pada sosok Zoe yang terlihat ketakutan. “Kenapa saya harus membantu kamu? ” tanya Xavier penuh penekanan. Bola mata Zoe bergerak gelisah, mengamati dua orang yang sedang menunggunya di depan gerbang. Jika bukan karena mereka, tentu dia tidak akan masuk ke dalam kandang macan. “Saya akan melakukan apapun yang Bapak perintahkan asal Bapak, membantu saya.” Zoe kembali memohon ketika dua orang itu mulai masuk ke halaman kampus. Jantungnya sudah berdebar tak karuan. Bibir Xavier yang tidak juga mengatakan iya, membuat semuanya terasa semakin parah. “Saya mohon…” Tok…tok…tok…. Suara ketukan pada pintu mobil Xavier membuat punggung Zoe memegang. Matanya yang masih menatap mata Xavier, membulat. Tubuhnya terasa lemas tak bernyawa. “Jangan!” Cegah Zoe. Zoe memegang tangan Xavier saat tangan pria itu hendak membuka jendela kaca di belakangnya. Kepalanya menggeleng lemah, memohon penuh harap. “Jangan dibuka, aku mohon….”“Aku mencintai Pak Xavier, Zoe! Aku ingin menjadi miliknya.”Zoe menelan ludahnya susah payah, tubuhnya terhuyung seolah tak memiliki tulang. Apa.yang dikatakan oleh Sofia tentu membuatnya sangat terkejut. Dia tahu kalau Sofia sangat menyukai pria-pria tampan, tapi dia tidak pernah menyangka jika hatinya benar-benar dicurahkan kepada Xavier.“Aku mencintai Pak Xavier!” ulang Sofia. Kali ini kata-katanya penuh penekanan seolah menjelaskan bahwa dia tidak main-main dengan perasaannya.“Tapi aku tidak menyukaimu!”Balasan dari Xavier membuat Zoe membalikkan badannya. Matanya menatap Xavier yang terlihat tenang dan dingin, entah sejak kapan pria itu berdiri di belakangnya. Xavier maju beberapa langkah menyamakan posisinya dengan Zoe. Matanya menatap tajam Sofia yang terlihat gelisah. “Orang sepertimu, aku sama sekali tidak tertarik!” imbuh Xavier pedas.Sofia mengepalkan tangannya, kesal mendengar ucapan Xavier. Dia jauh lebih baik dari Zoe, tapi nyatanya dia tak pernah menang jika bers
“Aku…? Apa kamu… mencurigaiku?”Zoe mengerjapkan matanya beberapa kali. Kepalanya spontan menggeleng menjawab pertanyaan dari Sofia.“Aku adalah sahabatmu, tidak mungkin aku mengkhianatimu, Zoe,” kata Sofia meyakinkan Zoe.“Aku tahu itu Sofia. Aku sama sekali tidak memiliki pemikiran itu,” balas Zoe.Sofia menghela napas penuh kelegaan. Ia menggenggam tangan Zoe. wajahnya yang tadi terlihat tegang berangsur normal.“Terima kasih telah mempercayaiku,” ucap Sofia.Zoe tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya. Bibirnya membentuk garis lengkung, sementara tangannya mengusap punggung Sofia.“Kenapa kamu begitu gelisah. Tanpa kamu katakan, aku tidak akan pernah memiliki pemikiran seperti itu,” balas Zoe.“Kamu adalah sahabatku. Kita sudah kenal sejak lama. Aku percaya kamu tidak akan mungkin mengkhianatiku,” tambah Zoe.Sofia tersenyum tipis. Ia memeluk tubuh Zoe sambil menepuk-nepukkan tangannya di punggung wanita itu.“Terimakasih karena telah mempercayaiku,” kata Sofia.Sofia me
“Siapa dia?”Tubuh Xavier menegang, namun itu hanya terlihat beberapa detik saja. Setelahnya wajahnya kembali datar, seolah tak terganggu.Tadi di kampus, dia didatangi salah satu muridnya yang sedang menanyakan tentang tugas tambahan yang dia berikan. Dia sama sekali tidak menyangka jika hal itu akan menjadi masalah.“Tidak bisa menjawab?” ucap Zoe. Air matanya sudah hampir keluar. Selama ini dia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini, cemburu dan takut kehilangan. Hanya karena sebuah foto, hatinya berdenyut sakit.“Kalau kamu bosan dengan ku, harusnya kamu mengatakannya, bukan malah selingkuh. Aku akan pergi diam-diam dan melupakanmu. Aku….”Ucapan Zoe tertahan, bibir Xavier menyambar bibir Zoe, memberikan sedikit pelajaran untuk wanita yang dicintainya itu. Mendengar kata-kata Zoe, membuatnya ingin tertawa. Wanita cantik dengan mata memerah itu mengatakan akan meninggalkannya seolah-olah dia bisa melakukannya. “Masih mau meninggalkanku?” Alis Xavier naik sebelah, matanya mena
Sebuah pesan masuk membuat Xavier menggeram kesal. Matanya menatap tajam sebuah foto yang baru dikirimkan oleh seseorang kepadanya. Ini bukan pertama kalinya ia mendapatkan kiriman foto seperti ini: Zoe bersama pria lain.“Sialan!” umpat Xavier.Xavier segera menutup laptopnya. Langkahnya yang lebar membawa pria itu meninggalkan ruangannya. Wajahnya yang mengeras menandakan pria bertubuh tinggi besar itu sedang marah. Demi apapun juga Xavier tidak suka melihat Zoe dekat dengan adik tirinya atau Adam. dua laki-laki itu bagaikan musuh bebuyutan yang ingin ia singkirkan.Mobil hitam miliknya yang terparkir rapi di halaman kampus, ia tumpangi dengan kecepatan di atas rata-rata, tujuannya saat ini adalah rumahnya.***Zoe meletakkan belanjaannya di atas meja makan. Napasnya tampak putus-putus karena membawa beban berat. Tangannya yang bergerak membongkar barang belanjaannya seketika urung karena mendengar bunyi pesan masuk ke dalam ponselnya.Kening Zoe mengkerut, sebuah foto dimana Xavier
Zoe menggeliat dalam tidurnya, bau parfum yang tercium oleh hidungnya membuat tidurnya terusik. Badannya masih terasa remuk redam, semalam Xavier benar-benar menggaulinya hingga tubuhnya lemas. Pria itu memintanya bergaya seperti saat ia sedang live.“Tidurlah lagi, ini masih pagi. Aku akan ke kampus hari ini,” kata Xavier saat matanya menangkap pergerakan Zoe.Zoe hanya mengangguk. Ia tersenyum saat Xavier mengecup keningnya. “Mau kubawakan sesuatu saat pulang nanti?”“Tidak perlu. Aku bisa berbelanja sendiri nanti,” kata Zoe.“Emm. kalau begitu aku berangkat dulu,” pamit Xavier. Ia mengecup kening Zoe sekali lagi sebelum benar-benar pergi meninggalkan kamarnya.Zoe menatap punggung Xavier yang hilang di balik pintu sebelum matanya kembali terpejam. Ia benar-benar mengantuk dan butuh tidur untuk beberapa waktu.Namun, suara ketukan pintu membangunkan Zoe, meski tidak benar-benar bangun. Matanya masih setengah terpejam ketika Liliana masuk ke dalam kamarnya dengan nampan di tangannya.
“Kenapa?”Xavier memeluk tubuh Zoe dari belakang. Sudah hampir setengah jam wanita itu diam di balkon, entah apa yang dipikirkannya.“Apa mainmu bersama Arabella kurag lama?” tanya Xavier.Zoe menggelengkan kepala. Dia hanya sedang memikirkan kata-kata ayahnya. Kejadian yang lalu membuatnya memiliki rasa trauma. Dia takut jika ayahnya benar-benar akan menyakitinya.“Lalu apa yang membuatmu termenung sejak tadi?” tanya Xavier kembali.“Ayahku. Tadi aku bertemu dengannya saat di mall,” kata Zoe.Xavier semakin mengeratkan pelukannya. “Tidak perlu khawatir, aku pasti akan menjaga keselamatanmu.”Zoe tersenyum tipis. Kepalanya menoleh menatap Xavier. Pria itu selalu bisa membuatnya merasa nyaman, meski kadang menyebalkan.“Mau jalan-jalan?” tawar Xavier.“Bagaimana kalau kita membersihkan kontrakanku. Di sana banyak kostum yang biasanya aku gunakan live,” balas Zoe.Xavier mengernyitkan keningnya. “Kamu ingin kembali live?” tanyanya.Zoe menggeleng. “Ara ingin mencari kontrakan saat kelua
Zoe beberapa kali menoleh kebelakang, Anthony masih berjalan di belakangnya. Pertanyaan pria itu dibiarkannya menggantung begitu saja. Ia memang tidak berniat menjawab atau menebak pertanyaan Anthony. Bagaimanapun juga ia harus menjaga jarak untuk kepentingannya. Ia tidak ingin terus terlibat perte
Zoe menghela napasnya beberapa kali. Pikirannya sedang tidak baik-baik saja saat ini. Setelah kejadian di lorong rumah sakit kemarin, Xavier mengantarkannya pulang. Pria itu tak mengatakan apapun padanya. Bahkan sampai pagi ini tidak ada satu pesan pun yang dikirimkan oleh pria itu. Xavier langsung
“Papa…?” Xavier langsung menekan bel untuk memanggil dokter dan juga perawat. Wajahnya tampak terkejut saat melihat Dimitri sadar.“Xavier…,” lirih Dimitri.Xavier lebih mendekatkan tubuhnya. Suara pelan Dimitri membuatnya tak bisa mendengar dengan baik.
Zoe mengembang senyumnya saat Xavier menoleh ke arahnya. Pria itu sedang membersihkan tubuh papanya.Tangan Zoe bergetar saat tiba-tiba ayahnya menghubunginya. Entah dari mana Baskoro memiliki nomornya. Hanya adik dan teman-teman dekatnya yang tahu nomornya yang baru.Zoe menghela napas panjang, ia







