Beranda / Romansa / Pelan-Pelan, Pak Dosen! / Bab 9. Alat Bantu?

Share

Bab 9. Alat Bantu?

Penulis: Anggun_sari
last update Tanggal publikasi: 2025-10-01 15:40:12

“A–ayah…?”

Xavier menghentikan langkahnya. Kepalanya sedikit menoleh menatap reaksi Zoe yang terlihat terkejut. Zoe yang berada tepat di belakangnya, membuat dia masih bisa mendengar apa yang dikatakan oleh gadis tersebut meski dengan suara lirih.

Semalam dia mendapatkan musibah. Pria tua dengan mengenakan sepeda motor menabrak mobilnya dari arah berlawanan. Awalnya pria itu itu marah dan menuntut ganti rugi dengan alasan dia telah dirugikan. Namun, dengan akalnya yang cukup cerdas, dia dengan mudah membalikkan keadaan. Si pria tua yang hendak memerasnya justru harus membayarnya dengan nominal yang tak sedikit. Mobil ferrari kesayangan lecet dan harus masuk ke bengkel. Dia bisa saja mengeluarkan uang pribadinya, tapi untuk memberikan efek jera pada orang-orang berhati licik seperti pria tua itu, dia sengaja meminta ganti rugi.

“Ayah? Dia…ayahmu?” tanya Xavier dengan nada tak percaya.

Mata Xavier tengah melakukan penilaian. Keadaan pria tua yang menabraknya semalam dan Zoe sungguh berbanding terbalik. Jika pria tua itu terlihat lusuh dan tidak terawat, tidak dengan Zoe. Meski berpenampilan sederhana, Zoe terlihat bersih dan–wangi.

“I–iya,” jawab Zoe dibarengi dengan senyum kaku.

Zoe menggigit bibirnya keras-keras. Hatinya mulai berdebar tak karuan saat Xavier kembali melangkahkan kakinya. Otaknya tak sanggup membayangkan jika kenyataannya sang ayahlah pria picik yang dibicarakan oleh Xavier tadi. Dan benar saja, hal itu benar-benar terjadi. Xavier berjalan mendekat ke arah ayahnya yang sudah menunggu. Aura tegas dan mendominasi terlihat begitu jelas. 

“Zoe…? Kamu—”

Zoe yang tadinya berdiri di belakang Xavier, langsung berpindah ke sisi ayahnya. Keadaannya saat ini sama seperti keluar dari kandang singa, masuk ke dalam kandang buaya. Uang dua ratus juta yang diminta oleh ayahnya tadi malam, ternyata untuk membayar ganti rugi Xavier. Sungguh ini kebetulan yang sangat tidak dia inginkan.

”Yah, jadi Pak Xavier yang Ayah tabrak semalam?” tanya Zoe sambil berbisik. Ia sesekali melemparkan senyum saat Xavier menatapnya dengan tatapan tak bisa diartikan.

Baskoro mengangguk dengan semangat. Otaknya yang licik, mulai memikirkan sesuatu yang bisa menguntungkan dirinya.

“Kamu mengenal pria tampan ini dengan baik?” tanya Baskoro sama seperti Zoe, berbisik.

Zoe memberengut. Tanpa bertanya, dia cukup tahu apa yang ada di otak ayahnya.

“Mana?”

Baskoro menatap Zoe penuh tanya saat melihat tangan putrinya menengadah ke arahnya.

“Mana uanganya?” geram Zoe saat sang ayah hanya diam dan berputar-putar bodoh.

“Cepat keluarkan uang yang aku berikan dan jangan banyak alasan!” lanjut Zoe tak ingin dibantah.

Baskoro mendengus kesal. Ia mengeluarkan uang yang dibungkusnya di kantong kresek hitam dan memberikannya kepada sang putri. Tangannya begitu erat menggenggam bungkusan itu seakan tak rela menyerahkannya.

”Pak, ini uang yang Bapak minta. Saya minta maaf atas apa yang dilakukan oleh ayah saya kepada Bapak. Dan saya berharap Bapak mau memaafkan ayah saya?” ucap Zoe panjang lebar. Dia memberikan uang terbungkus kantong kresek itu pada Xavier. Dia benar-benar malu saat ini. Jika bisa dia ingin mengelupas wajahnya dan mengganti dengan wajah baru.

”Eum…kalau begitu kami permisi dulu.” Pamit Zoe, menyeret tangan sang ayah pergi dari hadapan Xavier secepat mungkin.

“Tunggu!” panggil Xavier, menghentikan langkah tergesa Zoe.

“Temui saya besok.”

***

Zoe merebahkan tubuhnya di atas kasur. Di tangannya sudah tidak ada lagi uang tersisa. Namun, esok dia masih harus memikirkan cara menghadapi rentenir yang pasti akan mendatanginya lagi. 

Tubuh dan pikirannya juga terasa sangat lelah hari ini, tapi dia harus melakukan live agar bisa memenuhi kebutuhan yang mendesaknya. Kebutuhan yang bukan benar-benar kebutuhannya.

“Siapa yang menghubungiku malam-malam begini. Tidak bisakah mereka membiarkan hidupku tenang meski sebentar,” gerutu Zoe. 

Zoe berjalan dengan malas mengambil ponsel yang diletakkannya di atas meja rias. Dia memang jarang memegang ponsel. Benda berbentuk persegi itu tidak terlalu penting baginya, jika bisa dia lebih memilih tidak memiliki ponsel. Hanya ada ayah dan adiknya yang rajin menghubunginya untuk meminta uang, selebihnya ponsel itu tidak memiliki fungsi berarti.

“Eros…?”

Zoe berdehem, mencoba menenangkan hatinya. Hari ini seharusnya mereka bertemu, tapi karena masalah tak terduga, mereka akhirnya membatalkan janji.

“Halo…?”

Suara berat Eros yang menyapu indra pendengarannya, membuat tubuh Zoe semakin menegang. Tubuhnya bereaksi berlebihan, bahkan sebelum pria itu berbicara.

“Apa aku mengganggumu?” tanya Eros ketika tidak mendapatkan sahutan dari Zoe.

“Angel?” panggil Eros pada Zoe.

“Ah…ti–tidak. Sama sekali tidak,” jawab Zoe tergagap.

“Baguslah!” kata Eros. “Aku sengaja menghubungimu lebih awal agar kamu bisa melakukan live malam ini,” sambung Eros menerangkan.

Zoe hanya menganggukkan kepalanya seolah Eros bisa melihatnya. Dia terlalu gugup untuk membuka mulut. Bayang-bayang dimana mereka akan melakukan kegiatan gila bersama, membuatnya tak bisa bersikap biasa-biasa saja.

“Aku ingin membicarakan sesuatu, boleh?” tanya Eros meminta izin.

“Tentu. Katakan!” sahut Zoe. ia memilih naik ke atas ranjangnya, duduk bersandar di sandaran kasur.

“Eum…ada sedikit permintaan dariku sebelum kita bertemu dan melakukannya. Apa kamu bisa melakukannya?” tanya Eros kembali.

“Katakan saja. Aku pasti akan melakukannya,” jawab Zoe begitu enteng, padahal sebenarnya hatinya sudah berdebar tak karuan.

“Begini….”

Suasana hening sesaat. Zoe sudah meremas selimutnya menjadi tak karuan. Hatinya dag dig dug menunggu kata-kata yang ingin diucapkan oleh Eros.

“Aku ingin kamu mengenakan lingerie seksi dan beberapa perlengkapannya.”

“Uhuk…uhuk….” Zoe tersedak air liurnya sendiri mendengar permintaan aneh Eros. Belum juga bertemu, otaknya mulai membayangkan yang tidak-tidak. Tentang fantasi liar yang dimiliki oleh pria yang berhasil membayarnya tersebut.

“Kamu baik-baik saja?’ tanya Eros saat mendengar Zoe batuk.

“Aku baik-baik saja,” sahut Zoe. 

“Bisa aku lanjutkan lagi kata-kataku?” Izin Eros.

Zoe menganggukkan kepalanya. “Tentu.”

“Aku ingin melihatmu terlihat tak berdaya di bawahku. Jadi—”

Zoe menelan ludahnya susah payah. Tubuhnya meremang hanya dengan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Eros pada tubuhnya.

“Aku membutuhkan perlengkapan lainnya. Apa kamu memilikinya?” tanya Eros.

“Perlengkapan lainnya?” ulang Zoe. 

“Misalnya…?” imbuh Zoe. Dia sama sekali tidak memiliki hal-hal yang berkaitan dengan semua itu. Hanya ada kostum menggoda yang menjadi barang koleksinya untuk menghibur para penonton setianya.

“Penutup mata, belenggu tangan, dan semacamnya,” jawab Eros.

Zoe tersenyum kaku. Sungguh ini diluar prediksinya. “Aku tidak memiliki itu,” jawab Zoe.

“Kalau begitu bagaimana jika kamu membelinya. Aku akan memberimu banyak koin saat live nanti, dan pergilah berbelanja kebutuhanmu esok paginya.’

Zoe masih diam tak menjawab. Otaknya sedang mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Eros. pria itu benar-benar—liar.

“Aku ingin melihatmu memakai semua itu. Bisa?” sambung Eros.

“Bi–bisa,” gagap Zoe.

“Baiklah kalau begitu. Sampai bertemu. Aku menunggumu.”

Tit!

Panggilan berakhir. Zoe menghirup napas banyak-banyak. Berbicara dengan Eros malam ini membuatnya lupa cara bernapas yang benar.

Ting.

Sebuah pesan masuk, pengirimnya adalah Eros.

“Four Seasons, jam sembilan malam.”

 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 215. Ayo kita menikah!

    “Aku mencintai Pak Xavier, Zoe! Aku ingin menjadi miliknya.”Zoe menelan ludahnya susah payah, tubuhnya terhuyung seolah tak memiliki tulang. Apa.yang dikatakan oleh Sofia tentu membuatnya sangat terkejut. Dia tahu kalau Sofia sangat menyukai pria-pria tampan, tapi dia tidak pernah menyangka jika hatinya benar-benar dicurahkan kepada Xavier.“Aku mencintai Pak Xavier!” ulang Sofia. Kali ini kata-katanya penuh penekanan seolah menjelaskan bahwa dia tidak main-main dengan perasaannya.“Tapi aku tidak menyukaimu!”Balasan dari Xavier membuat Zoe membalikkan badannya. Matanya menatap Xavier yang terlihat tenang dan dingin, entah sejak kapan pria itu berdiri di belakangnya. Xavier maju beberapa langkah menyamakan posisinya dengan Zoe. Matanya menatap tajam Sofia yang terlihat gelisah. “Orang sepertimu, aku sama sekali tidak tertarik!” imbuh Xavier pedas.Sofia mengepalkan tangannya, kesal mendengar ucapan Xavier. Dia jauh lebih baik dari Zoe, tapi nyatanya dia tak pernah menang jika bers

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 214. Kenyataan yang terbuka

    “Aku…? Apa kamu… mencurigaiku?”Zoe mengerjapkan matanya beberapa kali. Kepalanya spontan menggeleng menjawab pertanyaan dari Sofia.“Aku adalah sahabatmu, tidak mungkin aku mengkhianatimu, Zoe,” kata Sofia meyakinkan Zoe.“Aku tahu itu Sofia. Aku sama sekali tidak memiliki pemikiran itu,” balas Zoe.Sofia menghela napas penuh kelegaan. Ia menggenggam tangan Zoe. wajahnya yang tadi terlihat tegang berangsur normal.“Terima kasih telah mempercayaiku,” ucap Sofia.Zoe tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya. Bibirnya membentuk garis lengkung, sementara tangannya mengusap punggung Sofia.“Kenapa kamu begitu gelisah. Tanpa kamu katakan, aku tidak akan pernah memiliki pemikiran seperti itu,” balas Zoe.“Kamu adalah sahabatku. Kita sudah kenal sejak lama. Aku percaya kamu tidak akan mungkin mengkhianatiku,” tambah Zoe.Sofia tersenyum tipis. Ia memeluk tubuh Zoe sambil menepuk-nepukkan tangannya di punggung wanita itu.“Terimakasih karena telah mempercayaiku,” kata Sofia.Sofia me

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 214. Apa kamu mencurigaiku?

    “Siapa dia?”Tubuh Xavier menegang, namun itu hanya terlihat beberapa detik saja. Setelahnya wajahnya kembali datar, seolah tak terganggu.Tadi di kampus, dia didatangi salah satu muridnya yang sedang menanyakan tentang tugas tambahan yang dia berikan. Dia sama sekali tidak menyangka jika hal itu akan menjadi masalah.“Tidak bisa menjawab?” ucap Zoe. Air matanya sudah hampir keluar. Selama ini dia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini, cemburu dan takut kehilangan. Hanya karena sebuah foto, hatinya berdenyut sakit.“Kalau kamu bosan dengan ku, harusnya kamu mengatakannya, bukan malah selingkuh. Aku akan pergi diam-diam dan melupakanmu. Aku….”Ucapan Zoe tertahan, bibir Xavier menyambar bibir Zoe, memberikan sedikit pelajaran untuk wanita yang dicintainya itu. Mendengar kata-kata Zoe, membuatnya ingin tertawa. Wanita cantik dengan mata memerah itu mengatakan akan meninggalkannya seolah-olah dia bisa melakukannya. “Masih mau meninggalkanku?” Alis Xavier naik sebelah, matanya mena

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 212. Bertengkar

    Sebuah pesan masuk membuat Xavier menggeram kesal. Matanya menatap tajam sebuah foto yang baru dikirimkan oleh seseorang kepadanya. Ini bukan pertama kalinya ia mendapatkan kiriman foto seperti ini: Zoe bersama pria lain.“Sialan!” umpat Xavier.Xavier segera menutup laptopnya. Langkahnya yang lebar membawa pria itu meninggalkan ruangannya. Wajahnya yang mengeras menandakan pria bertubuh tinggi besar itu sedang marah. Demi apapun juga Xavier tidak suka melihat Zoe dekat dengan adik tirinya atau Adam. dua laki-laki itu bagaikan musuh bebuyutan yang ingin ia singkirkan.Mobil hitam miliknya yang terparkir rapi di halaman kampus, ia tumpangi dengan kecepatan di atas rata-rata, tujuannya saat ini adalah rumahnya.***Zoe meletakkan belanjaannya di atas meja makan. Napasnya tampak putus-putus karena membawa beban berat. Tangannya yang bergerak membongkar barang belanjaannya seketika urung karena mendengar bunyi pesan masuk ke dalam ponselnya.Kening Zoe mengkerut, sebuah foto dimana Xavier

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 211. Mengadu domba

    Zoe menggeliat dalam tidurnya, bau parfum yang tercium oleh hidungnya membuat tidurnya terusik. Badannya masih terasa remuk redam, semalam Xavier benar-benar menggaulinya hingga tubuhnya lemas. Pria itu memintanya bergaya seperti saat ia sedang live.“Tidurlah lagi, ini masih pagi. Aku akan ke kampus hari ini,” kata Xavier saat matanya menangkap pergerakan Zoe.Zoe hanya mengangguk. Ia tersenyum saat Xavier mengecup keningnya. “Mau kubawakan sesuatu saat pulang nanti?”“Tidak perlu. Aku bisa berbelanja sendiri nanti,” kata Zoe.“Emm. kalau begitu aku berangkat dulu,” pamit Xavier. Ia mengecup kening Zoe sekali lagi sebelum benar-benar pergi meninggalkan kamarnya.Zoe menatap punggung Xavier yang hilang di balik pintu sebelum matanya kembali terpejam. Ia benar-benar mengantuk dan butuh tidur untuk beberapa waktu.Namun, suara ketukan pintu membangunkan Zoe, meski tidak benar-benar bangun. Matanya masih setengah terpejam ketika Liliana masuk ke dalam kamarnya dengan nampan di tangannya.

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 211. Wanita nakal

    “Kenapa?”Xavier memeluk tubuh Zoe dari belakang. Sudah hampir setengah jam wanita itu diam di balkon, entah apa yang dipikirkannya.“Apa mainmu bersama Arabella kurag lama?” tanya Xavier.Zoe menggelengkan kepala. Dia hanya sedang memikirkan kata-kata ayahnya. Kejadian yang lalu membuatnya memiliki rasa trauma. Dia takut jika ayahnya benar-benar akan menyakitinya.“Lalu apa yang membuatmu termenung sejak tadi?” tanya Xavier kembali.“Ayahku. Tadi aku bertemu dengannya saat di mall,” kata Zoe.Xavier semakin mengeratkan pelukannya. “Tidak perlu khawatir, aku pasti akan menjaga keselamatanmu.”Zoe tersenyum tipis. Kepalanya menoleh menatap Xavier. Pria itu selalu bisa membuatnya merasa nyaman, meski kadang menyebalkan.“Mau jalan-jalan?” tawar Xavier.“Bagaimana kalau kita membersihkan kontrakanku. Di sana banyak kostum yang biasanya aku gunakan live,” balas Zoe.Xavier mengernyitkan keningnya. “Kamu ingin kembali live?” tanyanya.Zoe menggeleng. “Ara ingin mencari kontrakan saat kelua

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 103. Apa kamu mencintaiku?

    Xavier menyeringai puas. Matanya menatap intens Zoe yang ada dibawahnya. Dengan sekali hentak, Xavier kembali memasuki Zoe. Membuat wanita itu melenguh hebat. Rintihan, erangan serta suara decit ranjang usang, membuat suasana semakin panas. Peluh yang menetes seolah menjadi saksi penyatuan panas da

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 101. Puaskan aku

    Zoe menelan ludahnya susah payah. Tangannya mencoba mendorong tubuh Xavier, namun gagal. Pria itu justru semakin mendekatkan bibirnya pada telinganya, membisikkan sesuatu yang membuat tubuh Zoe menegang.“Aku ingin melakukan di rumahmu,” bisik Xavier. Suaranya serak seolah menahan gairah.Zoe mendo

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 100. Hadiah?

    “Bolehkah aku pulang ke rumahku sendiri?” Zoe memilin bajunya, meminta izin pada Xavier. Hari ini dia akan pulang dari rumah sakit dan dia ingin pulang ke rumahnya.“Tidak!” jawab Xavier singkat. Tangannya sibuk berselancar pada ponsel di genggamannya.Zoe memberengut kesal. Dia sudah terlalu lama

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 99. Mencari dukungan

    “Tante suka dengan tanaman bonsai?”Seperti apa yang telah mereka sepakati, Aluna akhirnya mulai menjalankan misinya pagi ini ia sengaja berkunjung ke rumah Nora untuk mengulik informasi mengenai Xavier dan kekasihnya.“Iya. bonsai bisa membuat moodku kembali membaik. Aku suka mengumpulkannya dan b

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status