Share

Bab 93. Ancaman

Penulis: Anggun_sari
last update Tanggal publikasi: 2025-11-19 17:10:08

“A–Arabella” gagap Nora. Ia berdehem mencoba menetralisirkan debaran jantungnya. Ini tentu bukan hal yang baik, Xavier menyebut nama yang paling tidak boleh diketahui oleh siapapun. Tapi ia tidak boleh terganggu oleh sesuatu yang kecil seperti ini. Bisa saja Xavier hanya memancing tanpa memiliki bukti apa-apa. Arabella sudah disembunyikannya setelah berhasil meracuni Zoe, hari itu.

“Siapa dia? Apa dia kekasihmu?” tanya Nora mencoba bersikap biasa saja.

Xavier tersenyum miring. Ia melangkah bebe
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 215. Ayo kita menikah!

    “Aku mencintai Pak Xavier, Zoe! Aku ingin menjadi miliknya.”Zoe menelan ludahnya susah payah, tubuhnya terhuyung seolah tak memiliki tulang. Apa.yang dikatakan oleh Sofia tentu membuatnya sangat terkejut. Dia tahu kalau Sofia sangat menyukai pria-pria tampan, tapi dia tidak pernah menyangka jika hatinya benar-benar dicurahkan kepada Xavier.“Aku mencintai Pak Xavier!” ulang Sofia. Kali ini kata-katanya penuh penekanan seolah menjelaskan bahwa dia tidak main-main dengan perasaannya.“Tapi aku tidak menyukaimu!”Balasan dari Xavier membuat Zoe membalikkan badannya. Matanya menatap Xavier yang terlihat tenang dan dingin, entah sejak kapan pria itu berdiri di belakangnya. Xavier maju beberapa langkah menyamakan posisinya dengan Zoe. Matanya menatap tajam Sofia yang terlihat gelisah. “Orang sepertimu, aku sama sekali tidak tertarik!” imbuh Xavier pedas.Sofia mengepalkan tangannya, kesal mendengar ucapan Xavier. Dia jauh lebih baik dari Zoe, tapi nyatanya dia tak pernah menang jika bers

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 214. Kenyataan yang terbuka

    “Aku…? Apa kamu… mencurigaiku?”Zoe mengerjapkan matanya beberapa kali. Kepalanya spontan menggeleng menjawab pertanyaan dari Sofia.“Aku adalah sahabatmu, tidak mungkin aku mengkhianatimu, Zoe,” kata Sofia meyakinkan Zoe.“Aku tahu itu Sofia. Aku sama sekali tidak memiliki pemikiran itu,” balas Zoe.Sofia menghela napas penuh kelegaan. Ia menggenggam tangan Zoe. wajahnya yang tadi terlihat tegang berangsur normal.“Terima kasih telah mempercayaiku,” ucap Sofia.Zoe tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya. Bibirnya membentuk garis lengkung, sementara tangannya mengusap punggung Sofia.“Kenapa kamu begitu gelisah. Tanpa kamu katakan, aku tidak akan pernah memiliki pemikiran seperti itu,” balas Zoe.“Kamu adalah sahabatku. Kita sudah kenal sejak lama. Aku percaya kamu tidak akan mungkin mengkhianatiku,” tambah Zoe.Sofia tersenyum tipis. Ia memeluk tubuh Zoe sambil menepuk-nepukkan tangannya di punggung wanita itu.“Terimakasih karena telah mempercayaiku,” kata Sofia.Sofia me

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 214. Apa kamu mencurigaiku?

    “Siapa dia?”Tubuh Xavier menegang, namun itu hanya terlihat beberapa detik saja. Setelahnya wajahnya kembali datar, seolah tak terganggu.Tadi di kampus, dia didatangi salah satu muridnya yang sedang menanyakan tentang tugas tambahan yang dia berikan. Dia sama sekali tidak menyangka jika hal itu akan menjadi masalah.“Tidak bisa menjawab?” ucap Zoe. Air matanya sudah hampir keluar. Selama ini dia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini, cemburu dan takut kehilangan. Hanya karena sebuah foto, hatinya berdenyut sakit.“Kalau kamu bosan dengan ku, harusnya kamu mengatakannya, bukan malah selingkuh. Aku akan pergi diam-diam dan melupakanmu. Aku….”Ucapan Zoe tertahan, bibir Xavier menyambar bibir Zoe, memberikan sedikit pelajaran untuk wanita yang dicintainya itu. Mendengar kata-kata Zoe, membuatnya ingin tertawa. Wanita cantik dengan mata memerah itu mengatakan akan meninggalkannya seolah-olah dia bisa melakukannya. “Masih mau meninggalkanku?” Alis Xavier naik sebelah, matanya mena

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 212. Bertengkar

    Sebuah pesan masuk membuat Xavier menggeram kesal. Matanya menatap tajam sebuah foto yang baru dikirimkan oleh seseorang kepadanya. Ini bukan pertama kalinya ia mendapatkan kiriman foto seperti ini: Zoe bersama pria lain.“Sialan!” umpat Xavier.Xavier segera menutup laptopnya. Langkahnya yang lebar membawa pria itu meninggalkan ruangannya. Wajahnya yang mengeras menandakan pria bertubuh tinggi besar itu sedang marah. Demi apapun juga Xavier tidak suka melihat Zoe dekat dengan adik tirinya atau Adam. dua laki-laki itu bagaikan musuh bebuyutan yang ingin ia singkirkan.Mobil hitam miliknya yang terparkir rapi di halaman kampus, ia tumpangi dengan kecepatan di atas rata-rata, tujuannya saat ini adalah rumahnya.***Zoe meletakkan belanjaannya di atas meja makan. Napasnya tampak putus-putus karena membawa beban berat. Tangannya yang bergerak membongkar barang belanjaannya seketika urung karena mendengar bunyi pesan masuk ke dalam ponselnya.Kening Zoe mengkerut, sebuah foto dimana Xavier

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 211. Mengadu domba

    Zoe menggeliat dalam tidurnya, bau parfum yang tercium oleh hidungnya membuat tidurnya terusik. Badannya masih terasa remuk redam, semalam Xavier benar-benar menggaulinya hingga tubuhnya lemas. Pria itu memintanya bergaya seperti saat ia sedang live.“Tidurlah lagi, ini masih pagi. Aku akan ke kampus hari ini,” kata Xavier saat matanya menangkap pergerakan Zoe.Zoe hanya mengangguk. Ia tersenyum saat Xavier mengecup keningnya. “Mau kubawakan sesuatu saat pulang nanti?”“Tidak perlu. Aku bisa berbelanja sendiri nanti,” kata Zoe.“Emm. kalau begitu aku berangkat dulu,” pamit Xavier. Ia mengecup kening Zoe sekali lagi sebelum benar-benar pergi meninggalkan kamarnya.Zoe menatap punggung Xavier yang hilang di balik pintu sebelum matanya kembali terpejam. Ia benar-benar mengantuk dan butuh tidur untuk beberapa waktu.Namun, suara ketukan pintu membangunkan Zoe, meski tidak benar-benar bangun. Matanya masih setengah terpejam ketika Liliana masuk ke dalam kamarnya dengan nampan di tangannya.

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 211. Wanita nakal

    “Kenapa?”Xavier memeluk tubuh Zoe dari belakang. Sudah hampir setengah jam wanita itu diam di balkon, entah apa yang dipikirkannya.“Apa mainmu bersama Arabella kurag lama?” tanya Xavier.Zoe menggelengkan kepala. Dia hanya sedang memikirkan kata-kata ayahnya. Kejadian yang lalu membuatnya memiliki rasa trauma. Dia takut jika ayahnya benar-benar akan menyakitinya.“Lalu apa yang membuatmu termenung sejak tadi?” tanya Xavier kembali.“Ayahku. Tadi aku bertemu dengannya saat di mall,” kata Zoe.Xavier semakin mengeratkan pelukannya. “Tidak perlu khawatir, aku pasti akan menjaga keselamatanmu.”Zoe tersenyum tipis. Kepalanya menoleh menatap Xavier. Pria itu selalu bisa membuatnya merasa nyaman, meski kadang menyebalkan.“Mau jalan-jalan?” tawar Xavier.“Bagaimana kalau kita membersihkan kontrakanku. Di sana banyak kostum yang biasanya aku gunakan live,” balas Zoe.Xavier mengernyitkan keningnya. “Kamu ingin kembali live?” tanyanya.Zoe menggeleng. “Ara ingin mencari kontrakan saat kelua

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 79. Salah paham

    “Dilecehkan.”Deg!Jantung Xavier seperti berhenti. Apa yang dikatakan oleh Sofia tentu memukul sisi hatinya. Xavier baru pulang pagi ini dan sudah disambut oleh kabar tidak mengenakkan. Xavier dan Reyhan saling melemparkan pandangan, khawatir dengan keadaan Zoe saat ini. Namun, mereka tentu tak b

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 78. Dilecehkan?

    Arabella menarik tudung hoodie yang dikenakan oleh Max ketika Zoe mendadak pingsan di depan pria asing. Wajahnya memberengut kesal, matanya menyipit tajam menatap Max yang tak kalah kesalnya dengan Arabella. Rencana mereka yang hampir berhasil, harus gagal karena keberuntungan yang dimiliki Zoe. d

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 77. Kabur

    Napas Zoe memburu, jantungnya memompa jauh lebih cepat dari seharusnya. Kakinya melangkah mundur mencoba menghindari Max. Kata-kata yang keluar dari bibir Max terdengar mengerikan begitu juga dengan tatapannya,. Pria itu seolah ingin memakannya hidup-hidup.“Jangan terus menghindar, Angel. Di sini

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 76. Halo Angel

    “Bawa aku menemuinya.”Arabella tersenyum samar. Hatinya melompat karena berhasil membuat Max masuk ke dalam perangkapnya.“Baiklah, tapi….”Arabella menghentikan ucapannya. Kakinya melangkah dua langkah lebih mendekat kepada Max. “Ada beberapa hal yang harus kamu lakukan. Apa kamu setuju?”Max men

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status