Masuk“Tu-Tuan.”
Gisela yang sedang mengambil minum di dapur, terkejut melihat kedatangan Danuarta tiba-tiba. “Kamu belum tidur?” tanya Danuarta. Melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. “Ini saya mau tidur, Tuan.” Gisela menunduk, tidak berani mengangkat kepala apalagi menatap Danuarta. Saat tidak mendapat respon, Gisela hendak melangkah pergi, tetapi Danuarta menahannya. “Aku minta maaf atas nama istriku. Aku tidak menyangka kalau dia akan menamparmu,” kata Danuarta. Gisela mengangkat kepala dan menunjukkan senyuman tipis. “Anda tidak perlu minta maaf, Tuan. Nyonya sama sekali tidak bersalah.” “Dia hanya salah paham.” Gisela mengangguk. Mengiyakan ucapan Danuarta. “Saya mengerti, Tuan. Kalau begitu saya kembali ke kamar. Saya khawatir kalau Nyonya akan salah paham lagi.” Danuarta hanya diam. Saat Gisela melangkah, tiba-tiba ia tersandung kakinya sendiri. Hampir saja ia terjatuh karena tidak bisa menyeimbangkan tubuh. Beruntung, Danuarta segera menangkap pinggang Gisela dengan erat. Keduanya saling diam dalam beberapa detik. Setelah tersadar, Gisela segera berdiri tegak. Ia seolah membenarkan bajunya untuk menghilangkan rasa gugup. Begitu juga dengan Danuarta yang tampak canggung. Ia bahkan memalingkan wajah menghindari Gisela. Tanpa membuka sepatah kata, Gisela melangkah pergi meninggalkan Danuarta sendirian. Saat melangkah menuju ke kamar, ekor mata Gisela melirik ke sekitar lalu masuk kamar dan menguncinya. Gisela melangkah berdiri di depan cermin. Ia menatap pantulan wajahnya di sana dan tanpa sadar kedua sudut bibirnya terangkat. *** Hari ini Gisela sudah mulai bekerja. Sejak pagi, ia membantu Mbok Minah memasak di dapur. Wanita paruh baya itu tampak senang melihat kinerja Gisela yang begitu terampil dan cekatan. Seperti seorang koki profesional. Bahkan, dari memotong sayuran dan menyiapkan bahan, Gisela melakukannya sendiri. Setelah semua masakan tersaji, Mbok Minah segera memanggil majikannya untuk sarapan. Mereka pun duduk di meja makan, sementara Gisela berdiri di dekat pintu untuk melihat majikannya. Khawatir mereka memanggil karena ada yang kurang. “Masakan ini enak sekali,” ujar Danuarta. Mengambil sesuap lagi dan mengunyahnya dengan lahap. Cindy yang melihat, tampak mengerutkan kening. Tidak biasanya Danuarta seantusias itu untuk sarapan. “Masa sih, Mas. Sepertinya makanan ini biasa saja,” kata Cindy. Ia ikut mengambil dan mencicipi. Memang ada rasa khas yang berbeda dari biasanya. “Mbok Minah!” panggil Danuarta. Mbok Minah berjalan tergopoh mendekati meja makan. Wajahnya menunjukkan kecemasan. Tidak biasanya Danuarta memanggil saat sedang sarapan. “Ada apa, Tuan?” “Siapa yang memasak ini?” tanya Danuarta sambil terus mengunyah. “Bukan kamu yang memasak ‘kan?” “Maaf, Tuan. Ini memang bukan masakan saya. Gisela yang memasak. Kalau ada yang salah, biar saya ....” “Benarkah?” tanya Danuarta menatap Mbok Minah dengan dalam. Wanita paruh baya itu tampak menunduk sambil mengangguk ragu. “Kalau begitu, biarkan dia memasak untukku setiap hari.” “Mas!” Cindy menyela. Sementara Mbok Minah menatap tidak percaya. “Kamu jangan keterlaluan!” “Sayang, masakan ini sungguh sangat mirip dengan masakan almarhum mama. Sudah lama sekali aku merindukan makanan seperti ini.” Danuarta mengambil suapan terakhir sebelum akhirnya menelungkupkan sendok tanda makan telah selesai. “Kalau kamu mau, biar Mbok Minah yang memasaknya!” Cindy menunjukkan penolakan. “Tidak, Sayang. Rasanya berbeda.” Danuarta bersikukuh pada keputusannya. Ia merangkul Cindy dan menatapnya lekat. “Jangan bilang kalau kamu cemburu.” “Ih!” Cindy mendengus. Apalagi saat melihat Danuarta yang justru tersenyum tidak bersalah. “Kalau kamu terus seperti ini, bisa jadi gadis itu akan ….” “Percayalah kalau hanya kamu di hatiku, Sayang. Sudah kubilang jangan berburuk sangka.” Danuarta bangkit. Ia mengecup kening Cindy terlebih dahulu sebelum akhirnya pergi berangkat bekerja. Sementara itu, Gisela segera masuk ke dapur setelah kedua majikannya meninggalkan meja makan. “Gisela, besok kamu harus memasak sarapan untuk Tuan Danu. Beliau sangat suka dengan masakanmu,” kata Mbok Minah bersemangat. “Syukurlah kalau Tuan Danu suka,” sahut Gisela lega. “Sekarang, apa yang harus saya lakukan, Mbok?” “Kamu bersihkan ruangan tengah saja.” Gisela mengangguk. Lalu ia pun melangkah menuju ke ruangan tengah. Tempat keluarga berkumpul. Gisela menatap setiap sudut ruangan. Bersih dan rapi. Pandangan Gisela tiba-tiba tertuju pada dua foto besar yang terpajang di tembok. Foto keluarga lengkap dan pernikahan. Gisela menatap foto pernikahan Cindy dan Danuarta dengan lekat. Ia melangkah maju perlahan tanpa mengalihkan pandangan. Di foto itu, keduanya tampak tersenyum bahagia. Senyuman Cindy terlihat begitu mengembang sempurna. Semakin lama menatap, Gisela merasakan gemuruh dalam dada. Satu tangannya terkepal kuat, sedang tangan satunya mengusap foto tersebut. “Kalian sungguh pasangan bahagia,” gumam Gisela. Ia beralih menatap foto satunya. Foto Cindy bersama suami dan anaknya. “Keluarga yang lengkap. Membuatku benar-benar merasa iri.” Tangan Gisela terus mengusap foto itu penuh penekanan. Tangannya berada terus di gambar wajah Cindy. “Aku juga seharusnya hidup bahagia seperti kamu. Memiliki foto keluarga utuh seperti ini. Tapi sayangnya ….” Gisela tidak melanjutkan ucapannya. Hanya tatapannya yang mulai menajam ke arah foto-foto itu. Penuh dengan kilatan amarah. Rasanya ingin sekali menghancurkan wajah Cindy saat melihat senyuman di gambar itu. Semakin menatap, gemuruh dalam dada Gisela semakin bergejolak hebat. Tangannya terkepal kuat hingga kukunya memutih. “Pa … Ma … Aku akan mencari keadilan untuk kalian!” “Apa yang kamu lakukan!” Gertakan dari belakang, mengejutkan Gisela yang hampir melayangkan kepalan tangannya.Di sebuah restoran, Gisela duduk sambil terus menatap kopi di depannya. Ia bahkan tidak berani mengangkat kepala sama sekali. Bukan karena takut, tetapi ia tidak ingin berada dalam situasi canggung karena harus berhadapan dengan Danuarta. Namun, Gisela bisa merasakan hawa di sekitarnya terasa dingin dan senyap. "Kenapa diam saja?" tanya Danuarta. Memecah keheningan di antara mereka. Dengan mengumpulkan keberanian, Gisela mendongak. Tatapan matanya bertemu langsung dengan Danuarta. Entah mengapa, Gisela seolah lumpuh hingga akhirnya ia kembali menunduk dalam. "Apa yang ingin Anda katakan, Tuan? Kenapa Anda mengajak saya ke sini?" "Em, sebenarnya, aku hanya ingin memastikan sendiri. Gisela ... Apa William melamar mu semalam?" Mendengar pertanyaan itu, Gisela terdiam. Bingung harus menjawab dari mana terlebih dahulu. Haruskah ia berbohong? Atau mengatakan yang sebenarnya. "William yang bicara padaku." Danuarta seolah sedang memberi penjelasan. Mendengar bahwa William
Hari ini Gisela berangkat ke kantor dengan tergesa. Ia mandi hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Memakai baju dengan segera dan tidak memoleskan apa pun ke wajahnya. Namun, walaupun tidak berdandan, Gisela tetap terlihat cantik natural. Untuk kali ini, Gisela tidak berangkat bersama William maupun Ayunda. Melainkan, ia menaiki motor sport miliknya. Sudah lama sekali ia tidak menggunakan motor tersebut. Dengan kelihaian yang dimiliki, Gisela mengebut. Baginya, menggunakan motor saat ke kantor itu lebih praktis karena bisa menghadapi kemacetan. Roda motor itu berputar cepat dan terkendali. Menyalip beberapa kendaraan tanpa keraguan. Sampai akhirnya berhenti di halaman Perusahaan Wiratmaja. Pertama kali menggunakan motor ke kantor, berhasil mengalihkan perhatian sebagian karyawan di perusahaan itu. Dengan tergesa, Gisela segera turun dari motor tersebut lalu berlari cepat masuk ke kantor. Ia masuk ke dalam lift khusus untuk direktur. Para karyawan di sana sudah paham ke
Bola mata Gisela membulat penuh. Menatap tidak percaya ke arah pria di depannya. Ucapan William, seperti kejutan yang sangat mengejutkan. Hal yang tidak pernah dibayangkan oleh Gisela sebelumnya. "K-Kamu serius?" tanyanya masih belum percaya. William mengangguk cepat. "Tentu saja. Kapan aku tidak serius, hm? Perusahaan itu seharusnya milikmu. Jadi, aku akan mengembalikan kepada pemilik yang seharusnya." "Tapi, selama bertahun-tahun ini, kamu sudah berjuang memajukan perusahaan itu. Aku bukan orang yang tidak tahu malu, mengambilnya begitu saja." "Eh, kamu bukan mengambil begitu saja. Anggap saja, selama ini kamu menitipkan perusahaan kepadaku. Jadi, kamu jangan memikirkan hal yang aneh-aneh." "Jangan bercanda, William. Lalu bagaimana aku membayar mu? Menggaji kamu berpuluh tahun sekaligus mana mungkin aku sanggup. Aku bukanlah seorang triliuner." "Ya sudah, kamu cicil saja. Simpel 'kan?" Gisela melepaskan genggaman tangannya. Lalu duduk. William pun ikut duduk d
Melamar? Gisela masih belum percaya kalau sekarang ini William sedang melamarnya. Pria itu tersenyum. Tangannya masih menyodorkan cincin. Sementara Gisela hanya diam seribu bahasa. Ia sendiri bingung. Mau memberi jawaban apa. Hatinya belum sepenuhnya siap menerima lamaran William, tetapi jika menolak. Ia pun tidak mampu melakukannya. "Em, kalau kamu belum bisa menjawab sekarang. Tidak apa. Jawab saat kamu sudah siap saja. Apa pun jawabanmu, akan aku terima." William menaruh cincin itu di telapak tangan Gisela. Senyumnya sama sekali tidak surut. Dengan suasana yang seperti itu, Gisela merasa tidak enak hati. "William." Gisela hendak menolak menerima cincin tersebut, tetapi saat ia hendak memberikan pada William, pria itu justru mengeratkan kepalan tangan Gisela hingga tak mampu untuk bergerak. "Simpan kamu saja. Jangan dipikirkan soal tadi. Aku tidak mau membebani kamu. Lebih baik sekarang kita makan dan bersikap biasa saja. Kalau kamu sudah yakin dengan jawabanmu, k
Mobil yang dikemudikan oleh William berhenti di depan restoran mewah. Tatapan Gisela menyapu setiap sudutnya. Restoran itu terkenal karena kebanyakan yang datang adalah para kalangan elit. Dulu, Gisela sering ke sana sebelum dirinya menyamar sebagai seorang pelayan. Setelah turun dari mobil, mereka berdua segera menuju ke lantai atas. Ruangan VIP yang dipesan khusus oleh William. Hanya ada mereka berdua di sana. Bukan hanya suasana yang terasa nyaman, juga romantis. Di meja, berhiaskan lilin dan bunga. Semakin menambah kesan romantisnya. Sungguh, Gisela merasa gugup berada dalam situasi seperti itu. "William, ini cuma makan malam biasa 'kan?" bisik Gisela. Ia menengok ke sekitar dan tidak ada siapa pun di sana. Tidak ada sahutan, William hanya menyunggingkan senyum yang membuat Gisela merasa kesal saja. Selang beberapa saat, masuk dua orang pelayan. Membawa troli berisi makanan. Mereka menaruh makanan itu di meja. Juga sebuah benda kecil. Gisela terpaku melihat benda kecil y
Gisela membuka pintu apartemen miliknya. Walaupun tidak pernah ditinggali, tetapi setiap ruangan di sana tetap terjaga kebersihannya. Setiap Minggu, Gisela tak pernah lupa meminta orang untuk membantu membersihkannya. Setelah mengunci pintu kembali, ia segera masuk kamar. Menaruh barang yang dibawanya di samping nakas. Matanya terpejam ketika ia baru saja merebahkan diri di atas kasur. Suasana memang terasa sangat tenang, tetapi pikiran Gisela rasanya sangat berisik. Banyak hal yang ia pikirkan. Semua bayangan menyakitkan seolah sedang bertempur dengan kebaikan Danuarta maupun William. Membuatnya merasa bimbang. Hatinya yang hendak membalas kebejatan Cindy, mulai meragu. Memikirkan dua pria yang awalnya ia jadikan alat untuk balas dendam, justru sikap baik mereka berhasil merubah segalanya. Hah! Embusan napas kasar memecah keheningan kamar itu. Ia pikir dirinya bisa berbuat kejam seperti Cindy. Membunuh tanpa ampunan. Tanpa belas kasihan. Merebut kembali harta yang seha







