Share

Mengadu

Author: Rita Tatha
last update Last Updated: 2025-11-01 09:52:00

Kamar Gisela terasa hening saat kedua wanita itu saling diam. Terdengar helaan napas panjang Mbok Minah. Gisela hanya diam dan terus tertunduk dalam. Khawatir Mbokan Minah tidak percaya ucapannya. Namun, ternyata tidak. Dengan gerakan perlahan, Mbok Minah mengusap punggung Gisela, membuatnya merasa nyaman.

“Aku percaya sama kamu,” kata Mbok Minah. Gisela menoleh, guratan wajahnya menunjukkan kelegaan. Bahkan, senyuman tipis tampak menghiasi bibir Gisela.

“Mbok, terima kasih sudah percaya pada saya. Sungguh, saya tidak ada niatan untuk menggoda Tuan Danu. Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan kepada Nyonya Cindy. Saya khawatir Nyonya Cindy terus salah paham pada saya,” kata Gisela lirih. Ia kembali menunduk dan meremas ujung baju yang dikenakan.

“Jangan dipikirkan. Biar nanti aku bantu jelaskan kepada Nyonya Cindy.”

“Terima kasih banyak, Mbok. Kalau tidak ada Mbok Minah, sudah pasti saya akan ....”

“Sudah, lebih baik kamu istirahat saja. Baru besok kamu bisa mulai bekerja,” pungkas Mbok Minah. Gisela hanya mengangguk lemah. Membiarkan Mbok Minah meninggalkan kamarnya.

Selepas kepergian Mbok Minah, Gisela hanya duduk di atas ranjang. Pikirannya melayang jauh. Perlakuan Cindy tadi terus terbayang dalam ingatan. Menyisakan rasa sakit di raga maupun batin Gisela. Semua perlakuan Cindy padanya, Gisela akan mengingatnya. Tidak akan melupakan meski hanya sedikit.

Gisela mengusap pipinya. Bekas tamparan Cindy masih sedikit terasa panas. Namun, Gisela tidak merintih kesakitan. Bibirnya justru tertarik perlahan.

“Aku bahkan pernah merasakan sakit yang lebih dari ini. Semua hanya soal waktu, Nyonya Cindy,” gumamnya lirih.

***

Sejak sampai di perusahaan, Danuarta tampak sibuk dengan pekerjaannya. Tidak sedikit pun lepas dari layar komputer miliknya. Saat sedang serius, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk, Danuarta pun menyuruh masuk. Tampak Feri melangkah masuk sambil membawa sebuah berkas. Ia melaporkan beberapa hal kepada sang atasan. Danuarta hanya mengangguk menanggapi setiap ucapan Feri. Setelah memastikan tidak ada masalah, Danuarta meminta asistennya itu untuk kembali ke meja kerjanya.

Selepas kepergian Feri, Danuarta beberapa kali menghela napas panjang. Terkadang ia merasa lelah, tetapi ia memiliki tanggung jawab yang besar atas perusahaan itu. Danuarta kembali duduk tegak, menghadap layar komputer untuk menyelesaikan pekerjaannya. Namun, suara dering ponselnya menghentikan gerakan pria itu. Saat melihat nama Mbok Minah tertera di layar, Danuarta pun segera menerima panggilan itu.

“Hallo, Mbok. Ada apa?”

“Tuan, sebelumnya saya minta maaf. Saya mau bilang kalau tadi Nyonya Cindy menampar Gisela.”

Kening Danuarta tampak mengerut dalam. “Cindy menampar Gisela? Kenapa bisa begitu?”

“Sepertinya Nyonya Cindy salah paham. Beliau pikir, Gisela akan merebut Anda.”

“Hah!” Danuarta mendesah kasar. “Dia pasti cemburu. Nanti sepulang dari kantor, aku akan menjelaskan pada Cindy. Jangan sampai salah paham ini berlanjut. Oh ya, bagaimana keadaan Gisela?”

“Sudah lebih baik, Tuan. Luka di kakinya juga sudah mulai mengering. Besok sudah bisa bekerja,” jelas Mbok Minah.

“Baiklah kalau begitu. Tolong kamu bimbing dan ajari dia, Mbok.”

“Baik, Tuan.”

Panggilan itu pun terputus. Danuarta menatap layar ponsel yang menunjukkan foto pernikahannya dengan Cindy. Senyumnya mengembang. Cindy masih seperti dulu meski pernikahan mereka sudah berjalan bertahun-tahun. Wanita itu mudah sekali cemburu dan curiga.

“Jangan sampai Cindy terus salah paham dan menyakiti Gisela,” gumam Danuarta.

Sepulang kantor, Danuarta bergegas kembali ke rumah. Tidak sabar untuk menjelaskan pada Cindy. Ia tidak ingin Cindy terus salah paham dan melukai Gisela. Bagaimana pun, Gisela di rumah itu karena keinginan Danuarta sendiri.

“Sayang, kamu sudah pulang?” Cindy menyambut suaminya dengan hangat. Memeluk dan mencium pria itu dengan lembut. Danuarta pun membalasnya.

“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” kata Danuarta. Melerai pelukan di antara keduanya.

“Kamu terlihat serius sekali,” kata Cindy heran melihat perubahan raut wajah suaminya.

Danuarta tidak membuka suara. Ia duduk di sofa, menepuk tempat di sampingnya sebagai kode agar Cindy duduk di sana. Setelah Cindy duduk, Danuarta merangkul pundak istrinya dan mengusapkan tangan perlahan.

“Aku dengar, kamu tadi menampar Gisela.”

“Siapa yang mengadu padamu?!” Suara Cindy terdengar melengking. Danuarta mencium pipi istrinya untuk membuatnya tenang.

“Kamu hanya perlu menjawab pertanyaanku saja, Sayang.”

Cindy duduk menghadap depan sambil bersedekap erat. Bibirnya tidak menunjukkan senyuman sama sekali.

“Sayang, dengarkan aku. Jangan sampai kamu melakukan hal itu lagi. Kamu jangan salah paham apalagi berburuk sangka. Aku sama sekali tidak ada niatan untuk berpaling darimu. Aku membawa Gisela karena kasihan padanya. Tidak ada alasan lain,” jelas Danuarta. Berusaha meluluhkan hati istrinya.

“Tapi, Mas ....”

“Aku tahu kamu khawatir. Aku senang, kamu cemburu. Itu artinya kamu sayang padaku. Tapi, aku tidak mau kamu salah paham dan bahkan menyakiti orang lain.” Danuarta menatap istrinya penuh harap.

Cindy yang awalnya kesal pun, perlahan luluh. Ia mengangguk cepat. Suaminya memang sejak dulu sangat pintar meredam amarah.

“Percayalah, kalau aku sayang kamu. Tidak ada siapa pun di sini.” Danuarta menuntun tangan Cindy untuk memegang dadanya. Menunjukkan keseriusan atas ucapannya.

“Aku juga sayang kamu, Mas.”

Mereka berpelukan erat. Danuarta menaruh dagunya di ceruk leher Cindy. Namun, ia mendadak diam ketika melihat Gisela berdiri di ambang pintu dapur, sedang menatap ke arah mereka. Tatapan Gisela begitu susah diartikan. Bahkan, Gisela sedikit menarik sudut bibirnya, menunjukkan senyuman tipis.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 83

    Di sebuah restoran, Gisela duduk sambil terus menatap kopi di depannya. Ia bahkan tidak berani mengangkat kepala sama sekali. Bukan karena takut, tetapi ia tidak ingin berada dalam situasi canggung karena harus berhadapan dengan Danuarta. Namun, Gisela bisa merasakan hawa di sekitarnya terasa dingin dan senyap. "Kenapa diam saja?" tanya Danuarta. Memecah keheningan di antara mereka. Dengan mengumpulkan keberanian, Gisela mendongak. Tatapan matanya bertemu langsung dengan Danuarta. Entah mengapa, Gisela seolah lumpuh hingga akhirnya ia kembali menunduk dalam. "Apa yang ingin Anda katakan, Tuan? Kenapa Anda mengajak saya ke sini?" "Em, sebenarnya, aku hanya ingin memastikan sendiri. Gisela ... Apa William melamar mu semalam?" Mendengar pertanyaan itu, Gisela terdiam. Bingung harus menjawab dari mana terlebih dahulu. Haruskah ia berbohong? Atau mengatakan yang sebenarnya. "William yang bicara padaku." Danuarta seolah sedang memberi penjelasan. Mendengar bahwa William

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 82

    Hari ini Gisela berangkat ke kantor dengan tergesa. Ia mandi hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Memakai baju dengan segera dan tidak memoleskan apa pun ke wajahnya. Namun, walaupun tidak berdandan, Gisela tetap terlihat cantik natural. Untuk kali ini, Gisela tidak berangkat bersama William maupun Ayunda. Melainkan, ia menaiki motor sport miliknya. Sudah lama sekali ia tidak menggunakan motor tersebut. Dengan kelihaian yang dimiliki, Gisela mengebut. Baginya, menggunakan motor saat ke kantor itu lebih praktis karena bisa menghadapi kemacetan. Roda motor itu berputar cepat dan terkendali. Menyalip beberapa kendaraan tanpa keraguan. Sampai akhirnya berhenti di halaman Perusahaan Wiratmaja. Pertama kali menggunakan motor ke kantor, berhasil mengalihkan perhatian sebagian karyawan di perusahaan itu. Dengan tergesa, Gisela segera turun dari motor tersebut lalu berlari cepat masuk ke kantor. Ia masuk ke dalam lift khusus untuk direktur. Para karyawan di sana sudah paham ke

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 81

    Bola mata Gisela membulat penuh. Menatap tidak percaya ke arah pria di depannya. Ucapan William, seperti kejutan yang sangat mengejutkan. Hal yang tidak pernah dibayangkan oleh Gisela sebelumnya. "K-Kamu serius?" tanyanya masih belum percaya. William mengangguk cepat. "Tentu saja. Kapan aku tidak serius, hm? Perusahaan itu seharusnya milikmu. Jadi, aku akan mengembalikan kepada pemilik yang seharusnya." "Tapi, selama bertahun-tahun ini, kamu sudah berjuang memajukan perusahaan itu. Aku bukan orang yang tidak tahu malu, mengambilnya begitu saja." "Eh, kamu bukan mengambil begitu saja. Anggap saja, selama ini kamu menitipkan perusahaan kepadaku. Jadi, kamu jangan memikirkan hal yang aneh-aneh." "Jangan bercanda, William. Lalu bagaimana aku membayar mu? Menggaji kamu berpuluh tahun sekaligus mana mungkin aku sanggup. Aku bukanlah seorang triliuner." "Ya sudah, kamu cicil saja. Simpel 'kan?" Gisela melepaskan genggaman tangannya. Lalu duduk. William pun ikut duduk d

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 80

    Melamar? Gisela masih belum percaya kalau sekarang ini William sedang melamarnya. Pria itu tersenyum. Tangannya masih menyodorkan cincin. Sementara Gisela hanya diam seribu bahasa. Ia sendiri bingung. Mau memberi jawaban apa. Hatinya belum sepenuhnya siap menerima lamaran William, tetapi jika menolak. Ia pun tidak mampu melakukannya. "Em, kalau kamu belum bisa menjawab sekarang. Tidak apa. Jawab saat kamu sudah siap saja. Apa pun jawabanmu, akan aku terima." William menaruh cincin itu di telapak tangan Gisela. Senyumnya sama sekali tidak surut. Dengan suasana yang seperti itu, Gisela merasa tidak enak hati. "William." Gisela hendak menolak menerima cincin tersebut, tetapi saat ia hendak memberikan pada William, pria itu justru mengeratkan kepalan tangan Gisela hingga tak mampu untuk bergerak. "Simpan kamu saja. Jangan dipikirkan soal tadi. Aku tidak mau membebani kamu. Lebih baik sekarang kita makan dan bersikap biasa saja. Kalau kamu sudah yakin dengan jawabanmu, k

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 79

    Mobil yang dikemudikan oleh William berhenti di depan restoran mewah. Tatapan Gisela menyapu setiap sudutnya. Restoran itu terkenal karena kebanyakan yang datang adalah para kalangan elit. Dulu, Gisela sering ke sana sebelum dirinya menyamar sebagai seorang pelayan. Setelah turun dari mobil, mereka berdua segera menuju ke lantai atas. Ruangan VIP yang dipesan khusus oleh William. Hanya ada mereka berdua di sana. Bukan hanya suasana yang terasa nyaman, juga romantis. Di meja, berhiaskan lilin dan bunga. Semakin menambah kesan romantisnya. Sungguh, Gisela merasa gugup berada dalam situasi seperti itu. "William, ini cuma makan malam biasa 'kan?" bisik Gisela. Ia menengok ke sekitar dan tidak ada siapa pun di sana. Tidak ada sahutan, William hanya menyunggingkan senyum yang membuat Gisela merasa kesal saja. Selang beberapa saat, masuk dua orang pelayan. Membawa troli berisi makanan. Mereka menaruh makanan itu di meja. Juga sebuah benda kecil. Gisela terpaku melihat benda kecil y

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 78

    Gisela membuka pintu apartemen miliknya. Walaupun tidak pernah ditinggali, tetapi setiap ruangan di sana tetap terjaga kebersihannya. Setiap Minggu, Gisela tak pernah lupa meminta orang untuk membantu membersihkannya. Setelah mengunci pintu kembali, ia segera masuk kamar. Menaruh barang yang dibawanya di samping nakas. Matanya terpejam ketika ia baru saja merebahkan diri di atas kasur. Suasana memang terasa sangat tenang, tetapi pikiran Gisela rasanya sangat berisik. Banyak hal yang ia pikirkan. Semua bayangan menyakitkan seolah sedang bertempur dengan kebaikan Danuarta maupun William. Membuatnya merasa bimbang. Hatinya yang hendak membalas kebejatan Cindy, mulai meragu. Memikirkan dua pria yang awalnya ia jadikan alat untuk balas dendam, justru sikap baik mereka berhasil merubah segalanya. Hah! Embusan napas kasar memecah keheningan kamar itu. Ia pikir dirinya bisa berbuat kejam seperti Cindy. Membunuh tanpa ampunan. Tanpa belas kasihan. Merebut kembali harta yang seha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status