Beranda / Romansa / Pelayan Cantik Milik Tuan Muda / 30. Kiara adalah Sepupuku

Share

30. Kiara adalah Sepupuku

Penulis: CeliiCaaca
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-28 22:36:38

Diana nyaris menjatuhkan kain lap yang masih digenggamnya ketika langkah kaki itu terdengar di ambang ruang makan.

Tubuhnya refleks menegang. Jantungnya berdetak lebih cepat saat sosok yang dikenalnya muncul dari balik pintu.

“Mas Lino sejak kapan ada di sini?” tanya Diana dengan suara sedikit meninggi, matanya membulat menahan keterkejutan yang belum sepenuhnya reda.

Lino yang baru saja berdiri di dekat meja makan menoleh santai. Wajahnya tampak biasa saja, seolah kehadirannya di sana bukan hal yang mengejutkan sama sekali. Sementara Diana, napasnya masih belum sepenuhnya teratur.

“Kata Mbak Angela, Mas Lino sama Mbak Sari mau ke pasar?” ucap Diana lagi, dan kali ini nadanya lebih pelan, namun tetap menyiratkan kegugupan yang sulit dia sembunyikan.

“Iya,” jawab Lino ringan.

Dia lalu meraih sebuah apel dari mangkuk buah di atas meja makan, lalu menggosok permukaannya dengan ujung kausnya. “Baru mau berangkat. Sopirnya tadi habis cuci mobil dulu,” ucapnya menjelaskan.

Lino menggigit ap
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   38. Ingin Jawaban yang Jujur

    Waktu sudah menunjuk angka tujuh malam dan Daniel baru tiba di rumah.“Makan malam sudah siap, Tuan,” ucap Diana sembari menyapa Daniel di ujung lorong dapur dengan nada sopan.Tanpa berkata apa-apa lagi, Daniel duduk di ujung meja, memegang pisau dan garpu dengan presisi yang menakutkan. Di hadapannya, sebuah kursi kosong menanti."Duduklah, Diana," ucap Daniel dengan nada datarnya dan tidak menerima bantahan.Diana yang tengah berdiri sontak mematung di dekat pintu dapur. Jemarinya meremas ujung celemek putih yang masih dia kenakan. Dia tampak ragu.Tidak biasanya majikannya itu memintanya duduk satu meja, apalagi saat jam makan malam pribadi seperti ini. Namun, tatapan tajam Daniel seolah mengunci pergerakannya.Dengan langkah kaki yang terasa berat, Diana akhirnya mendekat. Dia pun menarik kursi kayu ek itu dengan pelan, sambil berusaha tidak menimbulkan suara gesekan yang mengganggu.Saat dia duduk, jantungnya mulai berdebar tak karuan, seperti genderang yang dipukul bertalu-talu

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   37. Menyampaikan Keinginan Diana

    Beberapa hari kemudian, suasana kantor Daniel kembali berjalan seperti biasa, yang begitu dingin, rapi, dan penuh ketegangan yang tak kasatmata.Langit di luar jendela kaca besar tampak mendung, seolah mencerminkan suasana hati pemilik ruangan itu.Daniel duduk di balik meja kerjanya yang luas, setumpuk dokumen tersusun rapi di hadapannya. Tangannya bergerak cepat menandatangani berkas, sementara wajahnya tetap datar tanpa ekspresi.Pintu ruang kerja terbuka setelah ketukan singkat.Andra melangkah masuk dengan langkah mantap. Setelan jas yang dikenakannya sederhana, tetapi raut wajahnya menunjukkan kesungguhan.Dia kemudian berdiri di depan meja Daniel sembari menatap pria itu dengan sorot mata tegas.Namun Daniel sama sekali tidak mengangkat kepala. Ia tetap fokus pada dokumen di tangannya, seolah kehadiran Andra hanyalah gangguan kecil.“Ada apa?” tanya Daniel singkat, tanpa menoleh sedikit pun.Andra menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara. “Aku datang ke sini untuk menyampaik

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   36. Kamu Mulai Suka padanya?

    Diana menelan salivanya dengan susah payah begitu melihat Sari di hadapannya. Tenggorokannya terasa kering ketika ia menatap Sari yang berdiri tepat di depan pintu ruang kerja Daniel yang tertutup rapat.Tatapan Sari tidak tajam, tetapi cukup untuk membuat Diana merasa terintimidasi, sebuah tatapan penuh selidik khas seseorang yang sudah lama bekerja di rumah itu dan mengenal setiap sudut serta rahasianya.“Sa-saya …,” suara Diana sempat terhenti. Bibirnya mengatup kembali, sementara otaknya bekerja keras mencari alasan yang terdengar wajar dan tidak mencurigakan.Jantungnya berdetak kencang, seolah takut kebohongan kecil yang akan ia ucapkan terdengar terlalu rapuh.Beberapa detik kemudian, Diana akhirnya memberanikan diri melanjutkan. “Saya diminta membersihkan lemari buku,” ujarnya pelan. “Atas perintah Tuan Daniel, Mbak.”Sari mengerutkan keningnya. Kedua alisnya terangkat, lalu matanya melirik sekilas ke arah pintu ruang kerja Daniel.Ada jeda singkat sebelum ia kembali menatap

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   35. Kepergok Pelayan Lain

    “Ma-maksud Tuan, di sini?” tanya Diana bahkan nada suaranya terdengar gagap.Daniel mengangguk sembari beranjak dari duduknya, melangkah mendekati Diana yang berdiri kaku di hadapannya.“Ya. Kenapa? Kamu mau menolakku? Kamu pikir kamu bisa menolakku, hm?” bisik Daniel dengan nada seraknya.Diana menggelengkan kepalanya dengan pelan. “Tidak, Tuan.”“Kalau begitu, buka bajumu sekarang juga.”Diana menelan ludahnya lalu menoleh ke arah pintu ruangan itu. “Bukankan sebaiknya dikunci dulu pintunya, Tuan? Saya takut ada orang yang datang.”Daniel menghela napas kasar. “Silakan.”Diana dengan cepat melangkah menuju pintu lalu dengan tangan gemetar dia mengunci pintu tersebut. Memejamkan matanya sejenak untuk menyiapkan mentalnya melayani Daniel di pagi hari ini.Diana kembali melangkah menghampiri Daniel yang kini sudah duduk di sofa dengan tangan menyender di bahu sofa yang dia duduki.Sorot mata yang gelap itu menatap Diana tanpa suara. Diana lantas membuka satu persatu kancing seragam pel

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   34. Sebagai Ganti Semalam

    Pagi itu udara di lorong lantai satu mansion terasa lebih dingin dari biasanya. Cahaya matahari baru saja menembus jendela-jendela tinggi, memantulkan kilau pucat di lantai marmer yang mengilap.Diana membuka pintu kamarnya perlahan, masih dengan rambut yang tergerai dan wajah lelah akibat tidur yang tak nyenyak semalaman.Dia berniat menuju dapur untuk menyiapkan sarapan seperti biasa sebagai rutinitas yang selama ini membantunya menenangkan pikiran.Namun langkahnya terhenti seketika.Tepat di depan pintu kamarnya, berdiri seorang pria dengan postur tegap dan sorot mata yang sulit ditebak.Jas rumah berwarna gelap melekat rapi di tubuhnya, meski raut wajahnya menunjukkan kelelahan yang sama pekatnya dengan malam yang baru saja berlalu.“Tu-Tuan Daniel?” Diana spontan menyebut nama itu dengan nada suara yang terdengar lebih pelan dari yang ia kira.Kepalanya sontak menoleh ke kanan dan ke kiri. Lorong itu memang sepi, hanya suara jam dinding di kejauhan yang berdetak teratur.Tidak a

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   33. Sudah Punya Penggantinya

    Malam merambat perlahan di rumah itu. Jam dinding di lorong utama berdetak pelan, jarumnya tepat menunjuk angka sepuluh ketika Diana berdiri di depan pintu kamar Daniel.Seperti malam-malam sebelumnya, dia menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk pelan, lalu masuk setelah tak mendengar jawaban apa pun.Lampu kamar menyala redup. Aroma alkohol langsung menyergap inderanya dan membuat Diana refleks mengerutkan kening.Pandangannya tertuju pada sosok Daniel yang duduk di tepi tempat tidur, tubuhnya sedikit membungkuk, siku bertumpu pada paha, kepala tertunduk dalam diam yang berat.“Tuan Daniel?” panggil Diana pelan. Suaranya nyaris tenggelam oleh keheningan kamar. “Saya sudah di sini.”Daniel tidak langsung merespons. Dia tetap diam, seolah tidak menyadari kehadiran Diana. Detik-detik berlalu dan membuat dada Diana terasa semakin sesak.Dia lalu melangkah mendekat dengan hati-hati sembari memperhatikan botol minuman yang tergeletak di lantai yang sudah kosong.Baru ketika Diana berdir

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status