Share

TOLONG!!!

Author: i'mdream
last update publish date: 2026-08-21 21:10:13

Anya melepas perban di siku dan kepalanya. Ia baru selesai mandi dan merasa luka-luka tersebut sudah tidak terlalu sakit. Hanya bagian lutut yang masih terasa nyeri, jadi ia menggantinya saja.

Setelah selesai, matanya beralih pada novel-novel yang ia dapatkan tadi siang.

Ia kembali teringat pada perilaku Tres kepadanya hari ini.

Namun, kejadian di toko buku tadi membuat hatinya sedikit lega.

Entah kenapa, ia merasa sedikit... bahagia?

Tok. Tok. Tok.

“Non, ayo makan malam.”

“Iya, Bi.”

Anya melet
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Salting Vs Ngambek

    “Aduh, sakit banget,” keluh Dani sambil memegangi lengannya. “Mana tangan ini yang aku pakai buat main basket.”Ia memasang wajah sedih yang dibuat-buat.“Kalau aku nggak bisa main basket lagi, gimana?”Anya yang awalnya hanya menatapnya datar akhirnya menghela napas kecil.Ia tahu Dani sedang pura-pura.Namun, melihat Dani terus mengeluh tentang tangannya, tiba-tiba muncul sebuah ide kecil di kepalanya.Mungkin... kalau tangannya diberi sesuatu yang bisa membuatnya merasa lebih baik, Dani tidak akan mengeluh lagi.Anya pun meraih tangan Dani yang tadi ia pukul.Dani sempat mengernyit bingung.“Mau ngapain?”Anya tidak menjawab.Ia hanya menggenggam tangan itu dengan kedua tangannya, lalu menundukkan kepala dan mengecup punggung tangan Dani dengan cepat.Cup!“Nah,” ucap Anya pelan setelahnya. “Biar nggak sakit lagi.”Setelah mengatakan itu, Anya langsung menarik tangannya dan memalingkan wajah. Pipinya seketika memerah karena baru menyadari apa yang baru saja ia lakukan.Dani seketik

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   What?!

    Kalimat Dani tadi seperti mantra yang terus berputar-putar di kepala Tian.Kenalin, pacar gue. Zefanya namanya.Tian ingin memejamkan mata, berharap bisa sedikit menghindar dari semua itu. Namun, bukannya tenang, justru muncul bayangan Dani dan Anya yang bergandengan tangan.Tian berdecak kesal.Mereka sudah berada di dalam pesawat. Tian sebenarnya ingin sekali tidur, tetapi adegan Anya dan Dani terus mengganggu pikirannya.Bahkan Chelsea yang sedari tadi duduk di sampingnya, merengek meminta ini dan itu, sama sekali tidak digubris.“Sayang, aku mau—”Tidak ada jawaban.“Sayang...”Tetap tidak ada respons.Bahkan ketika Chelsea mulai meminta penjelasan tentang hubungan Anya dan Dani, Tian hanya memberinya tatapan tajam.“Kenapa mereka bisa pacaran?” tanya Chelsea lagi.Tian mengembuskan napas kasar, lalu mengalihkan pandangannya ke arah jendela.Entah kenapa, tetapi sahabatnya itu terasa seperti sudah berkhianat kepadanya.Harusnya dari awal bisa gue cegah. Nggak sampai mereka pacaran

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Zefanya Namanya

    Hari kepulangan pun tiba.Chelsea, Clara, dan Tres, beserta Tian dan Liam, sedang menunggu salah satu teman mereka, Dani.Anggota cheers dan basket sudah lebih dulu berangkat. Mereka memang geng bisnis class, makanya memilih penerbangan terpisah.Sebenarnya mereka tidak ingin terpisah dari anggota tim lainnya. Tapi, sudah tahu kan, ini idenya siapa?Yeps, Chelsea.Si Queen dramatis itu tidak mau dan memaksa gengnya, beserta Tian dan gengnya, untuk naik bisnis class.Mereka berdiri di area parkiran bandara sambil menunggu satu orang lagi.“Dani ke mana, sih? Lelet banget, deh.” Chelsea menggerutu dengan wajah yang sudah sangat muram.“Nggak tahu apa ini lagi panas banget?” lanjutnya sambil mengipas-ngipaskan tangan di depan wajah.Liam yang berdiri tak jauh darinya langsung menirukan gaya bicara Chelsea. Bibirnya dibuat menye-menye, lengkap dengan ekspresi wajah yang sengaja dilebih-lebihkan.Tian hanya melirik dengan ekor matanya.Namun, satu lirikan tajam itu sudah cukup membuat Liam

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Masih Topik yang Sama

    “Emang menurut lo piala itu nggak berarti?”Tian sedikit berteriak.Tatapannya menajam ke arah Liam.“Bego lo!”Liam langsung membalas, tidak mau kalah.“Lo pikir dengan jadiin piala sebagai alasan buat ngebully orang itu bener?”Kali ini pertengkaran mereka benar-benar memanas.Bedanya, Liam bukan tipe orang yang mudah mengandalkan otot seperti Tian dan Dani. Ia cenderung lebih kalem dan berpikir sebelum bertindak.Namun, untuk kali ini, kesabarannya benar-benar habis.“Lo kira latihan nggak capek sampai gue bilang piala itu nggak berarti buat gue? Hah?!”Suara Liam meninggi.“Pikir pakai otak!”Ia menunjuk dada Tian.“Piala itu juga berarti buat gue. Kita dapetinnya dengan kerja keras.”Liam mengembuskan napas kasar.“Tapi nggak secupu itu sampai dijadiin alasan buat ngebully orang.”Damn.Kalimat Liam terasa seperti pisau yang ditancapkan tepat ke tubuh Tian.Wajah Tian seketika kehilangan auranya.Tidak ada lagi tatapan mematikan seperti biasanya.Tidak ada pula senyum sinis yang

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Terbuka

    Tian, Dani, dan Liam kembali berada di kamar dengan posisi duduk seperti sebelumnya.Liam duduk di sofa single, sementara Tian dan Dani duduk berhadapan di sofa yang sedikit lebih panjang.Masing-masing dari mereka sudah memegang sekantung es batu untuk mengompres wajah yang lebam akibat perkelahian tadi.“Hadap-hadapan!”Perintah Liam terdengar tegas.Tian dan Dani langsung menatapnya tajam.Kedua rahang mereka mengeras. Alis menukik tajam, kening berkerut, dan tatapan keduanya sama-sama tidak bersahabat.Namun, tidak ada yang berani membantah.Terlebih setelah Liam berdeham pelan.“Ehem.”Keduanya akhirnya menurut.“Mulai!”Tidak ada yang bergerak.Baik Tian maupun Dani hanya saling tatap dengan tatapan penuh gengsi.Beberapa detik berlalu.Dani akhirnya mengembuskan napas berat.Tangannya perlahan terangkat, lalu mulai mengompres wajah Tian dengan kantung es yang dipegangnya.“Pelan, bangsat!”Tian langsung meringis ketika Dani tanpa sengaja menekan bagian wajahnya yang terkena puk

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Kembali

    “Mikirin apa, sih? Senyumnya kayak baru abis dapat THR.”Liam mencolek dagu Dani dengan jahil.Saat ini mereka bertiga sedang berada di kamar. Dani dan Liam tiduran di atas ranjang, sementara Tian berada di ujung ranjang yang sama. Liam sibuk bermain game di ponselnya, sedangkan Dani justru sejak tadi melamun dengan senyum tipis yang tidak kunjung hilang.“Serius deh, senyum lo bikin gue curiga.”Liam kembali menggoda.Dani yang sadar dirinya diperhatikan langsung tersadar dari lamunannya.“Apaan, sih?”Wajahnya sedikit memerah.Liam menyeringai lebar.Tian yang berada di ujung ranjang melirik sekilas.Dari sorot matanya, jelas sekali ia menyadari tingkah Dani yang belakangan ini semakin aneh.Tian mendengus kasar.Kekesalan terlihat jelas di wajahnya.Namun, kedua sahabatnya sama sekali tidak menyadarinya.Liam masih sibuk menggoda Dani.“Cie... yang lagi mikirin seseorang.”“Berisik lo.”Dani mendorong bahu Liam.Liam tertawa, lalu membalas dengan dorongan yang sama.“Kenapa merah?”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status