Mag-log in”Aku memang yang keliru, Sil. Aku terlalu kemaruk dan egois karena ingin memiliki kalian semua tanpa memikirkan batasan moral yang ada,” Pram akhirnya mengakui dengan nada suara bariton yang teramat sangat rendah, berat, dan dipenuhi rasa sesal yang mendalam. Kepalanya yang biasa mendongak penuh otoritas kini tertunduk samar di atas sofa tunggalnya, menerima kenyataan bahwa konstelasi hubungan yang ia bangun selama ini telah terbongkar seutuhnya di depan semua wanita yang ia cintai.Namun, di luar dugaan Pram, Sisil justru menggelengkan kepalanya dengan lembut. Tidak ada sepercik pun amarah, dendam, atau air mata kecemburuan yang keluar dari sepasang mata indahnya yang matang.”Kita semua salah, Mas. Bukan cuma kamu sendirian. Makanya itu, kami semua sepakat datang jauh-jauh ke Belanda ini biar kita bisa memperbaiki semuanya bersama-sama di sini,” tutur Sisil dengan nada suara yang teramat tenang, dewasa, dan penuh pengampunan.Pram mengangkat wajahnya, menatap Sisil dengan kerutan
Malam harinya, setelah seluruh rombongan dari Indonesia menyelesaikan jamuan makan malam yang meriah bersama pasangan Pak Herman dan Tante Jane di lantai bawah, atmosfer santai itu seketika bergeser. Pram membawa seluruh wanitanya untuk berkumpul di ruang keluarga yang terletak di lantai tiga mansion. Ruangan privat yang dilengkapi dengan deretan sofa melingkar dan perapian elektrik itu sengaja dipilih agar mereka bisa berbicara tanpa terganggu oleh kehadiran Pak Herman maupun Tante Jane. Pintu ganda lantai tiga ditutup rapat-rapat, menyisakan keheningan yang mendadak terasa pekat dan menegangkan.Pram duduk di sofa tunggal utama, sementara para wanita mengambil posisi duduk melingkar di hadapannya. Sisil, dengan keanggunan matangnya yang selalu memancarkan aura kepemimpinan, duduk di tengah diapit oleh Bunga dan Intan. Di sisi lain, Sinar, Sarah, Tari, dan Dara duduk berdekatan dengan raut wajah yang bervariasi—mulai dari yang nampak tenang, cemas, hingga gelisah.Suasana hening
Semua wanita cantik itu mengangguk setuju dengan helaan napas lega. Mereka kemudian berbalik, mengikuti langkah tegap Pram serta Dara yang berjalan di depan membimbing mereka keluar dari gedung kantor pusat menuju ke arah area parkir bawah tanah. Di sana, rombongan dari Indonesia itu segera membagi diri untuk masuk ke dalam mobil SUV mewah milik Pak Herman yang kini sudah digunakan sehari-hari oleh Pram untuk keperluan dinas, sementara sebagian lagi menggunakan mobil operasional kantor yang dikemudikan oleh staf lokal.Pram mengambil alih kemudi SUV tersebut, melajukan kendaraan membelah jalanan aspal kota Amsterdam yang sejuk di bawah terik matahari siang, bergerak menuju ke arah kawasan pinggiran kota yang lebih tenang tempat mansion berada.Setengah jam kemudian, kendaraan mewah yang membawa rombongan besar tersebut akhirnya tiba dan memasuki gerbang besi otomatis mansion. Begitu pintu utama bangunan megah itu terbuka, mereka langsung disambut oleh pasangan pengantin baru, Pak He
Hari berjalan, waktu berlalu tanpa terasa di bawah langit kota Amsterdam yang dinamis. Pembenahan internal di dalam tubuh korporasi Husodo & Herman Silversmith di Belanda kini terbukti semakin tertata dengan sangat rapi dan sistematis. Tidak hanya itu, proyeksi pengembangan ekspansi bisnis perusahaan juga mulai terlihat nyata dan menunjukkan grafik peningkatan yang signifikan melalui tangan dingin Pram yang begitu jenius dalam mengelola modal kerja. Jaringan distribusi logam mulia dan kerajinan perak ke wilayah Jerman serta Prancis yang sempat terkendala konflik manajemen lama, kini telah berjalan seratus persen dengan sistem pengawasan yang jauh lebih ketat dan transparan.Saat itu, jarum jam dinding di dalam ruang kerja CEO yang mewah telah menunjukkan pukul dua siang. Pram sedang duduk tegap di balik meja mahogani besarnya, fokus menatap layar laptop untuk memantau pergerakan pasar saham internasional. Di kursi asisten pribadi yang terletak tak jauh di sisi kanan meja kerja, D
Keesokan harinya, suasana santai akhir pekan di mansion mewah Pak Herman seketika menguap tak berbekas, digantikan oleh ritme kerja yang super cepat dan dinamis. Sejak pukul delapan pagi, Pram dan Dara sudah disibukkan dengan berbagai aktivitas krusial di kantor pusat perusahaan Husodo & Herman Silversmith. Sebagai pemilik saham seratus persen yang baru, Pram tidak ingin membuang waktu semenit pun. Didampingi oleh Dara yang tampil sangat profesional dengan setelan blazer formal berwarna hitam pekat, Pram melangkah tegas membelah koridor gedung menuju ruang rapat utama di lantai atas.Di dalam ruang rapat komite yang berukuran luas dan berdinding kaca transparan tersebut, suasana terasa begitu tegang dan formal. Ruangan itu kini sudah dihadiri oleh para manajer divisi, mulai dari kepala manajer keuangan, manajer operasional pabrik, manajer pemasaran regional Eropa, hingga kepala divisi legalitas hukum perseroan. Kursi-kursi kulit premium telah terisi penuh oleh jajaran eksekutif y
Dara menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghindari tatapan mata Pram yang seolah bisa membaca seluruh isi hatinya. ”Rasanya baru kemarin kita bisa berduaan terus tanpa ada gangguan kayak gini, Mas... Tapi, beberapa hari lagi Tari dan Kak Sinar udah dateng aja ke sini buat mengisi jabatan direksi baru,” lirih Dara dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat sendu dan bergetar halus.Pram menarik tubuh ramping Dara ke dalam pelukan hangatnya, mendekapnya dengan sangat erat agar gadis itu bisa merasakan detak jantung jantannya yang konstan. ”Semua ada porsinya dan bagiannya sendiri-sendiri, Ra. Kamu jangan pernah merasa tersisih atau berpikir yang tidak-tidak kayak gitu,” ucap Pram mencoba menenangkan badai ketakutan di dalam dada Dara.Dara meremas kaos polos yang dikenakan Pram, menyembunyikan wajah meronanya di dada bidang sang kekasih. ”Aku cuma takut, Mas... Takut kalau kamu bakal mengabaikan aku dan melupakan keberadaanku di sisimu kalau nanti cewek-cewek lainnya suda
"Aduh, jangan ngajak yang aneh-aneh dulu ya, Bu Sisil. Masih pagi banget ini, nanti kalau ada anak-anak yang lihat atau turun ke dapur gimana?" bisik Pram sambil sedikit mundur, meskipun matanya sulit untuk tidak melirik belahan daster sutra Sisil.Sisil kembali tergelak pelan, suara tawanya terden
"Saya mau masak dulu, Bu Sisil. Nanti anak-anak keburu laper kalau sarapannya telat," jawab Pram dengan suara yang sedikit bergetar. Tubuhnya sedikit menggeliat, mencoba menahan sensasi luar biasa yang menjalar ke seluruh sarafnya akibat remasan jemari Sisil pada obor olimpiade miliknya yang sudah
"Mas Pram... dari mana aja kok baru pulang jam segini?" tanya Sisil dengan suara yang berat dan tatapan mata yang tampak sangat menuntut."Maaf, Bu Sisil. Semalam saya terpaksa menginap di rumah sakit, soalnya nggak tega liat kondisi Bi Surti sendirian di sana," ucap Pram sambil berdiri kaku di dep
Pram tersenyum, jemarinya membelai bahu polos Dara yang kuning langsat. "Gimana kalau kita cari makan siang di luar aja? Bukannya aku nggak mau masak lagi buat kamu, tapi kayaknya asyik juga kalau kita ganti suasana sebentar. Biar pikiranmu makin rileks.""Setuju banget! Tapi sebelum pergi, kita ha







