MasukWaktu perjalanan pun usai. Setelah menempuh belasan jam penerbangan yang melelahkan melintasi beberapa zona waktu, roda-roda pesawat berbadan lebar yang mereka tumpangi akhirnya menyentuh landasan pacu dengan mulus. Mereka tiba di Amsterdam. Hembusan angin musim panas Eropa yang berhawa sejuk langsung menyambut langkah kaki Pram dan Dara begitu mereka keluar dari garbarata menuju area kedatangan Bandara Schiphol yang megah dan sibuk.Pram yang telah mendapatkan waktu tidur yang cukup selama di pesawat kini tampak jauh lebih segar. Sisa-sisa pegal di pinggangnya akibat gempuran ranjang maraton bersama para wanitanya di Indonesia telah sepenuhnya hilang, mengembalikan vitalitas jantannya ke dalam kondisi prima. Sembari menarik koper besar milik mereka, Pram mengajak Dara memesan kamar hotel bintang lima yang terletak di pusat kota Amsterdam, memilih akomodasi terbaik untuk memastikan kenyamanan mereka selama menjalankan misi pengambilalihan aset peninggalan almarhum ayahnya.Sebuah t
Waktu keberangkatan pun tiba. Setelah segala persiapan dokumen perjalanan dan legalitas rampung disiapkan oleh Sisil, siang hari ini Pram sudah berada di area terminal internasional bandara untuk memulai babak baru pencarian dinasti bisnis peninggalan almarhum ayahnya.Pram duduk di kursi tunggu bandara bersama Dara, menunggu jadwal penerbangan mereka yang tinggal menyisakan waktu beberapa puluh menit lagi sebelum lepas landas. Suasana ruang tunggu kelas bisnis yang cukup tenang dan sejuk oleh pendingin ruangan terasa begitu nyaman. Namun, di balik penampilan rapinya yang mengenakan jaket kasual dan celana denim gelap, kondisi fisik Pram saat ini sebenarnya sedang berada di titik yang sangat rapuh.Benar saja perkiraan Pram kemarin. Setelah pulang dari melayani kepuasan Tari, Sarah, dan Sinar hingga energinya terkuras cukup banyak, sesampainya di rumah utama ia kembali dihajar oleh Sisil, Bunga, dan Intan secara bergantian dan bertubi-tubi hingga menjelang dini hari tadi. Ketiga wa
”Iya nih, aku belum nyembur juga. Kalian nungging yuk. Jejer kesamping ya,” perintah Pram dengan nada suara bariton yang teramat sangat berat, dalam, dan sarat akan dominasi.Mendengar instruksi dari pria yang paling mereka gilai itu, Sinar, Tari, dan Sarah yang tubuh polos mereka masih lemas sertaa terengah-engah pasca pelepasan massal tadi, seketika mengumpulkan sisa-sisa tenaga mereka dengan patuh. Tanpa bantahan sedikit pun, ketiga wanita cantik itu merangkak memposisikan diri di atas sprei kasur king-size yang sudah berantakan. Mereka berjejer ke samping secara berurutan, menunggingkan tubuh polos mereka dengan membelakangi Pram, membiarkan sepasang buah dada kembar mereka menggantung erotis menempel di atas kasur. Dari posisi menungging berjejer ini, tiga aset bulatan belakang yang sangat montok, padat, dan mulus tersaji seutuhnya di depan mata Pram, lengkap dengan kawah gelap masing-masing yang sudah menganga lebar, memerah merekah, dan basah kuyup kebanjiran sisa cairan asm
Pergumulan panas di dalam kamar utama yang terkunci rapat itu kian bergerak liar mencapai titik kulminasi gairah yang luar biasa pekat. Pram yang berbaring telentang di atas kasur king-size merasakan seluruh tubuh tegapnya dikepung oleh kehangatan dan aroma intim dari ketiga wanita cantiknya yang sudah sepenuhnya kehilangan pengendalian diri akibat terbakar nafsu tiada tara.Di atas selangkangannya, Sarah masih terus mempertahankan gerakan memompa pinggulnya naik dan turun dengan ritme yang dalam. Setiap kali pangkal paha Sarah berbenturan dengan paha kokoh Pram, suara tamparan kulit yang basah berdentum riuh berulang kali memecah keheningan kamar. Pram yang menyadari jepitan dinding dalam gua Sarah sudah bergerak kian kencang dan berdenyut liar meremas batang senjatanya, segera memberikan instruksi baru. Pram meminta Sarah tetap disana hingga mencapai puncaknya, menuntut wanita itu untuk tidak menurunkan temponya sedikit pun demi meraih kepuasan maksimal.”Terus, Sarah... jangan
Setelah memuaskan hasratnya dengan belasan kali hentakan liar yang menguras sisa-sisa tenaganya, Tari akhirnya mengangkat pinggulnya perlahan, menarik keluar pedang pusaka Pram dari dalam dirinya dengan suara letupan basah yang seksi. Tari turun dari atas tubuh Pram dengan napas yang terengah-engah lambat, tubuh mulusnya terkulai lemas di atas kasur sembari membiarkan sisa cairan kebasahan mengalir di sela-sela paha mulusnya.Melihat menara kebahagiaan milik Pram masih berdiri tegak dengan sangat gagah, tegang maksimal, dan berkilat-kilat basah oleh sisa pelumas alami, giliran Sarah yang tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Sarah yang langsung merangkak gemulai mengambil alih posisi di atas selangkangan Pram. Dengan sisa gairah yang sudah membakar seluruh relung curamnya, Sarah memegang batang tongkat baseball raksasa milik Pram, mengarahkan ujung kepalanya yang panas membara tepat di bibir gua miliknya yang sudah becek luar biasa.Sarah menurunkan pinggulnya secara perlahan
”Mas, aku mau dimanjain pakai ini,” bisik Sinar dengan suara yang teramat sangat serak dan mendesah manja. Sepasang matanya yang sayu dan berkabut gairah menatap lurus ke arah pangkal paha Pram, sementara tangan halusnya menggenggam erat milik Pram yang sudah menegang maksimal bagaikan tongkat baseball raksasa yang luar biasa keras, panas, dan berurat menonjol. Genggaman tangan Sinar bahkan tidak mampu melingkari seluruh diameter batang perkasa itu dengan sempurna, membuktikan betapa dahsyatnya ukuran senjata sang bos besar setelah menerima servis mulut beruntun tadi.Pram tersenyum lebar, mengusap lembut helai rambut Sinar yang tampak sedikit berantakan akibat luapan hasrat yang membara di dalam kamar tidur yang terkunci rapat tersebut. ”Aku rebahan aja ya. Kalian yang bergantian di atasku. Aku mau menghemat tenaga biar besok di pesawat nggak kram semua,” sahut Pram dengan nada suara baritonnya yang dalam, memberikan instruksi manja yang langsung disambut dengan anggukan patuh dan
Sisil menuntun Pram menuruni anak tangga kolam renang secara perlahan. Begitu permukaan air yang dingin menyentuh kulit mereka, Sisil tiba-tiba sedikit tersentak. Tubuhnya bergetar, dan dengan gerakan yang sangat alami, ia langsung merapat dan memeluk tubuh hangat Pram di dalam air yang setinggi d
"Eh, anu… nggak apa-apa, Pak. Ini... ini tiba-tiba perut saya melilit, kayaknya salah makan tadi siang," bohong Bunga sambil menggigit bibir bawahnya, menahan getaran hebat yang sedang mengobrak-abrik pusat hulu ledaknya.Bunga cepat-cepat menyelesaikan coretan terakhir di kertasnya, lalu berpamita
Mereka berdua membeku dalam kondisi pakaian yang masih berantakan, meriam Pram yang masih terbuka, dan rok kantor Sisil yang tersingkap.Pram adalah orang pertama yang memberanikan diri untuk memutar kepalanya, mencoba menembus kegelapan di balik kaca film mobil yang sangat pekat. Jantungnya berde
Pram tertegun. Jantungnya mulai berdegup tidak beraturan mendengar usulan itu. Masuk ke hotel hanya berdua dengan anak majikannya yang cantik ini tentu saja sangat berisiko. Namun, melihat wajah Bunga yang memelas dan kondisi kakinya yang memang mengkhawatirkan, Pram merasa tidak tega untuk menola







