分享

Bab 56. Sebuah Perisai

作者: Min Ye-Rin
last update publish date: 2026-05-24 12:01:59

“Elowen!”

Aisar mendorong tubuh Elowen cukup keras sampai gadis itu kehilangan keseimbangan. Beruntung Dominique yang berdiri tidak jauh darinya langsung menangkap tubuh kecil itu sebelum jatuh ke lantai marmer.

Srak!

“Tuan Muda—”

Elowen buru-buru berbalik badan. Pupilnya melebar ketika darah muncrat tepat ke wajahnya.

“Tu-Tuan… Tuan Aisar…”

Suara Elowen langsung pecah. Pedang Hugo berhas
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 145. Orang Di Masa Lalu

    “Tuan Aisar—!”Aisar menarik napas dalam. Dia melepaskan pagutannya di bibir Elowen. Sedangkan gadis itu langsung meringkuk di dalam selimut. “M-maafkan saya, Tuan.” Silas langsung berbalik badan. Kedua tangannya meremas ujung pedangnya. Dia masih belum terbiasa dengan kebiasaan baru Aisar yang satu ini. “Biasakan mengetuk pintu, Silas. Apa aku masih harus mengajarimu sopan santun?” Suara dingin Aisar membuat Silas menelan ludah dengan susah payah. “Maaf, Tuan.”“Apa yang kau mau?” tanya Aisar dingin. Dia melirik Elowen yang masih meringkuk di dalam selimutnya. Silas berbalik badan, lalu menunduk lebih dalam. Dia berusaha mengabaikan wajah Elowen yang sudah merah sampai ke telinga.“Tuan, tahanan itu sudah siap dipindahkan,” ujarnya pelan. Tatapan Aisar langsung berubah. Tidak lagi lembut seperti saat bersama Elowen. Kini matanya kembali dingin dan penuh penekanan.“Ternyata lebih cepat dari perkiraanku,” kata Aisar. Senyum simpul terpancar di wajah tegasnya.“Ya, Tuan. Anak buah

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 144. Kau milikku

    “Aku selalu memintamu menjaga diri, tapi kau selalu saja melakukan kesalahan seperti ini, Elowen.” Dengan sangat perlahan, Aisar merebahkan Elowen di tempat tidurnya. Gadis itu sedikit bingung. Karena Aisar tidak membawanya ke kamarnya. “Tu-tuan ini—”Jari telunjuk Aisar menyentuh bibir Elowen. Membuat gadis itu membeku beberapa saat. Belum lagi mata biru Aisar yang kini sudah lebih gelap dari biasanya.“Ini pasti menyakitkan,” bisik Aisar. Tangannya menyeka perban di pelipis Elowen. Wajahnya mendekat, lalu mengecup bibir Elowen pelan. “Apa masih sakit?”Elowen tidak menjawab. Napasnya masih memburu. Perlakuan Aisar sangat tiba-tiba. “Katakan, apa yang kau rasakan. Jangan membuatku khawatir, Elowen.”Elowen mengerjap pelan. Dia berusaha mengulas senyum. Meyakinkan Aisar untuk tidak mengkhawatirkannya.“Saya baik-baik saja, Tuan. Luka ini bahkan tidak terlalu serius.” Elowen membalas genggaman tangan Aisar yang sudah dingin. “Tuan Aisar tidak perlu khawatir.”Aisar tidak langsung me

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 143. Aku berjanji

    “Bukan begitu, Aisar.”Dominique memejamkan matanya sebentar. Dia menatap Aisar yang kini sudah menggendong Elowen di dalam dekapannya.“Tunggu dulu, dia harus diobati,” ujar Dominique. “Dia sudah diobati.” Jawaban Aisar begitu singkat. Matanya bahkan tidak beralih sedikit pun dari Elowen. “Kalau tidak, dia tidak mungkin sudah sadar sekarang.”“Aisar, tunggu!”Langkah Aisar terhenti tepat di depan pintu. Dominique menarik napas panjang. Kepalanya terasa semakin berat. Sejak awal dia sudah tahu hal seperti ini akan terjadi cepat atau lambat.“Aku tidak sedang berbohong padamu. Percayalah,” ujar Dominique dengan suara nyaris terdengar seperti bisikan. Aisar terkekeh pelan. Dia menggelengkan kepalanya samar. “Tapi Baginda juga tidak sedang mengatakan yang sebenarnya.”Ruangan kembali hening. Dominique mengatupkan rahangnya. Dia tidak bisa membantah kalimat itu.Karena memang benar, dia tidak berbohong, tapi dia juga tidak mengatakan seluruh kebenarannya pada Aisar. “Tu-tuan…” Elowen

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 142. Ini Salahku?

    Aisar?Dominique langsung berbalik badan. Rahangnya mengeras dengan ujung mata berkedut. Namun tatapan Aisar rupanya jauh lebih gelap. Dia menatap Elowen yang berusaha untuk duduk di atas ranjang. Langkahnya yang berat, menjadi satu-satunya suara yang menggema di ruangan itu. “Apa yang terjadi padanya?” tanya Aisar dingin. Dia menyentuh pipi Elowen yang memar dan juga luka di pelipisnya yang sudah terbalut perban. “Dia hanya kecelakaan saat bekerja,” ujar Dominique pelan. Sang raja sudah melangkah menjauh. “Kau tidak perlu khawatir, dia akan baik-baik saja. Ini hanya luka ringan.”Berbeda dengan pernyataan Dominique. Mata Aisar sudah menggelap. Dia menatap luka memanjang di bahu Elowen yang sedikit terbuka. Dia menyentuhnya, membuat Elowen menahan napas beberapa saat.“Katakan. Apa ini juga karena kecelakaan kerja?” tanya Aisar. Kini dia menuntun wajah Elowen untuk membalas tatapannya. “Tidak usah takut, Elowen. Kau masih mengingat janjiku, bukan?”Elowen langsung menegang. Jemari

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 141. Apa Yang Harus Dimengerti?

    “Tidur di kandang kuda! Kau tidak pantas tidur di tempat tidur bagus itu!” Elowen langsung membuka matanya. Napasnya tercekat dengan keringat yang sudah membasahi wajah dan lehernya. “D-dimana aku?” gumamnya. Pupilnya menyusut. Berusaha mencari tahu dimana dia berada. “Kau ada di ruang kesehatan.” Suara berat itu membuat tubuh Elowen meremang. Dominique melangkah dengan gerakan yang sangat berat dan lelah. Dia melipat kedua tangan didepan dada, menatap Elowen dengan mata yang sayu. “Baginda…” Elowen hendak bangun dari tidurnya, namun tubuh dan kepalanya masih terasa amat pusing. Tangannya buru-buru memegang pelipis yang berdenyut. “I-ini—” “Kau terluka, tadi.” Dominique menjawab kegelisahan di wajah Elowen. “Kenapa kau bisa ada di kamar Pangeran Adrien?” Gadis itu menunduk semakin dalam. Sekelebat ingatannya mulai kembali satu per satu. Lorong istana, pintu besar yang salah dia datangi, wajah Adrien yang memerah karena alkohol, lalu rasa takut yang membuat tubuhnya membek

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 140. Kecerobohan

    “Berhentilah bersikap bodoh, Adrien,” ujar Dominique dingin. “Kau lupa, siapa kau sebenarnya?” Adrien langsung bungkam. Perlahan dia melepaskan cengkramannya dari jubah Dominique, lalu mundur dua langkah. Dominique masih menatap Adiren dengan mata yang semakin tajam. Dia menggerakkan tangannya, meminta pengawalnya untuk mendekat. “Hamba, Baginda,” katanya seraya membungkuk hormat. “Bawa Pangeran Adrien dan redakan mabuknya. Jangan bocorkan kejadian ini, terutama pada Aisar.” Mata Dominique sedikit melirik Elowen yang terbaring, lalu kembali manatap Adrien. “Dimengerti, Baginda.” Adrien masih berdiri di tempatnya. Napasnya berat. Dada pria itu naik turun dengan sangat cepat. Pengaruh alkohol membuat matanya merah, namun perlahan kesadarannya mulai kembali sedikit demi sedikit. Dua pengawal kerajaan mendekat. Mereka berdiri di sisi kanan dan kiri Adrien dengan kepala tertunduk.

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status