로그인Dastan benar-benar membuktikan ucapannya. Di sebuah salon premium di pusat kota, pria itu duduk tenang di sofa lobi dengan laptop di pangkuannya.Kehadiran Dastan tampak kontras dengan suasana sekitarnya yang penuh dengan wanita. Meski ia hanya mengenakan setelan kasual, tetapi kharisma seorang Dastan Limantara tidak dapat disembunyikan.Beberapa wanita yang baru masuk atau sedang menunggu giliran berkali-kali melirik. Bahkan, ada yang sengaja memperlambat langkah hanya untuk mencuri pandang.Ketampanan Dastan yang maskulin, serta sikap telatennya menunggu pasangan di salon, membuat banyak wanita berbisik iri."Lihat itu, jarang sekali ada pria setampan dia mau bersabar di salon sampai membawa pekerjaan," bisik seorang wanita muda kepada temannya."Istrinya sangat beruntung," sahut yang lain.Namun, Dastan tetaplah Dastan. Ia bersikap dingin dan acuh tak acuh. Baginya, lobi salon itu tak ubahnya ruang kerja sementara. Matanya hanya terpaku pada deretan angka dan laporan di layar lapt
Selepas penyatuan raga yang meluruhkan segala pembatas, terjadi perubahan drastis dalam diri Kageo. Pria itu menanggalkan jubah monster yang selama ini ia pakai.Kageo menunjukkan sisi manjanya yang tak terduga—sisi polos yang selama ini terkubur di bawah lapisan dendam. Di meja makan, ia hanya menatap piringnya dengan pandangan malas sampai Aya duduk di sampingnya."Suapi aku," pintanya menuntut perhatian.Aya tidak lagi mendesah kesal atau merasa terancam. Ia mengambil sendok dan menyuapi Kageo dengan gerakan yang penuh ketulusan. Tak hanya itu, Kageo seperti enggan melakukan apa pun sendiri. Ia meminta Aya membantunya mengenakan kemeja, menyisir rambut, dan bersikeras agar sang istri menemaninya melukis.Aya melakukan semua itu dengan hati yang ringan. Menyadari bahwa di balik keangkuhannya, Kageo hanyalah jiwa yang sangat haus akan kasih sayang.Suasana kamar kembali sunyi di malam hari. Aya sibuk merapikan pakaian mereka ke dalam koper besar di sudut ruangan. Setelah selesai, i
Hujan di luar sana seolah menjadi saksi atas pergeseran atmosfer yang terjadi di dalam kamar.Suhu tubuh Kageo yang tadinya sedingin es, kini merayap naik hingga terasa membara. Panas ini bukan lagi akibat demam atau reaksi anemia aplastik, melainkan lahir dari hasrat yang tersulut di tengah kesunyian.Aya bisa merasakan deru napas Kageo yang semakin memburu di ceruk lehernya. Begitu pula detak jantung pria itu yang berpacu kencang.Kageo membuka matanya, menatap Aya dengan rasa lapar yang tak terbendung."Cahaya..." suara Kageo terdengar sangat serak. "Aku ingin menciummu."Sebelum Aya sempat menjawab, jemari Kageo menyelusup ke dagunya, mengangkat wajahnya sedikit untuk mengunci tatapan mereka. Detik berikutnya, Kageo menunduk dan menyesap bibir Aya. Ciuman itu dalam dan menuntut, sebuah luapan emosi dari seorang pria yang baru saja ditarik dari ambang kematian.Lidah mereka pun saling bertautan, menghapus hawa dingin yang masih tersisa.Tatkala oksigen mulai menipis, Kageo melepas
Pagi itu, langit di desa tampak kelabu, menumpahkan hujan deras yang membasahi pintu dan kaca jendela. Di dalam kamar, Aya mengerjapkan mata karena mendengar bunyi guntur yang bersahut sahutan. Empat hari telah berlalu sejak pernikahan paksa yang terasa seperti mimpi buruk. Kini, kakinya yang terkilir berangsur membaik, tetapi hatinya masih tertatih. Kageo adalah teka-teki yang sulit ia pecahkan. Pria itu bisa sangat jahat, tetapi juga bisa mendadak tenang dan lembut.Hari-hari ia lalui dengan duduk di samping Kageo, menemaninya melukis atau sekadar menggubah lagu untuk mengisi waktu. Aya pun menyibak selimutnya, bermaksud untuk mengambil air minum. Namun, alangkah kagetnya ia saat mendengar suara desisan dari samping. Kageo masih terpejam, tetapi rahangnya mengatup rapat. Tubuh jangkung itu menggigil hebat. Aya terkejut, ia segera menyentuh lengan Kageo yang menempel di dahi.Dingin. Sangat dingin, seolah ia menyentuh bongkahan es dari dasar lautan."Kageo, kau kenapa?" bisik A
Suasana di dalam mobil berangsur hening, setelah emosi Reva lebih stabil. Napasnya masih terdengar berat, tetapi isak tangisnya sudah berganti menjadi helaan napas yang panjang .Elbara, yang sejak tadi setia menemani Reva, menoleh dengan tatapan simpati. Ia tahu, meskipun persidangan telah dimenangkan, luka baru yang dibuka oleh teriakan Arseno di ruang sidang jauh lebih menyakitkan.Elbara membetulkan posisi duduknya, suaranya terdengar sangat hati-hati agar tidak mengagetkan Reva. "Kau mau kita ke tempat yang tenang? Ke Resort Blue Ocean,” tawar Elbara memecah kesunyian. “Di sana kau bisa memulihkan diri, menjauh dari kejaran wartawan, dan tidak ada satu orang pun yang akan mengganggumu."Reva terdiam sejenak, menatap kosong ke arah jalanan dari balik jendela mobil. Pikirannya masih dipenuhi oleh ekspresi bersalah Baskoro dan tuduhan Arseno. Untuk saat ini, ia memang butuh ruang untuk bernapas, tempat di mana bunyi deburan ombak bisa menenggelamkan suara-suara jahat di kepalanya
Ketika sidang dimulai, Reva duduk dengan tangan saling bertaut erat. Sementara Elbara di sampingnya sesekali memeriksa dokumen terakhir, meski fokusnya lebih banyak terbagi pada napas Reva yang terdengar pendek. Di kursi terdakwa, Arseno mulai gelisah. Kepercayaan dirinya yang setebal baja kini retak, usai kesaksian Siska dan bukti digital yang dihadirkan Elbara.Majelis Hakim yang dipimpin oleh Hakim Ketua Lukman memasuki ruangan. Semua orang berdiri dalam keheningan yang menegangkan.Setelah pembukaan yang formal, sang Hakim mulai membacakan putusan sela yang dinantikan."Menimbang segala bukti forensik digital, kesaksian saksi kunci, serta rekam jejak transaksi keuangan yang sah," suara Hakim Ketua menggema, "Maka Pengadilan Negeri memutuskan bahwa terdakwa Arseno terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah atas tindak pidana terorisme domestik dan percobaan penculikan terhadap saksi korban Reva Anindya, pelecehan seksual terhadap Saudari Siska, serta tindak pidana pencucian uang
Atmosfer di dalam ruang sidang utama terasa berat.Moza duduk di barisan terdepan kursi pengunjung, tepat di belakang pagar pembatas kayu yang memisahkan area publik dengan area hukum. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang berpacu, saat melihat tiga kursi hakim yang masih kosong.Tak lama
Ban mobil yang dinaiki Moza berdecit nyaring saat berhenti di pelataran parkir Eagle Sport Hall. Moza hampir tidak sabar menunggu sopirnya membukakan pintu. Ia langsung melompat keluar dengan napas memburu, mengabaikan rasa mual yang sesekali hadir.Pemandangan di depan lobi gedung olahraga itu ta
Gema palu hakim yang mengetuk meja tiga kali, menandakan berakhirnya masa skorsing. Ruang sidang yang tadinya lowong, kini kembali penuh. Di meja penggugat, Reva duduk dengan jemari yang saling meremas. Pikirannya bercabang; separuh pada nasib keadilannya, separuh lagi pada kabar mengerikan tentan
Langkah kaki Izora terasa berat, saat ia kembali memasuki area Instalasi Gawat Darurat. Bau antiseptik yang biasanya membangkitkan semangat, kini terasa menyesakkan di dada.Izora menghampiri Bayu, rekan dokter magangnya, yang sedang sibuk memeriksa pasien penderita demam berdarah bersama seorang p







