MasukJangan lupa ya berikan gems dan like untuk mendukung author. Siapa yang mau kisah Elzen? Yuk, komen di sini.
Hati Izora terasa lapang dan tenang, saat ia memarkirkan sepeda motornya di pelataran parkir rumah sakit. Izora melepas helm dengan gerakan perlahan, sengaja membiarkan angin menerpa wajahnya.Pagi ini, saat ia meninggalkan apartemen Rezon, suasana di sana jauh lebih terkendali. Ia sempat bertemu seorang perawat berseragam dan dua pelayan yang datang membawa bahan makanan. Izora yakin itu adalah utusan dari Dastan Limantara, kakak kandung Rezon. Kehadiran mereka bak jawaban doa bagi Izora. Dengan adanya tenaga profesional yang merawat dan melayani kebutuhan Rezon, maka tugas "daruratnya" telah usai.Izora menarik napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa kegelisahan yang menggelayuti benaknya. Bayangan ketika bibir Rezon menyentuh miliknya masih terus berputar seperti kaset rusak. Tidak, cukup sampai di sini. Izora memutuskan bahwa sepulang kerja nanti, ia tak perlu lagi menginjakkan kaki di apartemen Rezon. Bagaimanapun, ia harus menjaga jarak. Ciuman itu adalah kesalahan, sebuah a
Di dalam kamar yang temaram, Moza membimbing Reva menuju tepi ranjang. Suasana sunyi apartemen, seolah menjadi pelindung bagi dua wanita ini dari bisingnya dunia luar. Moza mendudukkan Reva dengan hati-hati. Sementara Reva menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Dengan ujung piyamanya, ia menyeka sisa air mata yang mengering di pipi."Keju Mozarella... maaf ya, aku jadi cengeng begini," ucap Reva dengan suara serak. Ia mencoba menyelipkan sedikit candaan, lewat nama panggilan kesayangan mereka.Moza tidak tertawa. Ia justru meraih kedua pipi Reva, menangkupnya dengan telapak tangan yang hangat."Tidak apa-apa, Va. Kau memang seorang wartawan investigasi yang tangguh. Tapi, kau juga seorang wanita biasa. Siapapun pasti akan gemetar jika mengalami penculikan dan pelecehan."Reva menunduk, menatap jemarinya yang saling bertautan. "Sejak memilih profesi ini, aku sudah tahu risikonya, Moza. Aku tidak takut mati, tapi aku paling takut kehilangan martabatku. Kau tahu kan, alasan utam
Reva menyuap mi ramen di hadapannya, meski tenggorokannya masih terasa perih. Setiap kunyahan adalah bentuk perlawanan untuk membangkitkan keberanian yang sempat padam. Kali ini, ia bersumpah akan tegar. Reva sudah mengambil keputusan di dalam hati. Jika keadilan nanti berhasil ditegakkan, ia akan berterima kasih kepada Elbara atas semua yang telah dilakukan pria itu. Setelahnya, ia akan kembali menjadi Reva yang dulu. Seorang wartawan lapangan yang tangguh, pemburu berita yang tak kenal takut. Ia akan mengubur dalam-dalam debar jantungnya yang liar, setiap kali bersentuhan dengan Elbara Limantara.Bagaimanapun Elbara pantas menemukan kebahagiaan bersama wanita yang tepat. Seorang wanita yang tidak membawa beban trauma dan bahaya seperti dirinya.Selesai makan, Reva melangkah ke kamar. Ia mengganti bathrobe dengan piyama katun bersih dari dalam koper. Suasana apartemen Elbara yang sunyi mulai terasa mengintimidasi. Reva pun meraih ponselnya, duduk meringkuk di atas ranjang.Dalam k
Kelembutan yang ditunjukkan Elbara kepada Reva, sangat kontras dengan amarah yang ia tunjukkan pada para penculik. Dengan hati-hati, pria itu mendudukkan Reva di kursi penumpang depan. Memastikan punggung sang wanita bersandar nyaman pada jok kulit.Tubuh Reva masih bergetar hebat, napasnya tersengal-sengal di antara sisa tangis yang belum usai.Tanpa suara, Elbara kemudian meraih sebotol air mineral. Ia membukanya dan menyerahkan ke tangan Reva yang dingin. "Minumlah sedikit, Reva. Tenangkan dirimu.”Saat Reva meneguk air dengan tangan gemetar, Elbara mencondongkan tubuhnya. Dengan telaten, pria itu melingkarkan sabuk pengaman di dada Reva.Sentuhan jemari Elbara yang tak sengaja menyapu lengannya, membuat Reva berdesir. Berada di dekat pria ini, membuat seluruh ketakutan yang ia rasakan sirna dalam sekejap.Tak cukup sampai di situ, Elbara lantas mengambil selembar tisu. Tanpa ragu, ia menyeka jejak air mata yang membekas di pipi Reva. Reva terkesiap, matanya yang sembap menatap
Pemandangan di luar jendela taksi perlahan berubah, dari deretan pertokoan menjadi hamparan tanah kosong yang ditumbuhi ilalang.Reva mulai merasakan hawa dingin yang merayap di tengkuknya. Terutama, saat ia menyadari jalanan yang mereka lalui semakin sunyi."Benar ini alamatnya, Bu?" tanya sopir taksi dengan nada ragu, matanya melirik melalui spion tengah. "Ini kawasan perumahan baru di pinggiran kota. Saya tidak melihat ada pos keamanan atau lampu jalan di depan."Reva menoleh ke arah Ibu Yanti yang duduk di sampingnya. Wanita itu tampak tenang, tatapannya lurus ke depan, seolah sudah sangat mengenali medan ini. "Ibu, tidak salah jalan, kan? Benar ini lokasinya?" tanya Reva memastikan."Benar, Nak. Anak Ibu memang membeli rumah di sini, karena harganya lebih murah," jawab Ibu Yanti dengan suara datar.Taksi itu pun terus melaju, melompati lubang-lubang di jalan yang belum diaspal sempurna. Reva tidak menyadari bahwa di belakang mereka, sebuah mobil hitam terus mengikuti.Ketika me
Wajah memelas perempuan paruh baya itu membuat Reva tak tega. Sisi kemanusiaannya selalu tergerak bila melihat orang tua yang sedang kesusahan.Ia berpikir tidak ada salahnya menolong sesama manusia, apalagi seorang ibu yang kebingungan di tengah kota asing. Meski begitu, di balik rasa kasihan itu, kewaspadaan yang telah ditanamkan Elbara selama beberapa hari tetap menyala. Reva sadar betul bahwa saat ini dirinya berada dalam masa perlindungan saksi yang sangat krusial. Satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal bagi kasusnya melawan Arseno. "Ibu... maaf sebelumnya," suara Reva terdengar lembut. "Apa saya boleh melihat kartu identitas Ibu? Hanya untuk memastikan saja."Sang Ibu tertegun sejenak, lalu memasang ekspresi terluka. "Aduh, Nak... KTP Ibu tertinggal di rumah. Nama Ibu Yanti, dan usia Ibu sudah 55 tahun. Apa wajah Ibu terlihat seperti orang jahat, sampai kau tidak percaya pada Ibu?"Melihat wanita itu hampir menangis, Reva pun tak berani mendesak. Ia merasa bersalah karena







