Share

Marah Atau Cemburu

Penulis: Risca Amelia
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-16 19:38:53
Setelah Dastan berlalu, Tuan Markus menatap Moza yang masih berdiri terpaku di tempatnya.

“Letakkan nampan di meja, Moza."

Moza mengangguk patuh, lantas mendekat ke meja kayu yang semalam dipakai Tuan Markus untuk menulis. Ia meletakkan nampan dengan hati-hati, supaya tidak ada makanan yang tumpah.

“Bantu aku mendekat ke meja. Aku ingin makan sambil melihat pemandangan dari jendela,” lanjut pria tua itu.

Dengan sigap, Moza mendorong kursi roda Tuan Markus hingga posisinya pas di depan meja. Roda pun bergulir pelan di atas lantai dengan gesekan halus.

Sebelum makan, Tuan Markus menatap Moza sejenak. “Aku lihat Dastan sudah mengenalmu.”

“Iya, Tuan Besar. Saya memperkenalkan diri saat Tuan Dastan mengecek kondisi Nona Kecil Abigail,” jawab Moza sopan.

Tuan Markus mengangguk, senyum tipis menghiasi wajahnya.

“Abigail sepertinya sangat menyukaimu. Dia memang butuh kasih sayang, sebab ibunya jarang sekali hadir.”

Tak ayal, pikiran Moza melayang pada sosok ibu kandung Abigail, Estella Tamar
Risca Amelia

Yuk, ramaikan dengan memberikan gems, like, dan komen. Next chapter nanti malam ya

| 54
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Ognindi Wingky
hahahaa adiknya g ada yg jelek siiij
goodnovel comment avatar
Puji Lestari
cieeee cembuluuu
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Ayah dan Putrinya

    Mulut Moza mendadak terasa kering. Kini, semua mata tertuju padanya, bahkan Prof. Reza di sampingnya ikut melirik penuh perhatian.Tak hanya Moza, Dastan yang duduk di bangku belakang juga terkejut mendengar pertanyaan itu. Rahangnya mengeras dan wajahnya tampak tegang. Ia tahu lebih dari siapapun, bahwa pertanyaan tentang kehamilan pasti akan memicu rasa sakit dan trauma yang pernah dialami Moza. Mungkin, Moza akan langsung teringat tentang masa-masa terkelam dalam hidupnya. Dastan hampir saja melangkah maju untuk menjadi tameng bagi Moza. Namun sebelum ia bisa bergerak, suara Moza terdengar lantang dan lugas dari podium."Terima kasih atas pertanyaannya," jawab Moza dengan suara yang berwibawa. "Tindakan pencegahan harus dimulai dari kesadaran diri sendiri untuk menjaga tubuh, martabat, dan memahami batasan. Seorang wanita hendaknya tidak menyerahkan diri kepada pria yang belum atau bukan menjadi suaminya. Itu adalah langkah paling bijaksana."Moza berhenti sejenak. Matanya tanpa

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Mengagumi Tanpa Terlihat

    Begitu Tuan Hadinata dipersilakan duduk oleh salah satu panitia, Moza langsung menundukkan kepala dalam-dalam. Jarak mereka yang hanya terpaut beberapa meter dari panggung, membuat Moza tak kuasa menatap wajah ayahnya.Rasa sesak mulai menghimpit dada Moza.Mungkinkah sang ayah sengaja datang setelah melihat namanya tertera di daftar pembicara? Ataukah ini murni kebetulan untuk kepentingan yayasan?Walau perasaannya berkecamuk, Moza sadar bahwa lambat laun pertemuan ini harus terjadi. Sebagai seorang anak, ia tak bisa terus menghindar dari ayah kandungnya sendiri. Sambil menarik napas lambat, Moza kemudian mengalihkan perhatian sepenuhnya pada layar laptop. Meneliti kembali slide presentasi yang sudah ia susun dengan teliti. Dalam hati, Moza mulai menghitung mundur, menunggu menit-menit terakhir sebelum sesi pertama ditutup.Ketika Profesor Reza menutup presentasinya dengan kesimpulan yang tegas, suasana auditorium pecah oleh tepuk tangan meriah. Tanpa membuang waktu, sang pembawa a

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Pertemuan yang Membawa Luka

    Gedung Universitas Pusat dengan lima lantai akhirnya mulai terlihat. Bangunan yang didominasi oleh kaca gelap dan pilar-pilar beton itu berdiri kokoh di tengah taman kampus yang asri. Semakin dekat mobil Pak Nata menuju lobi utama, jantung Moza kian bertalu kencang. Rasanya, sudah lama sekali ia tidak menginjakkan kaki di tempat ini. Dulu, sewaktu dirinya masih mahasiswi, ia pernah beberapa kali datang sebagai peserta seminar biasa. Tak pernah terbayangkan bahwa suatu hari ia akan kembali dengan status yang jauh berbeda: sebagai pembicara."Silakan turun, Nyonya," suara Pak Nata memecah lamunan Moza. "Kalau acaranya sudah selesai, saya akan segera menjemput Nyonya."Moza memandang sejenak ke arah lobi kampus yang sudah ramai oleh mahasiswa yang berlalu-lalang. Di beberapa sudut, spanduk-spanduk besar terpasang rapi, menampilkan judul seminar hari ini.Melihat namanya terpampang di sana, hati Moza diliputi rasa bangga sekaligus gugup."Terima kasih, Pak," ucap Moza singkat, sebelum i

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Misi Rahasia

    Pagi itu, Moza bergerak gesit di dapur. Ia memastikan Kayden dan Abigail menghabiskan sarapan telur gulung serta sereal mereka. Suara denting sendok dan tawa kecil anak-anak menjadi latar belakang yang menghangatkan suasana. Setelah urusan perut anak-anak selesai, Moza segera beralih ke kamar untuk mempersiapkan diri. Ini adalah hari besarnya, sebuah pembuktian profesionalitas yang tidak boleh ia sia-siakan.Abigail, yang selalu terpesona melihat ritual kecantikan, segera mengekor di belakang Moza. Gadis kecil itu asyik membantu memilihkan pakaian, bersikap seakan dirinya adalah penata busana pribadi sang ibu. Akhirnya, atas pilihan Abigail, Moza mengenakan setelan blazer dan celana panjang berwarna biru elektrik. Warna ini sangat menonjol, memancarkan aura kepercayaan diri yang nyata.Moza kemudian duduk di depan meja rias. Ia memulaskan make-up yang sedikit lebih tegas. Rambut panjangnya ia sanggul sederhana, dengan beberapa helai rambut yang sengaja disisakan di sisi wajah."Mama

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Rindu Kehadiranmu

    Valen mencengkeram kemudi dengan jemari yang gemetar. Keringat dingin membasahi telapak tangannya saat ia melirik ke arah kaca spion. Ternyata, mobil para pengawal suruhan Rezon masih setia membuntuti mereka, bagaikan bayangan kematian."Tapi Kak, bagaimana kalau Elbara tahu aku yang mengirimkan video itu?" bisik Valen dengan nada penuh kekhawatiran. "Insting Elbara sangat tajam. Jika dia tahu aku bermain di belakang punggung kedua kakaknya, dia akan sangat marah padaku. Aku tidak ingin merusak pernikahanku yang tinggal menghitung hari."Estella memutar bola matanya. Ia mendengus keras seakan ketakutan Valen adalah hal paling konyol yang pernah ia dengar. "Kau ini memang bodoh atau terlalu lugu, Valen? Kenapa kau harus menggunakan identitas aslimu?"Estella memperbaiki posisi duduknya, menatap Valen dengan tatapan mengintimidasi."Beli nomor baru yang tidak akan bisa dilacak atau dikenali oleh keluarga Limantara. Kirimkan video itu secara anonim ke pengasuh Abigail. Biarkan benih ke

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Serangan Dua Arah

    Moza segera bangkit dari ranjang, berusaha mengenyahkan pikiran negatif di benaknya.Ia keluar dari kamar dengan niat menyiapkan sarapan. Namun baru beberapa langkah di depan pintu, Moza melihat Bi Marni menapaki tangga seraya membawa nampan berisi tiga gelas susu. "Nyonya, Anda sudah bangun," sapa Bi Marni ramah. "Ini saya antarkan susu hangat untuk Nyonya dan anak-anak.""Biar saya yang membawa masuk, Bi. Anak-anak masih tidur," jawab Moza sambil mengambil alih nampan tersebut."Pasti mereka tidur nyenyak karena udara di sini sedang dingin-dinginnya. Kalau Nyonya dan anak-anak ingin sarapan, semua sudah tersedia di meja makan bawah.""Terima kasih, Bi. Tolong panggilkan Nuri dan Wulan ke atas," pinta Moza. Bi Marni mengangguk patuh, lantas berbalik menuruni tangga.Moza kembali masuk ke kamar dan meletakkan nampan susu di atas meja. Ia berjalan perlahan menuju ranjang. Pertama, ia membangunkan Kayden karena bocah itu terlelap paling awal semalam. Moza mengelus pipi putranya itu d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status