Home / Romansa / Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa / Pertolongan Tanpa Syarat

Share

Pertolongan Tanpa Syarat

Author: Risca Amelia
last update Last Updated: 2026-02-04 22:54:39

Setelah Elbara mengucapkan kalimat yang memberikan harapan besar, rasa lega yang luar biasa membanjiri hati Reva. Tanpa sadar, ia mencondongkan tubuh dan meremas tangan Elbara yang masih berdiri di sampingnya.

"Benarkah, Pak? Anda sungguh-sungguh bersedia menjadi kuasa hukum saya?" mata Reva berbinar, menatap Elbara dengan penuh kesungguhan.

"Anda tidak akan berubah pikiran di tengah jalan karena tekanan politik, kan?"

Elbara tertegun. Ia menunduk, menatap tangan mungil Reva yang menggenggam er
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Fitri Si'cewe Cubby
bukanya apartemen elbara dkasih kvallen ya sbg kompensasi pembatalan pernikahan......
goodnovel comment avatar
Ikeu Kodila
satset banget dah elbara langsung bopong ke apart aja nih wkwk canda, ga kek rezon masih benci2 dan gengsi2an tarikulur aja terus sampe moza dan dastan punya anak lucu2 lagi hihi
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Sendirian Seumur Hidup

    Melihat Rezon yang masih bersandar lemah di sofa, Izora kemudian bertanya. “Anda belum makan?”"Belum. Tidak ada selera," jawab Rezon pendek. Suaranya sengaja dibuat parau, seolah-olah energinya terkuras habis hanya untuk menempuh perjalanan ke rumah ini.Izora mengembuskan napas panjang. Sebuah desahan pasrah yang mengandung sedikit kejengkelan tertahan."Kalau begitu, kita pindah ke ruang makan. Perut Anda tidak boleh kosong.”Izora melangkah mendekat, mengulurkan tangannya untuk membantu Rezon berdiri. Dengan sengaja, Rezon memberikan sedikit beban tubuhnya pada Izora, hingga gadis itu terpaksa menuntunnya ke ruang makan."Tunggu di sini saja," perintah Izora sembari mendudukkan Rezon.Rezon patuh. Ia duduk diam, tetapi matanya mengikuti setiap jengkal pergerakan Izora. Ia menjadi "pemindai" yang tak kenal lelahIzora yang menyadari tatapan itu hanya bisa membuang muka. Mencoba fokus pada kegiatannya di dapur kecil yang menyatu dengan ruang makan.Tanpa menoleh, tangan Izora sibuk

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Drama Cinta

    Langkah kaki Izora terasa berat saat ia menapaki teras rumahnya. Skorsing yang dijatuhkan oleh Wakil Kepala Rumah Sakit terasa bagai hantaman bagi karier yang ia bangun dengan tetesan keringat. Namun, yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa keberadaannya kini hanya menjadi beban bagi orang-orang di sekelilingnya.Tiga puluh menit dihabiskan Izora di bawah kucuran shower, berharap air dingin itu bisa meluruhkan rasa sesak di dadanya.Setelah merasa lebih tenang, Izora mengganti pakaiannya dengan kaos santai dan celana kain. Kemudian, ia melangkah ke depan, memilih membantu sang ibu di kios bunga."Kau pulang cepat hari ini, Zora?" Virda bertanya dengan dahi berkerut heran, saat putrinya memasuki kios.Izora mengambil gunting rumput, jemarinya mulai memotong dahan yang layu."Aku diskorsing, Ma. Pihak rumah sakit menganggap aku sebagai penyebab tangan Dokter Rezon terluka. Setelah ini, aku akan mencari pekerjaan di rumah sakit lain atau klinik kecil."Virda menghentikan kegiatann

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Lari Diam-diam

    Sesampainya di pelataran hotel, Elzen harus bekerja ekstra. Ia merangkul bahu Brielle, membawanya masuk melewati lobi dengan cepat, supaya tidak menarik perhatian petugas keamanan. Di dalam lift menuju lantai empat, Brielle semakin tidak terkontrol. Ia menggantungkan seluruh berat tubuhnya pada Elzen.Tiba di depan pintu kamar 402, Brielle sudah tidak sanggup berdiri sendiri, hingga Elzen harus menahannya dengan satu tangan. Mau tak mau, Elzen harus mencari sendiri kartu akses milik Brielle supaya bisa membuka pintu.Ketika tangan Elzen mulai merogoh ke dalam saku jaket, tanpa sengaja ia menyentuh bagian samping tubuh Brielle. Detik itu juga, jari-jari Elzen merasakan sesuatu yang berbeda di balik kain kaos yang longgar. Sesuatu yang kenyal dan lembut, jelas hanya dimiliki oleh seorang wanita.Elzen langsung terkesiap. Napasnya tertahan sesaat. Sentuhan itu terbilang singkat, tetapi cukup untuk mengonfirmasi segala spekulasi dalam kepalanya."Sstt... diamlah, Brion. Kita sudah samp

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Mabuk Berat

    "Tolong, jangan banyak bertanya," bisik Brielle dengan suara tertahan. Angin malam Lyon yang berhembus kencang membuat tubuhnya menggigil."Panggil saya kalau sudah ada taksi yang bersedia mengantar kita. Tetaplah berdiri seperti itu."Elzen terdiam. Punggungnya yang lebar menjadi perisai sempurna bagi Brielle. Meski posisinya membelakangi Brielle, insting Elzen tidak bisa dibohongi. Tanpa perlu menoleh secara mencolok, ia menggunakan pantulan bayangan pada etalase toko untuk memindai situasi.Matanya yang tajam menangkap siluet tiga pria berbadan tegap di seberang jalan.Mereka tidak terlihat seperti turis yang sedang mengagumi arsitektur Renaissance Lyon. Melainkan lebih mirip bodyguard yang sering disewa oleh keluarga Limantara.Seringai tipis muncul di sudut bibirnya. Elzen yakin perjalanan "Brion Wangsa" bukanlah sekadar mencari situs sejarah. Ada sesuatu yang jauh lebih besar dan berbahaya yang membayangi pemuda ini.Di kejauhan, sebuah sedan putih dengan tanda lampu “Taxi" men

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Istri Kelinci

    "Tentu saja saya pria!" seru Brielle mantap, meski hatinya menjerit jijik. "Baiklah, akan saya makan."Brielle memotong bagian kecil dari daging itu dengan gerakan kaku.Saat ia menyuapkannya ke mulut, teksturnya yang kenyal dan rasa rempah yang tajam membuatnya hampir tersedak. Buru-buru, ia menelannya dan langsung menyambar gelas anggur.Selesai makan, Brielle menyuapkan potongan besar Brioche ke dalam mulutnya. Rasa manis dari gula merah muda itu seketika menetralisir rasa aneh yang membuatnya mual.Elzen bersandar santai, memperhatikan ekspresi lega di wajah Brielle. Detik berikutnya, ia memajukan tubuh secara mendadak ke arah meja, membuat Brielle tersentak."M-mau apa, Kapten?" tanya Brielle gugup, tubuhnya sedikit menjauh."Panggil Elzen saja. Kita tidak sedang di dalam pesawat," ujar Elzen sambil menaikkan sebelah alisnya dengan gaya menantang. "Bukankah kita berteman mulai sekarang? Tidak perlu memakai bahasa yang formal.”Brielle hanya bisa mengerjapkan mata, bingung harus

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Tantangan Bagi Pria

    Mau tak mau, Brielle menyusuri trotoar batu di kawasan Presquîle bersama Elzen. Tangan kiri Elzen memegang ponsel, yang menampilkan peta digital ke sejumlah titik restoran tradisional."Jaraknya hanya sekitar tujuh ratus meter dari sini. Lebih baik kita berjalan kaki daripada terjebak macet,” pungkas Elzen sambil melirik Brielle.“Lagi pula, suasana malam di Lyon terlalu sayang untuk dilewatkan para pria seperti kita."Brielle hanya mengangguk canggung, lehernya mulai terasa pegal.Ketika ia sedang mencari cara untuk menjauhi Elzen, langkahnya mendadak terhenti. Tatapan Brielle tertuju pada sebuah kedai di sudut jalan yang dikerumuni orang. Aroma manis mentega, cokelat panas, dan adonan panggang yang harum tercium oleh hidungnya. Itu adalah Brioche aux Pralines—roti manis khas Lyon dengan kacang almond berlapis gula merah muda yang ikonik. Sebagai pencinta kuliner, Brielle tahu roti itu adalah camilan wajib di kota ini. "Saya ingin ke sana sebentar, Kapten."Tanpa menunggu persetuj

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status