로그인Shen Yuan mengelus dahinya, sakit kena empasan cawan dari kamar A Ruo saat dia tak sengaja membuka pintu dengan kekuatan berlebih.“Mesum, dasar pangeran cabul.” Ucapan A Ruo bergema terus di kepalanya.“Ck, padahal tadi dia yang ingin menodaiku, sekarang aku tak sengaja buka kamarnya malah marah. Sungguh perempuan tidak bisa ditebak. Untung saja aku belum menikah dengan perempuan.”Shen Yuan berjalan menyusuri lorong dengan wajah cemberut, tangannya masih sibuk mengusap benjolan kemerahan di dahinya yang berwarna putih pucat. Di ujung lorong, Bai Ju dan Han Qing yang sedang berjaga langsung menegakkan tubuh, tapi mata mereka membelalak kaget melihat tanda baru di wajah tuannya."Pangeran! Dahimu merah sekali! Apakah ada pembunuh bayaran yang menyusup? Senjata apa yang bisa menembus kekuatanmu?" Hang Qing langsung siaga dengan pedangnya."Cawan," jawab Shen Yuan singkat dengan penuh kekesalan."Cawan beracun?" Bai Ju penasaran."Perempuan itu melemparku kepalaku dengan cawan, sudah pu
“Pangeran, engkau tidak apa-apa?” tanya salah satunya.“Berjaga di depan kamarku, jangan sampai perempuan gila itu masuk, atau kalian aku jadikan patung es.”“Baik, Pangeran.” Keduanya langsung menutup pintu dan berdiri di depan kamar seperti patung singa.“Gila, benar-benar tidak bisa ditebak kelakuannya. Kenapa jadi aku yang ketakutan.” Shen Yuan duduk dengan tenang. Ia tarik napas dalam-dalam lalu embuskan perlahan, dan tentu saja benda-benda di sekitarnya jadi membeku.***Lian Ruo masuk ke kamar dan memukul kepalanya sendiri berkali-kali. “Aduuuh tubuh gadis ini benar-benar diluar prediksi ramalan cuacana. Bisa-bisanya gairah mudanya selalu membuatku kelewat batas. Bagaimana cara meredamnya? Mana sedang haid, hormon estrogenku rasanya naik berkali-kali lipat. Padahal tadi aku hanya bercanda kenapa hampir jadi serius. Kalaulah paman prajurit tidak datang sudah aku cium pangeran itu.” Lian Ruo menepuk-nepuk bibirnya sendiri.“Aku harus bisa mengendalikan perasaanku. Aku harus bisa
A Ruo bangun dari tidur panjangnya di kamar Shen Yuan. Ia memindai sekitarnya dan menemukan sang pangeran sedang duduk sendirian sambil menatapnya begitu dalam.“Malam tadi kita sudah melewatinya berdua,” ucap Shen Yuan sambil tersenyum.“Melewati apa?” tanya A Ruo tak paham.“Menurutmu apa yang dilakukan oleh lelaki dan perempuan dewasa di dalam satu kamar bersama. Kau tak lihat bajumu sudah berserakan di lantai.”A Ruo meraba tubuhnya dan menyingkap selimut. “Ah, masik pakai lapisan putihnya. Kau pasti mengada-ngada,” tunjuk A Ruo tak sopan.“Memang harus dibuka semua?” Lagi-lagi Shen Yuan tersenyum licik.A Ruo tak mau kalah, ia meraba-raba sekujur tubunya dan tak ada tanda-tanda telah melakukan hubungan orang dewasa seperti kata Shen Yuan.“Kalau iya, tak mungkin tak terasa sama sekali. Dia mencoba membohongi seorang dokter ternyata.” Gadis berpipi tembem itu membuka celananya. Ada noda darah di helaian bagian paling dalam, tapi pada saat yang sama ia merasakan sakit di pinggang y
Bagian 20Setelah tidak berhasil menyakiti Shen Yuan melalui sihirnya, A Yue kini semakin memperdalam ilmunya di altar bawah tanah yang pengap. Di sana ia menyembah beberapa iblis neraka yang patungnya sangat mengerikan. Ia bahkan melakukan perjanjian terkutuk demi mendapatkan Shen Yuan kembali menjadi miliknya.“Jika gadis itu memiliki keberuntungan garis takdir, maka aku memiliki keberuntungan panas neraka. Tidak hanya Shen Yuan, tapi Shen Yanzuo pun akan tunduk padaku.”Tubuh A Yue berpeluh sebesar biji jagung ketika melakukan ritual penyembahan iblis. Terakhir, ia menari dengan menggunakan dua pedang yang dialiri darah ayam hitam. Ia berputar-putar, melompat, tertawa, menangis, lalu sesuatu masuk ke dalam dadanya dan membuatnya berhenti sesaat dan tertawa lagi.“Terima kasih, para iblis, aku berjanji akan memberikan apa yang kalian inginkan secepatnya.”A Yue menyelesaikan tariannya. Ia keluar dari altar bawah tanah yang pengap kemudian naik ke altar doa untuk meletakkan pedang. S
“Katakan masa depan yang kau maksud itu seperti apa?” Shen Yuan semakin mendekat hingga A Ruo terdesak ke belakang. Hampir saja ia jatuh dan untung cepat di tangkap oleh Shen Yuan. Jarak mereka kini sangat dekat hanya sehelai baju saja.“Huuuh, Pangeran, dingin,” ucap A Ruo ketika napas Shen Yuan jatuh di dahinya. Pangeran Kedua melepaskan pelukannya.“Katakan!” tekan Shen Yuan lebih dalam.“Iya, iya, maksa sekali jadi orang, pantas tak ada perempuan yang mau sama dia.”“Apa kau bilang?” Shen Yuan menunjuk wajah A Ruo, sebuah pisau kecil dari es tercipta dan langsung menunjuk hidung gadis berpipi tembem itu.“Ooop, santai, aku ceritakan soal masa depan, turunkan pisaunya.” A Ruo menyentuh belati es itu dengan telunjuknya. “Aku jelaskan sambil berjalan.”Shen Yuan jalan lima langkah tapi A Ruo tak juga buka suara, ia berdehem dan Lian Ruo segera buka mulut.“Di masa depan, sudah tidak ada lagi gelar raja, ratu, pangeran, putri, kecuali di negara-negara yang menganut sistem kerajaan, se
Shen Yuan berhasil menguasai diri setelah cukup lama membiarkan perasaannya berada dalam kekosongan. Maksudnya ia tak mau meraskan apa-apa sama sekali, seperti marah, benci, sedih, sakit atau cinta. Namun, bibirnya mencebik.“Cih, tidak memikirkan A Ruo ternyata sepi juga. Padahal aku sudah biasa seperti ini.” Pangeran Kedua membuka lemari baju dan memilih jubah hitam dengan bulu serigala putih yang ia lingkarkan di lehernya.Saat keluar kamar Nyonya Ming berserta pelayan yang lain sudah menunggu dari tadi. Shen Yuan memerintahkan mereka membersihkan dengan teliti. Jarum yang ia buat sudah mencair sejak tadi dan meninggalkan genangan air yang cukup banyak.“A Ruo, buka pintunya!” Shen Yuan menggedor pintu.“Mana bisa, kan dikunci dari luar,” sahut A Ruo yang masih berbaring. Terdengar suara benda dibekukan lalu diledakkan dengan kekuatan es Pangeran Kedua. A Ruo yang kaget sampai berdiri di meja dan ketakutan begitu melihat Shen Yuan masuk ke kamarnya.“Jangan mendekat, aku kurus jang







