Partager

4. Debar Jantung

Auteur: Rosa Rasyidin
last update Date de publication: 2025-11-16 17:30:50

Udara di kamar masih terasa dingin ketika Shen Yuan melangkah keluar. Lian Ruo duduk terpaku di kursi, wajahnya memanas. Jemarinya masih merasakan sensasi saat kulit mereka bersentuhan.

“Ini bukan apa-apa. Lagi pula aku sudah sering membuka baju seorang laki-laki saat memeriksa pasien. Ayolah jantungku, yang tenang.” Tapi hati dan logikanya tak seiring sejalan.

Lian Ruo memukul pipinya pelan. “Tidak. Jangan bodoh! Dia bukan laki-laki biasa, dia itu pangeran psikopat.”

Ia berdiri dan mondar-mandir. “Aku seorang dokter!” katanya sambil menunjuk dirinya sendiri. “Aku di sini untuk menganalisa penyakit, bukan untuk mengurus emosional pasien, aku bukan psikolog.”

Namun, bayangan pangeran yang bersandar dekat telinganya membuat napasnya tercekat lagi.

“Kau menyentuhku tanpa sakit sama sekali.” Suara itu menggema di kepalanya.

“Oh tidak, ini buruk sekali, reputasiku sebagai dokter bisa hancur gara-gara perasaan.” Lian Ruo menutup wajahnya dengan dua tangan.

***

Shen Yuan berjalan di koridor istana, langkahnya menciptakan jejak salju tipis. Pengawal berjubah hitam di kanan kirinya menjaga jarak. Suhu tubuh pangeran terlalu berbahaya saat perasaannya tidak tenang.

Kedatangan pangeran pertama membuat napasnya bergejolak. Suara langkah Shen Yuan menggetarkan dinding di istana.

“Pangeran, kau harus meredam energi dingin. Pangeran Pertama akan—”

“Diam.”

Pengawal langsung menunduk. Lidahnya kelu karena dingin membuatnya beku.

Shen Yuan mengepalkan tangan. Ujung jarinya membeku, tapi ada sesuatu yang berbeda. Bagian itu tidak terasa mati. Ada sisa hangat dari sentuhan Lian Ruo tadi.

Wajah gadis itu terlintas lagi, tatapan angkuh, sifat keras kepala, tangannya yang kecil dan hangat di kulitnya. Lalu senyuman tipis yang tidak sengaja ia lihat ketika Lian Ruo membantahnya.

Kenapa kau tidak mati?

Kenapa tubuhmu tidak membeku saat kau menyentuhku?

Shen Yuan menyentuh bagian dadanya sendiri. Ia merasa aneh. Sesuatu yang pernah ia rasakan saat masa kanak-kanak, ketika kutukan itu belum mengambil alih seluruh hidupnya. Kehangatan.

“Kau benar-benar bukan manusia dunia ini,” gumamnya dan tak sadar telah tersenyum.

Pengawal menelan ludah saat pangeran tiba-tiba berhenti.

“Bersiap. Aku ingin tahu apa yang kakakku inginkan.”

Pangeran Pertama, Shen Yanzhuo, berdiri di aula bagian depan Istana Utara dengan energi panas dari tubuhnya. Lantai mulai menghitam, seperti terbakar dan hangus setiap kali ia melangkah.

“Kau terlambat, adikku,” kata Shen Yanzhuo.

Shen Yuan mendekat. Dua saudara kandung dari orang tua yang sama itu menjaga jarak karena kekuatan mereka yang saling berlawanan.

“Tidak ada perjanjian yang memaksaku tergesa-gesa hanya untuk menemuimu,” jawab Shen Yuan dingin.

Energi api dan es bertemu di udara, menciptakan suara meleleh seperti besi yang dilebur api.

Shen Yanzhuo tersenyum tipis. “Aku dengar tumbalmu kali ini istimewa.”

“Siapa yang memberitahumu?”

“Aku selalu tahu apa yang terjadi, adikku.” Pangeran Pertama mendekat sedikit, menunduk ke arah adik yang lebih pendek darinya. “Benarkah ada gadis yang tidak mati walau dekat denganmu?”

Shen Yuan diam dan itu sudah cukup sebagai jawaban.

Shen Yanzhuo menyeringai. “Kalau begitu aku harus melihatnya sendiri.”

Shen Yuan mengeluarkan energi dingin yang lebih tinggi. “Dia tidak untuk dilihat olehmu.”

“Lalu untuk apa dia kau tahan hidup-hidup?” Shen Yanzhuo menyipitkan mata. “Atau kau menyukainya, Shen Yuan?”

Shen Yuan menahan panas. Kakaknya diam-diam mengeluarkan energi yang lebih tinggi.

“Dia berguna untukku.”

“Begitu? Apa sebagai teman tidur juga? Karena kau ini payah urusan perempuan,” kata Yanzhuo, sambil mencemooh adiknya. “Atau dia perempuan seperti yang dikatakan peramal agung?”

Shen Yuan tidak berkutik. Yanzhuo tertawa terbahak-bahak.

“Kalau dia benar perempuan yang dilindungi oleh garis waktu, maka dia milikku, bukan milikmu.”

Api di tangan Pangeran Pertama menyala. Shen Yuan menepiskan lengan jubahnya, serpihan es di sekitar mereka seketika runtuh.

“Kau akan mati sebelum menyentuhnya.” Shen Yuan menghunuskan pedang perak yang telah ia lapisi es.

***

Lian Ruo duduk di dekat tungku kecil, sambil memanaskan tangan. Meski tidak ada gunanya, karena api kecil itu kalah dari hawa dingin istana. Suara dari luar membuatnya menoleh.

“Kenapa dia tidak kembali?” gumamnya gelisah sambil berdiri dan mondar-mandir.

“Apa Pangeran Pertama membunuhnya? Tidak mungkin. Tapi siapa yang tahu? Seperti di drama-drama, memperebutkan tahta.”

Lian Ruo berdiri dan berjalan ke arah pintu. Ia menekan dada di mana jantungnya masih berdegup kencang.

“Kenapa sentuhannya membuatku seperti orang bodoh,” keluhnya.

“Aku dokter! Aku tidak boleh goyah hanya karena kulit seorang pria menyentuh kulitku. Tidak! Kau hanya terkesan karena dia tampan. Itu saja.”

“Atau mungkin, kau terkesan karena dia menyentuhmu begitu lembut.” Dengan cepat Lian Ruo membantah dirinya sendiri.

Pintu paviliun diketuk dari luar, Lian Ruo tercekat. Pintu terbuka sendiri, angin dingin menyapu ruangan.

Shen Yuan masuk. Namun, kali ini berbeda. Hawa dingin seakan lebih lembut dan tatapan Pangeran Kedua jauh lebih tegas. Juga tubuhnya sedikit lebih hangat.

Lian Ruo berdiri. “Kau sudah kembali?”

Tanpa menjawab, Shen Yuan berjalan mendekat. Langkahnya perlahan tapi pasti, membuat udara di sekitar mereka kembali terasa dingin.

“Kau mengkhawatirkanku?”

“Siapa bilang?” Lian Ruo memalingkan wajah, pipinya memanas.

Shen Yuan mendekat hingga jarak mereka hanya beberapa jengkal saja.

“Aku bisa mendengarnya dari napasmu.”

Ia mengangkat tangan, menyentuh sisi wajah Lian Ruo tanpa sarung tangan. Lian Ruo spontan mundur, tapi pangeran menangkap pergelangan tangannya.

“Kau memeriksaku tadi,” kata Shen Yuan pelan. “Sekarang giliran aku.”

“A-Apa?”

“Aku ingin tahu kenapa tubuhku mencari sentuhanmu.”

Lian Ruo membeku seketika. Shen Yuan menariknya lebih dekat, hingga tubuh mereka hampir bersentuhan. Mata abu-abu di balik topeng itu menatap gadis di depannya lebih lekat.

“Aku ingin tahu, apakah aku ini payah soal perempuan? Dan mengapa kau bisa mendekatiku dengan mudah. Nyonya Ming saja yang mengasuhku sejak kecil sangat menjaga jarak dariku.”

Lian Ruo merasa lututnya melemas ditatap dan ditanya seperti itu.

“Pangeran, aku harus menjaga etika sebagai dokter.”

“Kau gemetar?” Shen Yuan memotong. “Jawab, menurutmu aku payah soal perempuan?”

“Tidak tahu, ini menyangkut perasaan dan bagian emosional, tapi secara logika, jika kau terus menumbalkan perempuan agar kau tetap hidup, maka tidak akan ada satu pun perempuan yang tahan berada di sisimu.”

“Tapi kau bisa, bukan?” Pangeran semakin menunduk, hidungnya nyaris menyentuh kening Lian Ruo.

“Tubuhmu hangat, Lian Ruo.”

Jantung Lian Ruo berdentam begitu keras, ia yakin pangeran bisa mendengarnya.

“Pangeran, aku, aku, justru aku tidak merasakan apa-apa.”

Shen Yuan tersenyum miring, tatapan yang menggoda tapi penuh bahaya.

“Kalau begitu.” Pangeran Kedua mendekat sedikit lagi, “kenapa kau tidak melepaskan tanganku?”

Lian Ruo baru sadar ia yang memegang tangan pangeran tanpa sadar dan begitu erat. Ia menjerit dan segera melepaskannya.

“Kau tidak ahli dalam berbohong.” Shen Yuan menjauhi Lian Ruo.

Pada saat yang sama, hawa panas masuk lagi ke dalam kamar Pangeran Kedua. Lian Ruo sampai sembunyi di balik tirai.

“Shen Yuan, keluar! Aku ingin melihat gadis itu.”

Lian Ruo ketakutan. Shen Yanzhuo Pangeran Api, telah tiba. Bencana akan terjadi di Istana Utara.

Pangeran Pertama selalu mendapatkan apa yang ia inginkan dan Pangeran Kedua tidak akan mengizinkan siapapun membawa Lian Ruo.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   183. Dua Kisah yang Berbeda

    Kehidupan Shen Yuan perlahan mulai menemukan jalannya, di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan. Berkat keahlian masa lalunya, ia mendapatkan pekerjaan baru yang sangat bergengsi.Lelaki itu kini bekerja sebagai pengamat dan penilai benda antik kerajaan zaman dahulu sebelum barang-barang bernilai fantastis itu dilepas ke pasar lelang.Pekerjaan itu membuatnya sering berinteraksi dengan kalangan kelas atas, mulai dari kolektor seni, seniman ternama, hingga para artis besar.Tak berhenti sampai di situ saja, reputasi Shen Yuan yang sangat akurat dalam menilai sejarah membuatnya dilirik oleh industri hiburan. Ia dipekerjakan sebagai konsultan pengamat sejarah khusus untuk produksi drama Cina berlatar kolosal yang akan segera diluncurkan.Tugasnya adalah memastikan set lokasi, kostum, dan tata krama para aktor sesuai dengan dinasti yang diceritakan.Setiap kali Shen Yuan turun ke lokasi syuting, penampilannya selalu mencuri perhatian. Dengan postur tegap, dan rambut putih comma hair, ia jus

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   182. Meratap

    Ye Wanqing tampak gelisah sembari menarik-narik ujung pakaiannya. Malam itu, ia tidak memakai seragam setelan jas hitam andalannya. Gadis itu berdandan sangat manis dalam balutan gaun hitam panjang sutra yang harganya cukup membuat kaum mendang-mending menjerit.Meski modelnya terlihat anggun dari depan, gaun itu memiliki desain backless yang memamerkan lekuk punggungnya yang tegap dan berotot indah.Tentu saja, ia dipaksa menggunakan gaun itu oleh Yan Muchen. Tujuan mereka malam itu adalah menghadiri jamuan makan malam tertutup di sebuah restoran VVIP mewah yang pemandangannya menghadap langsung ke arah pantai dengan deburan ombak.‘Malam-malam lihat deburan ombak, pakai baju terbuka gini, masuk angin yang ada, tanggung jawab nanti kalau aku kentut terus.’ Ye Wanqing mengomel dalam hatinya saja.Sambil melangkah di belakang Muchen, Wanqing menghela napas panjang. Sebenarnya, ia sangat ingin mengambil jatah libur sehari saja.Kalau dipikir-pikir sampai kepikiran dan OVT, pekerjaannya

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   181. Barang Palsu

    Waktu berlalu dengan sangat cepat. Satu tahun lebih telah berjalan sejak insiden ledakan di pertambangan. Selama itu juga, Shen Yuan membuktikan dirinya mampu bertahan hidup di zaman modern dengan bekerja keras sebagai pekerja lapangan di bawah naungan Grup Yan.Setiap sebulan sekali di antara jadwalnya yang padat, Xu Wen selalu menyempatkan diri datang menjenguknya ke pertambangan. Pertemuan bulanan itu menjadi momen bagi keduanya untuk melepas rindu.Kini, mega-proyek ekstraksi mineral di Desa Beihan akhirnya dinyatakan selesai dengan sukses. Sesuai prosedur operasional, kawasan tambang itu ditutup secara resmi oleh Grup Yan.Sambil menunggu pembukaan area pertambangan baru, Xu Wen akhirnya membawa Shen Yuan pulang ke kota. Berbekal KTP dan identitas resmi yang sudah diurus oleh Yan Muchen setahun yang lalu, Shen Yuan kini bisa melenggang bebas di tengah gemerlapnya peradaban modern tanpa perlu sembunyi-sembunyi lagi.Puncak dari kepulangan mereka ke kota adalah ketika Xu Wen nekat

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   180. Mengusahakan

    Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, sudah tiga bulan Xu Wen bertugas sebagai dokter di proyek pertambangan Desa Beihan.Panggilan tugas yang sebenarnya tak bisa lagi diabaikan akhirnya datang. Pihak rumah sakit di kota dan kampus tempatnya mengajar sudah memintanya untuk segera kembali beraktivitas.Dengan berat hati Xu Wen terpaksa mengemas barang-barangnya. Yang paling membuatnya sedih adalah kenyataan bahwa ia belum bisa membawa Shen Yuan ikut pulang bersamanya ke kota.Lelaki dari masa lalu itu tidak memiliki tanda pengenal, KTP, apalagi identitas kependudukan yang sah. Di zaman modern yang serba terdata ini, membawa masuk manusia tanpa identitas ke tengah kota besar akan memicu banyak masalah hukum."Aku janji akan segera mengusahakan pembuatan tanda pengenal dan dokumen kependudukan untukmu, aku akan meminta tolong pada Pak CEO sesampainya di sana," ucap Xu Wen sambil menggenggam kedua tangan Shen Yuan di depan asrama pekerja. Hatinya berat untuk berpisah."Untuk sementara

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   179. Masuk Perangkap

    Kurang lebih satu bulan telah berlalu sejak proyek raksasa Grup Yan berjalan di Desa Beihan. Selama itu pula, Yan Muchen selaku bos besar memilih untuk tetap tinggal di pangkalan untuk memantau perkembangan secara langsung.Mau tidak mau Pangeran Salju harus menyambung hidup di zaman modern. Ia akhirnya ikut bekerja sebagai petugas tambang bagian lapangan. Shen Yuan sama sekali tidak keberatan dengan pekerjaan kasar itu. Dengan kekuatan dan stamina tanpa batas yang ia miliki, urusan mengeruk batu dan mengangkat material berat terasa begitu mudah baginya.Namun, timbul masalah baru. Volume kerjanya yang berkali-kali lipat dari para pekerja lain, membuat mereka merasa tersaingi dan iri dengki. Beberapa pekerja senior yang merasa posisinya terancam mulai mencari gara-gara.Awalnya mereka mencoba mencelakainya secara diam-diam. Seperti menjatuhkan balok besi atau menyenggolnya di dekat tebing, tetapi usaha mereka selalu saja gagal. Mereka selalu kalah karena tidak memiliki kekuatan seper

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   178. Tangisan Putus Asa

    Setelah urusan potong rambut selesai dan penampilan Shen Yuan berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sangat tampan bak selebriti, suasana di kamp medis terasa jauh lebih terkendali.Berhubung tidak banyak pekerjaan yang menguras tenaga, paling-paling para pekerja hanya datang untuk memeriksa tensi darah saat jam istirahat, Xu Wen memutuskan untuk mengajak Shen Yuan jalan-jalan keluar mencari udara segar.Mereka berjalan bersisian menyusuri area pangkalan tambang yang diterangi deretan lampu sorot berwarna kuning. Meski tempat itu kini dipenuhi ekskavator, tenda, dan rangka besi modern, mata Shen Yuan masih bisa mengenali wilayah dan tata letak tempat tersebut dengan sangat baik."Di sebelah sana." Shen Yuan menunjuk sebuah gundukan bersalju di mana beberapa mesin bor sedang dipanaskan. "Dulu adalah taman bunga es Istana Utara. Tempat di mana aku sering membuat karya seni dengan tanganku.”Xu Wen tertawa mendengarnya. "Ingatanmu tajam sekali untuk ukuran orang yang baru tidur pu

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   11. Sandiwara

    "Pulanglah, A Yue," ucap Shen Yuan datar dan tanpa emosi. "Kehadiranmu tidak lagi diperlukan di sini." A Yue menganga, napasnya tercekat di tenggorokan. "Apa maksudmu, Pangera? Hari ini adalah jadwal ritual. Jika aku tidak menyegel hawa dingin, darahmu akan membeku sebelum malam tiba. Ini sudah

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   7. Dewa Waktu

    A Ruo menutup pintu kamarnya. Tempat tinggalnya kini sudah lebih baik di paviliun utara daripada saat pertama kali ia datang, juga kamarnya tidak terlalu jauh dari kediaman Shen Yuan. Api di tungku masih menyala walau kecil, tapi entah mengapa malam itu dinginnya terasa lebih menusuk dari biasanya.

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   6. Peramal Agung

    Paviliun Utara mendadak terasa jauh lebih panas sejak Pangeran Api Yanzhuo melangkah masuk. Udara yang biasanya dingin dan kaku di bawah kekuasaan Shen Yuan kini berbeda. Seolah dua musim saling menantang di ruang yang sama dan saling tarik menarik antara satu dan yang lainnya. “Menarik,” ujar Yan

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   5. Romansa Mendalam

    Angin masuk dari celah jendela, meniup rambut Lian Ruo yang panjang dan halus. Sementara itu, Shen Yuan berdiri sangat dekat, lebih dekat dari jarak yang seharusnya ada antara pangeran dan gadis biasa.“Aku ingin melihat gadismu!” Suara Pangeran Pertama menggema dari luar paviliun.“Siapa dia? Past

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status