Share

5. Romansa Mendalam

Author: Rosa Rasyidin
last update Last Updated: 2025-11-16 17:31:21

Angin masuk dari celah jendela, meniup rambut Lian Ruo yang panjang dan halus. Sementara itu, Shen Yuan berdiri sangat dekat, lebih dekat dari jarak yang seharusnya ada antara pangeran dan gadis biasa.

“Aku ingin melihat gadismu!” Suara Pangeran Pertama menggema dari luar paviliun.

“Siapa dia? Pasti lebih menyeramkan darimu!” Gemetar Lian Ruo dibuatnya.

Shen Yuan menggeser tubuhnya, melindungi Lian Ruo dengan posisinya yang lebih tinggi.

“Dia tidak akan menyentuhmu sebelum melangkahi mayatku.” Kalimat yang penuh keberanian dan lebih dari sekadar janji.

Lian Ruo tidak memikirkan itu. Yang memenuhi kepalanya justru sesuatu yang sangat bodoh.

Jika pangeran dekat dengan perempuan, mereka mati. Jika mereka menatapnya terlalu lama, mereka beku. Jika mereka menyentuh bibirnya … mereka berhenti bernapas.

Itu yang dikatakan Nyonya Ming dan dipercaya seluruh istana.

‘Tapi dari tadi aku masih hidup.’ Ia memandangi bibir pangeran yang pucat.

Rasa ingin tahu muncul dan tumbuh menjadi hal paling gila yang pernah ia pikirkan.

‘Benarkah perempuan akan mati kalau mencium lelaki ini?’ Apalagi ia berada dalam tubuh gadis muda yang masih penuh gejolak.

Shen Yuan menunduk sedikit, menatapnya dari jarak sangat dekat. “Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Aku tidak memikirkan apa-apa!” Lian Ruo memalingkan wajah dengan cepat.

“Aku hanya memikirkan bagaimana menyelamatkan diri dari Pangeran Pertama.”

“Benarkah? Lalu kenapa jantungmu berdetak seperti genderang perang.” Shen Yuan tersenyum.

“Karena aku kedinginan!” jawab gadis itu.

“Bohong, pipimu terasa panas. Api dari kakak pertama turut membakar jantungmu?” Shen Yuan suka sekali menggoda Lian Ruo.

Lian Ruo mengusap pipinya. Memang panas, tapi bukan karena demam melainkan gelora yang terus membara.

Suara Pangeran Pertama semakin dekat. “Shen Yuan, kau dengar aku?”

Shen Yuan menoleh. “Dia tidak akan menemukanmu,” gumamnya.

“Aku juga tidak mau dipertemukan dengannya,” balas Lian Ruo cepat.

“Karena itu tetaplah di sisiku.” Shen Yuan mengangkat dagu gadis itu, dan ia merasakan lagi kehangatan yang sama sekaligus kesalahan besar.

Karena jarak itu membuat Lian Ruo menyadari bahwa pangeran benar-benar tampan walau tetap misterius.

Ia menatap bibir tipis yang tidak tertutup topeng perak itu dan beralih ke mata abu-abu yang hanya memantulkan bayang dirinya.

“Pangeran, apa benar tidak ada perempuan yang berani menyentuhmu?” tanya Lian Ruo dengan berani.

Shen Yuan tak bereaksi. Ia hanya menatap gadis dalam lindungannya.

“Itu yang dikatakan Nyonya Ming,” lanjut Lian Ruo.

Shen Yuan mengerutkan alis. “Kau ingin mencobanya? Siapa tahu bajumu akan aku gantung di sana.”

Pertanyaan itu membuat jantung Lian Ruo melompat. Ia bisa saja mundur, atau menyangkal, tapi ia justru tertantang sebagai dokter modern dan terbawa perasaan sebagai gadis belia.

“Aku hanya ingin tahu,” bisik Lian Ruo.

Shen Yuan mendekat hingga ikatan tirai terlepas dan menutupi tubuh mereka.

“Mereka mati karena tubuhku menyerap energi mereka,” jawabnya pelan. “Kutukan mengambil apa pun yang menyentuhku terlalu lama.”

“Kecuali aku, seperti katamu.”

“Belum tentu.”

Suara Pangeran Pertama terdengar lagi. “Hei, aku tahu kalian di dalam, keluar atau aku bakar istana utara!”

Lian Ruo menutup mata. “Kalau begitu, biarkan aku membuktikannya.”

Sebelum akalnya kembali sehat, ia berjinjit dan mencium bibir pangeran. Sentuhan itu hanya sekejap saja tapi terasa lembut dan dingin. Namun, dampaknya seperti panas yang merayap ke seluruh tubuh.

Bibir Shen Yuan begitu dingin hingga lidahnya nyaris beku. Tetapi lelaki di depannya justru perlahan memanas.

Lian Ruo tersentak saat pangeran meraih pinggangnya secara spontan. Seolah tubuh Shen Yuan sendiri mencari kehangatan yang tiba-tiba muncul dari gadis di hadapannya.

Beberapa detik yang terasa panjang. Lian Ruo sadar ia melakukan hal paling bodoh sepanjang hidupnya. Ia menahan napas, menunggu tubuhnya kesakitan, darahnya membeku, atau jantungnya berhenti.

Namun, hal itu tidak terjadi, jangankan nyeri, yang ia rasakan justru sensasi yang tidak bisa ia abaikan dan detak jantung dua manusia yang nyaris bersatu.

Shen Yuan menarik wajahnya sedikit, napasnya terasa panas untuk pertama kali dalam hidupnya sejak terkena kutukan.

“Lian Ruo, apa yang baru saja kau lakukan?” Suaranya serak.

“Kelinci percobaan medis.”

“Kau menganggapku binatang yang bisa dicoba?” Pangeran menyentuh bibirnya sendiri, seolah memastikan ia tidak bermimpi. “Kau menciumku dengan penuh kesadaran.”

“Tidak! Aku hanya—“ Lian Ruo mencari alasan.

“Kau menciumku,” ulangnya lagi.

“Aku, ingin tahu apakah aku akan mati atau tidak.” Dokter modern itu menutupi wajahnya.

“Dan apa kesimpulanmu?”

“Aku, masih hidup.” Lian Ruo membuka jari-jari yang menutupi wajahnya.

Di balik topeng peraknya, mata pangeran memancarkan sesuatu yang tidak dingin. Bukan marah, tapi hanya sedikit terkejut. Juga sesuatu yang merayap dengan cepat ke dalam dadanya serta jauh lebih berbahaya.

“Kau satu-satunya yang hidup. Satu-satunya.” katanya pelan sekali dengan embusan napas dingin.

Suara Pangeran Pertama terdengar sangat dekat. “Shen Yuan! Aku masuk!”

Pangeran Kedua mendekatkan wajahnya ke telinga Lian Ruo. “Mulai sekarang, jangan menciumku sembarangan apalagi tanpa izin, mengerti?”

“Siapa bilang aku mau mengulanginya?” Lian Ruo mencemooh Pangeran Kedua.

“Benarkah? Tapi raut wajahmu berkata seolah kau masih menginginkannya.” Tergoda sekali tangan Shen Yuan untuk membelai bibir Lian Ruo.

Pintu paviliun terbuka. Lian Ruo terlonjak. Shen Yanzhuo masuk dengan langkah berat. Energi apinya mencairkan es tipis di lantai.

Mata merahnya langsung tertuju pada gadis yang berdiri di samping Shen Yuan.

“Jadi ini dia,” ucapnya dengan angkuh.

Shen Yuan melangkah ke depan dan melindungi Lian Ruo. “Jauhkan tanganmu darinya.”

“Kenapa? Kau takut aku juga menumbalkannya?” Shen Yanzhuo tersenyum.

“Dia bukan tumbal.” Shen Yuan menghela napas, es tipis di lantai kemudian terbentuk lagi. “Kau tidak boleh menyentuhnya.”

Arah tatapan Shen Yanzhuo turun ke bibir Lian Ruo yang berwarna kemerahan serta sedikit berkilau dengan lapisan es. Lalu beralih ke bibir Shen Yuan yang juga mengalami hal yang sama.

Pangeran Pertama terdiam, lalu tertawa. “Oh, jadi itu alasanmu?”

Shen Yuan menyipitkan mata. “Diam!”

“Ternyata kutukanmu tidak membunuhnya.” Pangeran Api mendekat satu langkah. “Itu artinya gadis ini lebih berharga dari yang kita kira.”

Shen Yanzhuo mengangkat tangan, sebuah api kecil tercipta di ujung jarinya.

Dalam sekejap, telinga Lian Ruo terasa panas, dan ia merasa hampir terbakar. Gadis itu menjerit sekuatnya. Shen Yuan langsung menariknya ke pelukan dan menyelimuti Lian Ruo dengan energi dinginnya.

“Berani kau menyentuhnya sekali lagi, maka aku benar-benar mengobarkan perlawanan secara terbuka denganmu.”

Dua pangeran itu saling menatap. Energi Api dan es di udara saling bertabrakan, menimbulkan getaran kuat.

Lian Ruo terjebak di tengah dua kekuatan besar. Satu ingin memilikinya, satu ingin menghabisinya.

‘Memang lebih baik aku mati saja setelah dicium tadi dan kembali ke masa depan.’ Tak ada pilihan, Lian Ruo tak bisa mundur.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   26. Pertanda

    Shen Yuan mengelus dahinya, sakit kena empasan cawan dari kamar A Ruo saat dia tak sengaja membuka pintu dengan kekuatan berlebih.“Mesum, dasar pangeran cabul.” Ucapan A Ruo bergema terus di kepalanya.“Ck, padahal tadi dia yang ingin menodaiku, sekarang aku tak sengaja buka kamarnya malah marah. Sungguh perempuan tidak bisa ditebak. Untung saja aku belum menikah dengan perempuan.”Shen Yuan berjalan menyusuri lorong dengan wajah cemberut, tangannya masih sibuk mengusap benjolan kemerahan di dahinya yang berwarna putih pucat. Di ujung lorong, Bai Ju dan Han Qing yang sedang berjaga langsung menegakkan tubuh, tapi mata mereka membelalak kaget melihat tanda baru di wajah tuannya."Pangeran! Dahimu merah sekali! Apakah ada pembunuh bayaran yang menyusup? Senjata apa yang bisa menembus kekuatanmu?" Hang Qing langsung siaga dengan pedangnya."Cawan," jawab Shen Yuan singkat dengan penuh kekesalan."Cawan beracun?" Bai Ju penasaran."Perempuan itu melemparku kepalaku dengan cawan, sudah pu

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   25. Bukan Obat Kuat

    “Pangeran, engkau tidak apa-apa?” tanya salah satunya.“Berjaga di depan kamarku, jangan sampai perempuan gila itu masuk, atau kalian aku jadikan patung es.”“Baik, Pangeran.” Keduanya langsung menutup pintu dan berdiri di depan kamar seperti patung singa.“Gila, benar-benar tidak bisa ditebak kelakuannya. Kenapa jadi aku yang ketakutan.” Shen Yuan duduk dengan tenang. Ia tarik napas dalam-dalam lalu embuskan perlahan, dan tentu saja benda-benda di sekitarnya jadi membeku.***Lian Ruo masuk ke kamar dan memukul kepalanya sendiri berkali-kali. “Aduuuh tubuh gadis ini benar-benar diluar prediksi ramalan cuacana. Bisa-bisanya gairah mudanya selalu membuatku kelewat batas. Bagaimana cara meredamnya? Mana sedang haid, hormon estrogenku rasanya naik berkali-kali lipat. Padahal tadi aku hanya bercanda kenapa hampir jadi serius. Kalaulah paman prajurit tidak datang sudah aku cium pangeran itu.” Lian Ruo menepuk-nepuk bibirnya sendiri.“Aku harus bisa mengendalikan perasaanku. Aku harus bisa

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   24. Kalah Strategi

    A Ruo bangun dari tidur panjangnya di kamar Shen Yuan. Ia memindai sekitarnya dan menemukan sang pangeran sedang duduk sendirian sambil menatapnya begitu dalam.“Malam tadi kita sudah melewatinya berdua,” ucap Shen Yuan sambil tersenyum.“Melewati apa?” tanya A Ruo tak paham.“Menurutmu apa yang dilakukan oleh lelaki dan perempuan dewasa di dalam satu kamar bersama. Kau tak lihat bajumu sudah berserakan di lantai.”A Ruo meraba tubuhnya dan menyingkap selimut. “Ah, masik pakai lapisan putihnya. Kau pasti mengada-ngada,” tunjuk A Ruo tak sopan.“Memang harus dibuka semua?” Lagi-lagi Shen Yuan tersenyum licik.A Ruo tak mau kalah, ia meraba-raba sekujur tubunya dan tak ada tanda-tanda telah melakukan hubungan orang dewasa seperti kata Shen Yuan.“Kalau iya, tak mungkin tak terasa sama sekali. Dia mencoba membohongi seorang dokter ternyata.” Gadis berpipi tembem itu membuka celananya. Ada noda darah di helaian bagian paling dalam, tapi pada saat yang sama ia merasakan sakit di pinggang y

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   23. Ambisi dan Pengorbanan

    Bagian 20Setelah tidak berhasil menyakiti Shen Yuan melalui sihirnya, A Yue kini semakin memperdalam ilmunya di altar bawah tanah yang pengap. Di sana ia menyembah beberapa iblis neraka yang patungnya sangat mengerikan. Ia bahkan melakukan perjanjian terkutuk demi mendapatkan Shen Yuan kembali menjadi miliknya.“Jika gadis itu memiliki keberuntungan garis takdir, maka aku memiliki keberuntungan panas neraka. Tidak hanya Shen Yuan, tapi Shen Yanzuo pun akan tunduk padaku.”Tubuh A Yue berpeluh sebesar biji jagung ketika melakukan ritual penyembahan iblis. Terakhir, ia menari dengan menggunakan dua pedang yang dialiri darah ayam hitam. Ia berputar-putar, melompat, tertawa, menangis, lalu sesuatu masuk ke dalam dadanya dan membuatnya berhenti sesaat dan tertawa lagi.“Terima kasih, para iblis, aku berjanji akan memberikan apa yang kalian inginkan secepatnya.”A Yue menyelesaikan tariannya. Ia keluar dari altar bawah tanah yang pengap kemudian naik ke altar doa untuk meletakkan pedang. S

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   22. Masa Depan

    “Katakan masa depan yang kau maksud itu seperti apa?” Shen Yuan semakin mendekat hingga A Ruo terdesak ke belakang. Hampir saja ia jatuh dan untung cepat di tangkap oleh Shen Yuan. Jarak mereka kini sangat dekat hanya sehelai baju saja.“Huuuh, Pangeran, dingin,” ucap A Ruo ketika napas Shen Yuan jatuh di dahinya. Pangeran Kedua melepaskan pelukannya.“Katakan!” tekan Shen Yuan lebih dalam.“Iya, iya, maksa sekali jadi orang, pantas tak ada perempuan yang mau sama dia.”“Apa kau bilang?” Shen Yuan menunjuk wajah A Ruo, sebuah pisau kecil dari es tercipta dan langsung menunjuk hidung gadis berpipi tembem itu.“Ooop, santai, aku ceritakan soal masa depan, turunkan pisaunya.” A Ruo menyentuh belati es itu dengan telunjuknya. “Aku jelaskan sambil berjalan.”Shen Yuan jalan lima langkah tapi A Ruo tak juga buka suara, ia berdehem dan Lian Ruo segera buka mulut.“Di masa depan, sudah tidak ada lagi gelar raja, ratu, pangeran, putri, kecuali di negara-negara yang menganut sistem kerajaan, se

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   21. Api Abadi

    Shen Yuan berhasil menguasai diri setelah cukup lama membiarkan perasaannya berada dalam kekosongan. Maksudnya ia tak mau meraskan apa-apa sama sekali, seperti marah, benci, sedih, sakit atau cinta. Namun, bibirnya mencebik.“Cih, tidak memikirkan A Ruo ternyata sepi juga. Padahal aku sudah biasa seperti ini.” Pangeran Kedua membuka lemari baju dan memilih jubah hitam dengan bulu serigala putih yang ia lingkarkan di lehernya.Saat keluar kamar Nyonya Ming berserta pelayan yang lain sudah menunggu dari tadi. Shen Yuan memerintahkan mereka membersihkan dengan teliti. Jarum yang ia buat sudah mencair sejak tadi dan meninggalkan genangan air yang cukup banyak.“A Ruo, buka pintunya!” Shen Yuan menggedor pintu.“Mana bisa, kan dikunci dari luar,” sahut A Ruo yang masih berbaring. Terdengar suara benda dibekukan lalu diledakkan dengan kekuatan es Pangeran Kedua. A Ruo yang kaget sampai berdiri di meja dan ketakutan begitu melihat Shen Yuan masuk ke kamarnya.“Jangan mendekat, aku kurus jang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status