Share

3. Dingin dan Hangat

Penulis: Rosa Rasyidin
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-16 17:30:15

Paviliun utara sunyi ketika Lian Ruo melangkah masuk. Salju turun perlahan, menempel di rambutnya dan mencair begitu menyentuh kulit. Udara terasa menusuk tulang, tapi entah kenapa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Ia mencoba menenangkan diri, walau terperangkap dalam tubuh gadis enam belas tahun. Ia harus menganalisis tubuh Pangeran Kedua, mencari tahu pola penyakit dingin itu.

Sebagai seorang yang hidup di zaman modern ia tidak mempercayai hal-hal semacam kutukan. Baginya semua bisa diobati kecuali kematian dan ia harus melakukannya sebelum pangeran memutuskan membunuhnya.

“Pangeran Kedua menunggumu,” ucap Nyonya Ming ketakutan. Sejak tahu Lian Ruo tidak tewas seperti gadis lainnya, wanita tua itu menyangkanya sebagai siluman.

“Baik. Aku siap.” Lian Ruo menarik napas panjang. Keduanya melangkah dan mereka sama-sama gugup serta ketakutan.

Pintu kamar terbuka. Angin dingin langsung menerpa wajah Lian Ruo. Tubuhnya gemetar hebat.

Kamar pribadi itu tampak seperti dibuat dari es abadi. Dinding-dindingnya berkilauan, lantai berlapis kristal putih, dan di tengah ruangan, Shen Yuan duduk di kursi panjang dari bulu serigala salju.

Jubah putihnya menjuntai dan ia tetap menggunakan topeng. Di hadapannya terpampang baju gadis-gadis yang telah menjadi korbannya.

Shen Yuan menoleh, tatapannya menusuk. “Kau datang juga.”

“Ya,” jawab Lian Ruo singkat.

Pangeran Kedua bangkit perlahan. Setiap langkahnya menghantarkan kebekuan yang membuat lilin-lilin di ruangan mati.

“Duduk.”

Lian Ruo menelan ludah dan duduk, tangannya dingin karena pria di depannya.

Pangeran menarik sarung tangan peraknya dan meletakkannya di meja. Jari-jari pucatnya terlihat memancarkan kabut tipis.

“Jika kau benar-benar dokter seperti katamu, buktikan padaku,” bisikan pangeran dingin sekali.

‘Sialnya aku lupa dengan peralatan medisku di masa depan. Di sini hanya ada jarum, untung kakekku ahli akupuntur dan herbalis, jadi aku pernah belajar walau tak sepintar beliau. Aku harap ilmu ini bisa menyelamatkanku,’ ucap Lian Ruo dalam hati.

“Periksa tubuhku.” Perkataan Shen Yuan membuat Lian Ruo terperanjat. Jantung Lian Ruo berdegup kencang.

“Tentu saja, kalau kau mati dalam prosesnya,” lanjut Shen Yuan sambil mendekat, “itu artinya kau bukan apa-apa selain tumbal yang gagal.”

“Terima kasih atas ancamannya,” gumam Lian Ruo.

Shen Yuan duduk di depannya, jarak mereka begitu dekat hingga kabut napasnya menyentuh pipi Lian Ruo.

“Aku akan mulai.”

“Silakan.”

Tangan Lian Ruo terulur penuh keraguan. Ia menyentuh pergelangan tangan pangeran terlebih dahulu, untuk memeriksa denyut nadi. Namun, rasanya seperti mencelupkan tangan ke danau beku. Napasnya tercekat.

“Dingin sekali,” katanya terbata.

Shen Yuan mengangkat dagunya sedikit. “Kau bisa mendekat sedikit. Atau kau ingin memeriksa dari jauh?”

“Aku, akan mendekat.” Ia menggeser tubuh, jarak mereka hanya sejengkal.

Permukaan kulit Shen Yuan keras serta dingin, tapi di bawahnya ada denyut yang berjuang melawan sesuatu yang tidak terlihat.

“Denyut nadimu, lambat sekali, seharusnya tekanan darahmu rendah dan kau sudah dirawat secara intensif,” bisik Lian Ruo.

“Aku tidak mengerti apa maksudmu, tapi sebuah kutukan membuat darahku mengkristal setiap malam.”

“Apa kau merasakan nyeri di dada kiri saat tidur?” tanya Lian Ruo.

Shen Yuan terpaku. “Bagaimana kau tahu?”

“Ada tekanan di bahumu?”

“Ya.”

“Lalu semacam rasa menusuk di tulang belakang bagian bawah?”

“Kau benar-benar seorang dokter ternyata.”

“Aku memiliki ilmu pengetahuan tentang tubuh manusia. Aku pernah mempelajarinya. Sedikit saja.” Lian Ruo tidak mau kalau pangeran sampai tahu ia datang dari masa depan. Tempat yang ia tinggali sekarang sangat berbahaya.

“Sedikit? Kau berbicara seperti tabib agung.” Tatapan mata pangeran kini tidak sinis lagi.

“Terima kasih pujiannya, aku sudah sering mendengar itu.” Di masa depan, ia merupakan dokter ahli di bidangnya.

Shen Yuan menatapnya lama, seolah membaca niat di hati gadis itu.

“Aku ingin memeriksa punggung dan perutmu, ” kata Lian Ruo. “Untuk mengetahui pusat dinginnya. Jika tidak keberatan kau harus membuka jubah bagian atas.”

Pangeran terdiam sejenak. Kemudian, tanpa ragu ia membuka kait jubahnya. Urat-urat kebiruan tampak jelas di bawah kulitnya. Tubuhnya benar-benar seperti mengkristal. Lian Ruo merinding.

Lian Ruo mendekat dan menyentuh bahu Shen Yuan dengan ujung jarinya.

‘Kalau di masa depan, orang seperti ini akan dijadikan spesimen di museum oleh orang jahat. Tapi di sini dia menumbalkan gadis-gadis muda untuk tetap hidup,’ gumam Lian Ruo dalam hati. Kemudian ia melirik baju para gadis di belakangnya.

Untuk pertama kalinya sejak kena kutukan, Shen Yuan merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan. Sebuah kehangatan.

“Apa yang kau lakukan?” Shen Yuan memejam. Rasa hangat dari jari Lian Ruo menjalar sampai ke dadanya.

“Aku memeriksa aliran dingin di punggungmu.”

“Rasanya berbeda.” Shen Yuan merasakan hangat itu mengalir kencang dan pembuluh darahnya seperti lancar.

“Berbeda?”

“Lebih tenang.”

Kemudian mereka saling menatap. Napas mereka saling beradu di udara. Hangat dan dingin menjadi satu dan mereka enggan berpaling, lalu sama-sama sadar terbawa suasana.

Lian Ruo pelan-pelan menggeser tangan ke pangkal leher pangeran. Gadis itu tidak sadar bahwa napas pangeran menjadi lebih cepat.

Begitu juga dengannya sendiri tidak paham kenapa jantungnya tiba-tiba berdebar melihat bentuk rahang tegas pangeran dari dekat, atau bagaimana tatapan mata abu-abu di balik topeng itu membuatnya sulit bernapas.

“Jangan menatapku seperti itu,” gumam Lian Ruo.

“Aku menatap siapa saja seperti ini,” jawab Shen Yuan jujur.

“Kau bohong.”

Shen Yuan memiringkan kepala. “Kau benar. Aku tidak menatap sembarangan.”

Lian Ruo tercekat oleh cara pangeran mengucapkannya. Ia memindahkan tangan ke bagian dada pangeran, tepat di tengah. Pangeran Kedua mendadak menahan napas.

“Bagian ini, dinginnya paling kuat.”

“Sakit, di sana pusat sakitnya.” Wajah Pangeran Kedua sampai kemerahan.

“Kau bisa mati kapan saja.” Lian Ruo menjauhkan tangannya dari dada pangeran.

“Mati bukan masalah.” Shen Yuan menatapnya lurus. “Tapi, kau bisa menyentuhku tanpa kesakitan.”

“Katakan apa yang kau rasakan.”

Shen Yuan semakin mendekat. “Aku merasakan banyak hal, Lian Ruo. Dingin berkurang, napasku tenang, dan satu lagi ....”

Lian Ruo hampir tidak bisa bicara karena gejolak perasaannya. “Apa itu?”

“Hangat.” Satu kata itu membuat ruangan terasa tak lagi membeku.

“Artinya kau masih sangat bisa disembuhkan.”

“Jika benar kau bisa menahan kutukan ini, kau tidak boleh jauh dariku.”

“Kenapa?”

“Karena aku membutuhkanmu setiap saat.”

Sebelum Lian Ruo bisa menanggapi, pintu kamar terbuka.

“Pangeran!” Seorang pengawal berlari masuk dan segera berpaling karena pangeran kedua tak menggunakan baju bagian atas dan sangat dekat dengan Lian Ruo.

“Ada apa?” Shen Yuan menjauh.

“Pangeran Pertama ingin bertemu. Sekarang.”

Lian Ruo merasakan hawa panas dari luar pintu memaksa masuk dan menyambar pipinya yang putih. Bahkan es di dalam kamar Pangeran Kedua ikut mencair separuhnya.

Pangeran menatap Lian Ruo sekilas. “Kau tetap di sini. Aku akan segera kembali.”

Shen Yuan meninggalkan Lian Ruo yang masih gemetar, bukan karena dingin, tetapi karena sentuhan singkat yang membuat tubuhnya tak berhenti mengingat kehangatan itu.

“Kenapa aku harus terperangkap dalam tubuh gadis yang darah mudanya gampang berjegolak. Aaah, aku benci perasaan ini.” Lian Ruo menekan dadanya sendiri dengan kuat. Ia takut bajunya dipajang karena berhasil ditumbalkan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   26. Pertanda

    Shen Yuan mengelus dahinya, sakit kena empasan cawan dari kamar A Ruo saat dia tak sengaja membuka pintu dengan kekuatan berlebih.“Mesum, dasar pangeran cabul.” Ucapan A Ruo bergema terus di kepalanya.“Ck, padahal tadi dia yang ingin menodaiku, sekarang aku tak sengaja buka kamarnya malah marah. Sungguh perempuan tidak bisa ditebak. Untung saja aku belum menikah dengan perempuan.”Shen Yuan berjalan menyusuri lorong dengan wajah cemberut, tangannya masih sibuk mengusap benjolan kemerahan di dahinya yang berwarna putih pucat. Di ujung lorong, Bai Ju dan Han Qing yang sedang berjaga langsung menegakkan tubuh, tapi mata mereka membelalak kaget melihat tanda baru di wajah tuannya."Pangeran! Dahimu merah sekali! Apakah ada pembunuh bayaran yang menyusup? Senjata apa yang bisa menembus kekuatanmu?" Hang Qing langsung siaga dengan pedangnya."Cawan," jawab Shen Yuan singkat dengan penuh kekesalan."Cawan beracun?" Bai Ju penasaran."Perempuan itu melemparku kepalaku dengan cawan, sudah pu

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   25. Bukan Obat Kuat

    “Pangeran, engkau tidak apa-apa?” tanya salah satunya.“Berjaga di depan kamarku, jangan sampai perempuan gila itu masuk, atau kalian aku jadikan patung es.”“Baik, Pangeran.” Keduanya langsung menutup pintu dan berdiri di depan kamar seperti patung singa.“Gila, benar-benar tidak bisa ditebak kelakuannya. Kenapa jadi aku yang ketakutan.” Shen Yuan duduk dengan tenang. Ia tarik napas dalam-dalam lalu embuskan perlahan, dan tentu saja benda-benda di sekitarnya jadi membeku.***Lian Ruo masuk ke kamar dan memukul kepalanya sendiri berkali-kali. “Aduuuh tubuh gadis ini benar-benar diluar prediksi ramalan cuacana. Bisa-bisanya gairah mudanya selalu membuatku kelewat batas. Bagaimana cara meredamnya? Mana sedang haid, hormon estrogenku rasanya naik berkali-kali lipat. Padahal tadi aku hanya bercanda kenapa hampir jadi serius. Kalaulah paman prajurit tidak datang sudah aku cium pangeran itu.” Lian Ruo menepuk-nepuk bibirnya sendiri.“Aku harus bisa mengendalikan perasaanku. Aku harus bisa

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   24. Kalah Strategi

    A Ruo bangun dari tidur panjangnya di kamar Shen Yuan. Ia memindai sekitarnya dan menemukan sang pangeran sedang duduk sendirian sambil menatapnya begitu dalam.“Malam tadi kita sudah melewatinya berdua,” ucap Shen Yuan sambil tersenyum.“Melewati apa?” tanya A Ruo tak paham.“Menurutmu apa yang dilakukan oleh lelaki dan perempuan dewasa di dalam satu kamar bersama. Kau tak lihat bajumu sudah berserakan di lantai.”A Ruo meraba tubuhnya dan menyingkap selimut. “Ah, masik pakai lapisan putihnya. Kau pasti mengada-ngada,” tunjuk A Ruo tak sopan.“Memang harus dibuka semua?” Lagi-lagi Shen Yuan tersenyum licik.A Ruo tak mau kalah, ia meraba-raba sekujur tubunya dan tak ada tanda-tanda telah melakukan hubungan orang dewasa seperti kata Shen Yuan.“Kalau iya, tak mungkin tak terasa sama sekali. Dia mencoba membohongi seorang dokter ternyata.” Gadis berpipi tembem itu membuka celananya. Ada noda darah di helaian bagian paling dalam, tapi pada saat yang sama ia merasakan sakit di pinggang y

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   23. Ambisi dan Pengorbanan

    Bagian 20Setelah tidak berhasil menyakiti Shen Yuan melalui sihirnya, A Yue kini semakin memperdalam ilmunya di altar bawah tanah yang pengap. Di sana ia menyembah beberapa iblis neraka yang patungnya sangat mengerikan. Ia bahkan melakukan perjanjian terkutuk demi mendapatkan Shen Yuan kembali menjadi miliknya.“Jika gadis itu memiliki keberuntungan garis takdir, maka aku memiliki keberuntungan panas neraka. Tidak hanya Shen Yuan, tapi Shen Yanzuo pun akan tunduk padaku.”Tubuh A Yue berpeluh sebesar biji jagung ketika melakukan ritual penyembahan iblis. Terakhir, ia menari dengan menggunakan dua pedang yang dialiri darah ayam hitam. Ia berputar-putar, melompat, tertawa, menangis, lalu sesuatu masuk ke dalam dadanya dan membuatnya berhenti sesaat dan tertawa lagi.“Terima kasih, para iblis, aku berjanji akan memberikan apa yang kalian inginkan secepatnya.”A Yue menyelesaikan tariannya. Ia keluar dari altar bawah tanah yang pengap kemudian naik ke altar doa untuk meletakkan pedang. S

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   22. Masa Depan

    “Katakan masa depan yang kau maksud itu seperti apa?” Shen Yuan semakin mendekat hingga A Ruo terdesak ke belakang. Hampir saja ia jatuh dan untung cepat di tangkap oleh Shen Yuan. Jarak mereka kini sangat dekat hanya sehelai baju saja.“Huuuh, Pangeran, dingin,” ucap A Ruo ketika napas Shen Yuan jatuh di dahinya. Pangeran Kedua melepaskan pelukannya.“Katakan!” tekan Shen Yuan lebih dalam.“Iya, iya, maksa sekali jadi orang, pantas tak ada perempuan yang mau sama dia.”“Apa kau bilang?” Shen Yuan menunjuk wajah A Ruo, sebuah pisau kecil dari es tercipta dan langsung menunjuk hidung gadis berpipi tembem itu.“Ooop, santai, aku ceritakan soal masa depan, turunkan pisaunya.” A Ruo menyentuh belati es itu dengan telunjuknya. “Aku jelaskan sambil berjalan.”Shen Yuan jalan lima langkah tapi A Ruo tak juga buka suara, ia berdehem dan Lian Ruo segera buka mulut.“Di masa depan, sudah tidak ada lagi gelar raja, ratu, pangeran, putri, kecuali di negara-negara yang menganut sistem kerajaan, se

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   21. Api Abadi

    Shen Yuan berhasil menguasai diri setelah cukup lama membiarkan perasaannya berada dalam kekosongan. Maksudnya ia tak mau meraskan apa-apa sama sekali, seperti marah, benci, sedih, sakit atau cinta. Namun, bibirnya mencebik.“Cih, tidak memikirkan A Ruo ternyata sepi juga. Padahal aku sudah biasa seperti ini.” Pangeran Kedua membuka lemari baju dan memilih jubah hitam dengan bulu serigala putih yang ia lingkarkan di lehernya.Saat keluar kamar Nyonya Ming berserta pelayan yang lain sudah menunggu dari tadi. Shen Yuan memerintahkan mereka membersihkan dengan teliti. Jarum yang ia buat sudah mencair sejak tadi dan meninggalkan genangan air yang cukup banyak.“A Ruo, buka pintunya!” Shen Yuan menggedor pintu.“Mana bisa, kan dikunci dari luar,” sahut A Ruo yang masih berbaring. Terdengar suara benda dibekukan lalu diledakkan dengan kekuatan es Pangeran Kedua. A Ruo yang kaget sampai berdiri di meja dan ketakutan begitu melihat Shen Yuan masuk ke kamarnya.“Jangan mendekat, aku kurus jang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status