تسجيل الدخول"Astaga, Amira... pengawal mana yang tega berbuat sekasar itu padamu?"Suara renyah Putri Sahira bergema memantul di dinding pualam kamar mandi, bercampur dengan uap hangat bermekar aroma mawar. Tangan sang putri tertahan di udara, jari-jemarinya yang berhiaskan cincin batu rubi menunjuk tepat ke arah bawah rahang Amira.Amira tersentak pelan. Refleks, ia langsung menarik kerah kemeja hitamnya ke atas, merapatkan kain itu hingga menutupi bekas ciuman dan gigitan panas Rayyan yang masih membengkak.Namun, sebelum Amira sempat merangkai alasan atau menyusun kata maaf, Sahira mendadak mengerlingkan matanya."Astaga... aku seharusnya tidak menanyakan hal pribadi seperti itu, Amira," bisik Sahira dengan nada penuh penyesalan yang teramat halus. "Maaf, aku sungguh tidak bermaksud lancang. Sungguh."Amira menundukkan kepalanya dalam-dalam, menekan detak jantungnya yang sempat berpacu liar di balik dada. "Tidak apa-apa, Tuan Putri. Hamba yang memohon maaf atas ketidaknyamanan ini."Sahira me
Bentakan Rayyan memantul di dinding-dinding kamar tidur yang luas itu, menciptakan keheningan yang jauh lebih pekat dan mematikan. Cengkeraman pada pinggang Amira mengeras, menyisakan jarak nol di antara tubuh mereka. Punggung gadis itu ditekan begitu rapat pada permukaan kayu mahoni pintu yang tertutup rapat, membuat detak jantung mereka beradu dalam tempo yang sama kacaunya.Amira menelan ludah dengan susah payah. Sisa-sisa pertahanan es yang ia bangun dengan susah payah selama tiga hari terakhir mulai retak, terkikis oleh hawa panas yang menguap dari tubuh Rayyan.Pria itu benar-benar terlihat mengerikan sekaligus rapuh di saat yang bersamaan—pucat pasi dengan keringat dingin yang masih membasahi pelipisnya, namun sorot matanya berkilat memancarkan obsesi yang tak memberi ruang bagi kata tidak."Anda sudah gila, Yang Mulia..." desis Amira lirih, suaranya kehilangan sedikit nada dinginnya, menyisakan getaran halus yang tak mampu ia sembunyikan."Aku tidak peduli," potong Rayyan tanp
Lilin-lilin dinding di dalam penthouse pribadi Sultan meliuk-liuk gelisah, melempar bayangan panjang yang muram ke atas marmer dingin. Malam telah larut, namun kediaman Sang Sultan diselimuti hening yang mencekam... Di dekat bak porselen kamar mandi pribadinya, Sultan Ar-Rayyan berlutut. Tangannya yang berurat mencengkeram tepi porselen begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, sementara tubuh kokohnya bergetar hebat oleh dorongan mual yang tak tertahankan. Sejak jamuan makan siang berakhir lima jam lalu, perut Rayyan berontak tanpa ampun. Tubuhnya menolak kuat-kuat paha domba bersaus kental yang ia paksakan masuk demi gengsinya di depan Amira tadi. HOEK! HOEK! Rayyan terus memuntahkan sisa-sisa cairan pahit dari lambungnya hingga dadanya terasa seperti terbakar. Napasnya memburu, pelipis dan lehernya dibasahi keringat dingin yang mengucur deras. Jubah tidurnya yang melonggar menyingkap dada bidang yang kini kempis-kembang menahan sakit. Wajahnya pucat pasi baga
Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur ketika terompet perunggu Istana Al-Fariz bergema panjang, membelah kabut tipis yang menyelimuti gerbang utama. Kereta Agung bertatahkan emas murni dengan panji-panji Kesultanan Ash-Shaf melangkah anggun memasuki pelataran, dikawal oleh puluhan prajurit berkuda bertopeng perak.Di pelataran marmer, seluruh pejabat istana dan barisan pelayan telah berdiri rapi. Di barisan paling depan para pelayan pribadi, berdiri sosok Amira. Gadis itu mengenakan gaun hitam kaku khas pelayan kediaman tamu agung, dengan celemek putih berenda kaku dan rambut yang tersanggul rapi tanpa perhiasan sebutir pun.Wajah Amira begitu tenang, bagaikan telaga es yang tak tersentuh angin.Pintu kereta emas terbuka. Seorang wanita bergaun sutra merah menyala melangkah turun dengan keanggunan seorang putri bangsawan sejati. Putri Amira Sahira—gadis berparas jelita dengan mata cokelat terang, kulit seputih porselen, dan mahkota kecil bertatahkan batu rubi yang berkilau di
Angin malam berembus dingin menyapu balkon tinggi ruang kerja pribadi Sultan, membawa aroma bunga melati yang bermekaran di taman istana. Dari ketinggian itu, halaman utama Istana Al-Fariz tampak sibuk luar biasa. Puluhan obor menerangi para pelayan dan pengawal yang sibuk membentangkan karpet merah berlapis benang emas, merapikan Kereta Agung, dan menata dekorasi megah demi menyambut kedatangan Putri Amira Sahira dari kerajaan Ash-Shaf, esok fajar. Rayyan berdiri di tepi balkon, memegang cawan anggur dengan satu tangan. Manik matanya menatap persiapan di bawah, namun pikirannya sepenuhnya tertuju pada sosok gadis yang sejak tiga hari lalu memasang tembok es di depannya. Tiga hari telah berlalu sejak perselisihan mereka di pilar taman... Dan tiga hari pula Amira benar-benar memperlakukannya bagaikan orang asing—menghindar dengan begitu halus, tak pernah lagi menginjakkan kaki di ranjangnya tanpa perintah resmi, dan selalu menunduk patuh dengan raut wajah sedingin patung marm
Langkah kaki Rayyan terhenti di dekat pintu tembaga Balai Agung. Keheningan yang begitu pekat mendadak melingkupi seluruh ruangan, hingga suara napas tersengal-sengal dari Utusan Ash-Shaf terdengar bagai bisikan maut.Rayyan mengerling pelan dari sudut matanya. Manik mata sehitam malam milik Sang Sultan menatap tajam pria yang masih tersungkur memegang lehernya yang memar di atas marmer."Tiga puluh hari, katamu?" desis Rayyan, suaranya teramat dingin hingga sang utusan refleks menelan ludah pusing."B-benar, Yang Mulia..." raung sang utusan dengan sisa keangkuhan yang sudah hancur lebur. "Izinkan Putri Sahira tinggal di sini sebagai tamu agung. Jika dalam satu bulan beliau tak sanggup meluluhkan hati Anda... Kesultanan Ash-Shaf berjanji tidak akan pernah menagih perjanjian almarhum Baginda Sultan lagi!"Beberapa tetua Dewan Kerajaan saling pandang dengan cemas. Mereka berharap Sang Sultan akan menolak mentah-mentah penawaran tak masuk akal itu. Namun, di dalam benak Rayyan, seb







