LOGIN“Jadi memang benar, kan? Kau melibatkan perasaanmu.”Tatapan Zhafran menajam dengan tuduhan tersebut. Kekesalan Elea membuatnya kesulitan bagaimana lagi caranya menjelaskan semua omong kosong tersebut tentang perasaan. “Lalu apa hubungannya dengan wanita bernama Galena?”“Tuan Dirga juga masih berusaha menggali. Tampaknya nona Fera memiliki akses yang cukup besar karena beliau bisa mengetahui semua ini. Saya juga sedang menggali hubungan keluarga beliau. Namun, saya menemukan sesuatu yang terasa janggal. Rupanya beliau memiliki nama lain sebelum diadopsi oleh mendiang kedua orang tuanya yang sekarang.”Zhafran melebarkan matanya. Cukup terkejut dengan informasi tersebut. Dan satu-satunya hal yang akan membawa mereka hanyalah satu. Pasti ada benang merah yang menghubungkan Fera dengan Galena. Apakah …“Aku ingin semua hasilnya. Secepatnya berada di mejaku.”Soni mengangguk, kemudian berpamit pergi.Elea memutar tubu
"Apa kau baik-baik saja?" Zhafran melepaskan sabuk pengamannya, memegang pundak Elea yang tampak syok dengan wajah pucat.Butuh beberapa saat bagi Elea untuk menelaah keterkejutannya. Tangannya kemudian bergerak menyentuh lehernya, meski jok mobil begitu empuk, tetap saja belakang kepalanya terbentur cukup keras."Maaf, aku …" Kata-kata Zhafran terhenti. Ia begitu terkejut Elea mengetahui tentang rahasia ini. Jadi mertuanya bertindak sejauh ini untuk memisahkannya dengan Elea?Elea menurunkan tangan Zhafran yang memegang pundaknya saat menoleh ke samping. Mengabaikan rasa pusing yang masih menusuk di kepalanya. "Sepertinya kau begitu terkejut aku mengetahui semua ini, kan?"Zhafran mendesah pelan dalam kegusarannya. "Ini sama sekali tak ada hubungannya dengan surat itu, Elea.""Apakah kau begitu ketakutan kehilangan …""Tidak," tegas Zafran memenggal keraguan yang mulai terselip dalam suara Elea. "Tidak
Elea tak tahu ke mana papanya akan membawanya. Ia pun tak menanyakan lebih lanjut selain memberitahu sang papa untuk singgah di salah satu butik langganan Zhafran. Mendapatkan gaun yang tepat selama satu jaman ditemani sang papa. Ia hanya butuh gaun yang cocok untuk jamuan malam tersebut yang langsung ia temukan dan tepat dengan tubuhnya.Kedua alisnya bertaut ketika mobil sang papa melaju di jalanan yang begitu familiar. Menuju rumah?“Ada sesuatu yang ingin papa tunjukkan padamu.” Dirga memberikan seulas senyum menjawab pertanyaan yang tidak diucapkan Elea.Elea tak mengatakan apa pun. Kembali terdiam sepanjang sisa perjalanan. Mamanya dan El Nora sedang berada di dapur ketika keduanya sampai di rumah. Setelah menyapa sebentar, Dirga membawa Elea ke ruang kerja.Dirga langsung memutari meja kerjanya, membuka laci paling bawah dan mengambil sebuah map berwarna hitam yang kemudian diletakkan di meja. Tepat di hadapan sang putri."Apa ini,
Kedua alis Elea yang bertaut semakin menukik tajam. Semakin banyak yang ia ketahui, semua terasa membingungkannya. “Bukankah penguntit itu pria? Fera bilang anak dari Galena …""Dengan koneksiku, aku berhasil mendapatkan DNA Galena. Yang kemudian kucocokkan dengan jejak pria itu di tubuhmu pada malam itu. Anehnya, hasilnya tidak cocok."Kedua kaki Elea meluruh. Tubuhnya bersandar pada pinggiran meja, yang kemudian langsung ditangkap oleh Zhafran. Menjatuhkan tubuhnya di pangkuan pria itu. Menggenggam kedua tangannya yang mulai gemetar dan perlahan ia merasa lebih baik."Lalu siapa sebenarnya pria itu?""Aku sedang mengusahakan yang kubisa untuk menangkapnya, Elea. Begitu pun dengan papamu.""Dan dia masih berkeliaran di luar sana." Elea tak bisa menahan getaran dalam suaranya."Ada alasan aku memastikan dua sopirmu tak melepaskan pandangan darimu."Elea merapatkan mulutnya. Ada ketenangan yang meredakan kekhaw
Chris melengkungkan senyumnya sebelum menjawab, "Baru saja." Lalu pandangannya melewati pundak Elea dan sejenak bertatapan dengan El Noah. "Apakah aku datang di saat yang tepat? Sepertinya kalian sedang …" Chris tak melanjutkan kalimatnya. Menyadari ketegangan yang masih tersisa di wajah Elea."Tidak. Kami sudah selesai bicara. Masuklah. Aku harus ke atas." Elea mengangguk sekali dan berjalan melewati Chris.“Sepertinya ada masalah," gumam Chris ketika mengambil tempat duduk di samping El Noah.El Noah mendesah pelan, kerutan di kening menunjukkan benaknya yang berpikir lebih keras. "Kau pernah dekat dengannya, kan? Apakah menurutmu dia sedang ada masalah dengannya?"Chris menatap kerutan di antara kedua alis El Noah dan mengangguk. "Sebenarnya aku sempat mendengar pembicaraan kalian. Apakah ada masalah dengan perusahaan sehingga Elea harus meyakinkanmu kalau dia tak akan bercerai dengan Zhafra ?"El Noah menggeleng. "Semuanya baik-b
‘Pria yang menculikmu malam itu adalah putra dari Galena, yang sudah mendekam di rumah sakit jiwa berpuluh-puluh tahun karena perbuatan papamu.’ Kata-kata Galena memenuhi benaknya, sekali lagi menamparnya dengan keras. Ia tak pernah tahu masa lalu papanya. Seburuk apa pun itu, semua selalu tersembunyi dengan rapat di balik kasih sayang sang papa yang melimpahinya. Seolah taka da yang cacat dalam kehidupan papanya. Ya, mamanya memang pernah bercerita bahwa awal kisah cinta dan pernikahan keduanya tak cukup baik untuk dimulai. Tetapi kemudian kehadirannya dalam hidup mereka, membawa kebahagiaan yang begitu besar. Membuat ikatan pernikahan mereka semakin kuat dan bertahan hingga detik ini. Terkadang Elea merasa begitu iri pada mereka ketika melihat bagaimana cara papanya memandang mamanya. Penuh binar cinta dan hanya mamanyalah satu-satunya wanita yang berhasil menarik perhatian papanya di antara banyaknya wanita lain yang ma
Keheningan sempat terjeda ketika tubuh Jimi terdorong ke belakang dan mendapatkan keseimbangan tubuh pria itu di detik berikutnya. Wajah Jims tertunduk patuh tanpa mengusap darah yang merembes dari hidungnya.Suara dering ponsel di saku celana Dirga memecah keheningan tersebut. Ia merogoh ponsel ter
Istri Sang TuanPandangan Davina dan Dirga saling bertemu untuk beberapa saat yang lama. Kedua pasang mata mereka saling melekat satu sama lain.“Siapa dia?”Brian dan Davina menoleh, keduanya saling pandang sejenak sebelum menjawab bersamaan dengan jawaban yang berbeda.“Pelayan Anda.”“Keponakanku.”Ken
Wajah Dirga seketika membeku, menatap Brian dan Davina bergantian. Wajah keduanya memucat oleh keterkejutan. Well, apakah ini informasi yang keduanya sembunyikan dainya. “Bukankah kau bilang dia keponakanmu?” desisnya tajam pada Brian kemudian menatap Davina dengan penuh kebencian.“Ya, dia memang ke
"Kenapa kau bertanya seperti itu, Dirga?" "Hanya penasaran," jawab Dirga dengan suara yang lebih lirih dan lunak. Hubungan mereka diawali dengan cara yang buruk. Kehadiran anak dalam kandungan Davina pernah menjadi kekacauan dan kecerobohan yang ia sesali. Tak hanya bagi dirinya. Tapi juga Davina y







