Share

Pelayan Sang Tuan
Pelayan Sang Tuan
Author: Luisana Zaffya

Prolog

last update Last Updated: 2024-03-25 13:40:00

Prolog

 

Davina menyingkirkan selimut yang menutupi ketelanjangannya. Sesuatu bergejolak di perutnya, membuatnya melompat turun sambil menyambar kain apa pun yang ada di lantai. Menggunakannya untuk menutupi tubuhnya dalam perjalanan ke kamar mandi.

Suara pintu yang dibanting terbuka membangunkan Dirga dari tidurnya yang lelap. Kepalanya pusing karena dibangunkan dengan tiba-tiba. Tetapi ia tetap memaksa bangun terduduk dan menatap pintu kamar mandi yang terjemblak terbuka. Mendengar suara muntahan yang begitu hebat.

Dirga mengambil celana karetnya yang ada di ujung tempat tidur, mengenakannya sebelum beranjak menujuk kamar mandi. Ia berhenti di ambang pintu, menyandarkan pundaknya di pinggiran pintu dengan kedua tangan bersilang dada. Mengamati Davina yang berjongkok di depan lubang toilet. Mengusap sisa muntahan dengan punggung tangan.

“Kau membangunkanku.” Suara Dirga datar dan tanpa emosi. 

Davina bangkit berdiri sambil menjatuhkan penutup toilet. “Sepertinya ada yang salah dengan pencernaanku.”

“Apakah itu alasan untuk membenarkanmu mengganggu tidurku?”

Davina menggeleng. Merapatkan kemeja putih yang dikenakannya karena tadi tak sempat mengancingkannya. Kemudian melangkah melewati Dirga yang hampir memenuhi ambang pintu dengan memiringkan tubuh.

Setelah Davina berhasil melangkah keluar, barulah Dirga melangkah masuk.

“Bolehkah aku meminjam pakaianmu?” Pertanyaan Davina menghentikan Dirga yang sudah membuka pintu kaca. Pria itu memutar kepala, menatapnya dengan raut yang selalu membuatnya segera menutup mulut.

Pandangan Dirga turun ke arah pakaian gadis itu yang semalam ia robek dan lempar ke lantai. Jelas tak layak untuk dipakai.  Dan perlukah gadis itu mempertanyakannya? Ini bukan pertama kalinya Davina membawa pakaiannya untuk pergi ke kamar gadis itu tanpa ketelanjangan. Terutama jejak gairahnya yang ada di kulit gadis itu.

Dirga memberikan satu anggukan singkat sebelum berbalik dan masuk ke dalam bilik shower, mengguyur tubuhnya dengan air dingin.

Davina menutup pintu kamar mandi. Tubuhnya terasa remuk, juga mengantuk. Semalam Dirga benar-benar tak membiarkannya tidur. Membuatnya melayani hasrat pria itu yang seolah tiada habisnya. Dan sekarang ia harus membereskan kamar pria itu yang seperti kapal pecah, terutama di bagian tempat tidur.

Pemandangan yang hampir setiap hari ia temui, ketika ia diseret ke kamar ini untul melayani pria itu di tempat tidur. Ya, ia berada di rumah ini untuk dijadikan pelayan. Pelayan rumah maupun ranjang seorang Banyu Dirgantara.

Davina mulai membereskan tempat tidur, mengganti sprei dan mengambil pakaian-pakaian kotor. Juga menyiapkan pakaian kerja pria itu. Setelah selesai, ia membawa keranjang pakaian kotor dan berjalan ke arah pintu. Tetapi baru saja ia melewati pintu, seorang wanita berhenti di hadapannya.

Kedua mata Davina melebar, begitu pun wanita tinggi dengan rambut pirang yang terurai itu. 

“Siapa kau?” Mata wanita cantik yang mengenakan minidress dengan lengan pendek dan kerah V terlalu rendah yang menampakkan belahan dada tersebut menyipit tajam. Mengamati penampilan Davina dari atas ke bawah. Rambut Davina yang masih berantakan, mengenakan kemeja putih yang kebesaran yang ia yakin bukan milik gadis itu, juga pada keranjang pakaian kotor yang berada di kedua tangan.

Wanita itu tak yakin apakah gadis yang berdiri di depannya ini pelayan atau pelacur yang disewa Dirga? Atau … simpanan? Jelas ia tak menyukai yang terakhir.

Davina tak menjawab, dari balik punggungnya ia mendengar pintu kamar mandi yang dibuka.

“Siapa kau?!” Suara wanita itu keluar lebih keras dan penuh emosi. “Apa kau tak punya mulut untuk menjawab?!”

Davina masih terbungkam. Sama sekali tak berniat menjawab pertanyaan tersebut. Yang membuat wanita itu semakin geram dan menancapkan kelima jari di kepala Davina. Menjambaknya dengan kencang hingga kesakitan, tetapi Davina tak mengeluarkan sedikit pun rintihannya.

“Siapa kau?!!”

Rasa sakit itu semakin menusuk di kepalanya ketika si wanita menggoyang-goyang kepalanya dengan keras. Membuat kepalanya pusing dan tubuhnya sudah didorong ke belakang, siap menerima rasa sakit di pantat sebeluam kemudian pinggangnya ditangkap dan tangan wanita itu berhenti mencengkeram kepalanya.

“Lepaskan, Galena,” desis Dirga sambil mencengkeram pergelangan tangan wanita itu.

Galena melepaskannya, bukan karena ingin atau takut dengan tatapan tajam Dirga, melainkan karena pergelangan tangannya yang nyaris dipatahkan oleh pria itu. “Siapa dia? Kenapa dia mengenakan pakaian seperti itu dan keluar dari kamarmu, hah?”

Dirga tak menjawab, melepaskan pegangannya pada Davina dan berkata, “Pergilah ke kamarmu.”

Davina melangkah ke arah tangga dan menghilang dari pandangan keduanya. “Aku sudah mengatakan hari ini akan datang, kan? Kau tidak menjemputku di bandara dan membuat tunanganmu harus melihat hal menjijikkan seperti ini.”

Dirga bahkan lupa sudah pernah bertunangan jika wanita yang didepannya ini tidak mengingatkan. “Katakan apa yang kau inginkan dengan kedatanganmu, aku sibuk.”

Mata Galena melotot atas keacuhan Dirga. “Siapa dia?”

Dirga mendesah dengan jengah. “Jika kau datang hanya untuk mendikte kesenanganku, sebaiknya kau pergi,” pungkasnya kemudian berbalik.

Galena semakin membelalak, tangannya reflek menangkap lengan Dirga sebelum pria itu menutup pintu kamar. “Tunggu, Dirga.”

Dirga hanya memutar kepala ke samping. Menatap Galena dengan kesabaran yang semakin menipis. Suasana hatinya begitu buruk setelah terbangun lebih cepat dari biasanya.

Galena menekan harga dirinya. Keacuhan Dirga benar-benar membuat harga dirinya tergores sebagai seorang wanita sekaligus tunangan pria itu. Ya, pria seperti Dirga memang berengsek, tapi bagaimana pun pria itu adalah miliknya. “Aku tak akan mengganggu kesenanganmu.”

“Seolah kau perlu mengatakannya,” dengus Dirga. “Aku tak perlu ijinmu.”

Galena menipiskan bibirnya, tetapi memaksa senyum tetap tertampil sempurna di wajahnya. “Aku datang ke sini karena papa ingin memajukan hari pernikahan kita.”

Salah satu alis Dirga terangkat.

“Bulan depan.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
raenii
asik udah uppp,mksih kak
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelayan Sang Tuan   Part 6 Wanita Itu

    "Jawaban seperti apa yang papa inginkan?" Suara Zhafran berhasil keluar dengan tanpa keraguan sedikit pun. Ya, tentu saja ia tahu seberapa banyak kasih sayang papa mertuanya yang dilimpahkan pada Elea. Ia sangat menyesali telah melakukan keteledoran yang fatal tersebut. "Apakah papa berpikir saya sengaja membuat Elea dalam bahaya? Membunuh darah daging saya sendiri?"Dirga terdiam, masih menilai ekspresi dan jawaban sang menantu yang sama sekali memuaskannya. "Kau tak menjawab pertanyaan papa," tandasnya setengah mendesak."Jika papa meragukan saya, sekarang. Tidakkah sudah sangat terlambat menjadikan saya sebagai suami putri kesayangan papa?" Zhafran beranjak berdiri, sengaja menampilkan ketersinggungannya akan kata-kata sang papa mertua. "Apakah sudah sejauh ini dan papa masih tidak mempercayai saya untuk melindungi Elea?"Dirga bergeming dengan jawaban cerdik sang menantu. Yang mungkin sedikit melegakannya, meski masih tak sepenuhnya melenyapk

  • Pelayan Sang Tuan   Part 5 Pertanyaan Papa Mertua

    Zhafran menahan kegeramannya sembari menyelesaikan mengemas semua barang-barang Elea ke dalam tas. Kedua mertuanya sudah ada di dalam ruang perawatan Elea, memastikan sang putri dalam keadaan baik-baik saja. Beruntung lebam-lebam di seluruh tubuh Elea juga sudah memudar dan wanita itu cukup cerdik untuk mengenakan pakaian lengan panjang. Papa Elea, Banyu Dirgantara sibuk mengamati gerak-geriknya dengan penuh kewaspadaan. Sementara mama Elea, Davina Dirgantara sibuk memeluk Elea dengan isakan yang berusaha ditahan. Tak berhenti mengelus punggung tangan sang putri.Ya, Elea punya alasan yang bagus membawa mereka ke sini. Mengatakan wanita itu mengalami keguguran karena terpeleset di kamar mandi. Cerita yang tidak sepenuhnya benar dan memang hanya itu yang dibutuhkan sang istri untuk memaksanya keluar dari tempat sialan ini.Zhafran terpaksa mengurus kepulangan Elea dan keberadaan kedua mertuanya membuatnya tak punya pilihan. Terutama dengan fisik Elea yang terlihat sangat baik-baik saja

  • Pelayan Sang Tuan   Part 4 Ikatan Yang Merapuh

    “Kau pembunuh. Kau membunuhnya!” Suara Elea kembali memenuhi seluruh ruangan. Mata wanita itu menyorotkan kebencian yang begitu dalam dan pekat meski tak lagi meronta dan histeris, setelah tertidur selama beberapa jam oleh obat penenang.Zhafran sama sekali tak menyangkal tuduhan tersebut. Ialah yang bertanggung jawab atas kematian anak mereka. Juga atas apa yang dialami sang istri.“Jangan mendekat!” jerit Elea ketika kaki Zhafran bergerak, hendak mendekat. “Aku tak ingin melihatmu. Pergilah.” Elea menghapus air matanya, memeluk kedua kakinya yang terlipat dan menenggelamkan wajahnya di lutut.“Aku akan kembali setelah …”“Aku tak ingin melihatmu lagi.” Suara lemah Elea memenggal kalimat Zhafran. Diselimuti permohonan yang begitu kental.Mata Zhafran terpejam, kakinya bergerak maju. Yang membuat kepala Elea terangkat dan menjerit padanya.“Kubilang jangan mendekat.”“Aku tahu kau begitu membenciku, Elea. Sejak

  • Pelayan Sang Tuan   Part 3 Duka Yang Dalam

    “Keguguran?” Suara Zhafran tercekik di tenggorokan. Di antara semua keterkejutan yang datang silih berganti, yang terburuk dari yang terburuk kini datang bersamaan. Karena kekerasan seksual yang dialami sang istri, Elea mengalami keguguran. Nyaris kehabisan darah jika tidak terlambat datang menemukan wanita itu dan membawanya ke rumah sakit.Dadanya serasa dikoyak dengan keras, sebelum kemudian jantungnya dibetot dengan cara yang paling buruk yang tak pernah terbayangkan akan di hidupnya. Dadanya kesulitan bernapas, dan ia berharap udara di paru-parunya direnggut paksa.Ia tak bisa menghadapi penyesalan terlalu besar ini seorang diri. Yang menggerogoti hidupnya dengan perlahan, hingga ia berharap lebih baik mati saja. Namun, bagaimana dengan Elea? Istrinya mengalami mimpi buruk ini karena dirinya. Ia tetap meninggalkan Elea meski wanita itu sudah memohon. Melakukan segala cara untuk mendapatkan seluruh perhatiannya. Tetapi ia dibutakan oleh perhatiannya t

  • Pelayan Sang Tuan   Part 2 Penyesalan Tiada Akhir

    Tepat jam dua belas malam, kecepatan mobil Zhafran mulai berkurang ketika mendekati gerbang tinggi rumahnya. Yang masih terbuka lebar. Sepertinya Elea benar-benar pergi ke rumah orang tua wanita itu. Keningnya berkerut penuh tanya, apakah Elea lupa menyuruh penjaga untuk menutupnya? Batinnya bertanya, gegas menginjak pedas gas dan berhenti di teras rumah. Yang salah satu pintunya terbuka.Zhafran mendesah pelan. Masih mencoba memahami sikap Elea yang kekanakan. Wanita itu meninggalkan rumah dalam keadaan gerbang dan pintu terjemblak terbuka seperti ini. Ia turun dari mobil dan berjalan ke carport, memanggil salah satu penjaga di ruang CCTV yang bersebelahan dengan carport."N-nyonya?" Penjaga tersebut tampak mengembalikan kesadarannya. Mengucek mata, mengembalikan kesadaran yang hanya setengah dan rasa pusing di kepalanya yang semakin menusuk. Bukannya menjawab sang tuan yang mempertanyakan kenapa tidak menutup gerbang ketika istrinya pergi dan malah meng

  • Pelayan Sang Tuan   Part 1 Sang Penguntit

    Beberapa tahun kemudian ...‘Zhaf, bisakah kau datang ke apartemenku? Sepertinya maagku kambuh dan aku harus ke rumah sakit. Aku tak bisa menyetir.’Elea membaca pesan singkat di ponsel yang dipegang Zhafran, yang baru saja bergabung dengannya di tempat tidur. Setelah menghabiskan berjam-jam di ruang kerja. “Aku harus …”“Jangan pergi,” ucap Elea sebelum Zhafran menyelesaikan kalimatnya. Ia tahu bahwa pria itu akan pergi. Tubuhnya maju ke depan dan menahan pergelangan tangan Zhafran yang sudah menyingkap selimut. “Aku tidak mau kau pergi.”“Fera sedang sakit, Elea. Aku harus segera membawanya ke rumah sakit.”“Aku ikut.”“Ini sudah malam. Tidurlah.”“Aku tidak mau.” Suara Elea semakin kuat, mulai diselimuti emosi. “Aku tidak mau sendirian di rumah.”“Ada pelayan dan pengawal …”“Aku tidak mau kau pergi.” Kali ini suara Elea berupa menjadi rengekan. “Apakah dia lebih penting ketimbang diriku? Aku istrimu!”Zhafran mendesah pelan. Melepaskan pegangan tangan Elea dan turun dari tempat t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status