Home / Romansa / Pelayan Sang Tuan / 1. Putri Sang Musuh

Share

1. Putri Sang Musuh

last update publish date: 2024-03-25 13:43:05

"Jadi kau masih hidup?" Seringai Jimi naik lebih tinggi. Kelicikan dan kebengisan berkilat jadi satu di kedua matanya yang bengkak dengan luka lebam di sebelah kiri. Ujung bibir pria itu juga robek dan Dirga yakin luka di tubuh Jimi lebih banyak dari yang terlihat di wajah.

Saga benar-benar memberi pria itu penderitaan yang lembuy. Perlahan dan menyiksa. Tetapi semua penyiksaan itu tak membuat kesombongan seorang Jimi Riley runtuh.

"Ya, jika pengkhianat sepertimu masih bisa bernapaa, kenapa aku tidak?"

Jimi terkekeh lalu mendenguskan balasan. "Wanita Ganuo yang menyelamatkanmu, aku hampir melemparnya dari atas gedung. Nyaris. Seharusnya aku menembaknya sebelum Ganuo datang. Untuk merayakan tragedi yang sama."

Wajah Dirga seketika menggelap, hanya untuk sejenak. Di detik berikutnya, ialah yang membalik posisi. Tangannya merogoh selembar foto dari saku kemeja dan menunjukkannya pada Jimi. "Dia memiliki mata yang sama denganmu. Lemah dan haus kasih sayang."

Seringai Dirga naik lebih tinggi ketika wajah Jimi membeku hanya dalam sepersekian detik. Rupanya pria itu masih memiliki sedikit hati meski hanya seujung jarum. Jimi pasti mengenali foto gadis di tangannya. Tak akan menyangkal karena sangkalannya hanya akan membuat dirinya semakin menjadi menggunakan Davina sebagai samsak balas dendamnya.

"Mata dibayar mata, dan kaki dibayar kaki." Dirga tersenyum geli. "Beruntung kakinya kembali sembuh seperti kakiku, meski tidak sama seperti semula."

Wajah Jimi semakin menggelap, kedua tangan yang mengepal di meja kini memukul keras ke arah kaca yang menjadi penghalang di antara mereka. Tetapi bahkan peluru saja tidak bisa menembus benda bening itu. "Apa yang kau lakukan padanya?!"

Dengan senyum lebar yang masih menghiasi wajahnya, Dirga berdiri sambil mengembalikan foto itu ke saku kemeja hitamnya. Berbalik dan menuli dari teriakan Jimi yang menggelitik telingnya. Siapa bilang balas dendam tidak semenyenangkan ini. Semua terasa manis.

***

Entah berapa lama Dirga duduk di balik kemudi di dalam mobilnya yang terparkir di seberang jalan. Pandangannya tak lepas dari keluarga kecil yang mengeliling meja di dalam restoran. Meja yang mereka ambil berada di samping jendela. Sehingga kebahagiaan yang menyelimuti keluarga kecil itu terpampang jelas di depan matanya. Tak tersangkalkan dan menampar kenyataan hidupnya.

Sungguh, ia berusaha sangat keras untuk merelakan wanita yang masih menggenggam perasaannya itu. Namun, hatinya masih tak cukup rela melepaskan wanita itu. Masih bergemuruh melihat kemesraan Saga dan Sesil, juga pada kebahagiaan keluarga kecil itu.

Pandangannya teralih pada kaca spion. Dua mobil hitam mendekat ke arahnya. Tak butuh sialan lainnya, ia pun meninggalkan area restoran. Langsung menuju rumah.

Ingin berlari sejauh mungkin, karena berada di sekitar Sesil hanya akan membuat hatinya tak rela. Namun, ada kalanya hatinya tak ingin rela. Tak ingin ikhlas meninggalkan wanita itu belakang sana. Ada harapan, yang setipis angin dan berbisik padanya. Mungkin, suatu saat di masa depan. Wanita itu akan kembali padanya.

Terdengar naif, tapi sedikit menghibur hatinya yang kering dan tak bernyawa.

Hari sudah beranjak sore ketika ia menghentikan mobil di halaman rumah. Ia butuh minum, tapi hanya akan memperburuk pagi harinya. Sementara ada tumpukan masalah yang menggunung di ruang kerja yang harus diurusnya besok pagi.

Sepulang dari menemui Jimi di penjara, tadi ia hanya ingin mendapatkan beberapa makanan untuk mengisi perut ketika menemukan  Saga dan Sesil sedang makan di restoran yang ingin disinggahinya. Dan pikirannya hanya akan semakin semrawut jika kembali ke kantor.

Melangkah masuk, perhatiannya teralih pada Davina yang baru saja melangkah masuk ke dalam rumah dari area halaman belakang. Langkahnya terhenti, begitu pun gadis itu ketika menyadari keberadaannya. Ah, pengalih perhatian dari patah hatinya selalu muncul di saat yang tepat.

"Bawakan teh ke kamarku," perintahnya dingin dan datar sebelum melangkah naik ke kamar utama. Ia tak terlalu suka teh, coklat panas, kopi, atau minuman apa pun di bawa ke kamar. Perintah itu jelas bahwa dia sedang butuh hal lainnya dari gadis itu.

Sampai di kamar mandi, Dirga melepas pakaiannya dalam perjalanan ke bilik shower. Mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Tak lama, ia melangkah keluar dan pintu kamarnya diketuk pelan. Membuka pintu dan membiarkan Davina melangkah masuk. Mengunci pintu di belakangnya, Dirga menunggu gadis itu meletakkan nampan di meja.

Pandangan Davina tertunduk. Berdiri di samping meja dan menunggu. Tak perlu lama, Dirga sudah setengah perjalanan menghampirinya. Memangkas jarak di antara mereka dan langsung menangkap tubuhnya ke dalam pelukan pria itu. Bibir pria itu mendarat di bibirnya, dan ia bisa merasakan tengkuknya yang ditahan lalu kepalanya didongakkan agar bibir pria itu lebih leluasa bergerilya di mulutnya.

"Buka mulutmu," desis Dirga dalam perintahnya. Davina menurut, membiarkan lidahnya mengabsen seluruh jajaran gigi gadis itu yang rapi. Menyesap rasa manis dan memabukkan yang mulai memudarkan kebahagiaan Sesil yang memenuhi pikirannya. Perlahan membius cemburu dan patah hati di dadanya.

Dan dalam dua menit, tubuh keduanya sudah berada di tengah tempat tidur. Tanpa sehelai pun benang pun yang memisahkan ketelanjangan mereka.

Davina sama sekali tak melawan. Hanya pasrah dan membiarkan Dirga menikmati setiap inci tubuhnya. Seperti biasanya. Seperti yang sudah-sudah.

Pertama kalinya Dirga menyentuhnya, perlawanannya sama sekali tak membuat keberengsekan pria itu berhenti. Bahkan pria itu memperlakukannya dengan kasar, tak segan-segan meninggalkan lebam di tubuhnya saat ia melawan.

Pria itu menyembuhkan kakinya hanya untuk dijadikan pemuas nafsu. Sebagai bayaran atas kekejaman ayahnya terhadap pria itu.

Jimi Riley, tak banyak hal yang diketahuinya tentang sosok ayah di hidupnya sejak ia dilahirkan. Pria itu hanya datang sekali dalam setahun, memberikan segepok uang untuk bertahan hidup bagi mereka.

Mata dibayar mata, kaki dibayar kaki, dan nyawa dibayar nyawa. Sekarang nyawanya sudah menjadi milik seorang Banyu Dirgantara dan berakhir di ranjang pria itu.

Dirga mengerang, wajahnya dipenuhi peluh dan setelah pelepasan yang luar biasa, ia menarik diri dari tubuh gadis di bawahnya. Berguling ke samping dengan napas terengah. Sementara Davina langsung berbaring miring memunggungi pria itu sambil menarik selimut menutupi ketelanjangannya.

Setelah beberapa saat, Davina pikir Dirga sudah terlelap dengan kesunyian yang menyelimuti tempat tidur. Ia pun bergerak turun.

"Aku belum selesai." Suara dingin Dirga menahan kaki Davina yang baru saja menyentuh lantai.

Davina memutar kepala dan lengannya ditarik. Tubuhnya kembali berbaring di bawah Dirga.

"Aku sudah pernah mengatakan padamu, kan. Kau hanya boleh turun hanya jika aku mengijinkanku."

"Sejak pagi, aku merasa merasa tidak enak badan. Bolehkah kali ini aku pergi lebih cepat dari biasanya." Davina memberanikan diri untuk membuka suara.

Tetapi Dirga sama sekali tak tertipu dengan raut pucat dan suara lemah yang dibuat-buat Davina. Itu semua hanya alasan untuk melawan keinginannya terhadap gadis itu. "Berdalih, hah?" dengusnya tipis. Ya. Semua itu hanya dalih. Ia tahu dibalik semua kepasrahan dan kepatuhan gadis ini terhadapnya, otak kecil Davina sedang merencanakan sesuatu yang besar.

Davina pun menutup mulutnya. Tak punya pilihan selain membiarkan Dirga menguras habis seluruh tenaganya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelayan Sang Tuan   Part 56 Kabar Tak Terduga (End)

    Kepanikan Zhafran akhirnya mereda setelah dokter memeriksa tekanan darah Elea yang memang lemah dan Hb yang rendah. Juga hasil tes darah yang diambil dokter.Tangannya tak berhenti mengusap lengan Elea dengan lembut, menunggu wanita itu terbangun. Hingga penantiannya akhirnya berakhir. Elea terbangun tak lama kemudian. Ia menyambut mata wanita itu yang terbuka dengan senyum terbaiknya.“A-apa yang terjadi?” Elea merasakan elusan lembut jemari Zhafran di pipinya. Membuat pusing di kepalanya mereda dan senyum pria itu yang seketika memperbaiki suasana hatinya.Ia tak ingat bagaimana bisa jatuh pingsan. Kepalanya hanya tiba-tiba pusing karena semua yang ada disekitarnya seperti berputar dalam pandangannya. Dan ia tak ingat apa pun lagi setelahnya.“Kau hamil.”Elea terpaku, cukup lama dan hanya menatap Zhafran yang duduk di sampingnya. Matanya berkedip beberapa kali, mencoba mencerna penjelasan Zhafran yang terasa tak masuk akal. Ia berusaha

  • Pelayan Sang Tuan   Part 55 Semuanya Baik-Baik Saja

    “Kenapa kau masih saja menangis?” Tangan Zhafran menyeka air mata yang masih saja mengalir di pipi Elea.“Kupikir aku akan kehilanganmu. Kupikir kau akan meninggalkanku. Kenapa kau begitu lama di ruang operasi?”Zhafran terkekeh. “Ini hanya luka tusukan, Elea. Butuh beberapa jahitan. Dan sekarang dokter sudah menanganinya dengan baik.”“Tetap saja kau membuatku cemas, Zhafran.”Zhafran hanya tersenyum. Kepanikan Elea masih tampak begitu kental menggurati wajah sang istri. “Bagaimana kau datang ke sana?”“Kau yang memintaku datang, kan?”Elea terdiam.Zhafran tersenyum lagi, ujung jemarinya menyentuh ujung mata sang istri. keduanya saling pandang untuk saat yang cukup lama. “Matamu mengatakan semuanya, Elea. Semuanya.”Ada perasaan haru yang membuncah di dalam dada Elea. “Kita sudah saling mengenal dan terikat sangat lama, Elea. Bagaimana mungkin aku tak tahu apa yang coba kau rencan

  • Pelayan Sang Tuan   Part 54 Kejutan Yang Mengejutkan

    "Tidak. Aku tidak mau, Chris." Elea menarik tangannya.Pegangan Chris yang tak benar-benar kuat berhasil membuat Elea terlepas. Elea berbalik dan nyaris mencapai pintu lift yang bergerak tertutup.Wanita itu menggedor-gedor pintu lift, berusaha membuka dengan sia-sia.Chris mendekat, memegang pinggang Elea dan menariknya menuju landasan helikopter. Tubuh Elea memberontak, sedikit menyulitkannya. Tetapi ia bisa mengendalikan situasi menggunakan kekuatan prianya."Aku tidak mau pergi. Lepaskan, Chris!" Elea memukul-mukul lengan Chris yang melingkari perutnya. Kakinya menendang-nendang ke segala arah.Chris sama sekali tak mengurangi kecepatan langkahnya. Membalik tubuh Elea dan membopongnya di pundak seperti sekarung beras. Mengabaikan jeritan dan rontaan wanita itu yang semakin menjadi. Kakinya baru saja menginjak landasan helikopter ketika tiba-tiba suara mesin berhenti dan gerakan baling-balingnya mulai memelan.Langkah Chris membeku

  • Pelayan Sang Tuan   Part 53 Dibawa Pergi

     Lama Elea hanya tenggelam dalam kebisuan. Fera? Anak Galena?“J-jadi … semua itu perbuatanmu? Kalian bekerja sama sejak awal.”“Teror itu? Ya. Pada awalnya semua adalah rencanaku. Kau mulai menarik perhatian Zhafran. Kami memang berteman sejak kecil, tetapi kau selalu menjadi permen kesukaannya karena kepolosanmu yang memuakkan itu. Karena sikap manjamu yang menjijikkan itu. Dia tak berhenti memperhatikanmu. Bahkan ketika kau hanya berjalan menghampirinya. Menyebalkan.”Elea tak bergeming. Masih menelaah kebingungannya yang berkepanjangan. “Kupikir dengan membiarkan kalian bertunangan dan menikah, pada akhirnya kau akan menginginkannya. Sementara Zhafran sudah menjadi milikku, kupikir aku akan menggunakannya untuk membalaskan dendam mamaku pada keluargamu yang membuatnya menderita. Tapi … semakin aku mengenalnya, aku semakin menginginkannya. Dengan perasaanku yang tulus, yang malah dia campakkan hanya karena anak kecil sepertimu.”

  • Pelayan Sang Tuan   Part 52 Bertatap Muka

    Tak ada pelayan maupun pengawal yang menjaga mereka di dalam rumah. Elea turun lebih dulu dan pergi ke dapur untuk membuatkan minum Zhafran. Sembari menunggu pria itu berpakaian di kamar.Gerakan tangannya terhenti ketika hendak menaburkan serbuk obat di tangannya ke minuman Zhafran.‘Tenanglah, Elea. Aku tak mungkin membuatmu menjadi seorang pembunuh. Pembunuh suami sendiri.’‘Itu hanya obat tidur. Percaya padaku.’Elea mengangguk, menyakinkan dirinya dan memasukkan serbuk tersebut, mengaduknya dengan sendok. Zhafran baru saja muncul ketika ia keluar dari dapur. Keduanya saling melemparkan senyum dan duduk di kursi masing-masing.“Jadi, apa yang kau bicarakan dengan Chris?”Elea tak menatap wajah pria itu, mendekatkan gelas minumannya kea rah Zhafran ketika menjawab, “Masih sama seperti pembicaraan terakhir kami.”Zhafran tak bertanya lagi. Menatap gelas yang diberikan Elea.Elea memegang tangan pria

  • Pelayan Sang Tuan   Part 51 Satu-Satunya Cara

    “Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?” Chris menoleh ke samping. Menyadari kegusaran El Noah yang sejak tadi bernapas dengan kasar dan bergerak tak nyaman di sampingnya.El Noah menggeleng, tanpa melepaskan pandangannya yang kosong ke arah depan. Tangannya yang bersandar di jendela mobil, menyentuhkan telunjuk di mulut, sesekali menggigit dengan pikiran yang masih berkelit. “Sepertinya ada yang aneh dengan Elea. Sesuatu terjadi dengan hubungan mereka.”“Pernikahan mereka?”El Noah mengangguk. Memutar kepala ke arah Chris. “Apakah ini masuk akal? Galena, aku seperti pernah mendengar nama itu. Tapi aku melupakan di mana. Ada hubungannya dengan papaku. Lalu Fera. Suatu malam terjadi sesuatu dengan Elea, yang membuat Elea marah. Apakah Zhafran tidur dengan Elea?”Chris tampak kebingungan, tetapi akhirnya bisa mencerna kalimat membingungkannya El Noah. “Siapa Galena?”El Noah mengerutkan keningnya dalam. Berusaha keras mengingat. Sa

  • Pelayan Sang Tuan   36. Bersiasat

    "Pernikahan ini sama sekali tak ada artinya, Meera. Dia bukan suamiku dan aku bukan istrinya. Jangan mengungkit tentang hal itu.""Pernikahan ini sama sekali bukan apa-apa. Aku bahkan menganggapnya tak pernah terjadi. Aku berharap bisa menghilangkan ingatanku yang satu itu."Dirga bahkan lebih dibuat

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Pelayan Sang Tuan   33. Keributan Di Rumah Sakit

    Saat Dirga kembali ke ruang perawatan Davina, Gadis itu sudah kelelahan menunggu dan hampir terlelap kembali. Tetapi satu lumatan yang mengusap biirnya membangunkannya secara tiba-tiba.“Aku sudah bersusah payah memenuh keinginanmu dan kau ingin tidur dengan membiarkan anakku kelaparan?” Tatapan Dirg

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Pelayan Sang Tuan   29. Obat Penggugur Kandungan

    Davina menarik selimut menutupi tubuhnya, menoleh ke arah pintu dan beringsut menjauh. Sementara Dirga duduk di sofa panjang, menurunkan ponselnya dan menyeringai dengan ketakutan di wajah Davina. Kemarahan di dadanya belum surut.“A-apa kau akan benar-benar melakukan ini padaku?” cicit Davina, memeg

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Pelayan Sang Tuan   32. Kerepotan Di Tengah Malam

    Tengah malam, Davina terbangun karena rasa lapar yang mendadak datang. Lampu ruangan sudah diatur redup dan di seberang ruangan ia mendengar dengkur halus Dirga. Ia menyingkap selimut dengan perlahan dan bangun terduduk. Hanya ada air putih di samping nakas. Entah jam berapa ini, Davina hanya mendu

    last updateLast Updated : 2026-03-20
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status