Share

1. Putri Sang Musuh

"Jadi kau masih hidup?" Seringai Jimi naik lebih tinggi. Kelicikan dan kebengisan berkilat jadi satu di kedua matanya yang bengkak dengan luka lebam di sebelah kiri. Ujung bibir pria itu juga robek dan Dirga yakin luka di tubuh Jimi lebih banyak dari yang terlihat di wajah.

Saga benar-benar memberi pria itu penderitaan yang lembuy. Perlahan dan menyiksa. Tetapi semua penyiksaan itu tak membuat kesombongan seorang Jimi Riley runtuh.

"Ya, jika pengkhianat sepertimu masih bisa bernapaa, kenapa aku tidak?"

Jimi terkekeh lalu mendenguskan balasan. "Wanita Ganuo yang menyelamatkanmu, aku hampir melemparnya dari atas gedung. Nyaris. Seharusnya aku menembaknya sebelum Ganuo datang. Untuk merayakan tragedi yang sama."

Wajah Dirga seketika menggelap, hanya untuk sejenak. Di detik berikutnya, ialah yang membalik posisi. Tangannya merogoh selembar foto dari saku kemeja dan menunjukkannya pada Jimi. "Dia memiliki mata yang sama denganmu. Lemah dan haus kasih sayang."

Seringai Dirga naik lebih tinggi ketika wajah Jimi membeku hanya dalam sepersekian detik. Rupanya pria itu masih memiliki sedikit hati meski hanya seujung jarum. Jimi pasti mengenali foto gadis di tangannya. Tak akan menyangkal karena sangkalannya hanya akan membuat dirinya semakin menjadi menggunakan Davina sebagai samsak balas dendamnya.

"Mata dibayar mata, dan kaki dibayar kaki." Dirga tersenyum geli. "Beruntung kakinya kembali sembuh seperti kakiku, meski tidak sama seperti semula."

Wajah Jimi semakin menggelap, kedua tangan yang mengepal di meja kini memukul keras ke arah kaca yang menjadi penghalang di antara mereka. Tetapi bahkan peluru saja tidak bisa menembus benda bening itu. "Apa yang kau lakukan padanya?!"

Dengan senyum lebar yang masih menghiasi wajahnya, Dirga berdiri sambil mengembalikan foto itu ke saku kemeja hitamnya. Berbalik dan menuli dari teriakan Jimi yang menggelitik telingnya. Siapa bilang balas dendam tidak semenyenangkan ini. Semua terasa manis.

***

Entah berapa lama Dirga duduk di balik kemudi di dalam mobilnya yang terparkir di seberang jalan. Pandangannya tak lepas dari keluarga kecil yang mengeliling meja di dalam restoran. Meja yang mereka ambil berada di samping jendela. Sehingga kebahagiaan yang menyelimuti keluarga kecil itu terpampang jelas di depan matanya. Tak tersangkalkan dan menampar kenyataan hidupnya.

Sungguh, ia berusaha sangat keras untuk merelakan wanita yang masih menggenggam perasaannya itu. Namun, hatinya masih tak cukup rela melepaskan wanita itu. Masih bergemuruh melihat kemesraan Saga dan Sesil, juga pada kebahagiaan keluarga kecil itu.

Pandangannya teralih pada kaca spion. Dua mobil hitam mendekat ke arahnya. Tak butuh sialan lainnya, ia pun meninggalkan area restoran. Langsung menuju rumah.

Ingin berlari sejauh mungkin, karena berada di sekitar Sesil hanya akan membuat hatinya tak rela. Namun, ada kalanya hatinya tak ingin rela. Tak ingin ikhlas meninggalkan wanita itu belakang sana. Ada harapan, yang setipis angin dan berbisik padanya. Mungkin, suatu saat di masa depan. Wanita itu akan kembali padanya.

Terdengar naif, tapi sedikit menghibur hatinya yang kering dan tak bernyawa.

Hari sudah beranjak sore ketika ia menghentikan mobil di halaman rumah. Ia butuh minum, tapi hanya akan memperburuk pagi harinya. Sementara ada tumpukan masalah yang menggunung di ruang kerja yang harus diurusnya besok pagi.

Sepulang dari menemui Jimi di penjara, tadi ia hanya ingin mendapatkan beberapa makanan untuk mengisi perut ketika menemukan  Saga dan Sesil sedang makan di restoran yang ingin disinggahinya. Dan pikirannya hanya akan semakin semrawut jika kembali ke kantor.

Melangkah masuk, perhatiannya teralih pada Davina yang baru saja melangkah masuk ke dalam rumah dari area halaman belakang. Langkahnya terhenti, begitu pun gadis itu ketika menyadari keberadaannya. Ah, pengalih perhatian dari patah hatinya selalu muncul di saat yang tepat.

"Bawakan teh ke kamarku," perintahnya dingin dan datar sebelum melangkah naik ke kamar utama. Ia tak terlalu suka teh, coklat panas, kopi, atau minuman apa pun di bawa ke kamar. Perintah itu jelas bahwa dia sedang butuh hal lainnya dari gadis itu.

Sampai di kamar mandi, Dirga melepas pakaiannya dalam perjalanan ke bilik shower. Mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Tak lama, ia melangkah keluar dan pintu kamarnya diketuk pelan. Membuka pintu dan membiarkan Davina melangkah masuk. Mengunci pintu di belakangnya, Dirga menunggu gadis itu meletakkan nampan di meja.

Pandangan Davina tertunduk. Berdiri di samping meja dan menunggu. Tak perlu lama, Dirga sudah setengah perjalanan menghampirinya. Memangkas jarak di antara mereka dan langsung menangkap tubuhnya ke dalam pelukan pria itu. Bibir pria itu mendarat di bibirnya, dan ia bisa merasakan tengkuknya yang ditahan lalu kepalanya didongakkan agar bibir pria itu lebih leluasa bergerilya di mulutnya.

"Buka mulutmu," desis Dirga dalam perintahnya. Davina menurut, membiarkan lidahnya mengabsen seluruh jajaran gigi gadis itu yang rapi. Menyesap rasa manis dan memabukkan yang mulai memudarkan kebahagiaan Sesil yang memenuhi pikirannya. Perlahan membius cemburu dan patah hati di dadanya.

Dan dalam dua menit, tubuh keduanya sudah berada di tengah tempat tidur. Tanpa sehelai pun benang pun yang memisahkan ketelanjangan mereka.

Davina sama sekali tak melawan. Hanya pasrah dan membiarkan Dirga menikmati setiap inci tubuhnya. Seperti biasanya. Seperti yang sudah-sudah.

Pertama kalinya Dirga menyentuhnya, perlawanannya sama sekali tak membuat keberengsekan pria itu berhenti. Bahkan pria itu memperlakukannya dengan kasar, tak segan-segan meninggalkan lebam di tubuhnya saat ia melawan.

Pria itu menyembuhkan kakinya hanya untuk dijadikan pemuas nafsu. Sebagai bayaran atas kekejaman ayahnya terhadap pria itu.

Jimi Riley, tak banyak hal yang diketahuinya tentang sosok ayah di hidupnya sejak ia dilahirkan. Pria itu hanya datang sekali dalam setahun, memberikan segepok uang untuk bertahan hidup bagi mereka.

Mata dibayar mata, kaki dibayar kaki, dan nyawa dibayar nyawa. Sekarang nyawanya sudah menjadi milik seorang Banyu Dirgantara dan berakhir di ranjang pria itu.

Dirga mengerang, wajahnya dipenuhi peluh dan setelah pelepasan yang luar biasa, ia menarik diri dari tubuh gadis di bawahnya. Berguling ke samping dengan napas terengah. Sementara Davina langsung berbaring miring memunggungi pria itu sambil menarik selimut menutupi ketelanjangannya.

Setelah beberapa saat, Davina pikir Dirga sudah terlelap dengan kesunyian yang menyelimuti tempat tidur. Ia pun bergerak turun.

"Aku belum selesai." Suara dingin Dirga menahan kaki Davina yang baru saja menyentuh lantai.

Davina memutar kepala dan lengannya ditarik. Tubuhnya kembali berbaring di bawah Dirga.

"Aku sudah pernah mengatakan padamu, kan. Kau hanya boleh turun hanya jika aku mengijinkanku."

"Sejak pagi, aku merasa merasa tidak enak badan. Bolehkah kali ini aku pergi lebih cepat dari biasanya." Davina memberanikan diri untuk membuka suara.

Tetapi Dirga sama sekali tak tertipu dengan raut pucat dan suara lemah yang dibuat-buat Davina. Itu semua hanya alasan untuk melawan keinginannya terhadap gadis itu. "Berdalih, hah?" dengusnya tipis. Ya. Semua itu hanya dalih. Ia tahu dibalik semua kepasrahan dan kepatuhan gadis ini terhadapnya, otak kecil Davina sedang merencanakan sesuatu yang besar.

Davina pun menutup mulutnya. Tak punya pilihan selain membiarkan Dirga menguras habis seluruh tenaganya.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status