MasukDi barisan depan, ponsel enkripsi milik Bram yang duduk di kursi penumpang samping pengemudi berbunyi pendek. Bram menatap layar digitalnya sejenak sebelum menoleh ke belakang. "Tuan Javendra," lapor Bram sigap. "Tim pendahulu kita sudah tiba di luar gerbang kediaman Jennifer Merlin. Mereka mengonfirmasi bahwa tiga mobil pengawal pribadi Nyonya Amara masih ditahan di area parkir luar gerbang. Pihak keamanan Jennifer menolak membukakan gerbang untuk mereka." "Bagus," pangkas Javendra dingin, mata hitamnya berkilat tajam. "Instruksikan tim pendahulu untuk tidak mengambil tindakan anarkis sampai konvoi utama kita tiba. Begitu kita sampai, langsung ambil alih pos penjagaan depan." "Siap, Tuan," sahut Bram tegas lalu kembali mengetikkan instruksi khusus di perangkat komunikasi terenkripsi. Dua puluh menit berlalu. Iring-iringan kendaraan mewah itu akhirnya berbelok memasuki jalan melingkar yang mengarah ke gerbang utama kediaman Jennifer Merlin. Suasana di luar gerbang besi tempa i
Atmosfer di dalam ruang kerja utama Maheswara Group berubah sedingin es. Javendra berdiri menjulang di balik meja kerjanya, mendengarkan laporan terbaru dari Bram yang berdiri di hadapannya. "Tuan Javendra, kami baru saja mengonfirmasi bahwa Nyonya Amara dipaksa bertahan di dalam mansion Jennifer Merlin," lapor Bram cepat. "Pihak Jennifer beralasan ada jamuan keluarga besar, tetapi seluruh pengawal pribadi Nyonya Amara ditahan di luar area gerbang utama dan tidak diperbolehkan masuk." Javendra mengepalkan tangannya di atas meja kayu hingga buku-buku jarinya memutih. Mata hitamnya memancarkan pendar dominasi yang teramat pekat dan berbahaya. "Siapkan seluruh unit pengawalan utama," perintah Javendra dengan suara berat yang bergetar penuh ancaman mutlak. "Bawa sepuluh armada kendaraan. Kita berangkat ke kediaman Jennifer Merlin sekarang juga." "Siap, Tuan! Semua unit keamanan akan bersiaga di pelataran depan dalam waktu lima menit," sahut Bram tegas sebelum berbalik dan melang
Sebelum Javendra sempat memberikan jawaban, derak langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari arah koridor depan. Bram melangkah masuk ke dalam ruang makan dengan raut wajah yang amat tegang dan kaku. Asisten pribadi itu membungkuk sedikit di samping kursi Javendra, menurunkan volume suaranya. "Tuan Javendra," bisik Bram rendah dan sigap. "Ada hal mendesak yang perlu diselesaikan di ruang kerja sekarang." Javendra langsung menangkap sinyal bahaya dari raut muka Bram. Pria tegap itu berdiri dari kursinya tanpa ragu, menunduk dan mengecup kening Sasa dengan kehangatan yang terkontrol. "Istirahatlah dulu di ruang keluarga, Sasa. Aku ada urusan pekerjaan sebentar dengan Bram," tutur Javendra lembut. "Iya, Mas Javen," sahut Sasa mengangguk pelan, meskipun tatapan matanya yang jeli terus mengikuti pergerakan suaminya hingga menghilang di balik pintu ruang makan. Di dalam ruang kerja pribadi yang tertutup rapat dan kedap suara, Javendra langsung berbalik menatap Bram dengan panda
Atmosfer di dalam ruang tamu privat kediaman Jennifer Merlin kian menghimpit. Dua orang pelayan senior berkedip memberi kode, lalu melangkah mundur dan menutup pintu kayu ganda ruangan tersebut dari luar. Suara engsel pintu yang terkunci halus menyisakan Amara dan Jennifer dalam keheningan yang tajam. Jennifer bersandar kembali pada sandaran sofanya yang tinggi dan berlapis kain beludru impor. Ia menatap Amara dengan senyuman tipis yang menyiratkan kepuasan atas ketenangan Amara yang mulai ia goyang. "Tentu saja aku tidak berniat menyebarkan semua berkas itu ke publik, media bisnis, atau portal berita," ujar Jennifer membuka suara, memecah kesunyian. "Menghancurkan nama baik Amara Maheswara di luar sana hanya akan membuat harga saham Maheswara Group berfluktuasi sebentar. Aku tidak mencari keuntungan murahan dan recehan seperti itu." Amara memiringkan kepalanya tipis. Matanya menatap wanita tua di depannya tanpa ada kilat rasa takut. "Lalu apa yang sebenarnya kamu inginkan dari
Iring-iringan kendaraan beratap tinggi membelah jalanan pinggiran Jakarta yang mulai berangsur lengang. Sedan hitam mewah yang ditumpangi Amara bergerak dengan kecepatan konstan, melintasi deretan pepohonan rindang hingga akhirnya berbelok memasuki kawasan perumahan elit bernuansa kuno. Mobil itu melambat, lalu berhenti tepat di hadapan pintu gerbang besi tempa yang menjulang tinggi dan kokoh. Ukiran lambang lama keluarga Maheswara terpahat kusam di pilar batu tebal yang menyangga pagar tersebut. Pengawal berseragam kaku yang berjaga di pos depan melangkah keluar. Ia menatap ke dalam kaca mobil yang diturunkan perlahan oleh sopir Amara. Begitu mengenali paras anggun sang Nyonya Besar, pria berbadan tegap itu hanya mengangguk singkat, tanpa menyunggingkan senyum ramah sedikit pun. "Nyonya Amara," sapa pengawal itu dengan nada dingin. "Nyonya Jennifer sudah menunggu di dalam. Kendaraan utama Anda diperbolehkan masuk, namun armada pengawal pribadi Anda wajib memarkirkan mobil di l
Amara mengepalkan tangannya di atas meja. Tidak. Ia tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Ia telah menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam penyesalan yang mendalam. Ia telah merasakan bagaimana dingin dan hampa hidupnya sewaktu dibenci oleh putra tunggalnya sendiri. Dan kini, setelah Sasa hadir di dalam kehidupan mereka, seorang menantu yang begitu lembut, tulus, dan berhasil meruntuhkan dinding es di hati Javendra, Amara telah merasakan kembali kehangatan sebuah keluarga yang nyata. Hubungannya dengan Javendra baru saja mulai membaik, dan Sasa kini sedang mengandung cucu pertamanya. Amara juga memikirkan kondisi Sasa. Menantunya itu adalah sosok yang sangat halus dan penyayang. Saat ini, usia kehamilan Sasa masih sangat muda dan rawan. Sasa membutuhkan ketenangan jiwa, kedamaian, dan lingkungan yang penuh kasih sayang agar kehamilannya tetap stabil dan sehat. Amara sama sekali tidak sudi jika persoalan beracun dari masa lalunya berimbas pada Sasa, membuat menantunya me
"Ahhh Tuan Javen, hentikan, uhh," Sasa mengeluarkan desahan pasrah yang bergetar dari bibirnya, sementara remasan tangan Javendra di dadanya justru semakin kuat. Javendra tidak lagi hanya diam menunggu. Saat Sasa bergerak naik dan turun dengan kaku, Javendra justru menarik pinggang Sasa agar tu
Sasa membeku. Kata-kata Javendra terasa seperti petir yang menyambar tepat di kepalanya. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya memanas sampai ke telinga. "Tuan..." suaranya keluar sangat kecil, hampir hilang. "Itu ... itu bukan pijat, Tuan." Javendra tetap tenang. Matanya tidak lepas dari wa
Sasa meneguk ludah. Kata-kata Javendra terdengar sangat jelas di tengah keheningan kamar yang hanya diisi napas mereka berdua. Ia masih berlutut di ranjang, tangannya yang sudah lelah tergeletak di pangkuannya. "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" tanyanya hampir berbisik. Suaranya bergeta
Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian. "Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra mel







