LOGINSuara derap langkah sepatu kulit Javendra bergema dingin menembus lorong bernuansa abu-abu kusam di Rumah Tahanan Kelas I. Di sampingnya, Bram melangkah sigap sambil membawa map tebal berisi berkas pelacakan tim siber Maheswara Corp. Empat pengawal bertubuh tegap mengapit di belakang mereka. Udara di dalam fasilitas penahanan itu terasa lembap dan pekat oleh aroma antiseptik bercampur besi berkarat. Namun, raut wajah Javendra tetap datar tak tersentuh. Tatapan matanya tajam dan dipenuhi aura intimidasi yang pekat. Langkah Javendra terhenti di depan sebuah pintu besi tebal berlabel Ruang Kunjungan Privat. Dua petugas penjaga lapas membungkuk hormat, lalu memutar kunci berat dan membuka pintu tersebut. Di dalam ruang berukuran empat kali empat meter yang dibatasi oleh kaca tebal kedap suara, sesosok pria berpakaian tahanan oranye duduk dengan gaya angkuh di atas kursi kayu. Tangannya terbelenggu borgol besi. Arka Danuarta, pria menyedihkan itu makin miris di pandangan Javendra
Sasa menatap Javendra dengan tenang. Ia menggeleng pelan dengan sikap yang sangat bijak. "Malam ini aku mau tidur sama Ibu dulu ya, Mas," jawab Sasa dengan nada suara yang tetap sopan, tidak menggunakan nada membentak sedikit pun. "Kita berdua sama-sama butuh waktu untuk menenangkan pikiran. Aku tidak mau kita bicara dalam keadaan emosi yang belum stabil." Javendra terdiam kaku. Ketegasan Sasa yang disampaikan secara halus namun runtut itu membuat pria itu tidak punya alasan lagi untuk membantah. Javendra menyadari bahwa memaksakan kehendak malam ini hanya akan membuat Sasa makin tertekan dan menjauh darinya. Javendra menundukkan kepalanya, mengalah sepenuhnya. "Baiklah..." kata Javendra dengan suara lirih. "Kalau itu memang bisa membuatmu lebih tenang malam ini, Mas turuti." Javendra melangkah mendekati tempat duduk Sasa. Pria itu membungkukkan tubuhnya perlahan, mengulurkan tangan untuk mengusap lembut helai rambut Sasa. Sasa tidak menghindar, membiarkan jemari suaminya m
Sasa menatap Amara dengan mata berkaca-kaca. "Mas Javendra tidak jahat kok, Ibu. Mas Javendra cuma... cuma suka menyembunyikan hal-hal penting dariku. Mas Javendra memperlakukanku seperti orang yang tidak bisa dipercaya untuk tahu masalah." Amara mengangguk-angguk paham. Tanpa perlu penjelasan yang terlalu rumit, wanita itu sudah bisa menebak tabiat anak tunggalnya. Javendra memang memiliki sifat protektif yang terlampau tinggi dan cenderung ingin mengendalikan segalanya sendirian demi melindungi orang yang dicintainya. Sifat yang terkadang justru bisa menyiksa dan membebani pasangan jika tidak dikontrol dengan baik. Amara mendongak, melirik Javendra yang masih berdiri mematung di tengah ruangan seperti seorang murid sekolah yang sedang menunggu hukuman dari gurunya. "Javendra," panggil Ibu Amara dengan suara yang dingin dan menyindir. "Kamu dengar sendiri kan apa yang dibilang istri kamu?" Javendra berjalan mendekat secara perlahan, memilih untuk duduk di sofa tunggal di seb
Javendra mengangguk pasrah. Ia tidak berani membantah atau memaksakan kehendaknya lagi saat melihat raut wajah Sasa yang begitu tegas. "Baik, Sayang. Kita pulang sekarang," ujar Javendra. Javendra mencoba mengulurkan tangannya untuk merangkul bahu Sasa seperti biasa, tetapi Sasa dengan halus melangkah lebih dulu tanpa menyambut uluran tangan itu. Sasa berjalan berdampingan dengan Pak Bram menuju arah lift VIP, meninggalkan Javendra yang berjalan mengekor di belakang dengan rasa cemas yang makin menumpuk di dadanya. ** Perjalanan pulang dari Rumah Sakit Medika Utama menuju kediaman utama Maheswara berlangsung dalam keheningan yang sangat pekat. Iring-iringan tiga mobil hitam melaju menembus jalanan kota Jakarta. Di dalam kabin penumpang mobil tengah yang biasanya diwarnai oleh canda tawa dan pelukan hangat, kini hanya ada hembusan angin pendingin udara yang terdengar tipis. Sasa duduk merapat di dekat jendela sebelah kiri. Pandangannya lurus menatap deretan pepohonan dan gedung-g
Udara di lorong lantai lima Rumah Sakit Medika Utama mendadak terasa begitu membeku. Suara denting alat medis dari ruang perawatan intensif yang berbunyi secara berkala seolah tenggelam oleh ketegangan tinggi di antara dua orang yang berdiri berhadapan itu. Javendra berdiri terpaku, tangannya yang meremas ponsel pribadi Sasa bergetar pelan. Matanya yang merah menatap Sasa dengan campuran rasa panik dan amarah yang meledak-ledak. Di sisi lain, Sasa berdiri tegap menempel pada dinding kaca tebal. Wajahnya memang pucat pasi dan air mata masih menetes basah di pipinya, namun sorot matanya tidak memperlihatkan ketakutan seorang wanita lemah yang mudah ditundukkan. Sasa bukanlah wanita bodoh. Rentetan trauma dan pahitnya penderitaan masa lalu telah membentuk pikirannya menjadi sangat peka. Panggilan telepon dari pria tak dikenal tadi memang terdengar provokatif dan penuh niat jahat untuk mengadu domba, tetapi reaksi berlebihan Javendra saat merampas ponselnya secara kasar justru
Sasa langsung menekan tombol merah di layar ponselnya secara kasar, mematikan panggilan tersebut secara sepihak. Tangannya yang memegang ponsel gemetar hebat. Dadanya naik turun dengan napas yang tersengal-sengal. Pikiran Sasa mendadak kacau balau. Kalimat-kalimat dari pria misterius di telepon itu berputar-putar di dalam kepalanya bagaikan racun yang mematikan. Sasa mencoba menolak mentah-mentah ucapan pria itu, tetapi ingatan tentang kejadian tadi pagi mendadak berkelebat di benaknya. Raut wajah Javendra yang mendadak sangat pucat dan marah setelah membaca pesan di ponselnya... Perilaku Javendra yang mendadak sangat tegang dan memaksanya untuk tidak perlu tahu... Genggaman tangan Javendra yang terasa terlampau kuat dan posesif... Serta kedatangan puluhan pengawal tambahan yang mendadak mengurung area rumah sakit ini... Apakah... apakah benar ada hal besar yang sengaja disembunyikan Javendra darinya? Sasa menyandarkan punggungnya di dinding kaca, memegang dadanya yang terasa
Sasa bingung sejenak saat Javendra menanyakan soal pijat. Ia tidak langsung menjawab, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Eh … bisa, Tuan," jawabnya akhirnya. "Waktu masih tinggal sama ibu dulu, saya pernah diajarin pijat. Ibu saya tukang pijat di kampung, suka urut orang capek dan urut bayi
Javendra langsung menutup pintu dengan cepat begitu melihat keadaan Sasa. Sasa buru-buru memakai seragam baru dengan tangan gemetar. Ia benar-benar merasa bodoh sekali. Kenapa aku kelamaan ganti baju? Kenapa pula aku setuju ganti di sini? Tak sampai semenit kemudian, terdengar ketukan di pintu.
Javendra berdeham keras. Tangan kanannya cepat ditarik dari dada Sasa. "Kamu masih mau sampai kapan menduduki saya?" tanyanya dengan suara rendah dan datar. Sasa langsung tersentak. Wajahnya memerah hebat sampai ke leher. Ia buru-buru bangkit dari pangkuan Javendra, hampir tersandung lagi kar
Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian. "Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra mel







