LOGINJennifer masih bersikeras menolak kemungkinan bahwa Sasa benar-benar merupakan putri kandung Aldebaran Pratama. Baginya, pekerjaan Sasa di masa lalu tidak sesuai dengan gambaran seorang anak dari keluarga terpandang. Ia juga menduga Kenzo dan Javendra sengaja menyusun cerita untuk membuat semua orang menerima identitas Sasa tanpa mempertanyakannya lebih jauh. Namun, tuduhan itu justru memperlihatkan bahwa Jennifer belum memahami siapa yang sedang dihadapinya. Kenzo tidak datang hanya untuk berdebat. Ia membawa sesuatu yang dapat menjawab semua keraguan Jennifer, termasuk tuduhan bahwa dirinya dan Javendra sedang bersekongkol. Mendengar Jennifer kembali menyebut Sasa sebagai pelayan dengan nada merendahkan, Reno segera mengambil satu langkah ke depan. Ia tidak menunjukkan kemarahan secara terang-terangan, tetapi raut wajahnya berubah lebih serius. Sebagai asisten Kenzo, ia sudah terbiasa menghadapi berbagai persoalan yang membutuhkan ketelitian dan bukti kuat. Karena itu, ia t
Debu yang beterbangan akibat dorongan baling-baling helikopter di luar jendela mulai mengendap. Angin yang sebelumnya bertiup kencang juga perlahan mereda. Namun, suasana di ruang tamu privat kediaman Jennifer Merlin justru berubah tegang setelah Kenzo Aldebaran masuk bersama rombongannya. Kedatangannya membuat perhatian semua orang langsung tertuju kepadanya. Kenzo berjalan dengan langkah mantap melewati permadani tebal yang membentang di lantai. Wajahnya terlihat tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa ia datang dengan tujuan yang jelas. Tidak jauh di belakangnya, Reno, asisten kepercayaannya, ikut melangkah sambil membawa sebuah koper hitam berukuran sedang. Penampilannya yang rapi, lengkap dengan kacamata berbingkai tipis, membuatnya terlihat seperti seseorang yang terbiasa menangani urusan penting. Koper yang dibawanya juga bukan koper biasa. Di dalamnya tersimpan sejumlah dokumen penting yang telah disiapkan untuk membuktikan identitas seseorang sekaligus memastikan k
Suasana di ruang tamu privat kediaman Jennifer Merlin berubah setelah panggilan telepon dari Javendra terputus. Namun, ancaman itu tidak membuat Jennifer gentar. Ia masih yakin kedudukan dan pengaruhnya cukup kuat untuk menghadapi siapa pun. Jennifer terkekeh sinis sambil menggelengkan kepala. Beberapa kerabat jauh keluarga Maheswara yang berdiri di belakangnya ikut berbisik, memandang Sasa dengan sikap meremehkan. "Skenario konyol apa lagi yang sedang kamu mainkan ini, Javendra?" cibir Jennifer sambil melipat tangan di dada. Ia menunjuk Sasa dengan jemari berhias perhiasan. "Kamu pikir aku ini wanita tua pikun yang gampang ditipu? Kenzo Aldebaran? Pemimpin Vanguard Group? Mana mungkin pria sekelas Kenzo mengakui gadis seperti ini sebagai adiknya! Aku tahu betul latar belakang istrimu. Dia tadinya cuma pelayan di mansion Maheswara yang beruntung bisa memikatmu!" Amara segera melangkah ke depan. Ia berdiri di hadapan Sasa, menghalangi pandangan Jennifer dan para kerabatnya. Ta
"Kamu selalu membanggakan porsi saham minoritas lima persen milikmu di Maheswara Group kan?" lanjut Javendra penuh nada intimidasi. "Ketahuilah satu hal, Istriku yang kamu hina sebagai wanita miskin ini adalah pemegang saham tunggal sebesar empat puluh persen atas Aldebaran Group!" Suasana di dalam ruang tamu privat itu seketika hening total. Jennifer Merlin mematung di tempatnya berdiri. Kedua matanya melebar sempurna, dan raut wajahnya membeku sewaktu mendengar nama imperium bisnis raksasa yang baru saja diucapkan oleh Javendra. Amara pun sempat menoleh menatap Sasa dengan rasa terkejut yang tak bisa disembunyikan. "Al... Aldebaran Group?" bisik Jennifer gagap, suaranya bergetar hebat. "Kamu... kamu pasti berbohong, Javendra! Aldebaran Group adalah konglomerasi privat terbesar di kawasan Asia! Mana mungkin wanita rakyat biasa seperti dia memegang empat puluh persen sahamnya!" "Aku tidak pernah membuang waktu untuk berbohong pada wanita seperti mu," pangkas Javendra datar dan
Javendra tidak langsung menjawab pertanyaan ibunya. Pandangan mata hitamnya yang tajam menyapu seisi ruangan, memeriksa kondisi Amara dari ujung kepala hingga ujung kaki. Setelah memastikan ibunya tidak mengalami luka fisik atau perlakuan kasar secara langsung, fokus Javendra beralih sepenuhnya pada wanita tua yang duduk di sofa utama. Jennifer Merlin mematung sejenak, terkejut oleh kedatangan Javendra yang begitu cepat dan tanpa kompromi. Namun, wanita tua itu dengan cepat menguasai raut wajahnya, menegakkan punggung dan menyunggingkan senyum angkuh. "Javendra," panggil Jennifer dengan suara seraknya. "Sangat tidak sopan mendobrak masuk ke ruang privat nenekmu seperti ini. Apakah begini tata krama yang diajarkan di rumah utama Maheswara?" Javendra melangkah mendekati meja utama, menuntun Sasa untuk berdiri di sampingnya. Pria tegap itu menatap Jennifer dengan sorot mata yang cukup untuk membekukan seluruh udara di dalam ruangan. "Nenek?" desis Javendra rendah, nada suaranya
Di barisan depan, ponsel enkripsi milik Bram yang duduk di kursi penumpang samping pengemudi berbunyi pendek. Bram menatap layar digitalnya sejenak sebelum menoleh ke belakang. "Tuan Javendra," lapor Bram sigap. "Tim pendahulu kita sudah tiba di luar gerbang kediaman Jennifer Merlin. Mereka mengonfirmasi bahwa tiga mobil pengawal pribadi Nyonya Amara masih ditahan di area parkir luar gerbang. Pihak keamanan Jennifer menolak membukakan gerbang untuk mereka." "Bagus," pangkas Javendra dingin, mata hitamnya berkilat tajam. "Instruksikan tim pendahulu untuk tidak mengambil tindakan anarkis sampai konvoi utama kita tiba. Begitu kita sampai, langsung ambil alih pos penjagaan depan." "Siap, Tuan," sahut Bram tegas lalu kembali mengetikkan instruksi khusus di perangkat komunikasi terenkripsi. Dua puluh menit berlalu. Iring-iringan kendaraan mewah itu akhirnya berbelok memasuki jalan melingkar yang mengarah ke gerbang utama kediaman Jennifer Merlin. Suasana di luar gerbang besi tempa it
"Ahhh Tuan Javen, hentikan, uhh," Sasa mengeluarkan desahan pasrah yang bergetar dari bibirnya, sementara remasan tangan Javendra di dadanya justru semakin kuat. Javendra tidak lagi hanya diam menunggu. Saat Sasa bergerak naik dan turun dengan kaku, Javendra justru menarik pinggang Sasa agar tu
Sasa membeku. Kata-kata Javendra terasa seperti petir yang menyambar tepat di kepalanya. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya memanas sampai ke telinga. "Tuan..." suaranya keluar sangat kecil, hampir hilang. "Itu ... itu bukan pijat, Tuan." Javendra tetap tenang. Matanya tidak lepas dari wa
Sasa meneguk ludah. Kata-kata Javendra terdengar sangat jelas di tengah keheningan kamar yang hanya diisi napas mereka berdua. Ia masih berlutut di ranjang, tangannya yang sudah lelah tergeletak di pangkuannya. "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" tanyanya hampir berbisik. Suaranya bergeta
Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian. "Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra mel







