INICIAR SESIÓNPagi itu, tiga hari menjelang pertemuan, Sasa sedang duduk di ruang kaca paviliun samping, merawat tanaman hias kesayangannya. Sinar matahari pagi memberikan kilau hangat pada wajahnya yang bersih tanpa riasan tebal. Langkah kaki Javendra yang mantap mendekat dari arah koridor dalam. Pria itu menyapu pandangan ke sekeliling ruangan sebelum duduk di samping Sasa pada sebuah bangku kayu jati. "Kamu tampak jauh lebih tenang hari ini, Sayang," ujar Javendra seraya menggenggam jemari Sasa yang sedikit basah oleh embun tanaman. Sasa tersenyum lembut dan menyandarkan kepalanya di bahu tegap suaminya. "Aku sudah banyak berpikir beberapa hari ini, Mas. Aku sadar bahwa melarikan diri dari kenyataan tidak akan menyelesaikan apa pun." Javendra mengelus rambut panjang Sasa dengan kasih sayang yang mendalam. "Kenyataan tentang apa?" "Kenyataan tentang keluargaku," jawab Sasa dengan suara yang teratur dan tenang. "Dulu aku pikir aku hanya seorang gadis yang tidak punya ayah, hanya punya ibu, t
"Sasa, dengarkan aku baik-baik," kata Javendra tegap dan penuh kepastian. "Kenzo memang kakak kandungmu. Dia berbagi darah yang sama denganmu dari jalur Ayah Aldebaran. Tapi kamu harus tahu bahwa hidup yang dijalani Kenzo sangat berbeda dari hidupmu. Dia dibesarkan oleh Helena dengan taktik dominasi dan kekerasan dingin. Kenzo bertindak hanya berdasarkan logika dan kekuasaan." Sasa menundukkan kepalanya, mengamati jemarinya yang saling bertaut dengan jemari kokoh suaminya. "Aku tahu, Mas. Setiap kali Kenzo bicara, suaranya terasa begitu dingin... seolah tidak ada celah untuk rasa takut atau ragu." "Itu sebabnya aku harus selalu ada di sampingmu," tambah Javendra tegas. "Aku tidak melarangmu mengenal kakakmu, tapi aku tidak akan membiarkan Kenzo membawa kamu masuk ke dalam metode gelap yang biasa dia gunakan. Pertemuan minggu depan adalah kesempatan bagi Kenzo untuk membuktikan niat baiknya sebagai seorang kakak, bukan sebagai kepala klan Pratama yang baru." Sasa menatap suaminya
Aroma kopi arabika segar berpadu dengan wangi kayu cendana yang menguar dari pengharum ruangan otomatis. Di atas meja kerja berukir khas Eropa kuno, tiga layar monitor ukuran besar menyala, menampilkan grafik saham, pergerakan dana internasional, serta peta satelit yang menandai beberapa zona aman di wilayah ibu kota. Javendra Maheswara berdiri di samping meja, menatap lurus ke arah jendela luas yang menghadap ke halaman belakang. Tubuhnya tegap, dibalut kemeja abu-abu gelap dengan gulungan rapi di siku. Garis rahangnya mengeras setiap kali matanya melirik berkas enkripsi yang dikirim oleh sistem jaringan Kenzo tadi malam. Suara langkah kaki yang teratur dari pintu kayu ganda mengalihkan perhatiannya. Bram melangkah masuk dengan setelan jas hitam tanpa celak, membawa sebuah map kulit berwarna cokelat tua. Pria paruh baya itu berhenti tepat tiga langkah dari meja utama dan menundukkan kepala secara hormat. "Tuan Javendra," sapa Bram tegas namun tenang. "Seluruh pengawasan jaringan
Javendra menghela napas panjang. Ini adalah bagian yang paling berat baginya. Ia tahu betapa besarnya kerinduan Sasa, namun ia juga harus realistis demi keselamatan istrinya sendiri. Javendra memegang kedua bahu Sasa, menatap lurus ke dalam mata jernih istrinya. "Belum saatnya, Sasa. Dengarkan aku baik-baik." Sasa mengernyitkan dahi pelan. "Kenapa, Mas? beliau kan sudah sadar? Kenzo juga ada di sana menjaga beliau..." "Justru karena itulah kita harus ekstra hati-hati," potong Javendra tegap. "Kondisi Ayahmu memang membaik, tapi situasi di luar sana belum sepenuhnya bersih. Musuh-musuh keluarga Pratama dan sisa-sisa antek Arka masih mencari celah. Jika ada pergerakan mencurigakan dari kita yang mendatangi tempat isolasi Ayahmu, keberadaan Beliau bisa terendus musuh." Sasa menundukkan kepalanya, menyadari kebenaran dari perkataan suaminya. "Selain itu," lanjut Javendra dengan nada bicara yang tegas namun penuh perhatian. "Aku belum bisa mempercayai Kenzo secara penuh." Sasa mendon
Sementara itu, di Kediaman Maheswara. Suasana sore hari di mansion utama terasa tenang dan teduh. Sasa duduk di sofa empuk ruang keluarga dengan sebuah cangkir teh chamomile hangat di tangannya. Matanya masih tampak sedikit sembap, namun raut wajahnya sudah jauh lebih tenang dibanding saat ia berada di paviliun tadi siang. Di sampingnya, Javendra duduk merapat. Lengan kokoh pria itu terlingkar protektif di bahu Sasa, membiarkan istrinya bersandar nyaman di dadanya. Javendra sudah melepas jas mewahnya, hanya mengenakan kemeja putih yang lengan bagian bawahnya digulung hingga ke siku. "Bagaimana perasaanmu sekarang?" bisik Javendra lembut seraya mengecup puncak kepala Sasa. "Sudah lebih baik, Mas," jawab Sasa pelan seraya tersenyum tipis. "Terima kasih ya, Mas... Tadi siang sudah menenangkan aku dan tidak marah melihat aku menangis seperti itu." Javendra mengusap bahu Sasa dengan jemarinya. "Kenapa aku harus marah? Kamu berhak menangis. Kamu baru saja menemukan jejak kasih sayang i
"Mereka masih mencoba mencari celah untuk mengakses rekening operasional yang Anda bekukan kemarin," balas Reno yang menyusul masuk. "Namun Direktur Keuangan sudah memberi tahu mereka bahwa seluruh otorisasi kini berada penuh di bawah tanda tangan elektronik Tuan Kenzo. Mereka tidak bisa berkutik." Kenzo hanya mendengus halus. "Biarkan mereka kelaparan sedikit lebih lama. Manusia yang biasa hidup memanjakan diri dengan uang haram akan makin cepat memperlihatkan kebusukannya saat kerannya mendadak mati." Di dalam ruangan berukuran luas itu, suasana berbanding terbalik dengan dinginnya lorong bawah tanah. Berbagai peralatan medis mutakhir senilai puluhan miliar rupiah berderet rapi di sekitar sebuah tempat tidur khusus. Tiga dokter spesialis saraf dan dua perawat berijazah internasional langsung berdiri tegap begitu melihat Kenzo melangkah masuk. "Tuan Kenzo," sapa dokter kepala dengan nada penuh penghormatan dan sedikit ketakutan. "Bagaimana kondisinya hari ini?" Kenzo menghen
"Ahhh Tuan Javen, hentikan, uhh," Sasa mengeluarkan desahan pasrah yang bergetar dari bibirnya, sementara remasan tangan Javendra di dadanya justru semakin kuat. Javendra tidak lagi hanya diam menunggu. Saat Sasa bergerak naik dan turun dengan kaku, Javendra justru menarik pinggang Sasa agar tu
Sasa membeku. Kata-kata Javendra terasa seperti petir yang menyambar tepat di kepalanya. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya memanas sampai ke telinga. "Tuan..." suaranya keluar sangat kecil, hampir hilang. "Itu ... itu bukan pijat, Tuan." Javendra tetap tenang. Matanya tidak lepas dari wa
Sasa meneguk ludah. Kata-kata Javendra terdengar sangat jelas di tengah keheningan kamar yang hanya diisi napas mereka berdua. Ia masih berlutut di ranjang, tangannya yang sudah lelah tergeletak di pangkuannya. "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" tanyanya hampir berbisik. Suaranya bergeta
Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian. "Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra mel







