LOGIN[WARNING MATURE CONTENT] Kamar utama kian terasa panas dan kedap. Cahaya lampu tidur berwarna keemasan membiaskan bayangan dua tubuh yang makin menyatu di atas kasur empuk. Suara deru napas yang memburu dan ciuman-ciuman basah yang tercipta tak lagi tertahan. Javendra belum juga menuntaskan gejolak yang membakar dadanya. Pria tegap itu memilih menikmati setiap detiknya untuk membawa istrinya makin tenggelam dalam pusaran gairah yang pekat. Jemari panjangnya merayap turun dari perut mulus Sasa, menyapu lembut pangkal paha bagian dalam hingga membuat tubuh Sasa melengkung pasrah. "Mas... ah... panas..." bisik Sasa dengan mata berbinar sayu, menatap lurus pada paras tampan suaminya yang sudah basah oleh peluh tipis. Javendra menyunggingkan senyum tipis yang teramat memikat. Ia merayap naik kembali, meraut bibir Sasa dalam satu kecupan dalam yang menuntut. Lidahnya menyapu rongga mulut Sasa dengan gerakan melumat yang pekat, menarik seluruh kesadaran istrinya agar makin terbuai be
[WARNING MATURE CONTENT]Pintu tebal di kamar utama terdorong tertutup rapat, mengunci seluruh kebisingan dunia luar. Javendra tidak membuang waktu untuk menurunkan Sasa ke lantai. Pria itu justru membawa tubuh mungil istrinya bergeser hingga punggung Sasa terbentur pelan pada daun pintu yang tertutup. Dalam keremangan lampu kamar yang redup, tatapan mata Javendra tampak begitu kelam, sarat akan gairah dan rasa kepemilikan yang sudah ia tahan sepanjang hari sejak di Bogor. "Mas... katanya mau mandi dulu..." bisik Sasa serak, suaranya tercekat di tenggorokan saat melihat tatapan suaminya yang begitu intens. Javendra tidak menjawab dengan kata-kata. Kedua tangannya terangkat mengurung tubuh Sasa di antara pintu dan dada bidangnya. Pria itu menunduk tajam, meraut bibir Sasa dalam satu sentakan ciuman yang dalam dan panas. Ciuman itu tidak lagi memiliki celah untuk kelembutan yang lambat. Javendra melumat bibir manis istrinya dengan ritme menuntut yang dominan, menyapu seluruh bagian
Mobil sedan hitam mewah milik Javendra akhirnya melaju perlahan memasuki halaman kediaman Maheswara. Lampu-lampu taman yang hangat menyambut kedatangan mereka, membiaskan pendar keemasan di atas sisa tetesan air hujan yang membahasi pelataran. Pengawal bergegas membukakan pintu mobil. Javendra turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Sasa keluar dari kabin belakang. Hawa dingin malam Jakarta langsung menyapa kulit, membuat Sasa sedikit merapatkan pakaiannya. "Lelah sekali, Sayang?" tanya Javendra pelan, melingkarkan lengannya di pinggang Sasa sewaktu mereka berjalan menaiki anak tangga teras depan. Sasa mengangguk pelan, menyandarkan sebagian bobot tubuhnya pada Javendra. "Iya, Mas. Rasanya punggungku pegal semua. Aku mau langsung mandi air hangat lalu tidur." Javendra menyunggingkan senyum tipis, sebuah kerlingan penuh makna terpancar dari manik matanya. "Siapa bilang kamu boleh langsung tidur? Suamimu ini masih butuh layanan khusus setelah seharian menahan dir
Sedan hitam mewah berpelat khusus itu meluncur mulus membelah jalan raya Bogor menuju arah Jakarta. Hujan gerimis mulai turun membasahi kaca luar, membiaskan pendar lampu jalanan menjadi deretan titik cahaya yang samar. Di dalam kabin mobil, suasana terasa begitu hangat dan tenang. Javendra menekan satu tombol di panel samping pintunya. Seketika, kaca pembatas tebal berwarna gelap perlahan terangkat naik dari batas kursi depan, menutup rapat akses pandang maupun pendengaran dari pengemudi dan pengawal yang berada di balik kemudi. Kabin belakang kini sepenuhnya menjadi ruang privat yang kedap suara. Sasa menyandarkan kepalanya di dada bidang Javendra. Rasa lelah bercampur lega membuncah di dalam dadanya usai melewati sesi makan siang yang penuh emosi dan adu gengsi sepanjang hari. "Mas..." panggil Sasa pelan, memainkan kancing kemeja Javendra dengan ujung jarinya. "Aku senang sekali hari ini." Javendra yang sedang mengusap bahu istrinya melirik ke bawah. "Senang karena apa, Sayang
Panggilan itu mengudara begitu halus di antara gemericik air kolam di luar paviliun. Sasa menunduk sebentar, meremas ujung porselen di tatakan cangkirnya dengan pipi yang mendadak bersemu hangat akibat rasa canggung yang mendadak menyerang. "I-iya... Kak Kenzo," bisik Sasa pelan, suaranya hampir tenggelam oleh deru angin sore. Kenzo mendadak kaku di tempat duduknya. Tubuhnya tegap seketika, dan matanya membelalak kecil menatap adiknya. Pria yang biasanya amat tenang memimpin ribuan karyawan itu mendadak mengedipkan mata beberapa kali, seolah telinganya baru saja menangkap hal asing yang belum pernah ia dengar sepanjang hidupnya. "Kamu... memanggilku apa tadi?" tanya Kenzo memastikan, suaranya sedikit terbata-bata. "Kak... Kak Kenzo," ulang Sasa, kali ini mendongak dengan senyum malu-malu yang makin lebar. "Kan tadi Kak Kenzo sendiri yang minta?" Sebuah tawa canggung namun sarat bahagia lolos dari bibir Kenzo. Pria itu membasahi bibirnya, berdeham pelan untuk menutupi rasa canggu
Javendra meletakkan cangkir porselennya ke tatakan dengan denting halus. Pria itu merapikan kerah kemejanya yang rapi, lalu bangkit berdiri dari kursi kayu berukir. Tangannya terulur mengusap puncak kepala Sasa dengan usapan lembut yang teramat protektif. "Aku ke ruang kerja paviliun dulu untuk memeriksa laporan pengamanan Tuan Aldebaran bersama pengawal," ujar Javendra santai. Sasa yang baru saja hendak menyendok potongan buah mendadak menghentikan gerakannya di udara. Matanya membelalak lebar, menatap suaminya dengan raut tidak percaya yang amat polos. "Mas... kamu serius?" tanya Sasa terbata-bata. "Kamu tinggalkan aku berdua saja dengan Kenzo? Tidak salah dengar?" Bukan cuma Sasa yang terkejut. Kenzo yang sedang memegang cangkir tehnya juga sempat tersentak kecil. Alis tebalnya terangkat tinggi, menatap Javendra dengan pandangan curiga seolah menanti ada jebakan di balik kebaikan mendadak pria Maheswara itu. Javendra menyunggingkan senyum tipis yang amat menyebalkan. Ia menun
Javendra berdeham keras. Tangan kanannya cepat ditarik dari dada Sasa. "Kamu masih mau sampai kapan menduduki saya?" tanyanya dengan suara rendah dan datar. Sasa langsung tersentak. Wajahnya memerah hebat sampai ke leher. Ia buru-buru bangkit dari pangkuan Javendra, hampir tersandung lagi kar
"Ahhh Tuan Javen, hentikan, uhh," Sasa mengeluarkan desahan pasrah yang bergetar dari bibirnya, sementara remasan tangan Javendra di dadanya justru semakin kuat. Javendra tidak lagi hanya diam menunggu. Saat Sasa bergerak naik dan turun dengan kaku, Javendra justru menarik pinggang Sasa agar tu
Sasa membeku. Kata-kata Javendra terasa seperti petir yang menyambar tepat di kepalanya. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya memanas sampai ke telinga. "Tuan..." suaranya keluar sangat kecil, hampir hilang. "Itu ... itu bukan pijat, Tuan." Javendra tetap tenang. Matanya tidak lepas dari wa
Sasa meneguk ludah. Kata-kata Javendra terdengar sangat jelas di tengah keheningan kamar yang hanya diisi napas mereka berdua. Ia masih berlutut di ranjang, tangannya yang sudah lelah tergeletak di pangkuannya. "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" tanyanya hampir berbisik. Suaranya bergeta







