MasukSasa tersenyum mendengar ucapan itu, tetapi ia bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda dari cara suaminya memandangnya. Javendra memang selalu menunjukkan kasih sayang, tetapi kali ini ada kelegaan yang sulit dijelaskan dalam sorot matanya. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti," lanjut Javendra sambil menggenggam tangan istrinya. "Mungkin suatu hari nanti aku tidak lagi bisa mengendalikan semua hal seperti sekarang. Namun, selama aku masih bisa pulang dan menemukanmu di sini, aku akan baik-baik saja." Sasa terdiam sejenak. Ia mengenal Javendra sebagai pria yang selalu percaya diri menghadapi masalah. Suaminya jarang membicarakan kemungkinan kehilangan kekuasaan atau kegagalan, apalagi dengan nada setenang itu. Karena itulah, ucapan Javendra membuatnya bertanya-tanya. Apakah ada sesuatu yang terjadi di kantor? Apakah suaminya sedang menghadapi masalah yang belum sempat diceritakan kepadanya? Sasa ingin bertanya lebih jauh, tetapi ia memilih untuk tidak mendesaknya. Jika
Siap, dialog Javendra akan menggunakan aku-kamu, bukan saya-kamu. Berikut revisi lengkapnya dengan gaya bicara Javendra yang konsisten. Sinar matahari siang menyinari taman depan mansion Maheswara. Udara masih terasa sejuk setelah hujan pagi tadi, sementara aroma tanah basah bercampur dengan wangi bunga yang tumbuh di sepanjang jalan setapak. Di salah satu sudut taman, Sasa duduk di atas alas kecil dengan sebuah pot keramik di hadapannya. Ia mengenakan dress katun longgar berwarna putih gading yang dipadukan dengan cardigan rajut tipis. Kedua tangannya terbungkus sarung tangan kain, sementara sebuah sekop kecil tergeletak di samping pot. Rani berlutut di dekatnya sambil memegang kantong berisi bibit bunga marigold. Sejak tadi, pelayan itu terus memperhatikan setiap gerakan Sasa. Bahkan ketika Sasa hanya menggeser pot sedikit, Rani sudah bersiap membantunya. "Nyonya, biar saya saja yang memasukkan tanahnya," ujar Rani ketika melihat Sasa hendak mengambil sekop. Sasa menggelen
"Aku hanya membicarakan fakta yang diketahui banyak orang." "Yang kau ketahui hanya sebagian kecil dari kenyataan. Jangan menyamakan ketidaktahuanmu dengan kekurangan orang lain." Oscar terdiam sebentar, kemudian tertawa kecil untuk menutupi kegugupannya. "Baiklah. Kalau kau memang yakin tidak ada masalah dengan pernikahanmu, seharusnya kau tidak keberatan jika orang lain mengetahui cerita sebenarnya." Javendra menatapnya lekat-lekat. "Apa maksudmu?" Oscar memberi isyarat kepada salah seorang pengawalnya untuk membuka koper. Pengawal itu mengeluarkan setumpuk dokumen, lalu meletakkannya di atas meja. "Kau tahu dokumen ini berisi apa, Javendra? Ini adalah transkrip wawancara lengkap, rekaman suara, dan surat pernyataan dari dua orang mantan pelayan setiamu di mansion, Bi Surti dan Juwita. Mereka sudah menceritakan seluruh rahasia kelam di balik pernikahanmu!" Javendra melirik dokumen itu tanpa menyentuhnya. Oscar mulai merasa lebih percaya diri. Ia mengira Javendra
Javendra menghentikan putaran pulpennya, tetapi tidak menjawab. Oscar melanjutkan dengan nada santai. "Putri Darmawan Wangsa, pemilik Wangsa Group. Kalian pernah bertunangan dan hubungan itu dulu cukup ramai dibicarakan. Aku bahkan mengira kalian akan menikah." Ia mengamati wajah Javendra, berharap nama Claudia bisa menarik perhatian pria itu. "Karena itu, aku cukup heran ketika mendengar kau justru menikahi perempuan bernama Sasa. Dari informasi yang kudapat, dia pernah bekerja sebagai pelayan di mansion milikmu. Aku tidak bermaksud ikut campur, tetapi bukankah keputusan itu cukup aneh untuk seseorang dengan kedudukan sepertimu?" Javendra meletakkan pulpen di atas meja. "Apa yang aneh dari keputusanku menikahi seseorang yang aku pilih sendiri?" Oscar tertawa kecil mendengar jawaban itu. "Tentu saja kau bebas memilih pasangan. Namun, Claudia berasal dari keluarga besar. Ayahnya memiliki perusahaan dengan nama yang dikenal luas di dunia bisnis. Sementara itu, latar bela
Keesokan paginya, suasana di dalam kamar tidur utama mansion Maheswara terasa hangat dan menenangkan. Sasa duduk di sisi ranjang sambil merapikan gaun santainya, sementara Javendra berdiri di dekat meja rias mengenakan jas kerjanya yang bernuansa arang dengan dasi hitam tersimpul sempurna. Javendra membalikkan tubuhnya, melangkah mendekati Sasa dan berlutut sebelah kaki di hadapan istrinya. Pria tegap itu merengkuh kedua tangan Sasa, mengecup buku-buku jari istrinya dengan lembut. "Sasa," tutur Javendra dengan suara beratnya yang berwibawa. "Hari ini aku harus pergi ke kantor sebentar. Ada urusan mendesak yang harus aku selesaikan di Maheswara Group. Aku tidak akan lama, begitu urusannya selesai, aku langsung pulang." Sasa tersenyum manis, mengangguk memahami kesibukan suaminya. "Iya, Mas Javen, tidak apa-apa. Pergilah, lagipula hari ini aku ada rencana mengisi waktu luang dengan menanam beberapa bibit bunga di taman depan bersama Rani." Alis Javendra sedikit bertaut mendengar
"Selama Ibu Andini belum sadar, aku selalu berharap beliau bisa pulih. Setiap kali datang ke rumah sakit, aku ingin sekali mendengar beliau memanggil namaku lagi. Hari ini, ketika akhirnya beliau membuka mata dan berbicara denganku, aku baru menyadari betapa besar bantuan Mas selama ini. Mas bukan hanya memberiku kesempatan untuk berharap, tetapi juga membantuku melewati masa-masa ketika aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa." Javendra terdiam. Ia tidak menyangka bahwa hal-hal yang selama ini dilakukannya untuk Sasa ternyata begitu membekas di hati istrinya. Sasa mengangkat wajah, menatapnya dengan mata yang basah. "Aku benar-benar merasa beruntung memiliki Mas Javen. Aku tidak tahu bagaimana caranya membalas semua kebaikan Mas. Kadang-kadang aku sampai berpikir, apa yang sudah aku lakukan sampai bisa mendapatkan suami yang begitu memperhatikanku dan orang-orang yang aku sayangi?" Javendra segera menggeleng. Ia mengangkat kedua tangannya, mengusap pipi Sasa dengan lembut,
Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian. "Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra mel
Sasa bingung sejenak saat Javendra menanyakan soal pijat. Ia tidak langsung menjawab, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Eh … bisa, Tuan," jawabnya akhirnya. "Waktu masih tinggal sama ibu dulu, saya pernah diajarin pijat. Ibu saya tukang pijat di kampung, suka urut orang capek dan urut bayi
Javendra langsung menutup pintu dengan cepat begitu melihat keadaan Sasa. Sasa buru-buru memakai seragam baru dengan tangan gemetar. Ia benar-benar merasa bodoh sekali. Kenapa aku kelamaan ganti baju? Kenapa pula aku setuju ganti di sini? Tak sampai semenit kemudian, terdengar ketukan di pintu.
Javendra berdeham keras. Tangan kanannya cepat ditarik dari dada Sasa. "Kamu masih mau sampai kapan menduduki saya?" tanyanya dengan suara rendah dan datar. Sasa langsung tersentak. Wajahnya memerah hebat sampai ke leher. Ia buru-buru bangkit dari pangkuan Javendra, hampir tersandung lagi kar







