MasukPagi menyapa kamar utama dengan pancaran sinar matahari yang menerobos tipis di sela-sela tirai putih tebal. Udara AC yang dingin tak lagi terasa menusuk kulit, terkalahkan oleh kehangatan dua tubuh yang masih berpelukan erat di atas kasur berantakan. Sasa perlahan membuka matanya. Rasa pegal dan hangat masih mengaliri tubuhnya setelah malam panjang yang menguras tenaganya. Di hadapannya, paras tampan Javendra terlihat begitu tenang. Garis rahang tegas suaminya melunak saat tidur. Wajah pria yang biasanya penuh kendali itu kini tampak jauh lebih damai. Sasa tersenyum tipis. Jemari mungilnya terangkat, mengusap pelan alis tebal Javendra, menyusuri batang hidungnya yang mancung, lalu berhenti di bibir suaminya yang agak kering. "Pagi, Sayang," gumam Javendra dengan suara serak khas bangun tidur. Mata kelam pria itu terbuka, langsung menangkap wajah istrinya. Sasa sedikit terkejut, namun senyumnya makin terkembang. "Mas sudah bangun dari tadi?" Javendra tidak menjawab. Lengan keka
[WARNING - MATURE CONTENT] Kamar utama semakin terasa panas, seolah udara di dalamnya ikut membara. Cahaya lampu tidur yang redup membiaskan siluet dua tubuh yang sudah saling menempel tanpa jarak. Napas berat Javendra bercampur dengan helaan napas Sasa yang masih tak beraturan, masih terbawa cumbuan intens sebelumnya. Javendra menatap dalam manik mata Sasa yang redup, penuh binar gairah. Jemari besarnya merayap pelan menyusuri lekuk pinggang istri, menahan tubuh mulus itu dengan usapan hangat yang tegas. “Mas…” bisik Sasa serak, suaranya manja dan pasrah. Senyum tipis Javendra muncul, sarat dominasi. Tanpa melepaskan pandangan, ia menggenggam pinggul Sasa lalu membalik posisi mereka dengan gerakan lambat, terkontrol. Kini Sasa duduk di atas tubuh tegap suaminya. Tubuh mulusnya terduduk di paha kekar Javendra, sementara pria itu bersandar santai di tumpukan bantal, dada bidangnya terekspos sempurna di bawah cahaya keemasan. “Sekarang giliranmu yang memegang kendali, Sayang,” bis
[WARNING MATURE CONTENT] Kamar utama kian terasa panas dan kedap. Cahaya lampu tidur berwarna keemasan membiaskan bayangan dua tubuh yang makin menyatu di atas kasur empuk. Suara deru napas yang memburu dan ciuman-ciuman basah yang tercipta tak lagi tertahan. Javendra belum juga menuntaskan gejolak yang membakar dadanya. Pria tegap itu memilih menikmati setiap detiknya untuk membawa istrinya makin tenggelam dalam pusaran gairah yang pekat. Jemari panjangnya merayap turun dari perut mulus Sasa, menyapu lembut pangkal paha bagian dalam hingga membuat tubuh Sasa melengkung pasrah. "Mas... ah... panas..." bisik Sasa dengan mata berbinar sayu, menatap lurus pada paras tampan suaminya yang sudah basah oleh peluh tipis. Javendra menyunggingkan senyum tipis yang teramat memikat. Ia merayap naik kembali, meraut bibir Sasa dalam satu kecupan dalam yang menuntut. Lidahnya menyapu rongga mulut Sasa dengan gerakan melumat yang pekat, menarik seluruh kesadaran istrinya agar makin terbuai be
[WARNING MATURE CONTENT]Pintu tebal di kamar utama terdorong tertutup rapat, mengunci seluruh kebisingan dunia luar. Javendra tidak membuang waktu untuk menurunkan Sasa ke lantai. Pria itu justru membawa tubuh mungil istrinya bergeser hingga punggung Sasa terbentur pelan pada daun pintu yang tertutup. Dalam keremangan lampu kamar yang redup, tatapan mata Javendra tampak begitu kelam, sarat akan gairah dan rasa kepemilikan yang sudah ia tahan sepanjang hari sejak di Bogor. "Mas... katanya mau mandi dulu..." bisik Sasa serak, suaranya tercekat di tenggorokan saat melihat tatapan suaminya yang begitu intens. Javendra tidak menjawab dengan kata-kata. Kedua tangannya terangkat mengurung tubuh Sasa di antara pintu dan dada bidangnya. Pria itu menunduk tajam, meraut bibir Sasa dalam satu sentakan ciuman yang dalam dan panas. Ciuman itu tidak lagi memiliki celah untuk kelembutan yang lambat. Javendra melumat bibir manis istrinya dengan ritme menuntut yang dominan, menyapu seluruh bagian
Mobil sedan hitam mewah milik Javendra akhirnya melaju perlahan memasuki halaman kediaman Maheswara. Lampu-lampu taman yang hangat menyambut kedatangan mereka, membiaskan pendar keemasan di atas sisa tetesan air hujan yang membahasi pelataran. Pengawal bergegas membukakan pintu mobil. Javendra turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Sasa keluar dari kabin belakang. Hawa dingin malam Jakarta langsung menyapa kulit, membuat Sasa sedikit merapatkan pakaiannya. "Lelah sekali, Sayang?" tanya Javendra pelan, melingkarkan lengannya di pinggang Sasa sewaktu mereka berjalan menaiki anak tangga teras depan. Sasa mengangguk pelan, menyandarkan sebagian bobot tubuhnya pada Javendra. "Iya, Mas. Rasanya punggungku pegal semua. Aku mau langsung mandi air hangat lalu tidur." Javendra menyunggingkan senyum tipis, sebuah kerlingan penuh makna terpancar dari manik matanya. "Siapa bilang kamu boleh langsung tidur? Suamimu ini masih butuh layanan khusus setelah seharian menahan dir
Sedan hitam mewah berpelat khusus itu meluncur mulus membelah jalan raya Bogor menuju arah Jakarta. Hujan gerimis mulai turun membasahi kaca luar, membiaskan pendar lampu jalanan menjadi deretan titik cahaya yang samar. Di dalam kabin mobil, suasana terasa begitu hangat dan tenang. Javendra menekan satu tombol di panel samping pintunya. Seketika, kaca pembatas tebal berwarna gelap perlahan terangkat naik dari batas kursi depan, menutup rapat akses pandang maupun pendengaran dari pengemudi dan pengawal yang berada di balik kemudi. Kabin belakang kini sepenuhnya menjadi ruang privat yang kedap suara. Sasa menyandarkan kepalanya di dada bidang Javendra. Rasa lelah bercampur lega membuncah di dalam dadanya usai melewati sesi makan siang yang penuh emosi dan adu gengsi sepanjang hari. "Mas..." panggil Sasa pelan, memainkan kancing kemeja Javendra dengan ujung jarinya. "Aku senang sekali hari ini." Javendra yang sedang mengusap bahu istrinya melirik ke bawah. "Senang karena apa, Sayang
Sasa bingung sejenak saat Javendra menanyakan soal pijat. Ia tidak langsung menjawab, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Eh … bisa, Tuan," jawabnya akhirnya. "Waktu masih tinggal sama ibu dulu, saya pernah diajarin pijat. Ibu saya tukang pijat di kampung, suka urut orang capek dan urut bayi
Javendra langsung menutup pintu dengan cepat begitu melihat keadaan Sasa. Sasa buru-buru memakai seragam baru dengan tangan gemetar. Ia benar-benar merasa bodoh sekali. Kenapa aku kelamaan ganti baju? Kenapa pula aku setuju ganti di sini? Tak sampai semenit kemudian, terdengar ketukan di pintu.
Javendra berdeham keras. Tangan kanannya cepat ditarik dari dada Sasa. "Kamu masih mau sampai kapan menduduki saya?" tanyanya dengan suara rendah dan datar. Sasa langsung tersentak. Wajahnya memerah hebat sampai ke leher. Ia buru-buru bangkit dari pangkuan Javendra, hampir tersandung lagi kar
"Ahhh Tuan Javen, hentikan, uhh," Sasa mengeluarkan desahan pasrah yang bergetar dari bibirnya, sementara remasan tangan Javendra di dadanya justru semakin kuat. Javendra tidak lagi hanya diam menunggu. Saat Sasa bergerak naik dan turun dengan kaku, Javendra justru menarik pinggang Sasa agar tu







