เข้าสู่ระบบJavendra menundukkan kepalanya, melumat bibir Sasa dalam satu kecupan yang amat panas, dalam, dan sarat akan janji kepemilikan mutlak. Sasa membalas ciuman itu dengan pasrah, membiarkan dirinya kembali tenggelam dalam kehangatan dan rasa cinta suaminya yang tak pernah bertepi. Perjalanan waktu di vila danau privat itu terasa berlalu dengan begitu lambat dan tenteram. Siang berganti sore tanpa terasa. Angin perbukitan yang makin dingin membawa gumpalan awan jingga yang membiaskan cahaya keemasan di atas permukaan air danau yang tenang. Usai menghabiskan waktu bersantai di ruang keluarga, Javendra mengajak Sasa untuk menikmati udara sore di area balkon terbuka yang menghadap langsung ke danau. Pria itu memastikan Sasa mengenakan mantel bulu tebal berwarna krem agar angin dingin tidak menyentuh kulit mulusnya. Sasa berdiri bersandar pada pagar kayu balkon, menyerap keindahan alam yang membentang di depannya. Di sampingnya, Javendra berdiri tegap, merangkul bahu Sasa dari belakang
"Kok Mas bisa, sih? Belajar dari mana? Dulu sewaktu kuliah Mas pernah ikut kursus perbaikan barang elektronika ya?" cecar Sasa bertubi-tubi dengan nada suara yang begitu penasaran. Javendra tidak menjawab instan. Ia melepas penutup rangka, menyisihkannya ke samping, lalu meraih tang penjepit untuk memeriksa poros baling-baling yang tersumbat debu dan pelumas kering. "Waktu aku sekolah di luar negeri dulu, aku tinggal sendiri di apartemen," tutur Javendra dengan suara beratnya yang mengalun tenang. "Kalau ada hal-hal kecil seperti ini yang rusak dan aku harus menunggu teknisi datang tiga hari kemudian, itu membuang waktu. Jadi aku pelajari sendiri." Sasa ber-o ria dengan mulut agak terbuka. "Tapi kan Mas Javendra anak pemilik Maheswara Group! Kenapa tidak panggil pelayan pribadi saja waktu itu?" Javendra memutar poros besi itu dengan tang. Klek. Suara renyah terdengar dari dalam mesin kecil kipas. Pria itu melirik Sasa sekilas dengan pendar mata yang amat hangat. "Ayahku me
Cairan hangat dari gelas keramik itu mengalir perlahan melewati kerongkongan Sasa, memberikan rasa nyaman yang menjalar hingga ke dasar perutnya. Suasana ruang keluarga vila kayu begitu tenang, diselimuti kehangatan dari perapian dan sinar matahari pagi yang membias terang di atas permukaan danau privat. Sasa menyerahkan kembali gelas kosong itu kepada Javendra. Pria itu menerimanya dengan satu tangan, sementara tangan satunya lagi tak pernah lepas merengkuh pinggang Sasa, menahan tubuh mungil istrinya agar tetap nyaman bersandar di pangkuannya. "Sudah lebih hangat?" bisik Javendra serak, mendaratkan ciuman singkat namun bertekanan lembut di pelipis Sasa. "Sudah, Mas. Nyaman sekali," sahut Sasa pelan. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Javendra, mendengarkan detak jantung suaminya yang berdegup kencang dan teratur. "Rasanya seperti tidak mau bergerak ke mana-mana lagi." Javendra terkekeh rendah. "Memang tidak perlu ke mana-mana. Seharian ini kamu cuma perlu menempel pa
"Mas Javendra habisnya serius sekali," cicit Sasa manja seraya menyusupkan kakinya ke sela-sela paha Javendra yang sedang berlutut. "Cuma luka sekecil ini saja Mas paniknya seperti ada gempa bumi." "Tidak ada luka yang kecil kalau itu terjadi padamu, Sasa," balas Javendra mantap tanpa ada nada bercanda sedikit pun. Pria itu kembali memfokuskan pandangannya pada ibu jari Sasa. Meskipun ia tahu Sasa hanya bermanja-manja, Javendra tetap melanjutkan proses pembersihan luka itu dengan tingkat kehati-hatian yang sama tingginya. Pria itu menyapu sisa darah hingga benar-benar bersih tak berbekas, memastikan tidak ada kuman atau kotoran yang tertinggal. Setelah memastikan luka goresan itu sudah sangat bersih dan kering, Javendra mengambil selembar perban kecil transparan berdaya rekat lembut dari dalam kotak obat. Dengan gerakan jemarinya yang tegap namun teramat santun, Javendra menempelkan perban itu tepat menutup luka di ibu jari Sasa. Ia mengusap permukaan perban itu berulang kali
Sasa tertawa kecil melihat reaksi suaminya yang sangat berlebihan. Pria yang biasanya tidak berkedip saat menghadapi krisis saham bernilai triliunan rupiah itu kini tampak sangat panik hanya karena satu goresan sekecil biji beras di tangannya. "Tidak apa-apa, Mas," ujar Sasa santai seraya mencoba menarik tangannya kembali. "Cuma kena duri bunga kering di nampan itu tadi. Kecil sekali, kok. Tidak sakit sama sekali." "Kecil bagaimana? Ini berdarah, Sasa!" potong Javendra cepat tanpa melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Sasa. Pria itu menatap luka itu seolah-olah itu adalah cedera parah yang mengancam nyawa. "Sudah kubilang duduk diam di sofa, kenapa kamu malah bangun dan menyentuh barang-barang ini?" "Aku cuma mau merapikan nampannya sedikit, Mas..." cicit Sasa dengan bibir sedikit memerah karena merasa bersalah melihat raut tegang suaminya. Javendra tidak mendengarkan alasan Sasa lagi. Pria itu merangkul pinggul Sasa, menuntunnya kembali ke sofa dengan gerakan yang s
Sisa-sisa kehangatan dari meja dapur marmer itu masih membekas di seluruh tubuh Sasa. Deru napasnya yang semula memburu perlahan-lahan mulai berangsur stabil di dalam pelukan tegap Javendra. Udara pagi perbukitan yang sejuk menerobos masuk melalui ventilasi jendela, namun Sasa sama sekali tidak merasakan dingin sebab dada bidang suaminya memberikan kehangatan yang begitu rapat dan nyata. Javendra masih menopang tubuh lemas istrinya. Jemari besarnya yang hangat merayap perlahan di punggung mulus Sasa, memberikan usapan-usapan menenangkan yang teramat lembut. Pria itu menunduk, mendaratkan ciuman manis berulang kali di pelipis, pipi, hingga sudut bibir Sasa yang masih agak basah. "Masih lemas, Sayang?" bisik Javendra rendah tepat di depan telinga Sasa. Suara seraknya begitu ramah dan dalam, membius seluruh saraf di kepala Sasa. Sasa menyandarkan dahinya di perpotongan leher Javendra. Ia mengangguk pelan, menyusupkan jemarinya di pinggang suaminya. "Mas Javendra jahat... mainnya ti
Javendra langsung menutup pintu dengan cepat begitu melihat keadaan Sasa. Sasa buru-buru memakai seragam baru dengan tangan gemetar. Ia benar-benar merasa bodoh sekali. Kenapa aku kelamaan ganti baju? Kenapa pula aku setuju ganti di sini? Tak sampai semenit kemudian, terdengar ketukan di pintu.
Javendra berdeham keras. Tangan kanannya cepat ditarik dari dada Sasa. "Kamu masih mau sampai kapan menduduki saya?" tanyanya dengan suara rendah dan datar. Sasa langsung tersentak. Wajahnya memerah hebat sampai ke leher. Ia buru-buru bangkit dari pangkuan Javendra, hampir tersandung lagi kar
"Ahhh Tuan Javen, hentikan, uhh," Sasa mengeluarkan desahan pasrah yang bergetar dari bibirnya, sementara remasan tangan Javendra di dadanya justru semakin kuat. Javendra tidak lagi hanya diam menunggu. Saat Sasa bergerak naik dan turun dengan kaku, Javendra justru menarik pinggang Sasa agar tu
Sasa membeku. Kata-kata Javendra terasa seperti petir yang menyambar tepat di kepalanya. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya memanas sampai ke telinga. "Tuan..." suaranya keluar sangat kecil, hampir hilang. "Itu ... itu bukan pijat, Tuan." Javendra tetap tenang. Matanya tidak lepas dari wa







