Masuk~Beberapa menit sebelum Anthony sampai di rumah.~ "Kau terlihat begitu putus asa, Pengantinku." Tubuh Ara langsung menegang, kedua matanya membelalak lebar saat suara itu menyentuh telinganya. Suara tersebut terdengar sangat dekat, seolah seseorang tengah berbisik tepat di samping telinga kirinya. Padahal sejak tadi Ara hanya berbaring memandangi langit-langit kamar dengan mata sembab dan tubuh lelah setelah menangis berjam-jam. Dia mengira itu hanya halusinasi. Namun, embusan napas kecil yang terasa di telinganya membuat bulu kuduk Ara meremang. Ara segera menoleh, dan tidak ada siapa pun. Hanya suara detak jam dan embusan angin malam dari luar jendela. Lalu Ara menggeleng cepat, berusaha mengusir pikiran menyeramkan itu dari kepalanya. Sekilas dia melirik jam di atas meja, sudah pukul sebelas malam. Lalu pandangannya bergeser ke arah jendela, dan saat itulah tubuh Ara kembali merinding.
Anthony J. Wallenstein hanya mengkhawatirkan sosok yang ada di dalam dirinya. Tidak lebih. Bagai buah liar dari tumbuhan belukar yang diterpa angin musim panas, burung-burung bahkan enggan memakannya. Rasanya tidak manis, idak pahit, tidak beracun, tetapi juga tidak memberi manfaat apa pun. Buah yang tidak berguna, tak ada yang ingin memetiknya. Dan pada akhirnya, buah itu hanya akan layu, membusuk, lalu lenyap begitu saja. Begitulah Jung Ara memandang dirinya sekarang. Setelah tujuan Anthony tercapai, dirinya akan dibuang karena tak ada lagi yang bisa diharapkan dari cangkang kosong sepertinya. Atau mungkin lebih buruk lagi, nama Jung Ara akan benar-benar menghilang. Tubuhnya tetap hidup, tetapi dirinya lenyap karena dijadikan wadah bagi sosok yang dicintai Anthony. Tangisan Ara semakin pecah ketika membayangkan apa yang akan te
"Apa yang harus kita lakukan, Sephael?" Suara Jivael memecah sunyi di tepian telaga Nirvana. "Waktu terus berjalan, tetapi kita belum melakukan apa pun." Lalu sosok bersayap putih itu mengepalkan kedua tangannya. "Apa kita akan membiarkan Araphael pergi begitu saja?" Sephael tidak langsung menjawab. Pemimpin para seraphim itu tetap berjalan perlahan di tepi telaga yang memantulkan cahaya keemasan langit Nirvana. Biasanya, malaikat lain yang berpapasan akan menerima senyum lembut atau sapaan hangat darinya. Namun, kali ini tidak. Tatapan Sephael terlihat kosong. Dan saat aura menyejukkan bercampur kebimbangan menyentuh indra mereka, langkah Sephael langsung terhenti. Begitu pula Jivael yang berdiri satu langkah di belakangnya. Mereka tahu, aura siapa yang baru saja menyapa mereka. "Tidak ada yang dapat kita lakukan, Jivael." Suara Sephael terdengar lirih, nyaris tenggelam bersama embusan angin. Malaikat d
"Dengarkan aku dulu—" "Kubilang lepaskan! Tidak ada yang ingin aku dengar darimu, semuanya sudah jelas!" Ara berteriak. Refleks dia menepis tangan Anthony yang hendak meraih tangannya, lalu membingkas turun dari pangkuan pria itu. Kini dia berdiri di hadapan sosok yang menjadi tuannya tanpa berniat menatapnya. "Ara, kumohon ...." Ara menggeleng. Dia menghindari tangan Anthony yang kembali mencoba meraih jemarinya. Butuh beberapa saat bagi Ara untuk mengatur napasnya yang kacau. Namun, ketika akhirnya dia mendongak, Anthony langsung berdiri. Raut wajah pria itu berubah drastis. "Ara ...." Anthony mencekal pergelangan tangan kirinya. "Hidungmu berdarah." Ara mengangkat tangan untuk menyentuh bawah hidungnya. Cairan merah pekat menempel di jemarinya, tetapi gadis itu justru tersenyum tipis. Miris. "Biarkan saja," ujar Ara. Dia lalu meraih tanga
"Tolong hentikan aku, dan mari kita bersatu." Perlahan, Ara membuka kedua matanya. Napasnya terasa berat. Pandangan gadis itu tampak kosong beberapa saat sebelum akhirnya dia mengusap sudut matanya yang basah. Apa yang baru saja dia alami? Mimpi? Namun, mengapa semuanya terasa begitu nyata? Perasaan dingin di tempat asing itu masih terasa jelas di kulitnya. Begitu pula sosok wanita bermandikan cahaya dengan pakaian berlumuran darah. Dan suara itu— 'Tolong hentikan aku ....' Ara mengembuskan napas pelan, lalu tanpa sadar menggulirkan pandangan ke bawah. Seketika tubuhnya menegang ketika melihat lengan kokoh melingkari tubuhnya erat. Ara mengerjapkan mata beberapa kali untuk memfokuskan penglihatan, kemudian perlahan mendongak. Dan tepat saat itu, dia mendapati Anthony tengah menatapnya. Ara langsung menundukkan kepala. Baru sekarang dirinya menyadari posisi mereka, dia berada di atas pangkuan sa
Sejauh mata memandang, Ara hanya melihat warna putih. Kosong, sunyi dan tak berujung. Kedua mata beriris dark brown itu bergerak gelisah, menatap ke segala arah dengan napas yang perlahan memburu. Tak ada apa pun di sana selain hamparan putih yang terasa luas tak terhingga, seolah tempat itu tidak memiliki batas maupun ujung. Dia lalu mulai melangkah, berusaha mencari jalan keluar. Namun, sejauh apa pun dirinya berjalan, pemandangan di sekelilingnya tetap sama. Tidak ada pintu, tidak ada bayangan, bahkan tidak ada suara selain deru napasnya sendiri. Perasaan asing mulai merayapi dadanya. Rasanya sesak. Tempat ini membuat Ara merasa kesepian. "Ara ...." Tubuh Ara sontak menegang. Suara itu terdengar lembut, nyaris seperti bisikan, tetapi cukup jelas untuk membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Ara segera menoleh. Tak jauh darinya berdiri seorang wanita, mungkin hanya berjarak tiga atau empat langkah. Kedua alis Ara menger







