Masuk"Bagaimana denganmu?" Araphael menautkan jemarinya erat-erat. Sejak pertama mengenalnya, Juslandier melihat bagaimana malaikat itu tampak benar-benar gugup, tetapi matanya tak gentar menatap Juslandier."Apa kau tidak merasakan sesuatu saat bersamaku?"Angin sore berembus pelan, membuat hamparan bunga daisy bergoyang seperti ombak putih yang tenang. Namun, ketenangan itu sama sekali tidak berhasil menenangkan Juslandier. Jantungnya berdetak terlalu keras, seolah hendak merobek tulang rusuknya dan melompat keluar begitu saja.Pemilik iris sebiru samudera itu mengalihkan pandangan. Rahangnya mengeras saat berusaha menyusun kata-kata yang berhamburan di dalam kepalanya.Sesuatu yang seperti apa?Sesuatu yang membuat jantung berdebar?Atau sesuatu yang membuatmu kehilangan kemampuan untuk berbicara?Apa yang harus dia jawab?Bahwa dia merasa nyaman? Selalu menunggu hari di mana Araphael muncul?Bahwa dua bulan terakhir terasa begitu panjang ketika mereka tidak bertemu?Bahwa dirinya mulai
"Tapi ...." Juslandier menelan ludah, kalimat berikutnya terasa jauh lebih sulit daripada memenangkan perang. "Aku juga tidak ingin kau pergi."Saat itulah wajah Araphael terlihat benar-benar memerah."Meski begitu, kita tetap tidak bisa bersama."Pada akhirnya, jawaban itu keluar dari bibirnya, membuat senyuman Araphael seketika memudar. Juslandier segera berdiri, membenahi jubahnya, lalu mengangkat tangan kanan ke depan hingga sebuah portal dimensi perlahan terbuka.Tanpa berani menatap Araphael terlalu lama, dia melangkah menuju portal. "Ini akan menjadi pertemuan terakhir kita," katanya datar, Juslandier dapat merasakan sengatan aneh di dadanya, rasanya tidak nyaman sekali. Dia menelan ludah, dan melanjutkan, "Lupakan aku, dan anggap kita tidak pernah bertemu."Baru saja setengah tubuhnya memasuki portal, sebuah beban yang menghantam punggungnya dari belakang membuat Juslandier terperangah. Dia refleks memutar tubuh dan menangkap sosok yang men
"Kau tidak akan kembali?" "Bagaimana denganmu?" "Aku bertanya padamu, Juslandier." "Aku juga bertanya padamu, Araphael." Araphael langsung mencebik. Tanpa basa-basi, dia meraup segenggam salju yang baru saja dia ciptakan menggunakan kekuatannya, lalu melemparkannya ke arah Juslandier. Butiran-butiran dingin itu mengenai wajah serta rambut jelaga sang iblis. Namun, alih-alih kesal, Juslandier justru tertawa. Tawa rendah yang membuat Araphael mematung selama sepersekian detik. "Ini menyenangkan." Juslandier menengadahkan tangan, membiarkan serpihan salju mendarat di telapak besarnya sebelum akhirnya meleleh perlahan. Mata biru samudera dibalik kain penutup itu menyipit samar. Ada ketenangan yang jarang sekali muncul di wajahnya. Dan pemandangan itu membuat Araphael terdiam. Tak peduli sudah berapa kali mereka bertemu, Araphael tetap tidak terbiasa melihat Juslandier tersenyum. Karena senyuman tersebut terlalu berbeda dengan kesan pertama yang dimiliki sang iblis. Pria yang dulu
Hari-hari berlalu begitu cepat. Dan selama itu pula, Mikhail tidak lagi menemukan perubahan mengerikan dalam diri sang putra mahkota. Tidak ada lagi senyum-senyum aneh yang muncul tanpa alasan. Tidak ada lagi tatapan kosong ke langit sambil menyeringai seperti orang sinting. Tidak ada lagi bunga-bunga imajiner yang, menurut Mikhail, hampir tumbuh di sekitar kepala Juslandier Bloodfallen. Semuanya menghilang, yang membuat Mikhail semakin waspada karena ketenangan Juslandier terasa jauh lebih mengerikan dibandingkan seluruh tingkah anehnya sebelumnya. Sudah lebih dari dua bulan semenjak malam ketika Mikhail melihat sang putra mahkota menangis untuk pertama kalinya. Dan selama dua bulan itu pula, Mikhail diam-diam mengawasi setiap gerak-gerik Juslandier. Hasilnya? Nol. Sang putra mahkota menjalankan tugasnya dengan sempurna. Tidak memancing perang, tidak membuat kerusuhan di permukaan, tidak menebas siapa pun hanya karena suasana hatinya buruk, bahkan laporan-laporan yang masuk ke
"Aku lelah." "Aku tahu." "Aku sangat lelah, Kakak." Suara Juslandier terdengar bergetar. Dia telah menanggalkan kedudukannya sebagai Putra Mahkota Abyss dan membiarkan dirinya menjadi sosok adik kecil di hadapan Mikhail. Itulah mengapa panggilan 'Kakak' yang begitu jarang terlontar dari bibirnya akhirnya terdengar malam itu. Mikhail tidak segera menjawab. Dia hanya memberikan tepukan kecil di punggung Juslandier, kemudian mengusap rambut jelaga yang sedikit berantakan. "Maka dari itu, aku di sini bersamamu, Juslandier." Tangisan Juslandier memang tidak keras. Bahkan nyaris tak bersuara jika bahunya tidak memperlihatkan getaran memilukan dan sesekali mengeluarkan sedu yang tertahan. Dia berusaha menahan semuanya. Menahan sesak yang bertahun-tahun mengendap, pertanyaan yang tak pernah mendapatkan jawaban, dan menahan rasa kecewa yang tak pernah menemukan tempat untuk pulang. Namun, malam ini, seluruh pertahanannya runtuh. Matanya terpejam erat, memeras air mata yang selama pulu
"Selama ini aku diam bukan berarti aku tidak peduli." Juslandier menunduk, lalu melanjutkan, "Aku hanya sedikit takut." Mikhail menatapnya tanpa berkedip. Dan dia tahu, ketakutan sepupunya adalah hal yang nyata. Lalu, Juslandier tertawa pelan. Tawa yang terdengar kosong. "Aneh, bukan?" Dia memandang telapak tangannya sendiri, senyumnya memudar. "Aku bisa mengingat setiap perang yang pernah kuikuti, mengingat wajah ribuan musuh yang mati di tanganku. Mengapa justru wajah ibuku yang tidak bisa kuingat?" Mikhail terdiam, dan Juslandier tidak menunggu jawaban karena dia tahu, kakak sepupunya ini mungkin tidak akan pernah menjawabnya. "Aku bahkan tidak tahu warna rambutnya, tidak tahu warna matanya. Kupikir aku sudah tidak peduli." Suara sang putra mahkota makin rendah. Dia mengangkat wajah menatap langit kelam Abyss. "Tapi ternyata aku hanya berpura-pura." Jemarinya perlahan mengepal. "Setiap kali melihat seorang ibu menggendong anaknya, kemudian setiap kali mendengar orang lain m







