Home / Romansa / Sang Pelindung Terakhir / 66 - Kepergian Vance

Share

66 - Kepergian Vance

Author: Shiooki
last update publish date: 2026-05-09 19:10:44

“Sepertinya ada yang memanggilku.”

“Istriku, Ilayda. Kenapa kau kemari? Aku sudah menyuruhmu untuk menunggu.”

Sosok itu turun dari bagal putih dengan anggun. Gaun hitam malam yang membalut tubuhnya menyapu tanah, memperlihatkan bahu hingga belahan dada. Rambut legamnya menjuntai panjang hingga menyentuh tanah, dihiasi cabang-cabang hijau yang melingkar di kepalanya.

Matanya sayu, tetapi indah, pupilnya menyempit seperti milik kucing, berwarna kuni
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sang Pelindung Terakhir    68 - Gulungan Surat Terakhir

    “Sephael!” Sephael menoleh saat namanya dipanggil. Tampak Jivael terbang mendekat dan mendarat di sampingnya. Sephael membiarkan burung Nirvana yang bertengger di lengannya terbang pergi, seolah memberi ruang. Namun, Sephael tidak langsung menatapnya. Tatapannya masih tertuju pada permukaan telaga, pada bayangannya sendiri. “Bagaimana?” tanyanya tenang. “Apa kau mendapat informasi dari Sungjael?” Tanpa perlu melihat, Sephael tahu jawaban itu bahkan sebelum Jivael menggeleng. “Buku itu bukan sesuatu yang bisa diakses sembarangan,” jawab Jiivael pelan. “Sungjael … enggan memberitahuku.” Sephael memejamkan mata sejenak, lalu menyibakkan rambutnya ke belakang. Sudah dia duga. Sungjael adalah penjaga Hukum Langit, eksekutor yang menggenggam kehidupan dan kematian atas perintah Sang Ayah. Informasi seperti itu tidak mungkin keluar dengan mudah, bahkan kepada mereka yang berkedudukan tinggi sekalipun. Meski be

  • Sang Pelindung Terakhir    67 - Pergerakan Baru

    "Kudengar ada keributan di istana Utara, jadi aku datang. Dan—WHOAH! Aku tidak menyangka kau menciptakan danau di sini.”Suara itu menggema ringan di tengah udara Abyss yang pekat.Di hadapannya, terbentang danau merah kehitaman. Permukaannya nyaris tidak beriak karena cairan itu terlalu kental untuk bergerak.Jattandier berdecih pelan tanpa membuka mata. Tubuhnya terbaring santai di atas sofa merah tua, kedua tangan terlipat di bawah kepala, seolah tempat itu hanyalah ruang istirahat biasa—bukan istana yang baru saja dipenuhi pembantaian. Namun, aura yang menguar darinya jelas berbahaya."Berisik."Mikhail tersenyum lebar, sama sekali tidak terusik. Pandangannya tetap terpaku pada danau itu, penuh kekaguman. Dia bahkan berlari dari istana Selatan. Bukan karena tidak bisa berteleportasi, dia hanya ingin memastikan dengan mata kepalanya sendiri.Dan sekarang, dia melihatnya. Seluruh danau itu terisi oleh darah iblis yang ditemui J

  • Sang Pelindung Terakhir    66 - Kepergian Vance

    “Sepertinya ada yang memanggilku.” “Istriku, Ilayda. Kenapa kau kemari? Aku sudah menyuruhmu untuk menunggu.” Sosok itu turun dari bagal putih dengan anggun. Gaun hitam malam yang membalut tubuhnya menyapu tanah, memperlihatkan bahu hingga belahan dada. Rambut legamnya menjuntai panjang hingga menyentuh tanah, dihiasi cabang-cabang hijau yang melingkar di kepalanya. Matanya sayu, tetapi indah, pupilnya menyempit seperti milik kucing, berwarna kuning kehijauan. “Aku bosan menunggu,” sahutnya ringan. “Lagipula, aku ingin bertemu manusia yang dibicarakan para periku.” Ilayda—istri Hope Nightray, sekaligus the Queen of Fairies—berjalan mendekat ke sisi Hope, sementara rombongannya—bagal putih berhias bunga, tiga anjing hitam bermata biru, dan Spriggan—menunggu di belakang. “Dia tidak terlihat sehat,” ujar Ilayda pelan, memperhatikan wajah pucat Ara yang meringis menahan sakit. Raut wajahnya berub

  • Sang Pelindung Terakhir    65 - Krisis Yang Menerjang

    “Berhenti menggonggong, Anjing Bodoh. Gonggonganmu mengganggu para peri manisku.” Suara itu datang bersama cahaya kehijauan yang merembes dari celah batu besar. Vance—dalam wujud anjing hitam—segera menunduk. Bukan karena takut, melainkan refleks saat merasakan aura sosok tersebut menekan. Sebenarnya Vance tidak menggonggong. Dia berbicara seperti manusia, terus memohon tanpa henti di depan batu yang diyakininya sebagai gerbang menuju dunia peri. Sudah empat jam Vance melakukannya. Para Eariel sempat mengerubunginya, mengusirnya dengan nada sebal. Kata mereka , sang Raja sedang 'sibuk' dengan istrinya. Namun, Vance tidak peduli, dia tetap menunggu. Dan kini, yang ditunggu akhirnya muncul. Hope Nightray, Raja peri Tír na nÓg, melangkah keluar dari celah batu, rambutnya berantakan, tubuhnya setengah telanjang. Cahaya kunang-kunang memantulkan garis ototnya dengan jelas, tidak ada sedikit pun usaha untuknya terl

  • Sang Pelindung Terakhir    64 - Hal Tak Terduga

    “Tadi … apa yang kau katakan?” Suara Vance terdengar ragu, bahkan sedikit serak. Wajahnya masih menyisakan keterkejutan saat memandang Anthony yang duduk santai di kursinya, ditemani secangkir teh dan koran pagi yang terbuka lebar.Dia yakin pendengarannya baik-baik saja. Namun, kata-kata Anthony barusan membuat telinganya berdenging.Tunggu! Bukan itu masalahnya. Dirinya dan Ara terikat, perkataan yang dia dengar dengan Anthony akan menjadi ingatan, dan hal itu akan tersampaikan dengan baik kepada Ara. Wajah Vance memucat, bibirnya gemetar saat mengatakan, "T-tunggu—"“Sudah berapa kali kuingatkan," sahut Anthony datar tanpa mengangkat kepala. "Aku tidak suka mengulangi perkataanku. Dan kau tidak perlu khawatir, Ara tidak akan mengetahuinya.” Dia meraih cangkir teh miliknya, menyesapnya perlahan, lalu melirik Vance yang berdiri kaku dengan wajah penuh protes sekaligus lega.Anthony mendengkus pelan setelah menyimpan kembali cangkirnya. Vance sepe

  • Sang Pelindung Terakhir    63 - Bukan Manusia Biasa

    "Lalu, bagaimana denganmu? Kau juga tidak setara dengannya, bukan?""Benar. Untuk itu, apa pun akan kulakukan, agar kami berdiri di tempat yang setara," ujar Anthony tenang, tetapi sorot matanya terlihat tajam.“Kau begitu misterius, Juslandier. Dan lagi, aku belum pernah melihat iblis seputus asa ini seperti dirimu.”Alis Anthony langsung menukik tajam. Dia tidak menyangka kalimat itu keluar dari mulut Vance.Apa keputusasaan itu terlihat sejauh ini? Padahal dia selalu menyembunyikannya.Sejak kehilangan orang terkasih, Anthony memang hidup dalam bayang-bayang putus asa. Kecemasan menggerogoti tiap detik yang dia jalani selama ratusan tahun. Namun, dia tidak pernah membiarkannya mengambil alih, sebab itu akan membuatnya lemah.Dia terus berdiri. Berjuang sendirian demi mengangkat kutukan yang diberikan pada kekasihnya. Anthony melakukannya tanpa mengeluh sedikit pun.“Bagaimana kalau begini …,” ujar Vance tiba-tiba. Sat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status