ログイン“Sepertinya ada yang memanggilku.”
“Istriku, Ilayda. Kenapa kau kemari? Aku sudah menyuruhmu untuk menunggu.” Sosok itu turun dari bagal putih dengan anggun. Gaun hitam malam yang membalut tubuhnya menyapu tanah, memperlihatkan bahu hingga belahan dada. Rambut legamnya menjuntai panjang hingga menyentuh tanah, dihiasi cabang-cabang hijau yang melingkar di kepalanya. Matanya sayu, tetapi indah, pupilnya menyempit seperti milik kucing, berwarna kuni"Ini kekalahanmu, Juslandier."Makhluk setengah malaikat dan setengah iblis itu bergeming. Dia terlentang di atas tanah yang basah oleh darah dan hujan, tampak seperti seseorang yang telah kehilangan alasan untuk bangkit.Pedang masih mengarah ke tubuhnya. Ratusan pasang mata memandangnya. Para malaikat dan para iblis, musuh maupun kawan, tetapi Juslandier Bloodfallen tidak memedulikan satu pun dari mereka.Dia bahkan tidak peduli saat dipermalukan di depan seluruh pasukan, dan tidak peduli jika hari ini namanya tercatat sebagai pihak yang kalah. Dan mungkin, kematian sedang berdiri tepat di hadapannya.Rasa sakit berlomba-lomba mengekang tubuhnya, meresapi setiap siksaan yang melanda ketika darah di dadanya mengucur makin deras."JUSLANDIER!"Suara Mikhail menggema, penuh kemarahan dan frustrasi."Bangun, Bodoh!"Juslandier mendengar suara Mikhail, menyuruhnya untuk berhenti berpura-pura seperti seorang pengecut da
Juslandier terbahak.Pemilik rambut jelaga itu tertawa lepas. Tawanya menggema di tengah hujan dan dentang senjata ketika anak panahnya berhasil menembus sayap kiri Jivael. Pemandangan itu terasa begitu memuaskan.Darah merah mengalir di antara bulu-bulu putih gading yang selama ini tampak sempurna. Warna suci itu ternoda dalam sekejap, menciptakan kontras yang membuat senyum Juslandier semakin lebar.Dia bisa membayangkan rasa sakitnya. Terlebih ketika Jivael memejamkan mata selama beberapa detik, berusaha menahan nyeri yang menjalar dari luka tersebut.Sangat lucu.Malaikat yang selama ini selalu terlihat tenang kini menatapnya dengan kemarahan yang nyaris tak disembunyikan. Petir menyambar langit, kilatan putih menerangi wajah Jivael yang muram. Dan pemandangan itu membuat Juslandier merasa jauh lebih hidup.Atau mungkin, jauh lebih mati rasa.Tanpa menunggu lebih lama, dia kembali melesat ke udara. Sayap hitamnya membentang lebar,
"Kau kembali. Kau menemuiku lagi."Araphael langsung menangis tanpa berusaha menahannya, dia hanya mampu mengangguk perlahan. Bibirnya terasa kelu, seakan seluruh kata yang ingin dia ucapkan tertahan di tenggorokan.Dia hanya bisa menatap Juslandier, menatap iblis yang pernah mengacungkan pedang ke arahnya, iblis yang membuatnya jatuh, iblis yang membuatnya berani melawan takdir. Dan kini, Juslandier Bloodfallen menunjukkan senyuman yang mampu membuat air mata kian mengalir deras di pipinya, semakin sulit dihentikan.Di sekitar mereka, peperangan seolah berhenti. Para malaikat maupun iblis, mereka semua tak menunjukkan tanda-tanda akan melanjutkan pertempuran, mereka hanya terpaku di tempat masing-masing. Tidak ada yang mengangkat senjata, seakan seluruh medan perang sedang menyaksikan dua makhluk yang berusaha melawan sesuatu yang jauh lebih besar daripada perang itu sendiri, yaitu takdir.Begitu pula dengan Sephael dan Jivael yang terdiam, tenggelam dal
Perang demi perang kembali terjadi, telah dilakukan oleh para malaikat dan iblis, seolah hal itu memang ditakdirkan untuk saling menghancurkan. Kilatan cahaya petir menyambar langit. Guntur menggelegar tanpa henti. Awan hitam bergulung di atas kepala mereka, membuat dunia terlihat semakin suram.Di antara ribuan malaikat dan iblis yang saling bertempur, Juslandier berdiri diam. Biasanya, setiap kali Jivael turun ke medan perang, merekalah yang akan saling berhadapan karena hanya Jivael yang mampu membuatnya merasa tertantang, dan hanya Juslandier yang mampu membuat Jivael mengerahkan seluruh kemampuannya.Namun, kali ini berbeda. Jivael berada jauh darinya, target utama sang panglima Nirvana bukanlah dirinya, melainkan Jattandier. Dan yang lebih aneh lagi, tidak ada satu pun malaikat yang mencoba menyerangnya."Sephael ...." Juslandier mendongak. Malaikat yang sedari tadi hanya mengamati itu perlahan turun dari langit, melayang beberapa meter di atasnya. Tatapan mereka bertemu, dan Ju
"Juslandier!" Suara salah satu iblis menggema dari barisan pasukan Abyss.Yang dipanggil tertegun. Dia bahkan tidak menyadari bahwa namanya sedang diteriakkan hingga menggema di angkasa, pikirannya masih tenggelam di tempat lain. Masih terjebak dalam kemarahan, kehilangan, dan bayangan seseorang yang terus menghantui setiap sudut kesadarannya.Araphael.Nama itu terus muncul, dan menolak pergi. Seolah ingin mengingatkannya bahwa dirinya gagal melindungi, mempertahankan, bahkan gagal mengucapkan hal yang paling ingin dia katakan.Juslandier memejamkan mata sejenak, lalu mengembuskan napas panjang.Terima kasih, Mikhail.Meski tidak mengatakannya dengan lantang, Juslandier menyadari bahwa dirinya nyaris tenggelam dalam pikiran gelapnya sendiri, dan itu sangat berbahaya.Tawa kecil lolos dari bibirnya. Bukan karena lucu, melainkan karena dirinya baru menyadari betapa dekatnya dia dengan kegilaan. Seakan mengulur waktu dan tak memedulikan sang kakak serta ayahnya yang bisa mengurus diri
"Apa yang kau bicarakan, Adikku? Dia sendiri yang memintanya. Dia memohon padaku untuk menodainya."Juslandier menggeram. Suara itu terdengar rendah dan kasar, lebih menyerupai raungan binatang buas daripada suara iblis. Rahangnya mengeras, giginya berderit menahan amarah. Urat-urat menonjol di pelipis dan lehernya hingga terlihat jelas di bawah kulit.Araphael tidak mungkin melakukan hal kotor seperti itu tanpa alasan. Dia mengenal Araphael. Jika sang malaikat sampai mengambil keputusan seperti itu, pasti ada sesuatu yang memaksanya.Dan dalam benak Juslandier, hanya ada satu pelaku. Jattandier-lah yang menyudutkannya.Tanpa peringatan, Juslandier melesat ke udara. Pedangnya membelah angin dengan kekuatan yang cukup untuk merobek ujung jubah Jattandier. Lalu, di saat yang sama, dia melemparkan pedangnya ke atas sementara dia merangsek maju membelah udara.Tentu hal tersebut membuat Jattandier tertawa melihat perjuangan adiknya yang ingin sekali memukulnya. Dia mengira sudah memahami p
Matahari belum sepenuhnya terbit ketika pria berkulit pucat itu berjalan dan berhenti di depan jendela setelah mengaitkan kancing celana, tangannya memegang gelas kecil berisi cairan berwarna oranye tua. Sekilas dia melirik sosok yang meringkuk di atas ranjang, terlelap, hanya tertutup selimut seba
“Sephael!” Sephael menoleh saat namanya dipanggil. Tampak Jivael terbang mendekat dan mendarat di sampingnya. Sephael membiarkan burung Nirvana yang bertengger di lengannya terbang pergi, seolah memberi ruang. Namun, Sephael tidak langsung menatapnya. Tatapannya masih tertuju pada permu
“Berhenti menggonggong, Anjing Bodoh. Gonggonganmu mengganggu para peri manisku.” Suara itu datang bersama cahaya kehijauan yang merembes dari celah batu besar. Vance—dalam wujud anjing hitam—segera menunduk. Bukan karena takut, melainkan refleks saat merasakan aura
“Tadi … apa yang kau katakan?” Suara Vance terdengar ragu, bahkan sedikit serak. Wajahnya masih menyisakan keterkejutan saat memandang Anthony yang duduk santai di kursinya, ditemani secangkir teh dan koran pagi yang terbuka lebar.Dia yakin pendengarannya baik-baik saja. Namun, kata-kat







