تسجيل الدخول"Ah, atau sebenarnya kau ini adalah tipe pria yang diam-diam bermain dengan banyak wanita?"
Kalimat itu sukses membuat urat di pelipis Juslandier berkedut hebat Rahangnya mengeras. Cengkeramannya pada pergelangan tangan Araphael tanpa sadar menguat, sementara rasa panas yang menjalar dari leher hingga wajahnya membuat suasana hatinya semakin buruk.
Malaikat ini, benar-benar malaikat paling menyebalkan yang pernah dia temui.
Tahu apa dia tentang dirinya?
Mengapa bis
"Bukankah begitu, Juslandier, Anakku?"Sesaat setelah Raja Abyss mengucapkan kalimat itu, suara derit pintu besar menggema di seluruh ruangan, dua daun pintu hitam perlahan terbuka, seluruh perhatian para petinggi Abyss seketika beralih ke sana. Sementara Mikhail hampir menangis haru karena akhirnya, makhluk paling menyebalkan di seluruh Abyss itu muncul.Juslandier Bloodfallen berdiri di ambang pintu dengan pakaian hitam dan jubah kebesaran yan menjuntai rapi, rambut gelapnya masih sedikit basah setelah berendam. Langkahnya tenang, wajahnya datar seperti biasa. Namun, entah mengapa, malam ini ada sesuatu yang berbeda.Sesuatu yang bahkan tidak luput dari perhatian para petinggi dan membuat mereka mengerjap dua kali demi memastikan bahwa mata mereka tidak sedang bermasalah. Karena untuk sepersekian detik, mereka melihat sebuah senyuman tipis terukir di bibir sang putra mahkota.Dan hal itu membuat suasana ruangan menjadi jauh lebih mengejutkan daripada pengakuan tentang cinta itu send
Pertemuan sekaligus jamuan makan malam para petinggi Abyss nyaris berakhir menjadi bencana. Atau lebih tepatnya, bencana bagi Mikhail.Sedari awal acara, ahli waris klan Littenheim itu sudah duduk dengan punggung tegang dan keringat dingin yang tak henti-hentinya membasahi pelipis. Berkali-kali matanya melirik ke arah pintu utama, berharap sosok yang ditunggunya segera muncul.Namun, hingga menit-menit terakhir menjelang dimulainya pertemuan, Juslandier Bloodfallen belum juga menampakkan diri.Mikhail ingin menangis.Sungguh.Berada di ruangan yang sama dengan tujuh penguasa wilayah Abyss saja sudah cukup membuatnya merasa seperti direbus di dalam lahar gunung api. Belum lagi keberadaan Raja Abyss yang duduk di ujung meja panjang dengan wajah datar dan sorot mata yang mampu membuat para iblis menyesali kelahiran mereka.Setiap kali Raja melirik ke arahnya, Mikhail merasa setengah nyawanya langsung terlepas dari tubuh. Dan tersangka utama yang akan menjadi penyebab kematian dirinya ten
Jubah hitam dengan pauldrons besar itu tercampak begitu saja ke lantai sesaat setelah Juslandier menanggalkannya. Sebelah tangannya sibuk melepaskan dua sabuk yang melingkar di pinggang dan melintang di dada, sementara tangan yang lain menyisir rambutnya ke belakang sebelum mengacaknya lagi dengan kesal.Langkahnya bergaung pelan di ruangan luas yang dipenuhi uap hangat.Bracers dan greaves menyusul terlepas, kemudian meloloskan pakaian yang tersisa. Semuanya dibiarkan berceceran dari pintu masuk hingga tepi kolam tempat dirinya biasa berendam.Tak lama kemudian, tubuh tegap putra bungsu Raja Abyss itu telah tenggelam di dalam air hangat."Banyak sekali hal yang kulewati hari ini." Sebuah embusan napas panjang lolos dari bibirnya. Kepalanya bersandar pada tepian kolam. Mata biru samuderanya terpejam sesaat, menikmati keheningan yang jarang dia dapatkan.Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama sebab wajah yang sama kembali muncul di d
Kedua iblis yang bertugas menjaga gerbang utama saling melirik saat melihat sang putra mahkota melintas. Mereka sempat berpikir bahwa penglihatan mereka sedang bermasalah, atau mungkin mata mereka tertusuk debu neraka.Sebab di wajah Juslandier Bloodfallen—makhluk yang terkenal dingin, kejam, dan tidak memiliki minat pada apa pun selain pedang dan peperangan—tersungging sesuatu yang nyaris mustahil untuk dilihat.Senyuman.Tidak lebar, tetapi tetap saja sebuah senyuman. Seketika bulu kuduk keduanya meremang."Apa kau melihatnya?" bisik salah satu penjaga."Aku berharap tidak.""Aku baru saja melihat Yang Mulia tersenyum.""Diam. Jangan mengucapkan hal mengerikan seperti itu.""Dia juga ... bersenandung."Penjaga satunya lagi langsung memucat. Mereka serentak menoleh memandangi punggung sang putra mahkota yang semakin menjauh.Hari ini terasa begitu ganjil. Mungkin langit Abyss akan runtuh. Mungkin gunu
"Ah, atau sebenarnya kau ini adalah tipe pria yang diam-diam bermain dengan banyak wanita?"Kalimat itu sukses membuat urat di pelipis Juslandier berkedut hebat Rahangnya mengeras. Cengkeramannya pada pergelangan tangan Araphael tanpa sadar menguat, sementara rasa panas yang menjalar dari leher hingga wajahnya membuat suasana hatinya semakin buruk.Malaikat ini, benar-benar malaikat paling menyebalkan yang pernah dia temui.Tahu apa dia tentang dirinya?Mengapa bisa-bisanya melontarkan asumsi seenaknya dengan ekspresi polos seperti itu?Apa malaikat ini benar-benar tidak memiliki rasa takut?Apa dia tidak bisa melihat raut wajah serta tatapan yang sudah siap membumihanguskan tubuhnya?Atau jangan-jangan, Araphael memang tidak menganggap kematian sebagai sesuatu yang mengerikan?"Apa ekspresiku terlihat seperti pria yang menghabiskan waktu bermain-main dengan wanita?" tanya Juslandier datar, menahan sekuat tenaga agar tidak mele
"Kita bertemu lagi, wahai Makhluk Kegelapan."Setelahnya terdengar suara tawa halus yang entah mengapa terdengar begitu jelas di telinga Juslandier.Sialnya, suara itu adalah suara yang beberapa hari terakhir terus menghantui pikirannya.Juslandier masih diam saat Araphael mendekat dan berjongkok tepat di hadapannya, seolah memang sudah menunggu dirinya datang.Malaikat itu menumpukan dagu di atas kedua telapak tangannya, menatap Juslandier tanpa berkedip. Senyum tipis tersemat di wajah malaikat itu, diterangi semburat jingga matahari senja yang membuatnya terlihat nyaris tidak nyata.Melihat itu, Juslandier hanya mampu diam. Dia tidak mengerti mengapa dadanya kembali terasa aneh, jantungnya kembali berulah. Dan mengapa hanya dengan melihat senyum itu, seluruh pikirannya mendadak kosong?Sial.Malaikat ini pasti sedang mengejeknya.Pasti.Kalau tidak, mengapa dia terlihat begitu puas melihat dirinya tergeletak tidak berw







