ログインSera menoleh sekilas, Karina tampak berpura-pura sibuk membolak-balik buku panduan wisuda di pangkuannya tanpa berani mengangkat wajah.Prosesi pemanggilan wisudawan berikutnya kembali dilanjutkan oleh pembawa acara. Satu per satu lulusan dipanggil ke atas panggung untuk menerima map ijazah dari dekan. Tepuk tangan terus bergema secara berkala di aula besar itu, namun perhatian seisi gedung auditorium jelas sudah terbelah ke arah pria yang kini duduk tegak di barisan depan bersama para tamu kehormatan.Sekitar tiga puluh menit kemudian, sesi pengalungan medali dan penyerahan ijazah untuk seluruh wisudawan selesai dilaksanakan. Musik pengiring perlahan mereda, digantikan suara pembawa acara dari pengeras suara utama."Hadirin yang kami hormati, sebuah kehormatan luar biasa bagi Universitas pada pagi hari ini. Di tengah-tengah kita telah hadir Presiden Iraya, Bapak Dharendra Narrottama.. Untuk itu, dengan segala hormat kami mengundang Bapak Presiden untuk naik ke atas mimbar guna member
Gemuruh tepuk tangan riuh memenuhi seisi ruangan ketika nama Sera disebut. Sera menarik napas dalam, membetulkan letak selempang di pundaknya, lalu melangkah keluar dari barisan menuju anak tangga panggung utama. Setiap langkahnya terasa mantap, meski di sudut hatinya terselip sedikit ruang kosong karena tahu kursi pendamping di deretan VIP hanya diisi oleh kedua orang tuanya.Namun, tepat saat Sera berdiri di hadapan Dekan Fakultas Kedokteran untuk menerima medali kelulusan, pintu besar di sayap barat panggung tiba-tiba terbuka perlahan.Suasana di area panggung mendadak terasa berbeda. Beberapa petugas protokoler universitas tampak membungkuk hormat ke arah pintu tersebut. Derap langkah kaki yang teratur dan tegas terdengar mendekat dari balik tirai beludru merah.Seorang pria berperawakan tegap dengan setelan jas resmi berwarna abu-abu gelap melangkah masuk ke area panggung. Di balik jasnya, dasi berwarna krem keemasan—warna yang persis senada dengan kebaya yang Sera kenakan—terpas
Rendra mengamati ketulusan di wajah sang istri. Dalam hati, pria itu tersenyum geli sekaligus tak sabar melihat bagaimana reaksi wanita ini beberapa jam lagi. Rendra mencondongkan tubuhnya ke depan, mengecup kening Sera dengan lembut dan lama."Semoga prosesi wisudamu berjalan lancar hari ini," bisik Rendra tepat di pelipis Sera. "Tunjukkan senyum terbaikmu di atas panggung nanti. Aku akan selalu mendoakanmu dari jauh.""Pasti, Mas. Hati-hati di perjalanan dinasnya ya," balas Sera seraya meraih tangan kanan Rendra, lalu mencium punggung tangan suaminya dengan takzim.Rendra bangkit berdiri, meraih jas luarnya, lalu menarik tuas koper dinasnya. Pria itu sempat menoleh sekali lagi di ambang pintu, melemparkan tatapan teduh seraya melambaikan tangannya sebelum menghilang di balik pintu kamar yang tertutup rapat.Sepeninggal suaminya, Sera menghela napas panjang seraya bangkit dari ranjang. Ia menepuk kedua pipinya perlahan di depan cermin. "Ayo Sera, hari ini harimu. Tidak boleh bersedih
"Dari Mas Rendra?" ulang Erika, matanya seketika membulat lebar. Rasa penasarannya langsung memuncak. Gadis itu mencondongkan tubuhnya ke depan meja, menatap kotak itu dengan tatapan berbinar. "Cepat buka, Sera! Jangan cuma dielus-elus pitanya begitu. Aku penasaran sekali, apa yang diberikan seorang presiden untuk istrinya sebelum wisuda!"Sera tertawa kecil melihat ekspresi heboh sahabatnya itu. "Kamu ini tidak sabaran sekali sih, Erika.""Tentu saja aku penasaran! Cepat buka!" desak Erika seraya menepuk-nepuk tepi meja dengan gemas.Sera menarik napas perlahan. Dengan gerakan hati-hati, ujung jemarinya menarik salah satu sisi pita yang terikat rapi hingga simpulnya terlepas. Pita itu ia singkirkan ke tepi meja. Perlahan, kedua ibu jarinya mendorong tutup kotak itu ke atas.Bunyi engsel kecil kotak itu terbuka pelan di keheningan ruang koas.Begitu penutupnya terbuka sempurna, mata Sera dan Erika tertuju pada benda yang terbaring anggun di atas bantalan di dalam kotak. Kilau logam mu
Karina melotot kaget, wajahnya seketika pias bercampur malu saat menyadari beberapa pasang mata di koridor mulai memperhatikan mereka. "Erika! Jaga bicaramu ya! Aku cuma bertanya baik-baik pada Sera, kenapa kamu yang malah mengamuk seperti orang gila begini?!""Bertanya baik-baik kamu bilang?!" bentak Erika makin garang, melangkah maju satu jengkal hingga membuat Karina refleks mundur teratur. "Kalimatmu tadi itu murni sindiran murahan! Sekali lagi aku mendengar kamu berani membuka mulut beracunmu itu untuk menyindir Sera, aku tidak akan segan-segan melaporkan kelakuan tidak etismu ini langsung ke komite etik dan konsulen pembimbing kita! Kamu mau ijazahmu ditahan karena masalah sikap, iya?!"Mendengar ancaman serius mengenai kelulusan dan konsulen pembimbing, nyali Karina seketika ciut. Bibirnya bergetar menahan malu dan jengkel. Tanpa mampu membalas sepatah kata pun lagi, Karina berbalik dan melangkah tergesa-gesa meninggalkan koridor itu dengan wajah merah padam.Erika mendengus ka
Pagi itu, suasana meja makan di istana terasa lebih hening dari biasanya. Aroma nasi goreng dan telur dadar mengepul hangat, namun Sera hanya mengaduk-aduk piringnya dengan sendok tanpa selera. Di seberang meja, Rendra memperhatikan gerak-gerik sang istri.Pria itu menarik napas pendek, lalu memasang raut wajah murung. Keningnya berkerut samar, bibirnya terkatup rapat, menampilkan ekspresi yang menyiratkan rasa bersalah mendalam."Sera," panggil Rendra dengan nada suara yang sengaja dilembutkan dan sedikit bergetar.Sera mendongak dari piringnya, menatap suaminya lurus. "Iya, Mas?"Rendra mengulurkan tangannya ke seberang meja, meraih jemari Sera dan menggenggamnya perlahan. "Aku benar-benar minta maaf soal wisuda lusa nanti. Rasanya aku menjadi suami yang tidak berguna karena tidak bisa berdiri di sampingmu di hari sepenting itu."Melihat tatapan sang suami yang tampak begitu redup dan terpukul, rasa kecewa yang sempat mengendap di hati Sera seketika luntur. Ia membalikkan telapak ta







