Share

Tahu Diri

last update publish date: 2026-02-01 10:06:40

Evan menghentikan gerakan jarinya di atas tablet, lalu menatap pada Sera.

"Tentu saja, Nona. Hal itu mutlak diperlukan demi menjamin keselamatan Anda sebagai bagian dari keluarga kepresidenan," jawabnya.

Sera merasa pasokan oksigen di sekitarnya mendadak menipis. Ia memutar tubuh menghadap Rendra, matanya menyiratkan protes yang nyata. "Tapi bukankah Anda sendiri yang berjanji bahwa tidak akan ada yang berubah dari hidup saya?” tuntutnya dengan suara sedikit bergetar.

Rendra tidak langsung menj
Adinasya Mahila

Halo Terima kasih ya udah mampir ke novel baru Na, Tolong jangan lupa komen dan rate bintang 5 nya ya. Semoga nantinya kalian betah mengikuti kisah Sera 🤗🤗🤗 Oh ya sekalian aku mau infokan masih ada 2 pembaca yang belum klaim GA Lily dan Arsen. Atas nama akun SM ANDAAA dan SAKURA Kalau kakaknya baca bisa langsung DM ke igeh ya kak. Makasih

| 43
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (16)
goodnovel comment avatar
Devi Pramita
nah bagus kayak gitu sera.. kedepannya harus gitu juga ya
goodnovel comment avatar
Sm Andaaa
Huaaaaa baru tahu kalau dapat GA dari Kak Na. Baru mau marathon baca karya baru ini, terimakasih Kak.
goodnovel comment avatar
Sari 💚
masih penasaran gimana nantinya Sera menghadapi tantangan dunia luar dan keluarga Rendra
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Akan Mendukungmu

    Keheningan kembali menyergap seisi ruang makan. Tidak ada satu pun yang langsung menyahut pengakuan gamblang itu. Suasana mendadak begitu beku sampai deru pendingin ruangan terdengar jelas.Ratu mengedarkan pandangannya dengan dagu terangkat. Sorot matanya beralih menatap Rendra yang masih bergeming, lalu bergulir tepat menatap Sera."Apa ada yang salah kalau kami pacaran?" desak Ratu lagi, suaranya menuntut jawaban tegas.Sera menegakkan punggungnya. Ia merasa tatapan Ratu barusan seperti sedang menodongnya tepat di depan hidung, memaksanya untuk memihak. Sera menarik napas pendek, lalu melipat jemarinya di atas meja."Tidak ada yang salah dengan menjalin hubungan, Ratu," sahut Sera dengan intonasi tenang dan hati-hati. "Tapi setidaknya kalian harus bersikap bijak.""Bijak apa maksudmu?" balas Ratu cepat tanpa jeda sedetik pun. Nada bicaranya terdengar skeptis. "Karena perbedaan usia kami berdua, makanya kalian semua menganggap hubungan ini aneh dan tidak wajar?""Ratu! Cukup!" benta

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Makan Malam Yang Tegang

    Rendra malah tertawa pelan mendengar ucapan polos bercampur pasrah dari adik iparnya itu. Tawa renyahnya memecah ketegangan yang sempat menyelimuti ruangan, membuat pundak Pak Angga dan Bu Siwi ikut sedikit mengendur. Tangan Rendra kembali menepuk bahu Arkan, kali ini dengan cengkeraman bersahabat."Tenang saja, Arkan," kata Rendra seraya menggelengkan kepalanya geli. "Semua itu tidak akan terjadi. Tidak ada yang akan mengeksekusimu malam ini."Arkan mengembuskan napas panjang yang terdengar jelas, mengusap tengkuknya dengan senyum canggung. Belum sempat Arkan membalas perkataan sang kakak ipar, suara derap langkah kaki dari arah pintu masuk kembali terdengar.Pintu ganda ruang makan terbuka lebar, menampilkan rombongan keluarga Narrottama. Eyang Utari melangkah di barisan paling depan dengan tongkat kayunya yang berketuk pelan di lantai marmer, didampingi oleh Dewa. Tepat di belakang mereka, Sintia berjalan dengan gaun sutra mewahnya, disusul Ratu yang melangkah santai dengan dagu se

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Berat Hati

    Hari berikutnya, Sera menghabiskan waktu dari pagi sampai sore dengan perasaan gelisah yang terus menggerogoti hatinya. Bahkan saat memeriksa rekam medis pasien di rumah sakit, fokusnya kerap kali buyar. Pikirannya melayang jauh pada acara malam nanti di istana. Ia sama sekali tidak bisa memprediksi kemungkinan buruk apa yang akan meledak di sana.Karena terus dihantui rasa cemas, Sera memutuskan pulang dari RS Narita lebih awal. Begitu kakinya melangkah melewati pintu penghubung ruang makan utama istana, matanya menangkap kesibukan para pelayan. Deretan piring porselen sudah tertata rapi di atas meja, berdampingan dengan set sendok garpu.Seorang pelayan wanita berseragam rapi melangkah mendekat, lalu membungkuk sopan di hadapannya. "Nona Sera, jamuan makan malam untuk nanti hampir siap sepenuhnya."Sera mengangguk pelan seraya menarik sudut bibirnya tipis. "Terima kasih banyak. Kalau begitu, aku mau ke kamar dulu untuk bersiap.""Baik, Nona."Sera melangkah menaiki tangga menuju kam

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Tenang Tapi Menohok

    Ratu mendengus geli mendengar ocehan panjang ibunya. Senyuman tipis yang mengejek tersungging di bibirnya seraya menatap sang ibu tanpa berkedip."Aku tidak mau," sahut Ratu dengan nada datar dan sangat santai, menolak mentah-mentah tuntutan itu.Dewa yang sejak tadi menyimak perdebatan panas itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan seraya memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. Ia benar-benar pusing melihat keras kepalanya Ratu yang sama sekali tak bisa diatur."Sudah! Coba kalian berdua tenang dulu dan jangan terus-terusan berdebat seperti ini," potong Dewa menaikkan intonasi bicaranya demi menghentikan kegaduhan. Pria itu mengarahkan tangannya ke arah sofa kosong di seberangnya. "Duduk kalian berdua!"Ratu tanpa membantah sedikit pun langsung melangkah santai, menghempaskan tubuhnya ke atas sofa empuk di seberang sang ayah seraya menyilangkan kakinya yang jenjang dengan anggun.Sementara itu, Sintia masih berdiri mematung di tengah karpet, napasnya memburu kasar

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Anak Gadis Yang Membangkang

    Rendra menatap wajah Sera yang masih basah oleh air mata beberapa detik. Alisnya yang sempat bertaut perlahan mengendur, lalu sudut bibirnya terangkat tipis membentuk senyuman kecil yang nyaris tak terlihat."Jadi, ceritanya kamu sedang melakukan pengakuan dosa sekarang?" tanya Rendra dengan nada suara yang begitu tenang dan santai.Sera mengerjapkan matanya yang masih basah, sedikit bingung mendapati tidak ada kilat amarah sama sekali di mata suaminya. Ia akhirnya mengangguk pelan seraya menundukkan kepala kembali, meremas ujung bajunya."Iya, Mas..."Melihat kepolosan istrinya itu, Rendra mengembuskan napas pendek. Kedua telapak tangannya kemudian terangkat, menangkup kedua belah pipi Sera dengan lembut. Ibu jarinya bergerak perlahan, menyeka sisa jejak air mata yang masih membasahi kulit pipi sang istri."Dengar, Sera," ucap Rendra seraya menatap lurus ke dalam manik mata wanita itu. "Aku sama sekali tidak marah dengan apa yang sudah kamu ucapkan pada Mama."Sera mendongak sedikit,

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Kurang Ajar Pada Mertua

    Sera terdiam menyandarkan kening dan pelipisnya pada kaca jendela mobil yang terasa dingin. Pandangan matanya kosong, terpaku menatap deretan kendaraan dan pepohonan jalan raya yang melintas cepat di luar. Suasana di dalam kabin mobil itu begitu hening dan mencekam. Lana dan Deo yang duduk di kursi depan pun hanya bisa bungkam, tak berani mengeluarkan suara karena memahami kekalutan hati Sera setelah keributan besar di rumah orang tuanya tadi.Sera memejamkan mata sejenak seraya meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan. Dadanya masih berdenyut sesak, dan di kepalanya saat ini hanya ada satu keinginan: ia hanya ingin cepat sampai ke istana, bertemu langsung dengan Rendra, dan menenggelamkan tubuhnya memeluk suaminya itu erat-erat.Begitu mobil berbelok melewati gerbang utama dan berhenti sempurna di pelataran istana, Sera menghela napas lega saat ekor matanya menangkap mobil dinas milik Rendra sudah terparkir rapi di depan lobi. Tanpa menunggu Lana turun untuk membukakan pintu penump

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status