Share

Karma

Penulis: Adinasya Mahila
last update Tanggal publikasi: 2026-04-07 08:55:33

Rianti hanya terdiam, air mata mulai mengalir di pipinya. Di saat seperti ini, di saat vonis mati nampaknya baru saja dijatuhkan, ia justru tidak memiliki siapa pun di sisinya untuk sekadar memegang tangannya.

Rianti terpaku, matanya menatap kosong. Dunia yang selama ini ia bangun dengan keangkuhan seolah runtuh dalam satu kalimat pendek dari sang dokter.

"Kanker?" bisiknya, suaranya nyaris hilang. "Dokter pasti salah baca hasil laboratoriumnya. Saya, saya sehat. Saya hanya kelelahan karena
Adinasya Mahila

tinggalkan jejak komen dan like ya Geng 🥰🥰

| 40
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (9)
goodnovel comment avatar
Ai Agustiana
omongan adalah doa dan itu terjadi kepada si Rianti
goodnovel comment avatar
Adeena
bener apa kata Erika itu karma dia....
goodnovel comment avatar
Eddy Hadarian
Rianti meninggallan Sera dgn berbohong punya penyakit kanker,sekarang menjadi kenyataan. Siapa yg menabur dia akan msnuai Terima kasih k Na upnya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Obrolan Yang Sampai Ke Telingaku

    "... Arkan."Kening Sera berkerut dalam. Langkah kakinya otomatis terhenti begitu nama itu tertangkap oleh telinganya. Napasnya tertahan sesaat. Berbagai pertanyaan seketika berjejalan di dalam kepalanya. Kenapa Ratu menyebutkan nama Arkan? Ada hubungan apa sebenarnya mereka berdua sampai Ratu harus menelepon Arkan malam-malam begini?Ujung jemari Sera meremas pelan sisi bajunya. Apakah Arkan yang dimaksud adalah adiknya?Namun, sedetik kemudian Sera menggeleng pelan. Ia berusaha menepis jauh-jauh pikiran itu. Nama Arkan tidak hanya satu di dunia ini. Pasti ada banyak orang yang bernama Arkan selain adiknya. Tidak mungkin Ratu memiliki urusan dengan adiknya malam-malam begini.Memutuskan untuk tidak mempedulikan pembicaraan itu lebih jauh, Sera memutar tumitnya perlahan agar tidak menimbulkan suara. Ia bergegas meninggalkan area taman pembatas itu, melangkah masuk kembali ke dalam rumah.Baru beberapa langkah melewati lorong yang terang, Sera melihat Rendra berdiri di ruang depan deng

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Adik Iparku

    Malam harinya di Istana Kepresidenan, suasana kamar utama terasa hening sebelum derit pintu memecah kesunyian. Rendra melangkah masuk seraya melonggarkan kancing teratas kemejanya yang mulai kusut setelah seharian berkutat dengan urusan kenegaraan.Melihat Sera yang tengah merapikan beberapa buku kedokteran di atas meja, langkah Rendra memelan. Ia mendekat, lalu mendaratkan pelukan ringan di pundak istrinya dari belakang sembari menyandarkan dagunya sejenak."Sedang apa?" tanya Rendra dengan suara rendah yang terdengar lelah namun tenang. "Bagaimana seharian ini? Apa saja aktivitasmu?"Sera menoleh sedikit, menyunggingkan senyum lembut menyambut kepulangan sang suami. "Tadi pagi aku ke Rumah Sakit Narita. Menjemput Deo karena hari ini dia sudah diperbolehkan pulang."Alis Rendra terangkat sebelah. "Deo sudah pulang?""Iya, lukanya sudah membaik. Malah setelah itu aku, Erika, dan Lana mengantar Deo pulang ke rumahnya," lanjut Sera seraya membalikkan tubuh menghadap Rendra. Jemarinya te

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Terlihat Akrab

    "Masih lajang?" potong Lana pelan, kepalanya tertunduk sedikit dengan raut wajah penuh penyesalan. "Sekali lagi saya minta maaf, Nona Sera. Bukan maksud saya untuk sengaja menyembunyikan hal ini dari Anda."Sera menatap lekat wajah pengawalnya itu, menanti kelanjutan kalimatnya tanpa menyela.Lana mengusap pelan punggung putrinya yang masih bersandar di bahunya. "Saya sama sekali tidak bermaksud menutupi status saya yang seorang janda. Hanya saja, hal seperti ini memang tidak pernah menjadi bahan pembicaraan di kalangan para pengawal Nona. Maka dari itu saya memilih diam. Saya tidak mau membahasnya lebih dulu karena untuk apa juga dibicarakan? Lagipula, status pribadi saya ini sama sekali tidak penting untuk dibahas di lingkungan kerja."Mendengar penjelasan panjang lebar itu, Sera tertegun beberapa detik. Helaan napas pelan lolos dari bibirnya. Sera menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, menatap Lana dengan sorot mata yang campur aduk antara tak habis pikir dan geli."Lana, Lana... ka

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Keponakan

    Tubuh Deo menegang sejenak mendengar pertanyaan Sera. Tangannya yang mengusap kepala anak perempuan berkuncir dua itu membeku di udara. Deo berdeham canggung, mencoba memasang senyum kaku di wajahnya sembari menarik perlahan tubuh mungil itu agar berdiri di sampingnya."Ini... keponakan saya, Nona. Anak sepupu yang kebetulan sedang main ke sini," jawab Deo cepat. Nada bicaranya terdengar terburu-buru, matanya bahkan sempat melirik sekilas ke arah Lana yang masih mematung di dekat mobil.Sera mengerutkan keningnya lebih dalam. Ia melangkah maju satu langkah, menatap gadis kecil itu dengan tatapan meneliti. Wajah anak itu tampak manis dengan mata bulat jernih, namun ada sesuatu pada garis rahang dan bentuk matanya yang terasa tidak asing di mata Sera."Keponakan?" gumam Sera ragu. Matanya menyipit menatap Deo. “Tapi anak ini sepertinya mirip ….”Deo gelagapan. Tenggorokannya tercekat, tangannya yang sehat bergerak menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.Sebelum Deo sempat mer

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Anak Siapa?

    Setelah membersihkan diri dan berpamitan pada Rendra, Sera melangkah keluar kamar. Di pelataran istana, mobil dinas yang akan membawanya sudah terparkir rapi. Lana tampak berdiri tegap di samping pintu penumpang, segera membukakan pintu begitu melihat sang majikan mendekat."Pagi, Nona," sapa Lana sopan seraya menundukkan kepala sedikit."Pagi, Lana," balas Sera dengan senyum simpul yang masih menyisakan sisa-sisa rona hangat di wajahnya. "Kita langsung ke Rumah Sakit Narita, ya.""Baik, Nona."Perjalanan membelah jalanan ibu kota yang mulai ramai berlangsung lancar tanpa hambatan berarti.Setibanya di Rumah Sakit Narita, Sera melangkah santai menyusuri koridor lantai rawat inap. Aroma antiseptik yang khas menyambut indra penciumannya, mengingatkannya pada rutinitas koas yang selama ini dijalaninya.Saat berbelok di persimpangan lorong menuju kamar Deo, sosok Erika sudah terlihat melangkah keluar dari ruangan tersebut. Gadis itu mengenakan blus krem santai dengan rambut dikuncir kuda r

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Digoda Suami Sendiri

    Kecupan Rendra mendarat lembut di bibir Sera, mula-mula hanya sapuan pelan yang menguji kepasrahan, sebelum kemudian menuntut lebih dalam. Sentuhan hangat itu merambat cepat ke seluruh aliran darah Sera, berpadu dengan efek ramuan Aki Banyu yang kian membakar kesadarannya dari dalam.Punggung Sera melengkung pasrah saat rengkuhan Rendra di pinggangnya mengerat tanpa celah. Jemari Sera yang semula kaku di bahu pria itu perlahan bergerak naik, meremas helai-helai rambut Rendra yang masih setengah basah. Desah napas tertahan lolos dari bibir Sera ketika ciuman itu beralih menyusuri rahangnya, turun memberi kecupan-kecupan ringan di lekuk lehernya yang peka."Mas..." bisik Sera serak, kepalanya terkulai ke belakang di atas lipatan lengan Rendra.Rendra mengangkat wajahnya beberapa senti, menatap kedua kelopak mata Sera yang sayu berkabut. Ibu jarinya mengusap sudut bibir istrinya yang memerah basah. Sudut bibir pria itu terangkat membentuk senyum tipis yang sarat kepuasan."Kenapa? Mau me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status