Masukhola Geng jangan lupa komen dan like ya mamacih 🤗
Istana PresidenWaktu menunjukkan pukul delapan malam. Suasana ruang kerja pribadi Rendra di lantai atas tampak hening, hanya diterangi cahaya hangat lampu meja.Rendra duduk di balik meja kerjanya yang luas, memeriksa berkas-berkas kenegaraan terakhir untuk hari ini. Pintu ruang kerja yang terbuka setengah menampilkan sosok Sera yang baru saja melangkah masuk dengan piyama tidur sutra berwarna krem, membawa secangkir teh kamomil hangat di tangannya."Mas Rendra masih belum selesai pekerjaannya?" tanya Sera lembut seraya meletakkan cangkir keramik itu di sisi meja yang kosong.Rendra mendongak, menyandarkan punggungnya ke kursi seraya tersenyum tipis menyambut kedatangan sang istri. "Tinggal memeriksa beberapa laporan dari kementerian saja. Duduklah di sini."Sera melangkah memutari meja lalu duduk di tepi kursi lengan di samping suaminya. Pandangannya tanpa sengaja bergulir ke arah sebuah map kulit terbuka di atas meja, yang memuat jadwal agenda kerja sang presiden untuk dua pekan ke
Keheningan seketika menyelimuti ruang tamu. Udara di ruangan itu terasa semakin berat dan dingin. Tatapan Papa Erika yang tajam beralih sepenuhnya dari Erika menuju wajah Deo. Beliau tidak langsung membentak, melainkan menyandarkan punggungnya ke sofa seraya melipat kedua tangan di depan dada."Deo?" ulang Papa Erika dengan intonasi rendah dan penuh selidik. Sudut bibirnya terangkat membentuk garis tipis yang dingin. "Pria yang kamu bawa ini, pengawal pribadi ibu negara, kan?"Erika tersentak kecil, tidak menyangka papanya mengenali identitas Deo secepat itu. Namun, sebelum Erika sempat bersuara membela, Deo perlahan melepaskan genggaman tangannya dari jemari Erika. Pria itu melangkah maju satu langkah, berdiri tegap dengan sikap sempurna seorang prajurit."Selamat sore, Bapak," sapa Deo dengan suara bariton yang mantap, tidak goyah sedikit pun di bawah tatapan mengintimidasi pria paruh baya di hadapannya. "Benar, saya Deo. Saya bertugas menjaga keselamatan ibu negara."Papa Erika men
Pagi harinya di Rumah Sakit Narita, suasana koridor poli rawat jalan mulai dipadati pasien yang mengantre. Sera melangkah menyusuri lorong dengan jas dokter putih yang tersampir rapi, memegang map rekam medis di tangannya. Begitu berbelok menuju ruang dokter koas, ia melihat Erika sedang duduk di depan meja kerja seraya mengetuk-ngetukkan pulpennya ke permukaan meja dengan gelisah.Sera mendorong pintu kaca pelan-pelan, lalu menarik kursi di sebelah sahabatnya. "Pagi, Erika. Tumben sekali kamu melamun sepagi ini?"Erika tersentak kaget, menoleh cepat seraya menghela napas panjang. "Sera, kepalaku rasanya mau meledak sejak bangun tidur tadi."Sera meletakkan mapnya, menatap lekat paras Erika. "Soal keluarga Raja lagi?"Erika mengangguk lemah, bahunya merosot ke sandaran kursi. "Papaku tadi pagi menegaskan lagi kalau keluarga Raja bakal datang membicarakan lamaran itu. Aku sudah tidak bisa menunda-nunda lagi, Sera. Makanya sore nanti, sepulang dinas dari sini, aku berniat membawa Deo la
Sofia gemetar hebat di tempatnya berdiri. Dadanya naik-turun menahan luapan murka yang nyaris meledakkan isi kepalanya. Matanya melotot tajam, memandang Ratu dengan kebencian yang mendalam."Kamu benar-benar keterlaluan, Ratu!" pekik Sofia seraya merogoh tas tangannya secara serampangan. Jemarinya yang basah berusaha menarik ponsel pintarnya keluar. "Akan kubuat rekaman wajah gilamu ini! Biar semua orang tahu bagaimana aslinya perangai adik perempuan seorang presiden yang diagung-agungkan itu!"Ratu sama sekali tidak bergerak mundur. Gadis itu justru melangkah maju satu jengkal, mengikis jarak di antara mereka hingga ujung sepatunya hampir bersentuhan dengan sepatu hak Sofia. Senyuman mengejek tersungging jelas di bibirnya."Rekam saja, Sofia. Silakan," tantang Ratu dengan suara tenang namun menusuk telak. Tangannya terangkat, menepis pelan tangan Sofia yang memegang ponsel hingga layar benda itu bergoyang. "Tapi sebelum kamu menekan tombol rekam, apa kamu sudah siap kalau aku membong
Di dalam kamar tidur utama yang tenang dan temaram, selimut tebal membungkus tubuh Rendra dan Sera yang berbaring merapat. Sera menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya, menikmati irama detak jantung pria itu yang teratur. Lengannya melingkar santai di pinggang Rendra, membiarkan jemari pria itu sesekali menyisir lembut helai rambutnya.Helaan napas panjang yang terdengar begitu lega berembus dari bibir Sera."Akhirnya ya, Mas..." gumam Sera pelan, memecah keheningan kamar. "Urusan Ratu dan Arkan sudah selesai. Dadaku rasanya plong sekali sekarang, tidak seperti tadi siang waktu memikirkan bagaimana dan apa yang terjadi saat makan malam. "Rendra mengusap bahu Sera perlahan seraya tersenyum tipis. "Kan sudah kubilang kemarin, kamu tidak perlu cemas berlebihan. Semuanya pasti ada jalan keluarnya."Sera beringsut sedikit, lalu mendongakkan kepalanya menatap garis rahang tegas sang suami. Manik matanya menatap lurus ke arah pria itu seraya tersenyum penuh harap."Mas, sebentar lagi
Senyuman puas langsung mengembang lebar di bibir Ratu. Sorot matanya berbinar cerah saat ia menoleh ke samping, menatap wajah Arkan dengan senyum penuh kemenangan yang tak berusaha ia sembunyikan. Arkan yang ditatap seperti itu hanya bisa menggaruk pelipisnya seraya membalas dengan senyum tipis bercampur lega."Sudah, lanjutkan lagi makannya," ujar Rendra memecah keheningan yang tersisa seraya meraih kembali sendok dan garpunya. Pria itu memberi isyarat dengan anggukan kepala pada semua orang di meja. "Jangan biarkan makanannya dingin."Mau tidak mau, denting alat makan perlahan kembali terdengar satu per satu. Meski begitu, suasana di meja perjamuan itu berubah menjadi sangat canggung.Pak Angga dan Bu Siwi hanya menyendok nasi sedikit demi sedikit, sesekali melirik cemas ke arah besan mereka. Sera pun hanya memotong daging di piringnya dalam diam seraya menatap suaminya bergantian dengan Arkan.Sementara itu, Sintia benar-benar tidak berkutik lagi di kursinya. Wajah wanita paruh baya







